
Leticia memandangi orang yang berdatangan ke kuil untuk berdoa. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan oleh Paus Poppo. Apabila kebenaran terungkap mereka tidak percaya lagi kepada kuil.
Akan sulit untuk membangun kepercayaan yang sudah hancur. Leticia sebisa mungkin membuat Paus Poppo terlihat sebagai satu-satunya orang jahat yang memanipulasi semuanya. Dengan begitu, orang-orang hanya menyalahkan Paus, pendeta lain masih bisa menjalankan kuil.
Kuil akan membutuhkan Paus baru yang bersih dari tindakan jahat. Dengan begitu kepercayaan rakyat pada kuil akan kembali.
Leticia segera memasuki ruang doa. Paus menyambutnya dengan baik. Suasana dalam keadaan hening. Leticia memejamkan matanya. Setelah selesai, Paus memberinya berkat.
"Semoga berkat Tuhan memyertai Anda, Permaisuri."
"Terima kasih, Paus." Leticia menundukkan kepalanya.
Leticia mendongak melihat Paus kembali.
"Apa saya boleh berkeliling ke gedung pendeta, Paus? Saya dengar pelataran di sana luas dan banyak hehijauan. Saya ingin menenangkan diri. Hati saya resah, karena banyak sekali bangsawan yang melakukan tindakan keji."
Ekspresi Paus sama sekali tidak berubah. Tak ada rasa takut atau cemas di matanya. Paus tersenyum.
"Baiklah, Permaisuri saya izinkan, tetapi maaf saya tidak bisa mengantar Anda berkeliling."
"Tidak apa-apa, Paus. Saya bisa melakukannya sendiri."
Leticia segera keluar dari aula doa menuju pintu perbatasan menuju gedung pendeta. Pendeta yang menjaga pintu perbatasan mengizinkan Leticia masuk tanpa pengawalnya. Leticia menyetujuinya, meminta pengawalnya menunggu. Ini malah menjadi hal yang bagus baginya. Salah satu pendeta yang menjaga pintu itu memandu Leticia.
"Apakah aku bisa bertemu dengan pendeta bernama Piere?"
"Bisa, akan saya antar ke tempat Piere berada, Permaisuri."
Pendeta itu berjalan terlebih dahulu lalu menuju ruang doa di gedung pendeta. Pendeta itu meminta Leticia menunggu sebentar. Ia masuk ke dalam. Tak lama ia kembali bersama Piere. Leticia meminta pendeta itu kembali ke pos jaganya. Ia akan berkeliling ditemani oleh Piere.
Pendeta itu sudah pergi. Kini hanya tinggal mereka berdua berjalan menuju lapangan rumput luas di bagian belakang gedung pendeta.
Piere bingung karena tiba-tiba seorang Permaisuri mencarinya. Namun, ia tidak berani bertanya lebih lanjut.
Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti dan mendengar apabila mereka bercakap-cakap, Leticia membuka suara.
"Aku adalah teman Dale."
Mata Piere melebar. Ia terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Aku sudah mendengarnya dari Dale semua perbuatan Paus," lanjut Leticia.
__ADS_1
"Apa yang akan Anda lakukan, Permaisuri?" tanya Piere.
"Aku akan menjatuhkan Paus dengan menguak sihir terlarang yang dilakukannya. Paus ingin hidup abadi, aku akan menghentikannya. Apa kamu mau membantuku?" Leticia menatap Piere. Ia butuh bantuan Piere agar rencananya berjalan mulus.
Perbuatan Paus membuat banyak orang menderita. Ia bahkan membuat Paul mencicipi benda terlarang itu karena telah melihat rahasia kelamnya. Piere tidak ingin kuil dipimpin oleh orang jahat yang mementingkan dirinya sendiri dengan mengorbankan orang lain.
"Saya siap membantu Anda Permaisuri." Piere menunduk.
"Aku telah bekerja sama dengan Grand Duke Faust. Beliau akan menghubungimu lewat batu sihir yang diberi oleh Dale. Aku harap kamu memberitahunya jalan menuju ruang bawah tanah itu. Grand Duke Faust akan menangkap, Paus."
"Baik, Permaisuri."
"Jangan pernah katakan hal ini pada siapapun."
"Mulut saya tertutup rapat, Permaisuri."
Piere adalah orang yang bisa menjaga rahasia. Leticia mengetahuinya dari sikap Piere yang tidak mengatakan apapun tentang temannya yang menggunakan barang terlarang pada pendeta lain.
Leticia segera kembali ke kereta kuda untuk kembali ke istana. Keperluannya di sini sudah selesai.
***
Ini salah satu muslihat Dale agar dapat bertemu dengan Isabella. Dale bisa memberikan batu itu pada Tuannya secara langsung atau melalui Leticia terlebih dahulu. Tidak perlu memberikan batu sihir itu lewat Isabella.
Penyihir itu sudah datang. Penampilannya memang lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu tetapi masih ada rasa lelah yang terpancarkan dari Dale.
Dale mengeluarkan batu sihir itu lalu memberikannya pada Isabella. Isabella tersenyum, menerima batu. Reputasi Tuannya akan semakin meningkat dengan jatuhnya Paus.
Isabella berniat mengatakan perasaannya setelah Gerald menjadi Kaisar. Mungkin Gerald akan menolaknya, tetapi ia tidak akan menyesal. Tak pernah ia berharap lebih. Hanya dengan Tuannya tahu tentang perasaannya ia merasa senang.
"Apa yang kamu pikirkan sambil senyum-senyum begitu, Countess?" tanya Dale. Meskipun terdengar riang, tetapi Dale sama sekali tidak tersenyum. Rasa lelahnya membuatnya tidak sanggup bersikap seperti biasa.
"Tidak ada aku hanya membayangkan kejadian setelah Tuanku menjadi Kaisar," jawab Isabella tersadar dari lamunannya.
"Begitu ya. Apa yang akan kamu lakukan setelah Grand Duke Faust menjadi Kaisar, Countess?"
"Aku akan tetap jadi ajudan setianya. Dan... aku akan menyatakan perasaanku kepada Tuanku."
Isabella sebenarnya tidak ingin perasaannya diketahui oleh orang lain. Jadi baru Dale yang mengetahui tentang hal ini. Ia mengatakan hal ini agar membuat Dale berhenti menemuinya.
"Memangnya perasaan apa, Countess?"
__ADS_1
Isabella sedikit kesal mendengar perkataan Dale. Apa Dale pura-pura bodoh? Ataukah tidak mau menyerah setelah mendengar hal ini?
"Tentu saja perasaan cinta."
Dale tersenyum kecut. "Apa Anda tidak salah, Countess?"
"Ini perasaanku sendiri, tentu saja aku tahu apa yang kurasakan." Isabella meninggikan suaranya. Entah mengapa ia merasa marah. Ia sampai tidak menyadari bahwa Dale mulai berbicara formal kepadanya.
Dale berdecak, "Rasa kagum dan cinta itu beda, Countess."
"Tentu saja aku bisa membedakannya." Isabella menggertakkan giginya.
Dale melangkah mendekatinya. Isabella mundur ke belakang merasa tertekan.
"Kalau begitu, kenapa dari dulu Anda tidak berjuang meningkatkan reputasi Grand Duke dan menjadikannya sebagai Kaisar, Countess." Dale menatapnya tajam.
"Aku sudah melakukannya, tetapi semuanya tidak membuahkan hasil. Tawaran Leticia membantu kami mewujudkan impian Tuanku."
"Seharusnya Anda tidak perlu menunggu Leticia untuk hal itu. Jika Anda benar-benar mencintainya, seharusnya segala cara akan Anda kerahkan demi membuat impian Grand Duke tercapai. Anda akan mengorbankan apapun demi mendapatkan cintanya."
Dale melangkahkan kakinya satu lagi. Isabella mundur satu langkah. Ia hendak menjawab tetapi Dale tidak membiarkannya.
"Lalu, apa Anda pernah merasa cemburu melihat Grand Duke berduaan bersama wanita lain?"
Tuannya tidak pernah berduaan dengan wanita lain. Kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ada satu wanita yang terlintas dipikirannya, Leticia. Gerald pernah menyelamatkan Leticia dari penculik. Pasti mereka berduaan. Mereka berdua juga pernah berduaan saat Leticia mimisan, sementara Isabella pergi keluar mencari dokter. Namun, saat itu keadaannya sangat mendesak, ia tidak pernah memikirkan hal yang tidak-tidak pada mereka berdua. Dan keselamatan Leticia lebih penting.
"Sepertinya Anda harus membedakan rasa kagum, berterima kasih dan balas budi, Countess."
Dale melanjutkan langkahnya. Isabella terpojok di dinding.
"Grand Duke Faust adalah sosok untuk menggantikan Leticia. Anda berharap diselamatkan oleh Leticia saat menuju Kediaman Hilbright. Anda hanya ingin teman dan orang bertumpu. Itu saja. Semua perasaan Anda terhadap Grand Duke adalah perasaan ingin balas budi dan kagum, Countess."
Senyum Dale yang biasanya tersungging di bibirnya tidak terlihat dari tadi. Ia benar-benar serius.
Isabella sama sekali tidak bisa membantah perkataan Dale.
"Keperluan saya di sini sudah selesai. Janga lupa, berikan batu ini pada Tuan Anda, Countess."
Dale memegang batu sihir yang digenggam Isabella. Melepasnya, lalu menghilang. Tanpa kata perpisahan, Isabella ditinggalkan sendirian.
Isabella membalikkan badan memukul dinding. Seharusnya ia bisa membalas semua perkataan Dale, tetapi kenapa tidak terpikirkan apapun di kepalanya?
__ADS_1