
Rose habis menilai kemampuan penyihir-penyihir baru. Ia menggerutu karena kemampuan mereka yang sangat kurang. Orang tua mereka satu persatu datang kepada Rose dengan sekumpulan uang. Tentu saja Rose terpaksa meloloskan mereka. Ia harus mempertahankan citranya sebagai penggila dengan ini. Hanya karena punya uang, mereka bisa lolos dengan mudah.
Bisa-bisa pasukan penyihir kekaisaran menjadi sangat lemah. Seperti biasa hal ini bukan urusan Rose. Ini malah bagus karena pasukan penyihir kekaisaran dapat dikalahkan dengan mudah. Pemberontakan Leticia akan berlangsung lancar.
Rose mengumpulkan kandidat penyihir berbakat yang tidak lolos untuk merekomendasikannya kepada Dale. Ia berharap orang-orang berbakat itu dapat berada di tempat yang tepat. Mereka bisa mengembangkan bakatnya lebih tinggi lagi.
Ia berada di ruangannya untuk menghubungi Dale. Berulang kali ia mencobanya, Dale tidak menjawab. Beberapa hari ini penyihir menara satu ini sulit dihubungi. Rose tahu alasannya pasti karena mengumpulkan informasi.
Ia memutuskan untuk menulis surat saja, berteleportasi, menaruh surat itu di meja kerja Dale di menara. Lalu ia kembali ke ruangannya lagi.
Seseorang terkejut melihat kedatangan Rose yang tiba-tiba. Sontak Rose juga ikut terkejut. Ia tidak menyangka ada orang di ruangannya.
Orang itu segera bersikap siap dan menunduk. "Saya minta maaf atas kelancangan saya langsung masuk ke sini."
"Tidak apa-apa, Permaisuri Pertama memanggilku?" Rose mengibas-ibaskan tangannya.
"Benar, Pemimpin Penyihir Kekaisaran."
"Bukankah seharusnya kau berjaga melindungi Tuan Putri?"
"Sekarang, Tuan Putri sedang bersama Permaisuri Pertama. Ada pengawal lain yang melindungi mereka yaitu pengawal pribadi baru Permaisuri Pertama. Sedangkan saya diminta untuk memanggil Pemimpin Penyihir Kekaisaran segera."
"Baiklah aku akan segera ke sana."
Rose segera menuju perpustakaan. Dean mengikuti di belakang Rose. Rose merasa aneh karena ada orang yang mengikuti di belakangnya berhenti dan berbalik.
"Lebih baik kalau kau berjalan di sampingku."
"Saya tidak bisa melakukannya, Penyihir Kekaisaran. Tugas saya adalah mengawal dan melindungi orang. Saya harus bersiap di belakang orang tersebut untuk berjaga-jaga bila ada yang menyerangnya dari belakang."
"Kau tidak perlu melindungiku. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Jadi berjalan saja di sampingku."
Dean terlihat kikuk tetap berada di tempatnya. Rose menarik pengawal Judith untuk berjalan di sampingnya. Dean sudah berada di samping Rose.
"Begini lebih baik."
__ADS_1
Rose melangkah sekali, tak melihat ada orang di sampingnya ia berbalik lagi. Orang yang ia tarik tadi sama sekali tidak beranjak pergi untuk berjalan di sampingnya. Rose menggerakkan kepalanya agar Dean berjalan di sampingnya. Dean yang semula bergeming akhirnya melangkah ke depan.
Rose mulai berjalan berdampingan dengan Dean. Dean merasa ini kejadian yang sangat aneh. Ia ingin menolaknya tetapi Penyihir Istana akan tetap memaksanya.
Mereka sudah sampai pada perpustakaan. Dean segera menempatkan diri. Sedangkan Rose segera masuk ke dalam. Leticia yang sedang mengajari Judith, meminta putrinya untuk belajar sendiri sebentar. Ia membawa Rose menuju lorong rak-rak buku.
"Apakah kamu bisa menyelidiki ini Rose?" kata Leticia sambil mengeluar kertas bergambar wine itu.
"Apa ini Leticia?" tanya Rose sambil menerima kertas itu.
"Aku menemukannya di tempat bisnis baru Count Landell saat malam hari. Kalau kamu sibuk, kamu bisa meminta Dale menyelidikinya. Jangan sampai Braun dan Charlotte curiga. Aku memerlukan kertas ini untuk masuk ke sana. Apakah kamu bisa membuat salinannya?"
Rose membuat kertas yang sama persis dengan kertas yang diberikan Leticia. Lalu mengembalikan kertas asli itu kepada yang punya.
"Aku akan mencoba menyelidiki kertas ini, jadi apa kau dapatkan di sana?" tanya Rose.
"Aku masih belum masuk ke sana, kemarin aku kelelahan. Untuk masuk ke sana, bangsawan harus memakai topeng dan menunjukkan kartu ini. Sepertinya tempat itu adalah bisnis hiburan malam," jelas Leticia.
"Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah Leticia."
Leticia membalasnya dengan satu anggukan. Rose segera pergi, ia melambaikan tangan pada Judith sebelum keluar perpustakaan. Ia menuju ruangannya lalu berteleportasi ke tempat penyedia informasi.
Leticia kembali ke Blaire Heaven dengan memakai topeng dan rambut palsu. Ia tidak ingin tersebar kabar bahwa Permaisuri Pertama datang ke tempat hiburan malam karena Kaisar tidak peduli kepadanya. Seharusnya ia tidak dikenali.
Ia mengantre bersama dengan bangsawan lain. Antreannya tidak sebanyak kemarin. Tanpa disadari Leticia sudah berada di depan pintu masuk bangunan itu. Salah satu penjaga mengulurkan tangan untuk memeriksa kartu. Leticia menyerahkan kartu yang dijatuhkan oleh salah satu bangsawan kemarin. Penjaga itu membolak-balikkan kartu itu. Leticia hanya menatapnya tenang, agar tidak terlihat mencurigakan. Penjaga itu mengembalikkan kartu Leticia, lalu mempersilakannya masuk.
Ia membuka pintu. Begitu masuk ke dalam, bau di ruangan itu menusuk hidungnya, hingga membuat kepalanya pusing. Ia menutup hidung dengan tangannya. Terlihat asap memenuhi ruangan itu.
Bangsawan yang berada di belakang Leticia melewatinya, segera menuju ke lorong di sebelah kiri.
Seorang resepsionis yang juga memakai topeng menyapa Leticia. "Memang saat pertama kali masuk, baunya sedikit menyengat, Nyonya."
Leticia segera menurunkan tangannya. Bau di sini masih terasa aneh, tetapi masih bisa ditolerir.
"Ini pertama kalinya aku datang ke sini. Apa saja yang ada di sini?" tanya Leticia.
__ADS_1
"Anda dapat menikmati produk kami di ruangan tersendiri atau bersama-bersama dengan pengguna yang lain."
Leticia tertegun. Apa ada orang yang mau melakukan hal "itu" bersama dengan banyak orang.
"Aku lebih suka sendirian."
Dengan begitu ia bisa bertanya lebih leluasa kepada pria penghibur yang bersamanya. Tentu saja ia tidak akan melakukan hal "itu". Leticia hanya akan melakukannya dengan orang tercinta. Dan orang itu sudah tak ada lagi.
"Biar saya antar."
Resepsionis itu berjalan menuju lorong yang dilewati bangsawan yang berada di belakang Leticia tadi. Leticia mengikuti di belakangnya. Mereka sampai pada ruangan tempat makan restoran. Di sana ada beberapa gerombolan bangsawan terlihat mabuk dan memegang cerutu. Asap yang ada di ruangan tadi berasal dari cerutu-cerutu itu. Tak ada wanita yang terlihat menggoda bangsawan laki-laki ataupun sebaliknya.
Leticia sadar perkiraannya salah. Tempat ini bukan bisnis hiburan malam. Ini adalah bisnis obat terlarang. Bangsawan-bangsawan yang datang ke sini ingin menikmati obat-obatan itu agar terbebas dari beban yang mereka miliki.
Mereka berjalan hingga sampai di depan ruangan VIP. Resepsionis itu memberikan sebuah cerutu dan kunci kepada Leticia.
"Ini adalah produk kami. Anda dapat menikmatinya di dalam, Nyonya."
"Aku berubah pikiran, kurasa lebih baik menikmati ini bersama orang lain." Leticia mengembalikan kunci itu.
Resepsionis itu tersenyum sambil menerima kunci itu. "Baiklah, mari saya antar ke tempat yang belum penuh, Nyonya."
Leticia kini duduk bersama bangsawan-bangsawan lain yang merasa "terbang". Leticia berniat menyimpan cerutunya sebagai barang bukti. Wanita yang berada di sebelah kanan Leticia mencengkeram tangannya.
"Apa kamu lupa syaratnya? Tidak boleh membawa pulang benda ini," kata wanita itu sedikit mabuk sambil menujuk cerutu yang ada di tangan Leticia. Ia menyeringai lebar.
"Benar, Blaire tidak akan memberimu benda ini lagi, karena bisa saja bisnisnya hancur karena ketahuan," tawa pria yang berada di kiri Leticia.
"Cepat, hisaplah dan bergabunglah bersama kami." Wanita itu melepas tangannya dari Leticia dan menatapnya dengan lekat.
Bangsawan yang berada di meja itu melihat semua gerak-gerik Leticia. Leticia mendekatkan cerutu itu pada bibirnya.
Bangsawan yang di dekatnya menyorakinya, "Buanglah semua masalahmu!"
Cerutu itu telah berada di depan bibir Leticia persis. Sebelum sempat membuka mulut, ada orang yang menarik tangannya dengan kuat hingga cerutu itu terjatuh. Orang itu membawanya masuk ke salah satu ruang VIP. Tangan Leticia terasa sakit akibat cengkraman orang itu terlalu kuat.
__ADS_1
Orang itu memojokkan Leticia ke dinding sambil menatap tajam.
"Apa Anda sudah gila, Permaisuri?!" teriak orang itu.