Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 11 Ujian Kesatria


__ADS_3

Kedua calon kesatria saling bertarung satu sama lain. Di pinggir lapangan, duduklah Judith memegang pena dan kertas menilai kemampuan orang-orang itu. Flint berada di sampingnya, menyadari ada satu wajah yang tidak asing. 


"Apa orang itu prajurit bayaran Duchess?" tanya Flint.


"Benar, salah satu prajurit bayaran yang kutemui saat pemberontakan terakhir."


Flint merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari Leonard, tetapi tidak bisa menjelaskannya. Utang Leonard sudah dibayar, terlebih Judith sudah memberinya utang tambahan seharusnya Lenonard tidak perlu mencari uang lagi dengan mempertaruhkan nyawanya. 


"Kenapa dia ingin menjadi kesatria di sini?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Sangat mencurigakan."


Judith pun berpikirkan sama. Ia sesekali melirik ke arah Leonard mengamati gerak-geriknya. Bila perlu ia akan mengetesnya kesetiaan Leonard. Ketidakpercayaan Judith pada prajurit bayaran yang hanya menginginkan uang sangat tinggi apalagi pertemuan pertamanya dengan Leonard menyiratkan kegilaan Leonard pada uang. Di pikiran Judith, Leonard menyelamatkan orang lain hanya demi uang, bukan karena orang itu terkena masalah.


Pertarungan berakhir. Kedua orang itu saling menunduk lalu bergantian dengan calon kesatria lain. 


Kini giliran Leonard. Tengkuknya terasa ditusuk oleh tatapan Judith dan Flint. Ia tidak merasa dirinya mencurigakan. Baginya, yang terpenting adalah menjalankan misi Marquis Loid lalu membalas dendam pada Duchess Hillbright. 


Dirinya masih memikirkan apa yang akan ia minta karena telah menundukkan seorang Duchess yang dulunya adalah Putri Kekaisaran. Bayaran yang besar pasti tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Ia akan meminta banyak hal, bila Marquis Loid mengingkari janjinya Leonard akan membelot dengan memberitahukan rencana Marquis itu pada Kaisar. 


Pertarungan dimulai. Leonard lalu menyerang dengan membabi buta pada lawannya. Tak mampu mengantisipasi serangan mendadak Leonard, pedang musuhnya langsung terpelanting. Mereka saling memberi hormat atas pertandingan yang berlangsung cepat itu. Pandangan Leonard tertuju pada Duchess Hillbright sambil tersenyum penuh kemenangan.


'Ini adalah langkah awal kehancuranmu, Duchess.'


Judith mengetuk-ngetukkan penanya di meja. Helaan napas kecewa terdengar ke telinga Flint.


"Apa prajurit bayaran itu lolos Duchess?" tanya Flint penasaran.


"Sebenarnya kemampuannya hebat, tetapi dia punya banyak celah, serangan yang tidak perlu dan temperamennya buruk. Tidak mencerminkan seorang kesatria."

__ADS_1


"Jadi dia tidak lolos?"


Pena sudah didekatkan pada nama Leonard, tetapi ada keraguan di sana. Mengingat Leonard pernah menyelamatkan dan bersikap baik pada Ariana, Judith menjauhkan pena itu. Ia menatap Leonard sekali lagi, memberinya kesempatan atas kebaikan kecil pada adiknya.


"Lihat saat ujian besok."


***


Keesokan harinya.


Leonard mendengus kesal, ujian untuk menjadi kesatria banyak sekali. Kemarin ia sudah melalui pertarungan satu lawan satu, ujian memanah dan daya tahan.  Ditambah hari ini ujian berkelompok.


'Ternyata lebih sulit daripada menjadi prajurit bayaran,' batin Leonard.


Flint memberikan pengarahan pada ujian kali ini. Calon kesatria dibagi menjadi tiga kelompok. Tiga kelompok ini akan menjatuhkan kelompok lain. Kelompok yang menang mempunyai kesempatan lebih besar untuk terpilih menjadi kesatria.


Leonard satu kelompok dengan orang yang dikalahkannya kemarin. Orang itu menatap Leonard penuh permusuhan, gara-gara Leonard kemungkinan ia terpilih menjadi kesatria cuma kecil.


Kelompok Leonard menerapkan strategi bertahan. Mereka akan menunggu waktu yang tepat selagi kelompok lain saling bertarung. Menghabisi musuh saat kelelahan merupakan cara paling menguntungkan. Leonard setuju-setuju saja, asalkan strategi itu masuk akal.


Ujian dimulai. Dua kelompok lain saling serang, sedangkan kelompok Leonard hanya berdiam diri, menunggu pemenang diantara dua kelomlok. 


Salah satu teman kelompok Leonard menghampirinya diam-diam. Insting Leonard yang sudah ditempa semenjak menjadi prajurit bayaran memperingatkannya akan datangnya bahaya. Ia pun menghindari serangan dari teman satu kelompoknya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Leonard.


"Kudengar jumlah orang yang lolos hanya delapan. Di kelompok ini ada sembilan orang. Kamulah saingan yang paling merepotkan di sini. Aku akan mengalahkanmu!" Orang itu menghunuskan pedangnya pada Leonard.


Dengan mudah Leonard menghindar dan menyerang balik. Orang yang menyerangnya malah jatuh dengan mudah. Semua anggota kelompok Leonard menatapnya dengan tatapan permusuhan. Perpecahan mulai timbul di antara mereka.

__ADS_1


Judith menyaksikan kejadian tadi hanya menghembuskan napas panjang. Ia mencoret nama orang yang menyerang Leonard tadi. Orang yang melukai teman demi kepentingan pribadi, tidak pantas berada di dalam pasukannya.


Kelompok yang menang terlihat kelelahan, mereka melawan kelompok Leonard. Seharusnya kelompok Leonard menang dengan mudah tetapi tak ada kerja sama di antara mereka hingga membuat mereka kewalahan. Leonard berhasil mengalahkan tiga orang. Namun, anggota kelompoknya semakin berguguran. Leonard tidak mampu mengalahkan sisa lawannya tanpa bantuan mereka.


'Sial, kenapa begini,' keluh Leonard dalam hati.


"Aaa!"


Suara teriakan wanita memecah jalannya pertarungan. Semua orang yang ada di tempat pelatihan terdiam menengok ke arah sumber suara. 


Seorang pelayan tergesa-gesa berlarian ke arah Judith. Ia berbisik kepada Tuannya. Raut wajah Judith berubah, ia bangkit berteriak pada para calon kesatria.


"Ada yang menyerang kediaman Hillbright, kalian lanjutkan pertarungannya! Aku akan mengurus penyerangan ini!" Judith berlalu diikuti Flint.


Calon kesatria yang tersisa melanjutkan pertarungan. Mereka tidak membantu Duchess karena tak ada yang mampu mengalahkannya. 


Tenaga Leonard mulai pulih, ia langsung menghabisi satu musuhnya lagi. Anggota kelompoknya bersusah payah mengalahkan satu orang. Meski begitu, jumlah kelompok Leonard dan musuh berat sebelah. Kelompok Leonard tersisa 3 orang sedangkan musuh berjumlah 4 orang. Mereka bertarung satu kembali untuk menentukan pemenangnya.


"Aaa!"


Teriakan terdengar kembali. Kali ini lebih dekat dan kencang. Pelayan yang memberitahu Duchess tadi diserang oleh penyerbu. Penyerbuan sudah sampai kemari. Penyerbu itu semakin mendekati pelayan itu bersiap mengayunkan pedangnya.


Leonard melirik ke arah pelayan itu dan kelompoknya.


'Sial, apa yang harus kulakukan?'


Jika membantu pelayan ia akan kalah, balas dendamnya tidak akan terwujud. Tetapi bila melanjutkan pertandingan ini, pelayan itu bisa mati.


Leonard menggertakkan gigi sambil mengumpat. Ia meninggalkan kelompoknya. Salah satu anggota kelompoknya berteriak.

__ADS_1


"Kenapa malah pergi? Kami akan kalah!"


Langkah Leonard terhenti, ia menarik napas memantapkan pilihannya. Kakinya melangkah menuju pelayan itu, walau tahu dirinya mungkin akan dibunuh atau disiksa Marquis Loid.


__ADS_2