
Kediaman Wollard
Suara pintu tertutup terdengar. Flint mendapati ibunya sudah menunggu di ruang tengah. Ia tersenyum untuk menenangkan hati ibunya yang khawatir.
"Bagaimana keadaan Duchess, Flint?" tanya Isabella.
"Duchess sudah lebih baik, tetapi masih perlu istirahat, Ibu. Ini berkat Sylvie yang membawa Putri Ariana ke kediaman Hillbright." Meski tindakan adiknya lancang, Flint bersyukur Duchess dapat lebih sehat berkat Sylvie.
Isabella bernapas lega. "Baguslah, aku tidak akan memarahi Sylvie kali ini karena sudah membantu Duchess. Makan malam sudah siap, semuanya pasti sudah menunggu di meja makan."
Mereka berdua menuju menuju ruang makan. Sudah keseharian mereka makan malam bersama, setelah sibuk bekerja. Sebelum Flint berangkat kerja pun, keluarga Wollard tidak lupa berkumpul untuk menyantap makan pagi. Namun, Flint lebih menunggu makan malam karena mereka bisa bertukar banyak cerita.
Isabella membuka pintu ruang makan. Dale dan Sylvie sudah berada di sana. Flint mendekat ke kursi di sebelah Sylvie sedangkan Isabella di samping Dale.
"Kenapa Kakak lama sekali? Padahal bisa pakai batu sihir tetapi kenapa malah naik kereta kuda," gerutu Sylvie yang perutnya terus berbunyi daritadi.
"Aku hanya ingin menghemat bahan batu sihir," balas Flint seraya menyantap makanannya.
"Ngomong-ngomong, batu sihir teleportasi Ayah hilang satu, apa ada yang mengambilnya?" Dale menatap kedua anaknya bergantian.
Tidak mungkin pelayan yang mencurinya, karena Isabella yang membersihkan ruang kerja Dale sendiri dan selalu menguncinya. Ia tidak ingin pelayan malah menyentuh benda sihir yang tidak-tidak dan malah mengacau di ruang suaminya. Hanya Flint dan Sylvie yang memiliki kunci cadangan bila membutuhkan sesuatu di ruang kerja Dale.
Sylvie berjengit. Ia menghindari kontak mata dengan ayahnya.
"Kurasa ulah Sylvie, dia pasti memberikan batu itu pada Putri Ariana." Flint mengingat batu sihir yang digunakan Ariana.
"Aku cuma ingin membantu Duchess dengan membawa Ana ke kediaman Hillbright," ujar Sylvie membela diri.
"Atau bertemu seseorang," celetuk Flint.
Sylvie berdeham sembari mencubit kakaknya. Sudah bukan rahasia di keluarga Wollard kalau Sylvie mempunyai perasaan pada Arion.
"Sudahlah, jangan bertengkar. Ayah tidak memarahimu Sylvie. Lain kali bilang terlebih dahulu, ya." Bibir Dale melengkung ke atas. Lantas menyantap makanannya.
"Baik, Ayah." Sylvie memasukkan makanan ke mulutnya.
Mereka menghabiskan makanan sambil bercakap-cakap. Setelahnya, mereka kembali ke kamar masing-masing. Terdengar helaan napas panjang dari Isabella di kamar Dale.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dale sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Sylvie mendekam di kamarnya." Isabella mengelus-elus tangan suaminya di pinggangnya.
Setelah bertemu dengan Arion, Sylvie pasti tidak mau keluar sampai makan malam. Entah apa yang dilakukannya.
__ADS_1
"Gadis yang dimabuk cinta memang seperti itu. Kamu pernah merasakannya bukan?" Dale mengusap-usapkan dahinya ke bahu Isabelle dengan manja.
Isabella merasa geli. Ia mengecup suaminya sambil tersenyum. "Kurasa itu sikapmu saat masih jatuh cinta dengan Leticia. Sylvie lebih mirip denganmu."
Dale membalas kecupan Isabella. "Dia mirip dengan kita yang pernah jatuh cinta pada orang tua Rion."
Senyum Isabella memudar, ia menatap Dale lurus-lurus. "Aku hanya takut cintanya bertepuk sebelah tangan."
"Kita tidak bisa mengatur perasaan, Sayang. Bila Sylvie patah hati, kita hanya bisa menghiburnya. Lalu, kalau Rion membalas cintanya, kita akan punya menantu seorang Pangeran," canda Dale berusaha menghibur istrinya.
Isabella terkekeh mendengar gurauan suaminya. Pikiran buruknya perlahan menghilang, berubah menjadi harapan. Mungkin saja Arion memiliki perasaan yang sama dengan putrinya.
***
Entah berapa lama Ariana tak mengunjungi ibu kota. Dulunya ia sering ke butik, restoran, toko kue, bersama keluarganya. Semenjak menjadi pendeta ia tidak punya waktu.
Kini ia pergi bersama Raymond. Berduaan bersama orang yang dikenalnya membuatnya lebih tenang.
"Anda mau ke mana, Saintess?" tanya Raymond.
"Aku akan ke dokter," balas Ariana.
Raymond menghentikan langkahnya, menatap Ariana penuh kekhawatiran. "Apa Anda sakit?"
Raymond bernapas lega. Kemarin, ia melihat Ariana memaksakan diri, memberi berkat pada para pekerja tanpa istirahat. Raymond ingin meminta Ariana beristirahat, tetapi ia bukanlah siapa-siapa bagi Ariana.
Mereka menuju dokter yang terkenal di ibu kota. Ariana mengeluarkan obat yang ia ambil dari kakaknya. Ia ingin memastikan kebenaran perkataan Leonard.
"Tolong periksa kandungan dari obat ini," pinta Ariana.
Dokter itu menatap obat itu dan Ariana secara bergantian lantas mengangguk. Ia mengulurkan tangan, meminta bayaran pada Ariana.
Ariana bergeming, di kantongnya tidak ada uang sepersen pun. Ia lupa bahwa tidak ada Ibu ataupun kakaknya yang biasanya membayar semuanya. Raymond yang menyadari hal itu, merogoh sakunya.
"Apa ini cukup?" Raymond meletakkan uangnya di meja.
"Sangat cukup, tunggu seminggu untuk hasilnya." Dokter itu memasukkan penghasilannya ke laci.
Ariana keluar dari klinik itu sembari menutupi wajahnya. Sungguh memalukan padahal ia sudah menjadi Saintess, tetapi hal sekecil itu bisa terlupakan. Raymond bahkan membayarinya.
"Akan kuganti setelah sampai di kuil, Kak Raymond." Ariana membuka tangannya perlahan.
"Tidak apa-apa, anggap saja saya membalas kebaikan Anda selama ini, Saintess."
__ADS_1
"Tapi-" ucapan Ariana disela oleh Raymond.
"Saya harap Anda tidak menolak kebaikan saya, Saintess." Raymond menatap Ariana sendu.
Ariana tidak bisa menang dari tatapan itu. Ia menghela napas panjang, melanjutkan langkah menuju kereta kuda. Raymond tersenyum simpul, merasa senang membantu Ariana.
***
Kereta kuda keluarga Hillbright berhenti di depan gerbang kuil. Pembangunan kuil sebentar lagi selesai, tinggal mengecat tembok gedung pertemuan. Judith menepuk-nepuk bahu Arion, bangga pada adiknya.
"Kerja bagus, Rion."
Arion menoleh ke arah Judith. "Kakak sudah sehat?"
"Sudah, berkat Ana."
"Ayah dan ibu sangat khawatir akan keadaan Kakak."
"Ibu sudah menghubungiku lewat batu sihir kemarin. Ngomong-ngomong di mana Ana?"
"Dia beristirahat sebentar sehabis pulang dari ibu kota." Arion menujuk Ariana yang duduk di bangku dekat pohon.
Judith mendekati Ariana, duduk di sebelahnya. "Apa yang kamu lakukan di ibu kota, Ana?"
Ariana sedikit terkejut, tetapi wajahnya cepat kembali seperti semula. Tak menyangka kakaknya akan datang hari ini. "Aku cuma jalan-jalan, Kak," balas Ariana berbohong.
"Lain kali ajak aku juga."
Ariana mengangguk menutupi kegelisahannya karena berbohong pada Judith. Matanya tertuju pada Leonard yang berada di belakang kakaknya. Sorot mata Leonard yanh semula memancarkan pemderitaan kini terlihat lebih gembira.
"Apa kalian ingin bicara berdua?" tanya Judith menyadari pandangan Ariana.
"Tidak, Kak. Aku akan memberi berkat pada pekerja." Ariana berlari kecil menuju para pekerja.
Judith bersendekap memerhatikan orang-orang yang bekerja sama untuk membangun kuil. Sesekali ia melirik ke arah kesatria yang berjaga untuk menghalangi orang mencurigakan. Keadaannya sangat tenang, tetapi ia resah memikirkan rencana Marquis Loid selanjutnya.
Di kediaman Loid, Flint menemukan beberapa bukti Marquis Loid dalam merencanakan pemberontakan. Namun, bila mengambil bukti itu dengan sembarangan, Marquis Loid malah curiga. Flint terpaksa merelakan bukti-bukti itu dan mencari saksi yang memberatkan Marquis Loid. Bila saksi sudah ditemukan, mereka dapat mengambil di kediaman Loid lantas Marquis Loid akan diadili.
"Daripada mengganggur, bantu para pekerja, Leonard," perintah Judith.
Leonard mendesah pelan, mematuhi perintah Judith. Daripada berdiam diri, melindungi gadis sekuat pria itu lebih baik ia melakukan sesuatu yang lebih berarti.
Hari sudah menjadi gelap. Judith pulang menuju kediamannya. Di depannya duduk Leonard yang sedikit kelelahan. Leonard memantapkan hati untuk mengatakan hal ini.
__ADS_1
"Aku akan membantumu untuk memata-matai Marquis Loid."