Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 17 Ketidakpercayaan


__ADS_3

Gerald dan Isabella menunggu di depan gerbang kediaman Faust. Sudah hampir tiba pertemuan mereka dengan Leticia. Tidak ada tanda-tanda kereta kuda yang datang. Isabella menunggu dengan keadaan tidak tenang. Apakah ia dibohongi? Apakah Leticia hanya memanfaatkannya untuk mengajari putrinya dan mendapat informasi tentang Tuannya?


Tangan Isabella mengepal dengan erat. Gerald melihat tindakan Isabella. Pada akhirnya mereka berhasil ditipu. Ia tidak bisa menyalahkan Isabella. Kepercayaan pada teman lamanya sangat besar, hingga penilaian ajudan Gerald menjadi kabur.


"Kita kembali saja ke dalam," kata Gerald dengan berat.


Isabella menggigit bibirnya. Setelah ini, ia tidak akan menemui Leticia lagi. Pertemuan terakhir dengan teman lamanya, ia anggap tidak pernah terjadi. Ia semakin membencinya hingga tidak bisa memaafkan semua kesalahan yang pernah Leticia lakukan.


"Maafkan saya, Tuan. Saya akan menerima hukuman apapun. Kalau perlu Anda bisa memecat saya." Isabella menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata Tuannya.


"Tidak ada yang salah di sini. Masuk saja dan lanjutkan tugasmu." Gerald membelakangi Isabella, bersiap untuk masuk ke kediamannya.


Cahaya yang bersinar terang muncul dari balik punggung mereka. Sontak mereka berbalik melihat apa yang sedang terjadi. Permaisuri dan dua orang penyihir muncul secara tiba-tiba. 


Isabella membuka matanya lebar-lebar mencerna apa yang ada di depannya. Ia sempat meragukan penglihatannya. Jalan yang semula kosong, kini berdiri tiga orang di atasnya. Tidak ada kereta kuda. Hanya satu cara untuk melakukan perjalanan jauh ke sini yaitu lewat sihir teleportasi 


"Maaf saya datang terlambat. Saya tidak ingin ada yang curiga apabila menggunakan kereta kuda. Jadi saya meminta bantuan dari penyihir untuk menggunakan sihir teleportasi." Leticia menundukkan kepalanya sedikit. Ia memberi salam kepada Grand Duke Faust.


"Masuklah," kata Gerald dingin.


Gerald segera melangkahkan kakinya dari sana. Isabella menatap mereka bertiga dengan tajam. Seharusnya amarahnya hilang karena Leticia sudah menetapi janjinya. Namun, ia merasa tidak senang dengan kehadiran dua orang penyihir yang berada di samping Leticia. 


***


Kini mereka berlima sedang duduk membicarakan rencana untuk menurunkan mahkota Braun. Ini pertama kalinya Leticia bertemu dengan Grand Duke Faust. Ia menatap wajah Grand Duke Faust lekat-lekat. Rambut hitam yang sama seperti suaminya dan mata merah seperti darah yang seolah-olah dapat menerkamnya kapan saja. Wajahnya memang tampan, tetapi raut muka yang tegas dan sangat dingin dapat membuat orang yang melihatnya ketakutan. 


Leticia mempersiapkan hatinya untuk memulai pertemuan. Namun, dari tadi ia merasakan tatapan Isabella tertuju pada Rose dan Dale. Seharusnya ia memberitahu mereka terlebih dahulu apabila mengajak orang luar dalam pertemuan.


"Sebelum mulai pertemuan saya minta maaf apabila mengajak pendamping tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Saya akan memperkenalkan mereka," ucap Leticia terlihat berwibawa.

__ADS_1


"Dia adalah Dale, Pemimpin Penyihir Menara." Leticia menunjuk Dale. Dale ikut tersenyum sembari Leticia mempekernalkan dirinya.


"Sedangkan dia adalah Rose, Pemimpin Penyihir Kekaisaran," kata Leticia memperkenalkan Rose. Tidak ada senyum di bibirnya. Rose sama sekali tidak berusaha bersikap ramah. 


"Saya dengar Pemimpin Penyihir Menara dan Pemimpin Penyihir Kekaisaran tidak akur," ujar Isabella tiba-tiba.


"Kami berdua memang tidak akur. Kami sering bertengkar, tetapi kami mengenal sejak kecil," jawab Rose sedikit ketus. 


"Apakah mereka dapat jaga rahasia?" tanya Gerald.


"Mereka ada sangkut pautnya dalam rencana ini, Grand Duke. Anda bisa mempercayai mereka," kata Leticia meyakinkan Gerald.


Masih terlihat keraguan di mata Gerald dan Isabella. Begitu pula Rose dan Dale. Leticia mulai berpikir kerja sama mereka akan berakhir dengan buruk. 


"Baiklah, kalau begitu mulai saja, Permaisuri," kata Gerald dingin.


"Saya akan langsung ke intinya. Saya ingin Anda memulai pemberontakan Grand Duke."


"Untuk itu, saya akan membantu memulihkan reputasi Anda. Ada beberapa keluarga bangsawan yang berada di ujung tanduk. Anda bisa membantu mereka untuk memperoleh kepercayaan mereka," lanjut Leticia.


"Apakah keuntunganku dengan membantu mereka selain mendapat kepercayaan?" sela Gerald.


"Anda bisa mendapat bantuan militer yang kuat, Grand Duke. Di samping itu, ada bangsawan yang mengelola usaha pandai besi. Anda bisa memasok senjata dari mereka. Pedagang yang di ambang kebangkrutan juga dapat membantu Anda dalam keuangan. Saya sudah menyiapkan beberapa nama bangsawan yang menguntungkan." Leticia menyodorkan sebuah kertas yang berisikan nama bangsawan yang bisa membantu Gerald.


Gerald menerima kertas itu, lalu membacanya. Raut mukanya sama sekali tidak berubah. Seolah-olah ia tidak dapat merasakan emosi. Setelah selesai membaca, ia menaruh kertas itu. 


"Apakah saya harus menemui mereka langsung? Saya rasa mereka akan ketakutan saat melihat Grand Duke Faust yang kejam."


"Sebelum itu, Anda dapat menumpas beberapa bangsawan yang terlibat dalam kejahatan. Orang-orang akan memandang Anda sebagai pahlawan yang membongkar kebusukan bangsawan. Dengan begitu pandangan bangsawan lain terhadap Anda akan berubah. Mereka dapat mempercayai Anda."

__ADS_1


"Apakah Anda juga sudah mendata bangsawan-bangsawan itu?"


"Tentu saja, Anda dapat melihatnya." 


Gerald melihat keseriusan Leticia untuk membantunya memulihkan reputasinya yang buruk. Masih ada satu hal yang mengusiknya. Mungkin pemberontakan yang direncanakan Leticia bertujuan untuk membalas dendam kepada Braun karena telah menduakannya. Namun, hanya kerugian yang didapatkan Leticia apabila pemberontakan itu berhasil. 


"Mengapa Anda ingin melakukan pemberontakan? Tak ada keuntungan yang Anda dapatkan."


"Saya hanya ingin terbebas dari kehidupan istana. Kedudukan saya dan putri saya tidak lagi aman. Saya tidak bisa lagi hamil. Kedudukan Putra Mahkota sudah ditentukan dari awal. Keberadaan saya dan putri saya di istana seperti tidak ada. Seperti yang saya tuliskan di surat, setelah pemberontakan berhasil, Anda bisa mengasingkan saya dan putri saya."


Semua orang terdiam mendengar perkataan Leticia. Rose dan Dale berusaha menghargai keputusan Leticia. Hidup bangsawan yang megah rela ia tinggalkan demi hidup damai bersama putrinya. 


Gerald memejamkan matanya, berpikir sebentar. Isabella sekarang mulai sedikit memahami perasaan Leticia. Tak ada gunanya mempertahankan kedudukan tertinggi ke dua di Kekaisaran apabila sangat rapuh. 


"Baiklah, saya menerima tawaran Anda, Permaisuri."


"Terima kasih, Grand Duke. Saya menuliskan rencana saya di sini. Anda bisa membacanya." Leticia mengeluarkan amplop surat yang ditulis beberapa hari yang lalu.


Isabella menerima amplop itu, lalu memberikannya kepada Gerald. Gerald menyimpan amplop itu dalam sakunya.


"Saya akan ke kediaman ini menggunakan batu sihir untuk membicarakan kelanjutan rencana ini dan apabila memperoleh informasi baru," tambah Leticia.


"Kalau begitu, apa hubungan ke dua penyihir ini dengan rencana yang Anda buat, Permaisuri?" tanya Isabella.


Rose dan Dale serentak memandang Isabella. Tatapan curiga masih dilemparkan kepada mereka. Dale bisa menjaga wajahnya agar tidak terlihat marah. Berbeda dengan temannya, Rose menggertakkan gigi. 


"Mereka akan mengumpulkan informasi. Lalu mereka akan membantu Grand Duke Faust saat melakukan pemberontakan," jelas Leticia.


"Apakah kita bisa mempercayai loyalitas dari orang yang mendedikasikan diri untuk Kekaisaran?" sindir Isabella.

__ADS_1


Rose yang merasa tersindir memukul meja. Ia sudah mengeluarkan dua bola api berada di sampingnya. Isabella segera berdiri, bersiap mengeluarkan pedangnya. Pertemuan mereka berakhir kacau.


__ADS_2