Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 2 Pertarungan Dengan Duchess


__ADS_3

"Siapa gadis itu?" tanya Leonard.


"Bukannya aku pernah menceritakannya padamu? Dialah pemimpin pasukan ini. Bangsawan yang mengalahkan pemberontak-pemberontak sebelumnya," jelas Will.


"Kau tidak pernah mengatakannya kalau dia adalah perempuan," protes Leonard.


"Kau sendiri yang tidak mau tahu informasi tentang bangsawan," balas Will.


Duchess Hillbright menerima salam kesatrianya. Matanya sekilas bertatapan dengan Leonard. Wajah Duchess tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia berlalu menuju tendanya.


Leonard masih terdiam di tempatnya menatap bangsawan muda itu. 


'Bagaimana bisa gadis penakut itu memimpin pasukan?' batin Leonard.


***


Duchess Hillbright berdiri di panggung untuk memberikan pidato. Ia mengedarkan pandangannya pada seluruh pasukan. Wajahnya mengeras saat melihat kumpulan pendeta. Namun, hanya sebentar saja. Ia mulai memberikan pidatonya.


Leonard sama sekali tidak mendengar pidato dari Duchess Hillbright. Ia masih mengamati Duchess dari ujung kepala hingga ke kaki. Memang tingginya melebihi rata-rata gadis bangsawan, tetapi Leonard tidak yakin Duchess bisa mengalahkan seorang lelaki.


Duchess Hillibright menyudahi pidatonya ia menuju tendanya. Pemimpin prajurit bayaran mendekati Duchess itu diikuti oleh Leonard. Leonard berpikir kalau pemimpin prajurit bayaran juga tidak setuju kalau orang yang memimpin penumpasan pemberontak adalah seorang perempuan.


"Duchess, tunggu," teriak pemimpin prajurit bayaran.


Duchess Hillbright berbalik menatap pemimpin prajurit bayaran. "Ada apa?"


"Saya sudah melakukan hal yang diperintahkan Duchess apa Anda mau mendengarnya sekarang?" 


"Nanti saja, ada orang yang menguping." Pandangan Duchess Hillbright beralih pada Leonard yang bersembunyi di salah satu tenda. Leonard keluar langsung menyatakan kepentingannya.


"Aku tahu bangsawan harus dihormati, tetapi jika ada sesuatu yang salah seharusnya kita memprotesnya. Kenapa pemimpin malah diam saja, membiarkan gadis ini memimpin pasukan? Bisa-bisa korban jiwa yang berjatuhan sangat banyak."


Wajah pemimpin prajurit bayaran menegang. Ia membekap mulut bawahannya yang kurang ajar itu. Kepala tertunduk tidak berani menatap Duchess yang pasti marah.


"Begitu ya? Kalau begitu apa kamu yang mau memimpin pasukan ini?" ucap Duchess sinis.


Leonard melepas tangan pemimpin prajurit bayaran. "Kalau aku punya kekuatan, tentu saja aku mau. Sebenarnya aku tidak masalah dipimpin oleh orang lain asalkan orang itu kuat."

__ADS_1


Pemimpin prajurit bayaran segera memukul kepala Leonard dan terus menunduk meminta maaf. Ia juga menyuruh Leonard meminta maaf atas kelancangannya.


"Kalau begitu akan kubuktikan. Lawanlah aku," tantang Duchess Hillbright.


"Aku setuju," jawab Leonard mantap.


Pemimpin prajurit bayaran mendongak sambil menggeleng. "Duchess maafkan saya karena tidak memberitahunya dengan benar. Anda tidak perlu bertarung. Akan saya yakinkan anak ini."


"Dia tidak akan yakin kalau tidak melihat sendiri. Bawalah prajurit bayaran yang lain untuk melihat pertarungan kami, supaya jangan ada keraguan di antara mereka juga," perintah Duchess Hillbright.


"Baik Duchess," tunduk Pemimpin prajurit bayaran. Ia segera memanggil prajurit bayaran lain untuk berkumpul.


Duchess Hillbright dan Leonard bertatapan sengit. Tidak ada ketakutan yang menyelimuti hati Leonard. Ia akan membuktikan bahwa gadis bangsawan tidak boleh bermain-bermain dengan perang. Seharusnya seorang gadis duduk manis saja di kediamannya.


Prajurit bayaran lain sudah berkumpul. Pemimpin prajurit bayaran membawakan pedang untuk Duchess dan Leonard. Setelah semuanya siap ia memberi aba-aba untuk memulai sambil menutup mata. Ia takut kejadian buruk akan menimpa bawahannya.


Kedua petarung itu diam saja. Tak ada yang maju terlebih dahulu. Leonard sebenarnya memberikan Duchess kesempatan untuk menyerang pertama kali, tetapi sepertinya gadis itu tidak paham.


"Kenapa kau tidak menyerang?" tanya Leonard.


Duchess Hillbright tersenyum miring. "Sekali aku menyerangmu kamu akan kalah."


Dengan cepat Duchess menghindar dan menjegal Leonard hingga terjatuh. Seluruh penonton bersorak. Leonard merasa kesal segera bangkit menyerang Duchess lagi. Seluruh serangannya dapat dihindari dengan mudah. Ia mulai merasa kesal.


"Berhentilah menghindar."


"Baiklah aku akan menyerang."


Pedang Duchess segera menepis pedang Leonard hingga terlempar. 


"Ini masih belum membuktikan apa-apa," jawab Leonard yang tidak mau mengaku kalah.


"Menyedihkan."


Duchess pun membuang pedangnya karena merasa pertandingan tidak adil. Leonard memasang kuda-kuda untuk bertarung tangan kosong. Ia tidak tega memukul perempuan dan memang tidak ingin memukul Duchess. Ia hanya akan menakut-nakutinya.


Leonard melayangkan pukulannya. Duchess menghindarinya dan memukul ulu hari Leonard. Terasa seperti ada banteng yang menghantam tubuh Leonard. Tak membiarkan Leonard beristirahat, Duchess menyikut punggung Leonard hingga tersungkur. Suara tabrakan tubuh Leonard ke tanah terdengar keras. Leonard meringis kesakitan. Ia berusaha berdiri tetapi tidak sanggup.

__ADS_1


"Apa sudah selesai?" sindir Duchess.


Leonard tak mampu menjawabnya karena merasa malu. Ini pertama kalinya ia dipermalukan oleh perempuan.


"Panggil pendeta untuk menyembuhkan orang ini. Dan jangan pernah meremehkanku karena aku adalah perempuan," peringat Duchess pada orang-orang yang berada di sana.


"Baik, Duchess," jawab pemimpin prajurit bayaran.


Penonton mulai kembali ke tenda masing-masing. Mereka mendapat tontonan yang menarik dan tidak akan melupakan kejadian tadi.


Leonard masih tersungkur ke tanah mengepalkan tangannya dengan erat. Ia akan membalas bangsawan yang melukai harga dirinya tadi. Apa pun caranya.


Suara langkah kaki mendekati Leonard. Mata Leonard menangkap pendeta perempuan berambut hitam yang mulai menyembuhkannya. Rasa sakit di tubuhnya mulai berkurang. Ia bangkit untuk melihat wajah orang yang menyelamatkannya.  Pendeta ini masih muda berumur sekitar 12-14 tahun. Leonard terkejut tetapi berusaha menutupinya. Pendeta itu menyadarinya lantas berkata.


"Saya tahu apa yang Anda pikirkan. Saya memang masih anak-anak tetapi kekuatan penyembuhan saya tidak kalah dengan pendeta lain."


Leonard cepat-cepat menyelesaikan salah paham di antara mereka. "Aku tidak berpikir tentang itu. Hanya saja kamu terlalu muda untuk ikut menumpas pembeontakan ini."


"Saya hanya ingin membantu orang tua saya," jawab pendeta itu terlihat murung.


Leonard hanya bisa menebak-nebak alasan gadis yang masih muda ini rela maju untuk menumpas pemberontak. Pasti karena keuangan. Bisa jadi orang tuanya mempunyai utang seperti orang tua Leonard atau karena sakit keras sehingga membutuhkan pengobatan. Nyawanya bisa melayang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya karena pemberontakan ini. Sungguh perbuatan yang mulia. Leonard tidak ingin bertanya karena tidak enak hati menanyakan pertanyaan pribadi apalagi mereka baru saja berkenalan. Tidak mereka belum berkenalan.


"Siapa namamu?" tanya Leonard.


"Saya Ariana."


"Aku Leonard. Senang bertemu denganmu. Tidak perlu bicara seformal itu denganku."


"Baik." 


Ariana berdiri. Ia sudah selesai menyembuhkan Leonard lantas kembali ke tendanya. Leonard berjanji akan melindungi gadis itu. Ia telah membantunya jadi sudah sepantasnya Leonard membalasnya.


***


Leonard bangun lebih pagi daripada yang prajurit lain. Ia melakukan pemanasan dan berlatih. Dengan menjadi kuat, tujuan untuk membalas Duchess Hillbright akan tercapai. 


Terdengar suara orang berbicara. Leonard menghentikan latihannya mendekati sumber suara itu. Ia bersembunyi, memerhatikan Duchess berbicara dengan pendeta yang tertunduk. Ia mengenali pendeta itu, Ariana.

__ADS_1


Dengan cepat, Leonard menghentikan ceramah Duchess pada Ariana.


__ADS_2