Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 20 Serangan Mendadak


__ADS_3

Leticia berlutut di kuil untuk berdoa. Ia memejamkan mata sambil menyampaikan permohonannya. Ia hanya ingin kehidupan yang damai bagi dirinya dan putrinya. Ia berharap rencana yang ia jalankan berhasil.


Leticia berdiri, membuka matanya. Ia sudah selesai berdoa. Paus datang mendekatinya.


"Semoga Tuhan menyertai Anda, Permaisuri," salam Paus.


"Terima kasih, Paus." Leticia menundukkan kepalanya. Ia akan membongkar kebusukan dari orang yang ada di depannya ini.


Leticia mendongak. Paus undur diri untuk memberi salam kepada setiap orang yang datang ke kuil. Dengan senyum palsunya, ia mampu membuat semua orang mempercayai dirinya. 


Leticia pergi meninggalkan ruang doa. Tujuan utama Leticia sebenarnya bukanlah ke kuil. Ia berniat menyelidiki penculikan anak-anak di desa dekat kuil. Namun, apabila ia langsung ke desa orang-orang yang dibawanya akan mencurigainya. Braun dan Charlotte pasti menempatkan beberapa pengawal untuk memata-matai Leticia. Leticia tidak ingin rencananya ketahuan. Ia bisa berdalih sehabis dari kuil ia berniat ke desa terdekat untuk beristirahat.


Ia memang awalnya berniat menyelidiki kuil, tetapi Paus pasti sudah menyingkirkan barang bukti dari sana. Tidak ada yang informasi penting yang akan Leticia dapatkan. Ia akan langsung menuju ke desa.


Leticia bertemu dengan salah satu orang yang ia kenal berdiri di pintu masuk ruang doa. Grand Duke Faust datang untuk berdoa. Tidak lebih tepatnya, Leticia memintanya untuk membuat kegaduhan di kuil. Dengan datangnya Grand Duke yang kejam akan membuat pihak kuil was-was. Gerald juga dapat menyelidiki pihak kuil melalui ketakutan yang ia sebarkan. Mungkin Paus akan menunjukkan kelemahannya tanpa sengaja. Apabila rencananya gagal, Gerald masih bisa mendapat keuntungan. Grand Duke yang kejam mengunjungi kuil dapat berarti ia berusaha bertobat.


Sebelumnya Leticia mengirimkan surat ke Grand Duke Faust melalui Judith. Tentu saja Judith tidak memberikannya secara langsung kepada Grand Duke Faust. Ia memberikan surat itu ke Isabella, lalu Isabella menyampaikannya kepada Gerald, seperti pada saat Gerald memberikan undangan kepada Leticia.


"Salam kepada Permaisuri Pertama." Gerald membungkukkan badan sedikit untuk memberi salam.


Leticia menerima salam itu lalu berkata, "Tidak seperti biasanya Anda datang untuk berdoa, Grand Duke."


"Tidak ada salahnya untuk berdoa, Permaisuri," jawab Gerald.


Mereka bersandiwara agar terdengar oleh orang di sekitar mereka. Setelah pandangan orang-orang yang lewat tidak tertuju pada mereka, Leticia dan segera berpindah tempat sebelum ada orang yang sadar. Mereka mencari tempat yang sepi agar tak seorangpun mendengar pembicaraan mereka. Pengawal Leticia menunggu di pintu utama kuil. Ia tidak ingin mereka mencurigai pertemuannya dengan Gerald atau mendengar pembicaraan mereka berdua. 

__ADS_1


"Saya akan menyelidiki desa di dekat kuil. Saya dengar ada anak yang menghilang di sana," kata Leticia dengan tegas.


"Apa ada hubungannya dengan tindakan terlarang yang dilakukan kuil?" tanya Gerald.


"Menurut saya ada. Sebelumnya Visclunt Gremaroft berdonasi di kuil dalam jumlah yang besar. Desa itu termasuk dalam wilayah kekuasan Viscount Gremaroft. Sepertinya Paus dan Viscount Gremaroft bekerjasama," jelas Leticia.


"Baiklah, jadi apa yang harus saya lakukan?" Gerald menatap Leticia.


Leticia membalas tatapan Gerald. Grand Duke Faust tidak semenenakutkan yang ia kira. Sebelumnya Leticia sedikit terbawa rumor buruk tentang orang yang ada di depannya. Sekarang ia sudah tidak takut lagi.


"Sama seperti surat yang saya kirimkan kepada Anda, Grand Duke. Anda hanya perlu berdoa, membuat Paus kebingungan. Jika perlu Anda bisa mengungkit donasi Count Blaire, Marquis Lodrey, dan Viscount Gremaroft dalam jumlah besar. Saya yakin mereka ada sangkut pautnya dengan sihir terlarang yang dilakukan kuil."


"Baiklah, akan saya lakukan, Permaisuri."


"Terima kasih, sudah mempercayai saya, Grand Duke."


Leticia undur diri untuk pulang. Gerald menuju ke ruang doa untuk menjalankan rencana Leticia.


Leticia mendengar orang-orang yang saling berbisik tentang kedatangan Grand Duke Faust ke kuil. Mereka membicarakan tentang kemungkinan Grand Duke Faust berusaha berubah atau mereka yang ketakutan melihat Grand Duke kejam. 


Leticia naik ke kereta kudanya menuju ke istana. Ia akan berpura-pura merasa letih di tengah perjalanan lalu meminta kusir menuju ke desa terdekat.


***


Leticia memperhatikan pemandangan di luar jendela. Ia memperkirakan jarak antara desa dengan kereta kudanya sudah dekat atau belum. Ia masih berada di pertengahan. Sebentar lagi Leticia akan bersandiwara.

__ADS_1


Kereta kuda berhenti. Leticia tersentak.


'Apa yang terjadi di luar?'


Terdengar salah satu pengawalnya berteriak, "Lindungi Permaisuri!"


Suara pedang yang saling beradu terdengar. Panah yang meleset tertancap di tanah. Kemungkinan besar rombongan Leticia diserang oleh perampok. Pundi-pundi uang akan mereka dapatkan dengan menculik atau membunuh orang yang ada di dalam kereta kuda. 


Atau bisa jadi orang yang bertarung dengan pengawal Leticia di luar adalah pembunuh bayaran yang diminta membunuhnya.


Leticia mendekat ke jendela. Pengawalnya bertarung orang yang memakai kain untuk menutupi mulutnya. Tidak ada yang tahu identitas dari penyerang rombongan Leticia. Tiba-tiba anak panah menancap di sebelah jendelanya. Ia terjatuh, kakinya gemetaran. Ada orang yang mengincar nyawanya. Dan kejadian mengerikan yang dilaluinya ini tidak ada dalam rencananya.


Leticia menguatkan hatinya. Ia harus bertahan hidup. Perampok atau pembunuh  itu masih sibuk melawan pengawalnya. Ini adalah saat yang tepat untuk melarikan lari. Leticia membuka pintu kereta kuda, mencari saat yang tepat untuk lari. Setelah merasa tak ada yang memperhatikannya ia berlari menuju hutan. Ia tidak memedulikan hal lain. Ia harus menyelamatkan diri. 


Kaki Leticia terus melangkah menjauhi keretanya. Sesekali ia melihat ke belakang. Ia merasa ada orang yang mengawasinya. Namun, tidak ada orang yang mengejarnya. Mungkin salah satu perampok atau pembunuh itu bersembunyi di balik pepohonan untuk menunggu kesempatan emas menculik atau membunuh Leticia.


Langkah Leticia semakin lama semakin memelan. Ia menyesali keputusannya untuk berhenti belajar pedang. Semenjak Isabella marah kepadanya ia tidak pernah memegang pedang sekalipun. Jika ia nekat melanjutkan belajar pedang sembunyi-sembunyi dari ayahnya, mungkin ia tidak akan kelelahan seperti ini.


Leticia menghentikan langkahnya. Kakinya sudah tidak kuat lagi. Ia menarik napas untuk memulihkan tenaganya. Mata yang mengawasinya masih terasa. Leticia menebarkan pandangan ke sekitarnya. Tak ada seorang pun.


Ia menenangkan hati dan pikirannya untuk berpikir. Seharusnya ini adalah kesempatan untuk menculik atau membunuh Leticia. Namun, mengapa orang itu masih diam saja? 


Leticia merasa kejadian ini sangat aneh. Apa tujuan orang itu? Apakah dia musuh atau teman? Siapa orang itu? Hanya satu orang yang tindakannya tidak bisa Leticia prediksi.


"Keluarlah, Dale," kata Leticia setengah berteriak.

__ADS_1


Sesuai dugaan Leticia, Dale muncul tiba-tiba. Sikap tangannya seperti habis melepaskan tudungnya. Ia tersenyum hingga menyerupai seringai jahat. Leticia menatapnya tajam. Apa sebenarnya yang direncanakan Dale?


__ADS_2