
Gerald melihat ada sekitar sepuluh anak lebih yang terluka. Gerald masuk ke dalam tanpa suara. Mereka berada ruangan jeruji yang berbeda, tiap anak satu ruangan. Mereka tertidur dengan mengernyit. Tampak lebam dan luka yang belum kering di tangan dan kaki mereka. Tubuh mereka juga terluka, terlihat dari noda darah yang menembus di baju.
Gerald merasa geram melihat hal ini. Anak-anak ini kemungkinan adalah anak-anak hilang di desa dekat kuil. Mereka diculik lalu disiksa untuk menyenangkan hati Viscount Gremaroft. Viscount Gremaroft menyiksa mereka untuk melampiaskan amarahnya. Bisnis yang ia jalankan hampir bangkrut sehingga ia melampiaskannya pada anak-anak tidak bersalah ini. Viscount menawari Gerald untuk bekerjasama untuk menyelamatkan bisnisnya.
Gerald membuka salah satu ruangan beruji besi itu. Ia menyelamatkan anak itu untuk dirawat di kediamannya. Anak itu masih tertidur dalam gendongan Gerald karena kelelahan. Anak yang ia selamatkan akan menjadi saksi perbuatan kejam Viscount Gremaroft.
Gerald melihat anak-anak itu. Tidak mungkin ia membawa mereka semua. Waktunya tidak cukup. Viscount Gremaroft dapat bangun kapan saja apabila ia membuat kegaduhan.
Gerald menutup kembali pintu jeruji, begitu pula pintu kayu tanpa ukiran dan hiasan. Ia segera kembali ke pintu utama tempat Isabella dan Gerald bertemu setelah selesai menyelidiki tempat ini. Isabella pasti sudah berada di sana menunggu Gerald.
Dugaan Gerald benar. Isabella telah menunggunya di pintu utama.
"Siapa dia, Tuan?" tanya Isabella.
Isabella mendekati Tuannya. Ia berhenti melihat keadaan anak yang digendong Grand Duke Faust. Keadaan anak itu sangat memprihatinkan.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita kembali saja ke kediaman," tegas Gerald.
Isabella mengangguk menuruti Tuannya. Mereka berlari menuju kuda yang sebelumnya mereka parkirkan di luar kediaman Gremaroft. Mereka naik ke kuda lalu memacunya sangat cepat. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan keberadaan mereka akan ketahuan. Prioritas mereka adalah menyelamatkan anak ini.
***
Hari menjelang fajar, Gerald dan Isabella sudah sampai di kediaman Gremaroft. Mereka segera membawa anak itu ke ruang tamu untuk mengobatinya. Isabella mengambil baskom berisi air dan lap untuk membersihkan luka anak itu.
Anak itu mengernyit kesakitan lalu terbangun. Ia terkejut berada di tempat yang tidak dikenal. Ia juga ketakutan melihat Isabella.
__ADS_1
Lap yang Isabella pegang ditepis anak itu. Ia mencengkram kedua lengan Isabella dengan kuat sambil menangis.
"Tidak, jangan bawa aku ke tempat itu lagi. Aku tidak mau bertarung!" rengek anak itu.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu aman. Aku akan membersihkan lukamu lalu membalutnya," kata Isabella lembut
Cengkraman di lengan Isabella mengendor. Isabella mengambil lap untuk melanjutkan yang ia lakukan tadi.
Gerald mengepalkan tangannya dengan erat. Anak-anak tidak bersalah menjadi mainan bangsawan.
Setelah selesai mengobati luka anak itu, Gerald memberikan anak itu makanan. Anak itu makan dengan lahap seperti tidak pernah makan selama beberapa hari.
Gerald meminta Isabella untuk memperoleh informasi dari anak itu. Wajah Gerald yang dingin malah akan membuat anak itu ketakutan, sehingga ia menyerahkannya kepada Isabella.
Anak itu masih waspada kepada Isabella dan Gerald. Ia takut kalau mereka akan memperlakukannya sama seperti Viscount Gremaroft. Isabella berusaha membujuknya. Orang tuanya di desa merasa khawatir karena anak mereka hilang. Orang tuanya sedang menunggunya. Isabella berjanji akan mengantar anak itu pulang.
Anak itu menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada Isabella. Ia sering bermain hingga malam hari. Sebenarnya orang tuanya sudah memperingatkannya karena sebelumnya pernah terjadi kasus anak hilang di desa. Namun, ia mengabaikan nasihat orang tuanya.
Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya. Ia keluar untuk bermain di rumah temannya. Tidak disangka ada orang yang membekapnya dari belakang. Ia tidak sadarkan diri. Bangun-bangun ia sudah tiba di jeruji besi.
Anak-anak di desa yang hilang berada di jeruji besi yang lain. Ia merasa ketakutan.
Tiba-tiba pria gendut datang. Pria itu memerintahkan anak-anak masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang berada di tengah-tengah ruangan jeruji besi itu.
Anak-anak itu sampai pada ruangan yang sangat luas. Pria itu memaksa anak-anak bertarung satu sama lain, ia berjanji memulangkan anak yang mampu menjadi pemenang. Pria itu tertawa keras saat anak-anak saling pukul dan melukai satu sama lain.
__ADS_1
Hanya ada satu pemenang. Anak yang menjadi pemenang merasa senang karena bisa bertemu dengan keluarganya, tanpa memperhatikan kesedihan dan rasa sakit dari anak-anak yang lain. Viscount Gremaroft membawa pemenang itu. Pemenang itu tak pernah kembali lagi. Anak-anak itu terus bertarung sekitar sebulan sekali. Setiap ada anak yang keluar, ada anak baru yang datang ke jeruji besi itu.
Anak yang diselamatkan Gerald tertidur setelah menceritakan semua kejadian malang yang menimpanya. Isabella dan Gerald tercengang mendengar hal itu. Mereka tidak menyangka perbuatan Viscount Gremaroft sekeji itu.
Ada satu hal yang mengusik mereka, ke mana perginya anak yang menjadi pemenang? Tidak mungkin Viscount Gremaroft membiarkan anak itu kembali ke desa. Tidak ada anak yang bertemu kembali dengan orang tuanya. Hanya ada satu kemungkinan terbesar, Viscount Gremaroft membungkam anak yang menjadi pemenang itu selamanya, agar tidak ada saksi hidup.
"Isabella, cepat pergi ke istana. Laporkan perbuatan keji dari Viscount Gremaroft!" perintah Gerald.
"Baik, Tuan." Isabella segera pergi dari ruangan itu.
Gerald akan kembali ke kediaman Gremaroft. Sudah pasti Viscount Gremaroft menyadari ada satu anak yang hilang. Pria gendut itu akan murka dan melampiaskannya pada anak-anak yang lain.
Tindakan Gerald dengan menyelamatkan anak itu cukup gegabah, tanpa ada perencanaan sama sekali. Seharusnya ia meminta pendapat dari Permaisuri Pertama terlebih dahulu. Namun, tidak ada waktu. Semakin lama mereka bertindak maka anak-anak itu semakin menderita.
Gerald segera menuju kereta, lalu segera beranjak dari sana.
***
Suara pria berteriak memenuhi ruangan itu. Viscount Gremaroft mengumpat, memarahi pelayannya yang tidak bisa menjaga mainannya dengan becus. Salah satu mainannya telah kabur. Dan nyawa Viscount bergantung pada anak itu. Sekali saja anak itu buka mulut, seluruh rahasia Viscount akan terkuak.
Ia menyuruh semua orang di kediamannya untuk mencari maniannya yang hilang, kecuali anak-anak yang berada dibalik jeruji besi. Mereka harus menemukannya, kalau tidak mereka semua akan dipecat.
Salah satu pelayan Viscount Gremaroft kembali memberi kabar bahwa Grand Duke Faust datang kembali. Viscount segera membenahi pakaiannya yang tidak rapi karena terburu-buru. Ia harus berpenampilan sempurna agar kerjasamanya dengan Grand Duke Faust lancar. Pasti Grand Duke Faust kembali untuk segera menerima tawarannya.
Viscount Gremaroft tersenyum lebar. Ia melupakan mainannya yang hilang sejenak. Angan-angan uang yang berhamburan di hadapannya memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Grand Duke Faust berdiri di depannya. Dengan tatapan yang tajam seolah-olah akan membunuhnya. Sayangnya, Viscount Gremaroft tidak menyadarinya. Ia mengira memang seperti itulah raut muka Grand Duke Faust. Ia tidak menyangka dirinya sedang menyambut algojo.