
Leonard menelan ludahnya. Ia belum siap menghadapi Permaisuri. Keringat dingin membanjiri dahinya karena Permaisuri semakin mendekat.
"Bagaimana keadaan Duchess?" tanya Leticia.
Kelegaan memenuhi hati Leonard. Ia mengira Permaisuri curiga akan hubungannya dengan Judith.
"Duchess hanya kelelahan setelah bertarung dengan Marquis Loid, Permaisuri," jawab Leonard sedikit gugup.
"Syukurlah dia baik-baik saja. Bawa Duchess ke kamar."
"Baik, Permaisuri."
Leonard segera menuju ke kamar Duchess. Ia tidak menyadari Leticia terus menatap punggungnya dengan curiga.
***
Judith membuka matanya perlahan. Pemandangan langit-langit kamar menghiasi matanya. Ia menoleh ke samping, Leticia menggenggam tangannya penuh harap. Ibunta tersenyum melihat Judith terbangun.
"Bagaimana keadaan Rion dan Ana, Ibu?" Judith berusaha bangkit.
"Mereka baik-baik saja berkat Paus berhasil menetralkan efek racun."
Judith bernapas lega. "Apa mereka sudah kembali ke istana dan kuil?"
Leticia menggeleng. "Mereka menunggumu bangun untuk berpamitan. Mereka sudah ada di meja makan bersama Kaisar."
Gerald datang ke kediaman Hillbright kemarin malam setelah urusannya selesai. Melihat anaknya yang kesakitan, ia hampir menuju ke kediaman Loid untuk membantu Judith menghabisi Marquis satu itu. Namun, Leticia melarangnya karena Judith tak ingin dibantu.
"Baiklah, aku akan ke sana." Judith memanggil pelayan untuk membantunya membersihkan diri.
Leticia berjalan menuju ke pintu. "Ibu akan menunggumu di ruang makan. Dan, jangan lupa kenalkan kekasihmu."
Sontak Judith berbalik menatap ibunya. "Bagaimana Ibu bisa tahu?"
"Dia yang menggendongmu kemari. Kamu tidak pernah membiarkan dirimu terlihat lemah di hadapan orang lain kecuali orang yang kamu kasihi."
"Ibu akan merestui hubungan kita bukan?" tanya Judith sedikit ragu.
Leticia tidak mempermasalahkan status kekasih Judith yang merupakan rakyat jelata, baginya sifat dari pria itu lebih penting. Judith memberitahunya beberapa hari yang lalu melalui batu sihir bahwa sedang jatuh cinta pada rakyat jelata, tetapi tidak disebutkan dengan jelas nama dari pria itu. Leticia menduga bahwa pria yang dimaksud Judith adalah pengawalnya.
"Akan Ibu putuskan nanti setelah melihatnya," balas Leticia seraya keluar dari kamar Judith.
__ADS_1
Judith tidak bisa tenang memikirkan perkataan ibunya selama membersihkan diri. Belum ada yang pria yang berhasil memenuhi kriteria dari Leticia dan Gerald untuk menjadi kekasih putri-putri mereka. Pangeran dari kerajaan lain pun bahkan mereka tolak mentah-mentah.
Setelah berpakaian, Judith segera menuju kamar Leonard. Pengawalnya itu malah tertidur pulas. Judith menekan pelipis, khawatir akan hubungannya dengan Leonard.
"Bangunlah, Leon!" teriak Judith.
Leonard terkesiap. Ia mengusap-usap matanya. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat Judith.
"Aku tidak menyangka kamu akan langsung membangunkanku," balas Leonard dengan nada menggoda.
"Tidak ada waktu, cepat berpakaian. Kamu diundang untuk makan bersama dengan keluargaku." Judith tergesa-gesa mencari pakaian yang pantas untuk Leonard.
Lemari Leonard berisi pakaian biasa. Baju mahal yang Judith belikan tersobek-sobek. Dengan terpaksa, Judith memilih pakaian yang menurutnya paling bagus lantas melemparnya pada Leonard.
Leonard masih kebingungan. Ia terbelalak setelah mengerti maksud Judith. Kaisar dan Permaisuri sudah menunggu untuk menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
***
Kakinya Leonard bergetar duduk di ruang makan. Ia menoleh ke arah Flint untuk meminta pertolongan, tetapi ajudan Duchess itu mengabaikannya.
Suasana mencekam menusuk kulit Leonard. Kaisar terkadang meliriknya seolah-olah akan membunuhnya. Adik-adik Judith menyantap makanan dengan elegan. Leonard yang tidak mengerti tata krama makan bangsawan hanya bisa memandangi makanannya.
"Tidak, saya tidak lapar, Permaisuri." Leonard tertunduk, kepercayaan dirinya luntur ketika berhadapan dengan dua orang dengan kedudukan tinggi itu.
"Bagaimana kamu bisa melindungi Judith jika tidak makan?" cemooh Gerald.
"Baik, saya akan makan, Kaisar." Leonard memasukkan makanan ke mulutnya dengan tangan gemetar. Lidahnya tak mampu merasa apa pun.
"Sejak kapan Kakak dan Leonard menjalin hubungan?" tanya Ariana penasaran. Sejak Leonard memperingatkannya tentang obat itu, Ariana menduga bahwa kepedulian Leonard pada Judith bukanlah sebagai pengawal. Ia datang ke kediaman Hillbright untuk memberitahu kakaknya, salah satu pekerja berkhianat. Meskipun semuanya terlambat
"Baru kemarin."
Judith menoleh ke arah Leonard sembari mencubitnya. Ia tidak menyangka Leonard akan jujur tanpa tahu akibatnya. Tatapan penuh curiga dilontarkan pada Leonard.
"Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Lawan aku jika ingin meneruskan hubungan kalian, Leonard." Gerald menyudahi makanannya menatap Leonard.
"Ayah, jangan begitu. Tidak ada orang yang sanggup mengalahkan Ayah," rengek Judith meminta kelonggaran.
"Aku tidak bisa membiarkan orang lemah menikahi putriku," balas Gerald.
Leonard mengepalkan tangannya. Ia tidak akan menyerah atas hubungannya dengan Judith.
__ADS_1
"Saya menerima tantangan Anda, Kaisar," tekad Leonard.
Mereka telah sampai di lapangan latihan. Gerald dan Leonard saling berhadapan. Pertarungan dimulai berat sebelah. Kaisar terus menekan pengawal Judith satu itu tanpa memberi celah untuk menyerang balik. Leonard terjatuh, pertarungan dimenangkan oleh Gerald.
"Sudah selesai." Gerald menyarungkan pedangnya.
"Masih belum." Leonard bangkit menghunuskan pedangnya pada Gerald.
Gerald menaikkan salah satu alisnya seraya mengeluarkan pedangnya. Leonard menerjang. Namun, dengan mudahnya Gerald mengalahkannya lagi dan lagi.
Ariana memejamkan mata tak sanggup melihat pertarungan di depan matanya. Ia berbisik pada Judith.
"Kenapa Kakak tidak menghentikan Ayah?" tanya Ariana.
"Aku tidak ingin melukai harga diri Leonard, Ana. Dia masih belum menyerah," balas Judith.
Leonard bersusah payah bangun. Napasnya semakin berat. Perbedaan kekuatannya dengan Kaisar terlalu jauh. Ia tidak mungkin menang, tetapi tekadnya masih belum sirna.
Leonard mengatur napas, menenangkan diri. Ia menyerang sisi kanan Kaisar tiba-tiba. Namun, serangan sekecil itu tidak berarti bagi Gerald. Gerald menyerang dengan bertubi-tubi.
Celah yang Leonard tunggu-tunggu mulai datang. Ia mengarahkan pedang ke wajah Gerald. Gerald menghindarinya lantas menerbangkan pedang Leonard.
"Sudah cukup," ujar Gerald dingin.
Leonard tersujud lemas. Dirinya merasa menyedihkan. Harapannya memiliki Judith pupu seketika.
Gerald menyeka darah di pipinya akibat serangan Leonard terakhir. "Cepat berdiri, sekarang giliran Permaisuri yang menilaimu."
Leonard bangkit perlahan. Hatinya berteriak senang karena Kaisar menerimanya. Ia menghampiri Leticia yang mulai berjalan menuju taman. Tak tampak putra-putri Leticia mengikuti dari belakang. Meski tidak semenakutkan Kaisar, Permaisuri terus memancarkan aura dingin hingga bulu kuduk Leonard merinding.
Tangaan Leticia yang menelusuri bunga berhenti. Ia berbalik menatap Leonard.
"Judith sudah bercerita tentang dirimu bahwa kalian saling membenci satu sama lain."
Leonard terdiam menelan ludah.
"Namun, semuanya hanya kesalahpahaman Memang di antara pria yang mendekati Judith, kamu yang paling tidak memiliki kelebihan apa pun. Tetapi, hanya kamulah yang mencintainya dengan tulus tanpa berharap apa pun. Tak ada pria yang mampu terus melawan Kaisar meski sudah berjatuh berkali-kali sepertimu. Aku berharap setelah ini kamu akan terus menjaganya." Leticia mengelus-elus bahu Leonard.
Leonard tertunduk. "Terima kasih, Permaisuri. Saya berjanji."
Mereka kembali ke lapangan latihan. Leticia menyeka air mata yang keluar dengan sendirinya. Bagaimanapun juga putrinya telah dewasa, ia harus merelakannya pada orang lain. Dan ia menemukan orang yang tepat untuk menitipkan putrinya.
__ADS_1