Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 47 Ekspresi Baru


__ADS_3

Gerald menghembuskan napas panjang. "Putri Anda menghubungi saya menggunakan batu sihir. Dia mengira bahwa saya adalah penyihir menara atau penyihir istana. Dia bercerita bahwa Anda diculik. Jadi saya datang mencari Anda, Permaisuri."


Leticia mengagumi tindakan putrinya. Meskipun dalam keadaan panik, putrinya masih mengingat memanggil bantuan. Leticia segera turun dari kursi itu. 


"Apa Anda langsung mencari saya atau bertemu dengan putri saya dulu, Grand Duke?" tanya Leticia.


"Tentu saja saya berpura-pura secara kebetulan pergi ke ibu kota. Lalu tidak sengaja bertemu dengan putri Anda dan ikut membantu pencarian, Permaisuri. Saya juga sudah meminta Isabella menghubungi penyihir istana dan penyihir menara untuk menyamakan pernyataan mereka. Yang menerima panggilan dari Putri Anda adalah penyihir istana."


Leticia bersyukur Gerald bertindak dengan hati-hati. Bisa gawat jika ia melakukan pencarian diam-diam lalu bertemu dengan salah satu pengawal Leticia. Gerald bisa dicurigai sebagai dalang dari penculikan ini karena rumor buruk tentang dirinya. Bisa-bisa semua jerih payah mereka untuk memulihkan reputasinya akan sia-sia. Atau malah akan ada rumor miring tentang mereka berdua.


"Kalau begitu ini bisa menjadi hal bagus untuk Anda. Reputasi Anda akan meningkat karena sudah menyelamatkan Permaisuri."


Gerald tidak terlalu peduli dengan hal itu menanyakan hal lain, "Apa alasan mereka menculik Anda, Permaisuri?"


"Mereka adalah orang-orang yang bisnisnya hancur gara-gara ayah saya. Mereka ingin balas dendam dengan menculik dan menyiksa saya. Mereka sudah mengabari ayah saya untuk menyaksikan saya disiksa, Grand Duke," jelas Leticia.


Gerald melihat penculik-penculik itu dengan tatapan tajam. 


"Rencana mereka gagal, Anda bisa pulang sekarang, Permaisuri."


Suara gemuruh langkah kaki terdengar. Pengawal Leticia sedang mencari Leticia. 


Gerald mengulurkan tangan untuk membantu Leticia berjalan. Leticia menerima uluran tangan Grand Duke Faust. Ia harus berpura-pura takut di depan pengawalnya. 


Mereka keluar dari gubuk itu. Leticia melihat penculik-penculik yang jatuh pingsan di lantai. Gerald berhasil mengalahkan mereka. Pengawal-pengawal Leticia datang bersama dengan putrinya. Ia menatap putrinya yang terlihat kacau dengan mata yang berkaca-kaca. Judith langsung berlari memeluk Leticia.


"Ibu... Ibu... aku takut terjadi sesuatu pada Ibu."


Leticia memeluk putrinya dengan erat. 


"Ibu tidak apa-apa, Sayang. Ibu sudah aman."


Leticia menepuk-nepuk punggung putrinya hingga berhenti menangis. Judith melepas pelukannya dan melihat wajah ibunya yang terlihat lelah. Leticia memegang wajah putrinya sambil tersenyum. Judith ikut tersenyum.


Senyum Judith memudar setelah tahu tangan ibunya terluka. "Tangan Ibu berdarah, harus cepat diobati. Kita harus kembali ke istana sekarang juga."


"Sebelum itu, ada yang harus kamu katakan pada orang yang membantumu mencari ibu." Leticia melihat Gerald.


Judith ikut menoleh mengikuti arah pandangan ibunya. Ia segera menunduk. "Terima kasih atas bantuan Anda untuk mencari Ibu saya, Tuan Grand Duke. Maaf, atas tindakan saya yang tidak sopan barusan."

__ADS_1


"Bukan apa-apa, Tuan Putri. Tidak ada salahnya menangis karena senang bertemu dengan ibu Anda."


Wajah Gerald terlihat sama dengan sebelumnya tanpa ekspresi. Namun, Leticia menyadari ada yang berbeda. Bibirnya terlihat tersenyum tipis. Tidak ada yang menyadarinya kecuali, Leticia. Leticia sempat tertegun melihat hal itu. Ini pertama kalinya Leticia melihat hal ini.


Leticia tersadar bahwa ia belum mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Grand Duke. Kalau bukan karena Anda mungkin saya masih disekap oleh penculik-penculik itu." Leticia sedikit menunduk.


Gerald ikut menunduk. "Saya hanya melakukan tugas saya untuk membantu orang yang kesusahan, Permaisuri. Biar saya yang menangani hal ini. Anda bisa pulang."


Leticia dan Judith pamit undur diri. Mereka berjalan menjauhi gubuk itu diiringi oleh pengawal. Leticia menengok ke belakang. Grand Duke Faust mengumpulkan penculik-penculik itu menjadi satu lalu mengikat mereka. Entah mengapa jantungnya berdebar. Mungkin ketakutannya saat diculik tadi baru terasa sekarang.  


***


"Apa Leticia tidak apa-apa?" tanya Dale pada orang di sampingnya.


"Aku juga belum tahu. Leticia belum ketemu," jawab Isabella. 


Isabella menceritakan apa yang disampaikan tuannya pada Dale. Ia terpaksa harus datang ke kuil untuk memberitahu penyihir menara. Ia juga meminta penyihir menara memberitahu penyihir istana untuk menyamakan cerita mereka. Rose sudah mendapat kabar Leticia diculik kemarin malam. Sekarang ia sedang mencari Leticia bersama pengawal.


"Kenapa kamu santai sekali, bukannya Leticia temanmu?" tanya Dale.


"Aku juga khawatir, tetapi Leticia bukanlah orang lemah seperti yang kalian kira. Dia punya kekuatannya sendiri. Dia pasti bisa menghindari masalah itu. Tuanku juga sudah membantu pencarian Leticia. Percayalah kalau Leticia akan baik-baik saja."


Isabella sebenarnya ingin membantu pencarian Leticia, tetapi ia harus mendekam di sini bersama orang yang menyebalkan. 


Piere menengok ke sana kemari untuk mencari Dale. Ia bertatapan dengan Dale lalu berjalan mendekatinya. 


"Sepertinya kau mempercayaiku," kata Dale sambil tersenyum.


Isabella kembali terheran-heran melihat perubahan sikap Dale yang drastis. Tadi ia terlihat sangat khawatir sekarang ia seperti orang suka mengancam.


"Apa yang kau katakan benar." Piere merasa suaranya terlalu keras menutup mulutnya. Ia menoleh ke Isabella, merasa tidak boleh melanjutkan ucapannya karena didengar oleh orang lain.


"Tenang saja, dia temanku. Lebih baik kita ke tempat yang sepi."


Isabella mendengus kesal. Ia tidak merasa Dale adalah temannya. Ia mengikuti Dale dan Piere.


Mereka sudah berada di tempat yang sepi.


"Paul menggunakan obat itu. Dia sudah mengakuinya kepadaku. Apa Paul bisa disembuhkan?" tanya Piere.

__ADS_1


"Itu semua bergantung pada dirinya," jawab Dale.


"Kau mau membantu atau tidak? Aku jadi ragu semua ucapanmu kemarin itu benar. Jangan-jangan kau komplotan dengan Count Blaire," tuduh Piere.


"Lepas dari obat-obatan itu semua bergantung pada diri masing-masing pengguna. Kalau si pengguna tidak bertekad untuk berhenti kami tidak bisa melakukan apapun," timpal Isabella.


"Kalau begitu apa aku minta bantuan pada Paus saja? Paus pasti bisa membantu dan menenangkan Piere." Piere tidak yakin Dale dan Isabella dapat membantunya.


"Aku tidak yakin kalau itu tindakan tepat. Menurutmu bagaimana caranya temanmu mendapatkan obat itu? Bukankah pendeta di sini tidak boleh keluar kecuali ada tugas? Satu-satunya orang yang boleh keluar adalah Paus. Menurutku orang yang mengenalkan obat itu kepada temanmu adalah Paus," jelas Dale.


Piere tersentak. Ia marah, "Apa kalian gila menuduh Paus sebagai komplotan Count Blaire?"


"Kami memang tidak mempunyai bukti sekarang. Kami sedang mengumpulkan bukti. Apa kau tahu bahwa Count Blaire berdonasi dalam jumlah besar pada kuil?" Dale berusaha meyakinkan Piere.


"Itu..." Piere tidak bisa berkata-kata.


"Tanyakan pada temanmu alasan dia menggunakan obat itu. Ia pasti mempunyai masalah yang besar hingga lari menggunakan obat itu. Kamu bisa menemaninya dan membuatnya mempercayaimu. Lalu, kamu bisa menanyakan siapa orang yang mengenalkannya pada obat itu. Kamu bisa membuktikan apakah dugaan kami itu benar atau salah," tambah Isabella.


Piere menunduk memegangi kepalanya. Ia mencerna semua informasi yang memenuhi otaknya.


Dale menepuk bahunya memberikan semangat. Ia memberikan batu sihir untuk berkomunikasi.


"Kau bisa menghubungi aku jika ada masalah. Lalu jika dugaan kami benar, aku harap kamu mau mengabariku."


Piere menggangguk. "Siapa namamu?"


"Aku Dale, penyihir menara."


"Terima kasih, Tuan Penyihir. Saya Piere." Piere menunduk.


Ia pergi meninggalkan tempat itu. Kini tinggal Dale dan Isabella.


"Kamu yakin kalau Paus yang mengenalkan obat itu pada temannya?" tanya Isabella.


"Entahlah itu hanya dugaan. Kalau kamu ragu, kenapa tadi ikut membantuku menyakinkan pendeta tadi?" Dale tersenyum pada Isabella.


"Karena yang paling mencurigakan memang Paus, pemimpin kuil," jawab Isabella lirih.


"Sepertinya penyelidikan kuil kita berakhir hari ini, Countess. Seperti biasa saya akan menemui Anda saat melatih Judith." 

__ADS_1


Isabella sama sekali tidak menantikan hal itu. Ia tidak senang bertemu dengan Dale. Namun, ia tidak membencinya. Meskipun menyebalkan ternyata ada sisi Dale yang membuatnya merasa penasaran.


__ADS_2