Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 68 Benturan Rencana


__ADS_3

Isabella yang mendapat informasi dari Rose langsung menemui Dale. Perbuatan Dale yang menekannya waktu itu dan di festival dapat menjelaskan semuanya.


Isabella tersenyum. 'Dasar pengecut, aku tidak akan membiarkanmu lari.'


Saat itu Dale marah karena Isabella mengingatkan ia dengan dirinya yang dulu, lalu ada rasa cemburu sedikit di dalamnya. Dale tidak datang lagi pada latihan Judith karena tidak ingin bertemu dengan Isabella. Ia ragu akan perasaannya. Ia ingin tetap mencintai Leticia untuk menebus kesalahannya tetapi saat berada di dekat Isabella, Dale ragu. Lalu, saat festival Dale menyadari perasaannya tetapi tetap ingin melarikan diri.


"Kenapa kamu tidak ingin menghapus ingatanku?"


Itu yang menjadi pertanyaan terbesar Isabella. Ia ingin Dale menyadari dan menerima perasaannya. Ia tahu alasan sebenarnya. Ia hanya ingin mendengar dari mulut Dale sendiri.


"Aku tidak ingin kamu melupakan diriku."


Itu adalah jawaban yang Isabella inginkan. Isabella mengecup bibir Dale, tetapi tidak ada reaksi. Masih ada keraguan di hati Dale.


"Bangsawan dan rakyat jelata tidak bisa bersama, Countess."


Ternyata itu keraguan terbesarnya. Itu yang menyebabkan Dale tidak menyatakan cinta pada Leticia.


Isabella tidak peduli status kekasihnya. Ia akan mengusahakan mereka tetap bersama. Baginya yang terpenting mereka berdua saling mencintai.


Setelah mengatasi semua ketakutan dan keraguan Dale, mereka berdua berciuman. Saling tersenyum dan menyatakan cinta.


Ketika hendak melanjutkan ciuman mereka lagi, terdengar ketukan pintu.


Asisten Dale masuk dengan membawa tumpukan dokumen. Ia menunduk ke Isabella karena tersadar ada tamu.


Dale dan Isabella sudah kembali ke posisi masing-masing. Wajah mereka berdua memerah.


"Sepertinya kamu sibuk, aku pulang dulu." Isabella berdiri.


Dale ikut berdiri menghampiri Isabella dengan senyuman khasnya. "Mau kuantar?"


"Tidak perlu aku bisa sendiri."


"Kalau begitu sampai jumpa pada latihan Judith selanjutnya, Isabella. Lalu aku akan membuatkan batu sihir komunikasi untukmu."


"Baiklah, sampai jumpa, Dale." 


Isabella tersenyum. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Dale kembali mengerjakan tumpukan dokumen itu sambil tersenyum. Asistennya merasa pemimpin penyihir menara telah kembali seperti biasa.


***


"Aku akan mengadakan pesta untuk merayakan pencapaian Grand Duke Faust, bagaimana menurut kalian, Permaisuri Pertama dan Kedua?"

__ADS_1


Keluarga Kekaisaran sedang makan bersama. Leticia berhenti mengiris daging di piring. Ia menatap Braun berusaha tidak terkejut. Dengan mengundang Grand Duke Faust yang dianggap sebagai pahlawan akan meningkatkan reputasi keluarga Kekaisaran di mata rakyat. Namun, itu artinya Kekaisaran menyadari kelemahannya sendiri dan mengakui jerih payah Grand Duke Faust. Grand Duke Faust akan menjadi sorotan dalam pesta itu.


"Saya mengikuti sepenuhnya keputusan Kaisar," jawab Leticia.


"Begitu pula, saya," jawab Charlotte.


Leticia melihat Charlotte. Charlotte pasti sudah mengetahui hal ini sebelum dirinya. Mereka pasti merencanakan sesuatu. Leticia harus berhati-hati.


Leticia melihat Judith yang makan dengan lahap. Ia bersyukur putrinya tidak menjauh karena ucapannya waktu itu.


Setelah makan bersama, Leticia mengajari Judith. Judith belajar seperti biasa.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan, Sayang?" tanya Leticia sambil mengelus kepala Judith


"Tidak ada, Ibu."


Leticia mengecup kening Judith lalu memeluknya. "Ibu hanya ingin mengingatkan, ibu selalu menyayangi dan mencintaimu Judith. Kamu adalah segala-segala bagi Ibu."


Judith memejamkan mata membalas pelukan ibunya. "Aku juga menyayangi Ibu. Aku tidak sanggup hidup tanpa Ibu."


Leticia melepas pelukannya tersenyum. Pergi menuju ruang kerja menghubungi Rose.


"Rose, tolong buat pelayan di kediaman Nien yang sering melihat Braun dan Charlotte bersama di masa lalu berada di pihak kita."


"Baik, Leti. Sebenarnya untuk apa Leti?"


"Baik, tunggu kabar dariku, Leti."


Setelah batu sihir itu meredup, Leticia mengambil batu sihir lain. Batu itu berkedip lalu bersinar terang.


"Apa Anda sibuk, Grand Duke?"


"Tidak, Permaisuri. Ada apa?"


Leticia merindukan suaranya. Rasa rindunya dapat terobati sedikit. Lalu, mereka akan segera bertemu saat pesta yang diselenggarakan untuk Grand Duke Faust.


"Kaisar akan mengadakan pesta di istana untuk menghormati pencapaian Anda selama ini. Berhati-hatilah, Grand Duke."


"Tidak seperti biasanya Kaisar menggelar pesta untuk sepupu yang dia benci. Saya akan berhati-hati. Terima kasih atas informasinya, Permaisuri."


"Saat pesta, bisakah Anda datang ke balkon yang berada di belakang aula istana, tepatnya paling ujung? Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda, Grand Duke."


Itu hanyalah tipu muslihat Leticia untuk bertemu Gerald. Ia ingin berduaan dengannya dan jauh dari keramaian. Agar tidak ada seorang pun yang curiga, Leticia akan meminta Rose memasang sihir ilusi.


Gerald yang berada di ruangannya tersenyum. Ia mengetahui apa yang diinginkan Leticia. Jika ingin membicarakan sesuatu Leticia bisa mengatakannya sekarang. Grand Duke Faust tidak bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


"Baiklah, Permaisuri."


Begitu komunikasi mereka terputus, Leticia melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak sabar bertemu dengan Gerald.


***


Setelah selesai belajar, Judith ke kamar Louis untuk bermain dengan adiknya. Adiknya sudah bisa tengkurap. Tingkah lucu Louis membuat Judith tersenyum. Ia selalu menyentuh pipi Louis yang gembul.


Sebenarnya, Judith tidak terlalu suka dengan Charlotte. Dengan kedatangan Charlotte dalam kehidupan keluarganya membuat Ibunya sering melamun dan terlihat sedih. Ayahnya jarang menemui ibunya dan lebih sering menemui Permaisuri Kedua. 


Namun, Charlotte tidak pernah bersikap bermusuhan dengan ibunya. Jadi Judith tidak membencinya. Apalagi Charlotte telah melahirkan adik yang lucu bagi Judith. Judith juga tidak bisa membenci Louis karena terlahir dari Charlotte.


Suara pintu terbuka. Judith memberi salam pada orang yang masuk.


"Ternyata kalian akur juga," kata Braun.


"Benar, Ayah," jawab Judith senang.


Braun mengelus-elus kepala putrinya. "Syukurlah ayah senang kalau kalian berdua akur. Bagaimana pelajaranmu tadi bersama Ibumu, Sayang?" 


"Seperti biasa menyenangkan, Ayah." Judith tersenyum.


Lalu ia teringat sesuatu. "Kenapa Ayah tidak datang ke kamar Ibu?"


"Maaf, Ayah sangat sibuk sekali. Lain kali Ayah akan datang," ucap Braun sambil meringis.


"Baiklah Ayah janji bukan?" Judith menyodorkan jari kelingkingnya.


"Ayah janji, Sayang." Braun menautkan jari kelingkingnya pada Judith.


Judith merasa senang. Ayahnya menyayanginya. Ibunya salah. Ia akan membuat Ibunya tahu kebenarannya.


Braun menggendong Louis. Louis yang diangkat ke atas tertawa. Judith jadi ingin tahu apakah dulu ayahnya juga melakukan hal itu padanya.


Tak lama kemudian, Charlotte datang ke kamar Louis. Charlotte menghampiri mereka.


"Terima kasih sudah datang, Tuan Putri." 


"Saya tidak keberatan datang setiap saat, Permaisuri." Judith menunduk.


"Apa kamu ingin menggendong Louis?" tanya Braun.


"Tidak saya hanya datang sebentar melihat Louis, Yang Mulia. Saya akan kembali mengerjakan tugas saya," jawab Charlotte menatap Braun sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Charlotte meninggalkan mereka. Ia menyeringai, melihat ketiga orang itu sangat dekat tanpa kehadiran Leticia. Ia akan menyingkirkan Leticia dari kehidupannya, perlahan tapi pasti.


__ADS_2