
Leonard menatap langit-langit kamar sembari menautkan kedua tangan di tengkuk. Keinginan untuk balas dendam pada Judith, sama sekali tidak terlintas di kepalanya lagi. Harga diri yang terluka karena dikalahkan oleh seorang gadis berubah menjadi keinginan untuk memiliki gadis itu sepenuhnya.
Statusnya sebagai rakyat jelata menghalangi rencananya untuk menjalin hubungan bersama Judith. Kabar tentang Judith yang memiliki kekasih seorang rakyat jelata akan menjadi bahan cemoohan kaum bangsawan. Leonard tidak ingin Duchess dibicarakan karena dirinya. Dengan menjadi bangsawan, Leonard lebih leluasa menikahi Judith.
Leonard dikejutkan dengan Idris yang langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia mengernyit kesal karena lamunan indahnya buyar seketika.
Leonard bangkit menatap Idris yang duduk di hadapannya. "Mau apa kau di sini?"
"Aku ingin menyampaikan rencana Marquis Loid selanjutnya. Lebih tepatnya pada ulang tahun Duchess."
Leonard menaikkan salah satu alis. "Kapan? Lalu, apa yang diperintahkan Marquis Loid."
"Dua minggu lagi, Marquis berencana meracuni Duchess pesta ulang tahun itu digelar. Saat Duchess meminum wine dengan Pangeran Arion, Marquis akan menuduh pangeran itu. Duchess akan dihasut untuk membenci adiknya. Semua rencana Marquis tuntas dan kita akan terbebas."
Leonard menggenggam tangannya dengan erat. Ia menahan diri agar tidak terlihat marah di depan Idris. Ia tidak mengerti kenapa dirinya yang dulu bisa tergoda bekerja sama dengan Marquis licik itu.
"Apa yang perlu kulakukan pada pesta itu? Haruskah aku memasukkan racun pada winenya?"
"Aku yang akan melakukannya. Tugasmu adalah menjaga keamanan Duchess dan memastikan Duchess berbicara dengan Pangeran Arion berdua," jelas Idris sambil menyeringai.
"Baiklah, dengan ini kita tidak perlu menjadi budak Marquis Loid lagi. Haruskah kita merayakannya setelah ini?"
Idris tanpa curiga sedikit pun menyetujui rencana Leonard. Ia menepuk bahu Leonard. "Boleh juga idemu."
"Sekarang keluarlah, akan kupikirkan makanan apa saja yang kita santap saat terbebas dari perbudakan ini."
Leonard menyingkirkan tangan Idris. Ia mengibas-ngibaskan tangan mengusir pelayan Duchess itu. Tak ingin berlama-lama, Idris pun keluar.
Leonard melampiaskan amarah dengan memukul kasur. Ia akan memberitahu Duchess besok.
***
"Apa itu benar?" tanya Flint memastikan.
Leonard menyampaikan rencana Marquis Loid pada Duchess dan Flint. Ia pun meminta mereka berdua tidak mempercayai Idris.
"Benar, kau bisa mempercayai ucapanku," balas Leonard meyakinkan Flint.
__ADS_1
Flint terus mengernyitkan dahi tidak percaya dengan ucapan pengawal Duchess itu. Ia mengalihkan pandangan pada Duchess sibuk mengerjakan dokumen-dokumen.
"Apa Anda mempercayainya, Duchess?"
"Tidak ada salahnya untuk memperketat keamanan kita. Kita bisa mencegah hal buruk terjadi," balas Judith tanpa melirik ke arah Leonard ataupun Flint.
"Baiklah, jika itu keputusan Anda, Duchess." Flint tertunduk.
Sebenarnya, Flint juga kesulitan mencari saksi atas pemberontakan Marquis Loid. Tidak ada yang berani membuka mulut tentang keburukan Marquis itu, seolah-olah mereka diancam.
Flint melirik ke arah Leonard, masih mempertanyakan kebenaran yang diucapkan mantas prajurit bayaran satu itu. Sekilas ia melihat Leonard yang curi-curi pandang pada Duchess sambil tersenyum simpul. Pemandangan yang sangat tidak asing. Di mana Flint pernah melihatnya? Ia teringat pada sikap adiknya yang sering mengintip dari kejauhan untuk melihat Arion berlatih.
'Jangan-jangan...' batin Flint seraya menatap Leonard dan Duchess bergantian. Namun, sikap Duches sangat bertolak belakang dengan Leonard. Duchess terlihat sangat dingin bahkan melebihi saat bertemu dengan Marquis Loid, seolah-olah ia tidak menganggap Leonard.
Judith ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari sini. Ia merasa sesak lebih sesak daripada bertemu dengan musuh-musuhnya.
***
Arion menyantap makan pagi bersama ayah dan ibunya. Rasanya sangat sepi tanpa Judith dan Ariana. Ia terus meyakinkan diri bahwa kepergian mereka pasti akan terjadi cepat atau lambat. Ia tidak bisa terus tinggal bersama saudara-saudaranya. Suatu hari pun, ibu dan ayahnya akan meninggalkannya. Ia akan tinggal bersama kekasihnya dan mempunyai anak, walau mungkin masih lama.
"Setelah ulang tahun Judith, kita akan mengadakan upacara penobatanmu menjadi Putra Mahkota, Rion." Gerald menatap putranya lurus-lurus.
"Baik, Ayah."
Arion menghabiskan makanannya lantas keluar dari ruang makan. Ia menuju tempat latihan. Dengan berlatih, ia bisa menghilangkan semua beban yang berkecambuk di pikiran.
Selesai berlatih, Arion duduk di lapangan rumput. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rasa lelahnya. Ia berbaring sambil memejamkan mata, menikmati suasana ini selama mungkin.
"Apa yang kamu lakukan, Rion?" suara seorang gadis.
Arion membuka mata. Sylvie duduk di sampingnya sambil tersenyum.
"Cuma beristirahat, Sylvie." Arion kembali memejamkan matanya.
"Apa kamu ada masalah, Rion?"
"Bukan masalah, cuma pikiran yang mengganggu."
__ADS_1
"Memangnya apa? Kamu bisa menceritakannya padaku."
Arion bangkit menatap Sylvie, sahabat satu-satunya yang tersisa di dekatnya. Dulu, Raymond dan Flint sering mendengar keluh kesah Arion dan bermain bersama, tetapi semenjak mereka pergi, hanya Sylvie yang setia menemaninya.
"Aku akan menjadi putra mahkota."
"Begitu ya, bukannya malah bagus?" tanya Sylvie yang sedikit kebingungan.
"Aku merasa Kakak yang lebih pantas menjadi Kaisar selanjutnya. Dia lebih hebat."
"Kamu juga hebat, Rion. Jangan merendah diri." Sylvie menangkup kedua tangan Arion memberi semangat.
Arion tersenyum letih. "Terima kasih, Sylvie."
"Kalau begitu, sepertinya kita akan sulit bertemu lagi," kata Sylvie lirih.
"Kenapa?"
"Kamu akan sibuk mencari putri mahkota."
Arion melebarkan matanya. Ia lupa harus mencari kekasih setelah menjadi Putra Mahkota, memilih di antara gadis-gadis itu yang akan menggantikan ibunya di masa depan. Seorang gadis berwawasan luas, mandiri, dan mampu membantunya dalam menjalankan Kekaisaran adalah salah satu kriterianya. Namun, sulit mencari gadis bangsawan seperti itu.
"Dari perkataanmu, apa kamu tidak ada keinginan jadi putri mahkota, Sylvie?"
"Eh." Wajah Sylvie memerah. Ia memalingkan muka dari Arion. Dalam hati ia terus menyakinkan diri agar tidak salah paham dengan pertanyaan Arion. Arion bukan memintanya untuk menjadi putri mahkota ataupun kekasihnya.
"Entahlah, aku juga bingung. Sainganku sangat banyak, aku harus banyak belajar untuk bersanding dengan gadis-gadis bangsawan lain yang anggun," lanjut Sylvie memunggungi Arion.
"Padahal kamu tadi menyemangatiku agar tidak merendah diri, tetapi kamu sendiri malah memandang rendah dirimu. Kamu juga punya kelebihan dibandingkan gadis bangsawan lain, Sylvie. Tidak ada gadis bangsawan yang mampu menguasai sihir lebih darimu."
Sylvie bisa merasakan wajahnya semakin memanas. Pujian Arion terus melambungkan hatinya. Ia tidak ingin berharap, tetapi Arion terus memberinya harapan.
"Rion, bagaimana jika aku menyukaimu?" tanya Sylvie.
Tidak ada jawaban dari Arion. Sylvie berbalik mendapati Arion tertidur. Sylvie menghela napas, entah dirinya lega atau kecewa karena perkataannya tidak didengarkan. Ia berbaring di samping Arion, menatap wajah orang yang dicintainya.
"Aku menyukaimu, Rion, bukan sebagai teman."
__ADS_1
Sylvie memejamkan mata, berharap suatu hari Arion akan menyadari perasaannya.