
Para penyihir istana sudah siap untuk melawan pasukan Gerald. Rose berdiri di depan untuk memipin mereka.
Gerald sudah tiba di istana. Para penyihir istana sudah mempersiapkan bola api untuk menyerang pemimpin pemberontakan. Rose memberikan aba-aba untuk menyerang.
Namun, semua penyihir istana itu berguguran karena sihir es yang Rose lancarkan secara diam-diam. Sama sekali tidak terpikirkan bahwa pemimpin mereka, bekhianat. Akhir hayat mereka hanya sampai di situ. Para bangsawan yang mengandalkan uang untuk menjadi penyihir istana telah tiada.
Gerald dengan mudah masuk ke istana. Tanpa perlawan yang cukup berarti. Ia segera menuju ruang singgasana menemui Braun.
Rose mengalahkan beberapa kesatria istana. Berharap Leticia dan Judith baik-baik saja.
***
Sebuah kamar dipenuhi oleh kesatria mengacungkan pedang. Pedang itu diarahkan pada kesatria yang melindungi seorang wanita.
Dean menangkis dan menghindari serangan dari kesatria istana. Leticia memperhatikan keadaan sekitar mencari saat mereka lengah. Ayunan pedang hendak melukai Leticia. Permaisuri Pertama dapat menghindarinya. Dean segera menyerang kesatria itu menewaskannya.
Pedang kesatria itu berada di dekat Leticia. Leticia memungutnya. Kesatria yang berada di sana tersenyum kecut menghina Leticia. Mereka semua menyerang Leticia dan Dean secara bersamaan. Leticia menghindar dan menyerang balik mereka. Dean menghunuskan pedang pada teman seperjuangannya. Namun, tidak ada kesatria istana yang bisa disebut Dean teman.
Leticia dan Dean dapat membalik keadaan dengan cepat. Permaisuri Pertama menyeka darah yang terciprat di pipinya.
Dean menunduk. "Apa yang akan kita lakukan Permaisuri?"
"Lindungi aku ke jalan rahasia menuju keluar. Charlotte pasti menggunakan jalan itu untuk melarikan diri," tegas Leticia.
"Baik, Permaisuri."
"Terima kasih, Sir."
"Saya yang harus berterima kasih pada Permaisuri karena telah memilih saya sebagai pengawal pribadi dibandingkan orang lain yang berasal dari kaum bangsawan." Dean menggeleng.
Leticia teringat sesuatu. "Soal itu berterima kasihlah pada Rose. Dialah yang membuatku memilih Anda, Sir."
"Pemimpin Penyihir Kekaisaran?" Sebuah nama yang tidak pernah Dean duga.
"Benar, dia yang menyakinkanku untuk memilihmu. Sejujurnya aku bingung memilih kesatria mana yang dapat diandalkan. Dia yakin bahwa kamu adalah orang yang loyal, hebat dan dapat dipercaya. Berkatnya aku memilih orang yang tepat." Leticia tersenyum simpul.
Dean berusaha menggali ingatannya. Ia tidak pernah bertemu dengan Rose sebelum datang ke istana. Bagaimana Ross bisa yaking tentang dirinya? Lalu apakah Rose tertarik pada Dean sebelum ia menjadi kesatria?
__ADS_1
"Sir?" Leticia menyadarkan Dean dari lamunannya.
"Maafkan saya, Permaisuri. Apa Pemimpin Penyihir Kekaisaran pernah menceritakan sesuatu tentang saya?"
"Kalau itu tidak pernah." Leticia berusaha mengingat-mengingat.
"Terima kasih, Permaisuri. Maaf, menyita waktu Anda. Mari kita pergi. Saya akan melindungi Anda." Dean teringat keadaan mereka belum aman.
Mereka keluar dari kamar Leticia menuju istana Kaisar. Disanalah tempat jalan rahasia. Jalan rahasia itu berujung pada hutan di belakang istana. Di sana ditempatkan penjaga agar bila terjadi sesuatu yang mendesak keluarga kekaisaran bisa kabur dengan aman. Mereka bergegas sebelum Charlotte berhasil keluar dari jalan itu.
Jalan mereka menuju istana Kaisar tidaklah mudah. Kesatria istana sudah ditempatkan di sepanjang jalan oleh Braun untuk mengantisipasi Leticia yang melarikan diri. Dean berhasil mengalahkan mereka satu persatu. Leticia melindungi punggung Dean yang terbuka lebar.
Mereka sudah tiba di istana Kaisar. Banyak kesatria yang berjaga di depan pintu menuju sana. Dean menyerang mereka. Keringatnya bercucuran dan tubuhnya sudah mulai lelah, tetapi ia harus tetap kuat untuk melindungi Tuannya. Leticia ikut membantunya.
Lengan Dean tergores pedang salah satu kesatria. Ia masih bisa mengalahkan mereka dengan kekuatan yang masih tersisa. Pintu itu sudah aman. Dean mulai terengah-engah.
"Mulai sekarang biar aku saja yang masuk dari sini, Sir," perintah Leticia khawatir pada keadaan pengawalnya.
"Tidak, biarkan saya melindungi Anda sampai di jalan itu, Permaisuri."
"Saya masih kuat. Kehormatan saya akan ternodai bila tidak bisa melindungi Anda dan melarikan diri, Permaisuri."
Dean tetap memaksa untuk melindungi Leticia. Leticia mengagumi dan menghargai tekadnya. Pada akhirnya Leticia mengalah.
Dean tersenyum. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju jalan rahasia yang di ujung lorong dekat kamar Kaisar.
Lebih banyak lagi kesatria yang berjaga di sana. Dean menerobos menyerang mereka. Alunan suara pedang yang beradu terdengar memenuhi lorong itu. Satu persatu kesatria istana gugur. Namun, luka Dean semakin banyak.
Meski masih ada kesatria yang ada di sana, tetapi jalan rahasia sudah di depan mata.
"Permaisuri cepat masuk ke sana!" teriak Dean.
Leticia tahu maksud Dean, ia berniat menghadang kesatria-kesatria itu di sini. Bahkan dengan nayawanya sekalipun.
"Terima kasih, Sir," jawab Leticia lirih.
Leticia segera berlari ke ujung lorong sambil dilindungi Dean. Ia menggeser kepala patung yang berada di samping. Pintu rahasia itu terbuka. Leticia masuk ke sana. Ia berbalik sejenak, berharap Dean bisa selamat. Ia melanjutkan langkahnya untuk menemui Charlotte.
__ADS_1
Dean menghabisi kesatria yang tersisa. Karena lelah yang merasuki tubuh, ia tidak mampu menghindari ayunan pedang yang mengenai punggungnya. Rasa sakit langsung menjalar. Dean tetap berdiri menyerang balik kesatria itu.
Tinggal satu lawan satu. Dean menggenggam erat pedangnya. Pandangannya sedikit buram. Darah mengalir di tangannya. Tapi ia masih sanggup mengalahkan musuhnya.
Serangan-serangan dilancarkan tetapi mereka berhasil menangkisnya. Kesatria itu melihat celah pada Dean. Ia berhasil mengenai sisi perut Dean.
Dean menyerang balik dengan menghunuskan pedang ke perut lawannya. Ia berhasil menang melawan mereka semua. Tak sanggup menguasai rasa lelahnya lagi, ia roboh. Pandangannya semakin kabur.
Dean mengingat-ingat masa kecilnya. Dulu ia sering bertemu dengan gadis kecil yang tidak mempunyai orang tua. Mereka berjanji bertemu di alun-alun tiap sore. Entah mengapa ia melupakan wajah gadis itu.
"Apa cita-citamu?" tanya gadis itu padanya.
"Aku ingin menjadi kesatria di istana yang bisa melindungi Tuannya," jawab Dean bersemangat.
"Kalau begitu kau akan pergi dari sini," kata gadis itu sedih.
"Itu sudah pasti, tetapi sesekali aku akan kembali ke sini." Dean berusaha menghibur gadis itu.
"Aku akan merindukanmu," ujar gadis itu lirih.
Jantung Dean saat itu berdegup kencang. Ia sudah lama menyukai gadis itu. Ia juga tahu kalau gadis itu juga menyukainya, tetapi mereka masih kecil. Mungkin saja suatu hari perasaan mereka berubah. Namun, jika gadis itu bersedia menunggunya dan perasaan mereka tetap sama, Dean akan senang.
"Jika aku kembali dan menjadi kesatria yang hebat. Maukah kau bersamaku untuk selamanya?"
Wajah gadis itu memerah. Ia tahu kalau itu pernyataan cinta. Gadis itu mengangguk. Senyum merekah di wajahnya.
Sekarang ini Dean tersenyum mengingat hal itu. Namun, senyumnya segera memudar.
Gadis itu tidak datang keesokan harinya. Bahkan hingga satu minggu gadis itu tidak datang. Dean khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu bertanya kepada orang yang mungkin mengenalnya. Namun, tidak ada yang tahu keberadaan gadis itu. Mungkin gadis itu sudah meninggal karena kelaparan atau malah hidup bahagia bersama orang lain.
Dean menyerah tidak pernah datang lagi ke tempat itu. Ia berusaha melupakan gadis itu dengan giat berlatih menjadi kesatria. Akhirnya cita-citanya tercapai. Hanya saja masih ada pertanyaan yang belum terjawab tentang Rose.
Mata Dean terbuka lebar sembari mengingat wajah gadis kecil itu. Wajah gadis itu tertimpa dengan wajah Rose. Ternyata itu alasannya.
Dean menyesal tidak mengenalinya. Rose mengenali Dean dan meminta Leticia menjadikannya sebagai pengawal.
Mata Dean semakin berat. Kesadarannya memudar. Lalu ia menutup mata sambil berharap tidak akan melepas Rose lagi apabila bertemu dengannya.
__ADS_1