
"Jadi kamu mengakui kalau dirimu adalah bawahan Marquis Loid?" Judith tersenyum mengejek. Ia tak menyangka Leonard akan mengaku dengan mudah.
"Aku hanya ingin memastikan nyawaku selamat. Dia berusaha membunuhku bersamamu saat perjalanan pulang ke kediamanmu. Orang seperti itu tidak pantas menjadi tuanku."
Leonard menatap Judith dengan tajam. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia bertaruh pada kemungkinan Duchess akan mengampuni nyawanya, walau sangat kecil.
"Tidak ada jaminan ucapanmu benar. Dengan mudahnya kamu berpindah tuan. Kamu bisa saja berkhianat atau ini caramu untuk memperoleh kepercayaanku." Judith bersendekap, memerhatikan setiap perubahan ekspresi Leonard.
Leonard mengepalkan tangan, menghembuskan napas panjang. Menilik sikapnya yang lancang pada Duchess, ia pantas dicurigai.
"Marquis mengancam akan membunuhku karena membunuh budaknya yang berniat menyerang Ariana saat pemberontakan terakhir. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahnya karena nyawaku menjadi taruhan," jelas Leonard menyakinkan Judith.
Tidak ada kebohongan di dalam yang terpancar dari mata Leonard. Bila benar, ia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya, karena tanpa Leonard, Ariana mungkin tidak akan selamat. Namun, ia merasa Leonard belum mengungkap semuanya.
"Kurasa bukan keamanan saja yang kamu harapkan. Apa yang dia tawarkan padamu? Uang?"
"Bukan cuma itu, dia akan mengabulkan permintaanku bila rencananya berhasil."
"Permintaan apa?"
"Aku belum memikirkannya."
Leonard menelan ludahnya. Duchess terus menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Untungnya ia bisa menjawabnya dengan baik.
Judith mengetuk-nggetukkan jari. Terlepas dari sikap Leonard yang tidak punya sopan santun, Judith selalu dibantu oleh mantan prajurit bayaran itu. Setidaknya ia ingin memberi Leonard kesempatan.
"Untuk sementara ini kita bekerja sama. Jika kamu sampai mengkhianatiku, aku tidak akan memaafkanmu."
Leonard bernapas lega. "Baik, Duchess."
__ADS_1
Judith bertopang dagu, menyembunyikan senyumnya yang mengembang.
***
Keesokan hari.
Pembangunan kuil telah selesai. Seluruh pekerja bersuka ria karena tak perlu bekerja keras lagi. Paus berterima kasih pada mereka satu per satu.
Judith menatap gedung pertemuan yang dibangun lebih baik dibanding sebelumnya. Ia menatap adik-adiknya yang turut ikut ambil bagian dalam pembangunan ini. Keduanya beranjak dewasa, ia tidak perlu mengkhawatirkan Ariana dan Arion.
Seluruh orang di sana tertunduk pada sesosok yang mendekat ke bangunan kuil yang baru. Senyum Judith merekah seketika melihat ibunya datang. Begitu pula, Ariana dan Arion.
Leticia memberi salam pada Paus dan memberi selamat atas bangunan kuil yang baru.
"Saya menggantikan Kaisar untuk datang hari ini, Paus."
Ini pertama kalinya, Leonard melihat Permaisuri secara langsung. Wajah Permaisuri sangat mirip dengan Duchess perbedaannya hanya terlihat lebih tua saja.
Duchess terus tersenyum hingga Leonard tak kuat memandangnya. Ia memalingkan waja dari Judith. Jantungnya seakan-akan ingin keluar saat berada di dekat Duchess Hillbright. Sejak keluar dari goa bersama Duchess, jantungnya tidak bisa diajak kerja sama.
"Kita pulang saja, kamu pasti lelah," ujar Judith yang tiba-tiba berada di samping Leonard.
Leonard berjengit memegangi dadanya. Dengusan kesal keluar dari mulutnya. "Jangan mengagetkanku seperti itu."
"Salahmu sendiri yang melamun."
"Apa kau tidak ingin menemui ibumu?"
"Aku bisa menemuinya di istana. Di sini kami bertemu sebagai Duchess dan Permaisuri, urusan pekerjaan dan pribadi harus dibedakan."
__ADS_1
Sungguh susah hidup sebagai bangsawan, mereka harus menahan diri agar terlihat bijaksana. Namun, tidak semua bangsawan seperti itu. Ada sebagian bangsawan yang terlihat bersikap manja dan terus berfoya-foya. Ada juga yang menindas rakyat jelata demi kepentingan sendiri, tetapi ada bangsawan baik yang memberi dukungan pada anak-anak yatim piatu.
Leonard menyadari bahwa selama ini dirinya salah menilai seorang bangsawan. Ia tidak bisa menyamaratakan semuanya. Leonard mengikuti Duchess menuju kereta kuda.
Keheningan menyelimuti mereka selama perjalanan menuju Kediaman Hillbright. Leonard tersenyum simpul ke arah Duchess.
"Aku lupa sesuatu, apa yang akan kudapatkan jika menjadi mata-matamu."
Judith berdecak. "Jadi kamu ingin merubah tuanmu lagi?"
"Tidak, aku hanya ingin memanfaatkan keuntungan kudapatkan dari memiliki tuan seorang Duchess dan Putri Kekaisaran."
"Apa permintaanmu?"
"Jadikanlah aku bangsawan."
Judith melebarkan matanya. Tawanya pecah mendengar ucapan Leonard. Ia tidak menyangka Leonard serendah itu.
Leonard tidak memedulikan ejekan Judith. Ia tahu permintaannya sangat menyedihkan. Namun, ia memerlukan gelar bangsawan untuk mendapatkan hati gadis bangsawan yang ada di depannya.
Tawa Judith seketika lenyap. Ia menatap tajam Leonard. "Boleh kutahu alasannya?"
"Kamu akan tahu alasannya ketika aku menjadi bangsawan." Tanpa takut Leonard terus menatap Judith.
"Baiklah, setelah Marquis Loid berhasil dijatuhkan, aku akan berbicara pada Kaisar."
"Terima kasih, Duchess." Leonard menunduk.
Judith mengalihkan pandangan ke jendela. Tangannya terkepal erat menutupi kekecewaannya pada Leonard. Ia berharap lebih dari mantan prajurit bayaran itu.
__ADS_1