
Diva dan Lani saling menatap, lalu beralih menatap kedua sahabatnya secara bergantian, yaitu Rafa dan juga Hera yang duduk berdampingan di depan mereka.
Rafa sedikit meresa tak enak, di tatap seperti itu oleh sahabat-sahabatnya, begitupun dengan Hera.
"Jadi apa benar, orang yang kamu maksud spesial itu Hera ?" Tanya Diva kepada Rafa.
Tanpa menjawab pertanyaan Diva, Rafa memberi kode kepada Hera. Hera langsung mengerti, dan langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, memberikannya langsung kepada Diva dan Lani.
Diva yang menerima sebuah undangan, dan langsung membacanya, begitupun dengan Lani, keduanya langsung membelalakkan matanya seolah tak percaya, setelah membaca isi undangan tersebut, bahwa Rafa dan Hera akan segera menikah, dan itu akan di laksanakan bulan depan.
"Ini, ini undangan benerankan, ini bukan prank kan ?" Tanya Lani mengangkat undangan tersebut sambil memperhatikan nya kepada Rafa dan Hera.
"Ya elah... elu kira bikin undangan gampang, itu beneran Bambang, kami akan menikah." Sahut Rafa jengah mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Nggak usah ngegas juga kali, bagaimana gue nggak mengira ini prank, elukan suka ngerjain orang, lagian kalian tidak mungkin langsung memutuskan untuk menikah, apa kalian sudah mencintai ?" Ujar Lani.
"Iya bener tuh apa yang di katakan Lani." Diva membernarkan ucapan Lani.
Sejenak Rafa dan Hera saling diam, tidak ada yang berniat untuk menjawab pertanyaan Lani tadi, hal tersebut membuat yang berada di ruangan tersebut bingung melihat tingkah keduanya.
"Raf, apa kamu benar-benar sudah melupakan kejadian yang dulu ?" Diva menanyakan hal tersebut, karena Diva sangat mengenal sahabatnya itu.
Rafa menghela nafas panjang, kemudian mengeluarkan secara perlahan.
"Jujur .... Gue belum sepenuhnya melupakan Sisi, dan rasa cinta itu masih ada buat dia, tapi gue akan berusaha untuk membuka hati untuk Hera, begitupun Hera yang mungkin juga tidak ada rasa apapun ke gue, kami hanya saling menyayangi layaknya seperti sahabat, seperti rasa sayang kami ke kalian." Ujar Rafa.
"Apa benar begitu Her ? Diva beralih kepada Hera.
"Iya Div, dan kami akan berusaha untuk saling menerima, dan semoga kami bisa di berikan rasa cinta itu di kemudian hari." Sahut Hera.
"Tapi kenapa kalian harus menikah secepat ini, jika kalian belum saling mencintai." Kini Lani yang angkat bicara.
Sedangkan para laki-laki hanya diam mendengarkan pembicaraan antara sahabat itu.
"Itu karena ... karena..." Rafa terlihat ragu meneruskan kata-katanya, melihat Hera tertunduk. mungkin Hera akan malu jika ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, pikir Rafa.
"Karena apa ? Tanya Diva penasaran.
"Bukan karena apa-apa, tapi kami harus benar-benar menikah." Jawab Rafa menggenggam erat tangan Hera.
"Maksud kalian apa, kenapa kalian harus menikah, asal kalian tahu pernikahan bukanlah sebuah permainan." Diva sudah mulai geram. Bukannya apa ? Tapi Diva tidak mau kedua sahabatnya ini merasa tidak bahagia dengan keputusan yang mereka ambil, dan Pernikahan mereka tak bisa bertahan lama karena keduanya tidak saling mencintai.
"Her, kenapa dari tadi kamu hanya tertunduk, kenapa hanya terus diam, kami juga butuh penjelasan kamu !" Lani beralih pada Hera.
"Her, jika kalian ada masalah, kami siap mendengar kami ini sahabat kamu, kamu tak menganggap kami lagi hah ?" Lani tidak lagi berbicara elu gue, tapi kamu.
Hera yang mendengar ucapan Lani, Hera mengangkat kepalanya, dengan mata berkaca-kaca, Rafa yang menyadari hal itu segera merangkul pundak Hera mencoba untuk menenangkannya.
"Biar aku aja yang jelasin." Bisik Rafa sambil mengusap pelan pundak Hera.
"Sebenarnya kami harus menikah karena... karena Hera sedang hamil anak gue." Mendengar pengakuannya Rafa Diva dan Lani kompak menutup mulutnya, dan membelalakkan matanya, begitupun Arka, Vara, Kenan dan juga Ray kaget mendengar pengakuan Rafa.
"Rafa, apa maksud kamu ?" Tanya Arka.
"Iya kak, apa yang saya ucapkan tadi benar adanya."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, barusan kalian bilang bahwa kalian tidak saling mencintai." Kini giliran Kenan yang mewakili pertanyaan Diva maupun Lani, karena mereka tidak bisa lagi berucap saat mendengar pengakuan Rafa.
Rafa mulai menceritakan kejadian kenapa dia bisa melakukan hal bodoh itu kepada sahabatnya sendiri, yaitu dengan Hera, sampai membuatnya hamil, dan kini usia kehamilannya sudah berusia 2 bulan, sama halnya dengan usia kehamilan Lani.
Diva yang mendengar cerita Rafa, terlihat sangat kesal, dan juga kecewa, bisa-bisanya sahabat yang sudah ia anggap saudara itu bisa mabuk-mabukan, hanya karena tidak bisa melupakan kenangan masa lalunya, apalagi sampai merusak sahabatnya sendiri.
"Maafin gue, gue sudah membuat kalian kecewa." Lirih Rafa.
"Buat apa minta maaf, toh semuanya juga sudah terjadi, yang gue nggak habis pikir, kenapa elu harus mabuk-mabukan seperti itu, dan elu juga sudah janji ke kita-kita kalau elu akan memperbaiki semua, dan melupakan semua kejadian yang menimpamu, bersama Sisi." Diva sangat emosi, sampai menunjuk-nunjuk ke arah Rafa.
"Dan satu lagi, apa ini cara kamu buat melupakan semua, apa dengan cara mabuk-mabukan seperti ini, Hah." Lani ikut membentak Rafa.
"Yank, jangan terlalu emosi, ingat kandungan kamu ! Toh, Rafa juga sudah menyesali perbuatannya, dan akan bertanggungjawab juga." Ray mencoba menenangkan istrinya itu.
"Kamu belain dia, emang kalian para laki-laki sama saja." Ucap Lani sinis menatap suaminya.
"Kok kamu bawah-bawah aku Yank ?" Ray tak habis pikir dengan istrinya, yang juga membawa-bawa dirinya.
"Sudahlah, in...." Ucapan Kenan juga terhenti saat Diva menyela ucapannya.
"Apa ? kamu juga mau belain para kaum kalian, para laki-laki emang sama saja." Sahut Diva mempelototi Kenan.
"Nggak Yank. Kenan langsung bungkam.
"Baby Khay mari sayang, kita main ke luar yuk !" Kenan buru-buru mendorong stroler anaknya, membawanya ke ruang tamu.
"Pa, kamu mau juga belain para laki-laki ?" Tanya Vara kepada Arka.
"Nggak Ma, aku sayang mama, aku diam." Ucap Arka cari aman.
"Sudah-sudah, kalian nggak usah pada ribut-ribut masalah Rafa dan Hera, toh mereka juga akan menikah, dan juga sudah kejadian juga kan, mungkin ini takdir mereka berdua, kalian yang mengaku sahabatnya, tidak seharusnya kalian seperti ini, seharusnya kalian mendoakan supaya kedepannya mereka di berikan kebahagiaan." Pak Salman menasehati semuanya.
"Benar apa yang di katakan, Ayah Salman, seharusnya sebagai sahabat mendukung mereka, mendoakan yang terbaik, bukannya menghakimi seperti ini." Tambah Pak Fikram.
Semuanya terdiam mendengar nasehat dari kedua Opa-opa tersebut, dan semuanya langsung saling bermaaf-maafan, seperti sedang dalam masa lebaran. hehehe..
Setelah itu mereka kembali mengobrol santai, seperti biasanya, dan kembali rusuh, apalagi sekarang trio rusuh berkumpul siapa lagi kalau bukan Diva, Rafa, dan juga Lani kurang korban buang rusuh merek yaitu Jova.
"Assalamualaikum.... orang paling cantik datang, bawa pangeran lagi." Sapa Jova mode lebaynya.
"Walaikumsalam..." Jawab para orangtua, sedangkan para anak muda hanya menatapnya datar, membuat Jova kebingungan.
"Heraaaa, soulmate gue..." Pekik Jova langsung memeluknya Hera saat Hera baru keluar dari toilet.
"Jangan dekat-dekat gue Jov, gue mual ngeliat elu !" Hera mendorong tubuh Jova yang memeluknya.
"Gue kangen tau Her, elu sama aja sama Lani, dia juga nggak mau kalau gue dekat-dekat dia, bawaannya dia mual." Jova kembali berjalan dan langsung mendudukkan dirinya di samping Noval.
"Oh Iyya Nov, kenalin ini sahabat kita juga, namanya Rafa, dan yang baru keluar itu namanya Hera." Diva memperkenalkan Rafa, dan Hera kepada Noval.
Noval segera mengulurkan tangannya kepada Rafa, dan menyebutkan nama masing-masing, begitupun kepada Hera, saat Hera sudah duduk di samping Rafa.
"Jov, ada berita sangat menghebohkan sejagat raya tau nggak." Ucap Lani menirukan gaya lebay Jova.
"Apa Lan... Apa ?" Tanya Jova antusias.
__ADS_1
"Penasaran banget lu !"
"Buruan Nyonya Ray, entar keburu mati gue, elu mau gue gentayangin, karena gue masih penasaran !"
"Rafa sama Hera akan segera menikah bulan depan." Ucap Lani.
"Demi apa loh ?" Jova kaget mendengar ucapan Lani.
"Demi, elu jomblo Forever." Decak Lani melihat kelebay ian Jova.
"Beneran Raf, Her kalian mau nikah, selamat yah !" Jova langsung memeluk Rafa dan Hera.
"Iya, makasih ya." Ucap Rafa dan Hera.
"Datang ya, nanti gue kasih undangan, dan ajak Noval juga, sepertinya kalian cocok !" Ujar Rafa menaik turunkan kedua alisnya.
"Apasih, gue sama dia teman doang."
"Nov, bener kalian teman doang." Rafa beralih kepada Noval yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Saat ini masih teman, tapi nanti gue nggak tau juga, soalnya Jova masih mau seperti itu katanya." Terang Noval.
"Tunggu apalagi sih Jov, jangan bilang elu masih suka suaminya Lani, si Ray." Ucap Rafa dan langsung mendapat hadia geplakan di kepalanya dari Jova.
"Bukan begitu, tapi masa dia nembaknya seperti ngajak gue beli cemilan. Nggak ada romantis-romantisnya." Ujar Jova.
"Ya udah, tunggu aja !" Sahut Noval.
Semuapun kembali mengobrol dan merencanakan kembali soal piknik mereka minggu depan, dan juga mengajak Rafa dan juga Hera, karena Rafa dan juga Hera tidak akan lagi kembali ke New York, setelah menikah, mereka akan melanjutkan pendidikannya di kota Z, Rafa juga akan mulai mengelola bisnis Mamanya, karena papanya tidak bisa, karena papanya lebih sibuk di dunia politik.
Rafa
Hera
Bersambung.....
Untuk cerita Rafa dan Hera akan saya buat di cerita lain, mungkin awal Desember baru akan terbit.
Mohon dukungannya yah....
Like
Coment
Vote
Rate
Favorit
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️
__ADS_1