
Satu bulan telah berlalu, setelah mengumumkan hubungan mereka di kampus, pasangan suami istri ini semakin lengket dan romantis. Banyak yang iri melihat hubungan keduanya, apalagi melihat kebucinan Khay kepada Enzy.
Pagi ini Khay dan Enzy terlihat masih asik menikmati mimpi indah mereka dengan Enzy tidur dengan posisi membelakangi Khay, kemudian Khay memeluknya dari belakang, saling memeluk, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Tak lama Enzy terbangun karena merasakan mual yang teramat, Enzy melepaskan pelukan Khay dan langsung berlari masuk ke kamar mandi. Untung saja Enzy sudah mengenakan kembali dres tidurnya, setelah pergulatan mereka semalam.
Saat terbangun Khay merabah langsung meraba tempat tidur disampingnya, saat ia tak merasakan keberadaan istrinya, ia langsung membuka matanya, ia mengubah posisinya menjadi sedikit bersandar di tumpukan bantal. Saat nyawanya sudah mulai terkumpul kembali, ia mendengar suara istrinya dari dalam kamar mandi, ia langsung panik larena mendengar Enzy sedang muntah-muntah, Khay dengan cepat turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa ? Wajah kamu pucat banget." Panik Khay melihat Enzy terus berusaha mengeluarkan isi perutnya, keringat bercucuran di wajahnya, dan wajahnya pun sudah sangat pucat.
Khay membantu Enzy memijit tengkuknya agar mengeluarkan isi perutnya, namun lagi-lagi Enzy hanya mengeluarkan cairan bening kekuningan. Membuat Khay semakin khawatir.
"Sayang, kamu kenapa ?" Tanya Khay lagi, pria itu benar-benar sangat khawatir.
"En..gak tahu juga yank, aku mual, kepala aku juga pusing banget." Sahut Enzy kemudian dengan lemas ia mendudukkan dirinya di closed, dibantu oleh Khay, kemudian Enzy memeluk pinggang suaminya itu, sambil menyandarkan kepalanya di perut pria tersebut.
"Apa masih mual banget ?" Tanya Khay mengusap lembut punggung istrinya, kemdian menyekah keringat di keningnya istrinya itu, menggunakan tangan satunya.
"Iya, tapi udah sedikit mendingan dari pada tadi" Sahut Enzy sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, ayo keluar dari sini, kamu istrirahat di tempat tidur aja ya, sayang, aku akan membuatkan mu teh anget !" Seru Khay di angguki Enzy.
Khay beranjak, lalu menggendong Enzy ala bridal style keluar dari kamar mandi. Khay langsung membaringkan istrinya ke tempat tidur, lalu ingin segera keluar.
"Yankkkk..." Enzy mencegah dengan menarik lengan Khay saat pria itu akan pergi.
"Ada apa, sayang ? Apa ada yang lain yang kamu inginkan ?" Tanya Khay berbalik menatap istrinya itu.
"Apa kamu yakin ingin membuatkan aku teh, apa kamu bisa ?" Tanya Enzy ragu-ragu, pasalnya suaminya itu bisa dibilang tak pernah masuk ke dapaur, untuk memasak, jalangkan membuat teh, Enzy bahkan tak yakin, kalau suaminya itu tahu membedakan mana garam mana gula.
"Iya, sayang, kamu tenang aja, Ok !" Ucap Khay mencium kening istrinya itu sekilas, kemudian berjalan menuju lemari, mengambil pakaiannya secara acak, kemudian keluar dari kamar, menuju dapur.
Karena Khay tak tahu cara membuat teh, ia tak langsung menuju dapur, ia berjalan ke arah ruang tengah, ia mengambil telpon rumah, lalu menekan nomor telpon rumahnya.
*📞 "Hallo Kediaman tuan Kenan, deng....
📞 "Hallo bi, ini saya Khay, bunda dimana* ?" Sela Khay kepada salah satu pekerja dirumah utama, yang menjawab telponnya, kemdian menanyakan keberadaan bundanya.
📞 "Oh maaf tuan muda bibi tidak tau kalau ini tuan muda, Nyonya ada di depan tuan muda, lagi nganterin tuan yang ingin berangkat ke kantor." Jelas bibi.
Ada apa bi, siapa yang menelpon sepagi ini ?" Terdengar suara Diva dari seberang sana.
"*Ini nyonya, tuan muda, katanya mau bicara dengan nyonya."
📞 "Iya bang, ada apa ? Ini Bunda*." Ucap Diva dari seberang sana.
📞 "Ini Bun, Enzy lagi kurang enak badan, dia dari tadi mual terus, katanya dia juga pusing banget, aku mau buatkan dia teh anget tapi gak tahu, aku bingung." Jelas Khay. Sejenak terdengar suara kekehan bundanya.
📞 "Astagaaaa bang, itu saja kamu tidak tahu, kamu tinggal campur gula, sama teh, lalu seduh, ya gitu aja." Jelas Diva masih di sisa-sisa tawanya.
📞 "Kalau itu aku tahu Bun, tapi yang gak aku tahu, takaran gulanya." Sahut Khay sedikit jengah mendengar bundanya itu menertawakannya.
📞 "Ohh... Kamu kasih satu sendok makan gula, tapi jangan sampai terlalu penuh." Jelas Diva.
📞 "Ok bunda, aku ngerti sekarang, kalau gitu aku matikan dulu ya Bun, aku mau buat tehnya." Ucap Khay ingin segera mengakhiri sambungan telponnya, namun di cegah Diva.
📞 "Ada apa lagi sih Bun, nanti aja kita bicaranya." Seru Khay terdengar sedikit kesal.
__ADS_1
📞 "Dosa kamu bang, bicara seperti itu pada bundamu sendiri, aku hanya ingin menanyakan keadaan menantu bunda, aku khawatir tentangnya." Jelas Diva.
📞 "Iya maaf Bun, dia masih terlihat lemas dan pucat Bun." Jelas Khay.
📞 "Ya sudah, bunda akan segera kesana, apa kalian sudah sarapan belum ? Biar sekalian bunda bawain." Tanya Diva kemudian.
📞 "Belum Bun, sejak bangun Enzy belum makan apa-apa soalnya dia terus mual, tapi tidak mengeluarkan apa-apa." Jelas Khay.
📞 "Ok, kalau gitu biar bunda bawakan sarapan untuk kalian." Ujar Diva kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
...----------------...
Setelah membuat teh sesuai petunjuk bundanya, Khay membawanya ke kamar, dan mendapati Enzy baru saja keluar dari kamar mandi, dengan cepat Khay meletakkan teh yang dibawahnya di atas nakas dekat tempat tidur, lalu membantu istrinya itu berjalan ke tempat tidur.
"Kenapa gak manggil aku sih, sayang, kalau kamu mau ke kamar mandi kalau kamu jatuh atau apa di kamar mandi bagaimana." Oceh Khay menumpukkan beberapa bantal di tempat tidur, lalu membantu Enzy untuk bersandar.
"Aku enggak apa-apa kok yank, lagian kalau aku manggil kamu juga gak bakal dengar juga kan ?" Sahut Enzy memperbaiki posisinya.
"Ya sudah, ini tehnya diminum dulu !" Seru Khay memberikan secangkir teh,buatan perdananya.
"Ini kamu yang buat yank ?" Tanya Enzy ragu-ragu untuk meminumnya.
"Iya sayang, siapa lagi ? Gih buruan diminum, agar kamu segera membaik !" Sahut Khay lalu menyuruh Enzy untuk segera meminumnya selagi hangat.
"Ini kamu yakin yank, bisa diminum ?" Tanya Enzy benar-benar ragu untuk meminumnya.
"Yakin, kamu tenang aja ini pasti, enak, soalnya sebelum membuat itu aku telpon bunda dulu, tanya cara buat tehnya bagaimana, dan takaran gulanya bagaimana, jadi gak usah khawatir, itu pasti enak, apalagi buatan perdana suami kamu yang kerena, gagah dan tampan ini, sultan lagi." Jelas Khay kemudian ujung-ujungnya membanggakan diri sendiri.
Enzy memutar bola matanya malas, mendengar suaminya itu memuji diri sendiri.
"Tapi ini benerkan pakai gula, bukan garam, kan ?" Tanya Enzy lagi.
"Emang kamu bisa bedain mana gula, mana garem ?"
"Tahulah, gula manis, sedangkan garam asin, sebelum aku buat tehnya, aku icip dulu, makanya aku tahu mana yang gula, mana yang garem." Jelas Khay, membuat Enzy terkekeh mendengar penjelasan suaminya itu. Kemudian Enzy mulai meminum teh buatan suaminya itu, dan benar saja, rasanya benar-benar pas dilifah Enzy.
"Bagaimana sayang, enak gak teh buatan suamimu ini ?" Tanya Khay penasaran.
"Enak, rasanya pas." Sahut Enzy kembali menyeruput tehnya, membuat Khay kepuasan didalam dirinya, pasalnya istrinya itu menyukai teh buatannya.
"Yank, kamu udah sarapan ?" Tanya Enzy.
"Belum, nanti aja." Sahut Khay tersenyum merapikan anak rambut milik istrinya, ia menyelampirkan di belakang telinga wanitanya.
"Kalau gitu, ayo kita turun kebawah, aku akan membuatkanmu sarapan." Ujar Enzy.
"Gak perlu sayang, tidak lama lagi bunda pasti datang kok, dia akan membawakan kita sarapan." Jelas Khay.
Tak lama saat Khay sedang mengerjakan beberapa pekerjaannya, di atas tempat tidur sambil menemani istrinya itu yang sedang tertidur, Diva datang, dan langsung masuk ke kamar anak dan menantunya itu.
"Assalamualaikum." Ucap Diva membuka pintu kamar tersebut.
"Walaikumsalam, bunda baru datang ?" Balas Khay meletakkan kembali laptopnya di atas nakas lalu turun dari tempat tidur.
"Tidak juga, sebelum kesini, bunda siapkan sarapan kamu dulu, itu sarapan kamu udah siap di bawah, ini sarapan mantu kesayangan bunda." Jelas Diva berjalan ke samping tempat tidur lalu meletakkan mangkok bubur di atas nakas.
"Ya sudah aku mandi dulu saja deh Bun, baru aku sarapan." Sahut Khay berjalan masuk ke kamar mandi setelah mendapat anggukan dari Diva.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Enzy terbangun dan betapa kagetnya saat melihat mertuanya itu sudah duduk di sampingnya.
"Bunda, apa bunda dari tadi disini ?" Tanya Enzy kemudian menyandarkan dirinya di tumpukan bantal yang sudah di susun Khay tadi.
"Baru aja kok sayang, ke adaan kamu bagaimana, apa sudah lebih baik ?" Jawab Diva lalu balik bertanya, sambil mengusap rambut menantunya itu.
"Maaf ya Bun, aku ketiduran, keadaan aku sudah sedikit membaik, udah gak terlalu mual, tapi perasaan aku ngantuk banget." Jelas Enzy.
"Apa jangan-jangan kamu hamil" Tebak Diva membuat Khay yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung membulatkan matanya, lalu menghampiri kedua wanita kesayangannya itu.
"Apa Bun, Enzy hamil ? Sayang, bener kamu hamil ?" Tanya Khay pada bundanya antusias kemudian beralih kepada Enzy menatap keduanya secara bergantian.
Enzy hanya mendelik, sambil menaikkan kedua bahunya, ia juga tak yakin akan hal itu, tapi sudah dua bulan ia tak mendapatkan tamu bulanan, bahkan sudah hampir tiga bulan, apalagi siklus menstruasinya terkadang tak lancar sejak dulu.
"Untuk memastikan, kamu coba ke apotik beli tespek !" Sahut Diva.
"Apa Bun, tespek ? Apa hubungannya coba sama benda itu, lalu apa gunanya ?" Sahut Khay
"Astagafirullah, kamu anak siapa sih sebenarnya bang, nurut aja kalau bunda suruh !" Jengah Diva.
"Iya...Iya.... Aku pergi, dan perlu aku tekankan pada bunda, aku ini anak ayah Kenan yang tampan sama sepertiku." Ujar Khay berjalan ke arah lemarinya lalu mengambil pakaiannya, kemudian kembali masuk ke kamar mandi untuk berpakaian.
...----------------...
Sekitar 45 menit, Khay kembali dengan kantong belanjaan berlogo salah satu apotik di kota tersebut, kantong berukuran sedang.
"Ini Bun, sesuai permintaan bunda tadi." Ujar Khay menyerahkan kantong belanjaannya.
Diva menerima kantong tersebut, dan betapa terkejutnya melihat ada beberapa jenis tespek yang dibeli putranya itu, mungkin semua macam tespek di beli oleh pria muda tersebut.
"Bang, kenapa gak sekalian aj kamu beli dengan apotiknya ?" Ujar Diva sambil memilih-milih tespek.
"Lagian bunda tidak bilang, tespek yang bagaimana, aku bingung pas di tanya mau yang jenis bagaimana, karena aku gak tahu tujuan bunda nyuruh aku beli benda itu, dan kegunaannya apa, makanya aku bilang, semua jenisnya aja." Jelas Khay enteng, kemudian duduk di di sebelah kanan Enzy.
"Sayang, bagaimana apa masih mual ?" Tanya Khay.
"Masih sih, tapi udah gak seperti tadi, dan mulai agak mendingan, hanya saja aku merasa mengantuk aja." Jelas Enzy.
"Sayang coba kamu pakai ini ?" Seru Diva memberikan salah satu jenis tespek yang menurutnya paling ampuh dan akurat.
"Itu buat apa sih Bun ?" Tanya Khay penasaran dengan benda kecil itu.
"Buat tes, apa positif hamil atau tidak." Sahut Diva acuh.
"Bun, bagaimana kalau negatif ?" Ujar Enzy terlihat ragu untuk melakukan apa yang disuruh kan oleh mertuanya itu.
"Di coba dulu aja sayang, kita gak akan tahu hasilnya kalau kita gak tes dulu." Sahut Khay semangat setelah mengetahui kegunaan alat tersebut, pantas aja saat beli itu, pegawai apotiknya malah senyum-senyum.
"Tapi Bun, Khay, bagaimana kalau negatif, aku tidak ingin mengecewakan kalian." Sahut Enzy.
"Kalaupun negatif, berarti itu belum rezeki, sayang, tapi alangkah baiknya jika kamu mencobanya untuk tes, dan apapun hasilnya kami akan terima itu." Ujar Diva.
Enzy pun turun dari tempat tidur dibantu oleh Khay, dengan langkah ragu-ragu, ia masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Enzy kembali keluar, dengan raut wajah datar dan sulit untuk di artikan.
Bersambung.........
__ADS_1
Jangan lupa terus budayakan menekan tombol like, Komen, dan Vote, untuk turut berpartisipasi mendukung authornya.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏