
Di Singapore tampak sepasang kekasih sedang makan malam di sebuah restoran dengan romantis, Noval yang mengenakan kemeja formal sedangkan Jova memakai dres selutut menambah kecantikannya malam ini. Dengan di temani banyak lampion di sekitarnya. Malam ini Noval berniat ingin melamar Jova untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
"Jov...." Noval meraih tangan Jova menatapnya dengan penuh cinta dan ketulusan.
Jova yang belum mengetahui rencana Noval sedikit heran dengan perlakuan Noval yang tiba-tiba manis dan romantis tidak seperti biasanya.
Noval tampak mengambil nafas cukup panjang kemudian menghembuskan secara perlahan sebelum kembali memulai ucapannya.
"Jova, mungkin aku tidak pandai merangkai kata-kata manis, tapi perlu kamu tahu aku sangat mencintai dan sangat menyayangi dirimu lebih dari diriku sendiri.
"Dan mungkin kamu belum yakin dengan keseriusan aku ke kamu karena aku benar-benar tidak tau menyampaikannya dengan kata manis, aku hanya ingin membuktikan kesungguhan ku dengan terus berada di sisi kamu dengan ikatan yang sudah halal tentunya." Noval yang sudah mengumpulkan keberanian dan terus belajar merangkai kata apa yang harus ia ucapkan nanti kepada Jova, kini ia merasa lega karena sudah mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan untuk melamar Jova.
Tapi ia masih merasa was-was dengan tanggapan Jova.
"Jadi maksud kamu, kamu mau melamar atau apa ?" Sahut Jova setelah cukup lama terdiam mendengar ungkapan Noval, ia tak menyangka kalau Noval benar-benar serius, terlihat dari sorotan matanya yang tulus dengan raut wajah yang terlihat sangat serius dengan setiap kata yang ia ucapkan.
"Jova, apa kau mau menikah denganku?" Noval mengulang ungkapan nya, tapi kali ini ia menyodorkan sebuah cincin bahkan sampai kali ini ia berlutut di depan Jova.
Jova mendapat perlakuan seperti itu, matanya berkaca-kaca karena terharu mendapat lamaran dari orang yang sudah mengisi kekosongan hatinya.
"Apa aku tidak sedang bermimpi ?" Tanya Jova menatap mata Noval yang juga sedang menatapnya lekat-lekat.
"Ini sama sekali bukan mimpi babe, ini benar sungguhan." Jawab Noval tersenyum.
Joval langsung memeluk Noval yang masih berlutut di depannya, lalu menangis karena haru.
"Babe jawab dulu pertanyaan aku tadi ! Kenapa jadi nangis gini sih ?" Ucap Noval membalas pelukan Noval.
Jova mengangguk lalu kemudian
"Aku mau ?" Jawab Jova dengan suara serak karena menangis.
"Mau apa ?" Goda Noval.
"Ih.... Ya sudah, aku nggak mau apa-apa." Jova menarik dirinya dari pelukan Noval lalu mengerucutnya bibirnya.
"Beranda sayang." Mau ya jadi istriku ?" Ujar Noval mengusap sisa air mata Jova di pipinya.
Jova hanya menjawab dengan anggukan, karena masih sedikit kesal.
"ini pake !" Noval memberikan kotak cincin kepada Jova.
"Ih... Emang dasar nggak ada romantis-romantisnya." Jova mengambil cincin tersebut lalu memakainya sendiri.
__ADS_1
Author : Baru kali ini liat ngelamar anak orang cincinnya pake sendiri, Pasangan satu ini benar-benar beda.👍👍
"Biar beda sayang, dan aku takut kalau cincinnya nggak muat di hari kamu yang agak besar itu, aku kan jadi malu." Ujar Noval kembali duduk di depan Jova, lalu kembali memakan makanannya dengan santai.
🍀🍀🍀
Di Kota Z
Setelah melakukan operasi keadaan nenek Kiki sudah lebih baik, dan sudah pulang kerumah, Kiki juga sudah mulai aktif di kampusnya, dan bekerja paru waktu.
Saat keluar dari restoran tempatnya bekerja, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti pas di depannya.
Kiki yang mengetahui pemilik mobil tersebut langsung mempercepat langkahnya tidak ingin bertemu dengan pemilik mobil tersebut.
"Kiki tunggu Nak." Panggil seorang wanita paru baya namun masih terlihat sangat cantik dan modis dengan mengenakan kecamata hitam.
Kiki tak menghiraukan panggilan wanita tersebut, ia terus saja mempercepat langkahnya, menuju jalan raya. Wanita tersebut tak tinggal diam, ia mengejar Kiki yang berjalan cepat, saat Kiki ingin menyebarang jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang, dan tiba-tiba brakkk....
Kiki terdorong ke trotoar jalan, sedangkan yang di tabrak mobil tadi adalah wanita paru baya itu.
"Tanteee...." Dengan sedikit pusing karena benturan di kepalanya, Kiki menghampiri Tante Anita istri dari papanya, yang tergeletak di jalan dengan bersimbah dara.
"Siapapun tolong bantu kami." Teriak Kiki memangku kepala Tante Anita.
"Ki, ada apa ?"Tanya Pak Reza dengan nada paniknya.
"Ini Pak, Tante saya ketabrak mobil." Sahut Kiki.
"Tante bangun !!" Kiki menepuk-nepuk pipi Tante Anita.
"Mari saya bantu, bawa Tante kamu ke rumah sakit !" Dengan sigap Pak Reza mengangkat tubuh Tante Anita ke mobilnya.
Dalam perjalanan Kiki terus menghubungi Papanya namun tak ada jawaban satupun. Kiki tampak menimbang-nimbang apakah dia harus menghubungi Noval atau tidak, karena ia tahu sekarang Noval sedang berada di Singapore.
Namun ia tidak punya pilihan lain, ia harus mengabarinya untuk memberitahu keluarganya yang lain, tentang kejadian yang menimpah Tante Anita.
"Hallo, tolong kabari keluargamu, Tante Anita kecelakaan, sekarang dia di bawah ke rumah sakit kota Z ." Tanpa basa-basi Kiki langsung memberitahu Noval soal kejadian mamanya. Setelah mengatakan itu Kiki langsung mematikan sambungan teleponnya.
Sudah 25 menit Kiki dan Pak Reza menunggu di depan UGD.
Sesekali Pak Reza melirik Kiki yang terlihat sangat khawatir.
"Lebih baik luka kamu di obati terlebih dahulu !" Sahut Pak Reza membuat Kiki seketika menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Kenapa kau sekaget itu melihat saya?" Pak Reza kembali bersuara saat melihat tingkah Kiki seolah baru menyadari keberadaannya.
"Maaf Maaf Pak, saya kira bapak tadi pulang." Ujar Kiki menundukkan kepalanya.
"Saya tidak tega meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini, dengan luka di sebagian lengan dan juga kening kamu." Ucap Pak Reza menunjuk lengan dan kening Kiki dengan dagunya.
"Saya sudah tidak apa-apa Pak, maaf saya sudah merepotkan bapak, sekarang bapak boleh bisa pergi dari sini." Ucap Kiki.
"Kamu ngusir saya ?" Pak Reza menatap Kiki sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Saya tidak bermaksud seperti itu Pak, hanya saja bapak sudah banyak saya repotkan dengan membawa Tante saya kerumah sakit, jadi saya tidak ingin membuat bapak tambah kerepotan ikut menunggu kami di sini." Ucap Kiki panjang lebar.
"Kamu jangan kepedean ! Saya di sini karena kebetulan saya memang ingin kesini menjemput mama saya yang di rawat di sini." Terang Pak Reza Seketika membuat wajahnya memerah menahan malu.
"Maaf Pak..." Sahut Kiki.
Tak lama dokter yang menangani Tante Anita keluar. Buru-buru Kiki langsung beranjak dari duduknya.
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Kiki.
"Pasien banyak mengeluarkan darah, dan golongan darahnya AB, sedangkan bang darah kami kebetulan sudah tidak ada tersedia dengan golongan AB tersebut." Jelas Dokter.
"Ambil darah saya Dok, golongan darah saya kebetulan AB." Sahut Kiki, kali ini ia ikhlas mendonorkan darahnya karena berhutang nyawa kepada Tante Anita yang sudah menyelamatkannya dari kecelakaan tadi, kalau saja Tante Anita tidak menyelamatkannya sudah pasti dirinyalah yang terbaring di dalam, mana dia harus menanggung biaya pengobatan yang sudah pasti biaya yang cukup besar bagi Kiki.
Saat akan mengikuti dokter masuk keruangan transpusi darah, tiba-tiba seorang pria paruh baya memanggilnya.
"Kiki..." Panggil pria tersebut.
"Papa..." Sahut Nara berhenti pas depan pintu ruangan.
"Sayang, bagaimana ini bisa terjadi pada kalian, dan kamu mana yang luka biar papa liat." Nada bicara Pak Tito terdengar sangat khawatir.
"Saya tidak apa-apa, Tante Anita membutuhkan donor darah, dan saya akan bertanggungjawab untuk mendonorkan darah saya atas balas budiku karena sudah menyelamatkan saya." Ucap Kiki dengan dingin.
"Kalau begitu saya permisi." Lanjut Kiki kemudian masuk ke ruangan dimana ia akan melakukan transpusi darah.
"Kiki anakku, apa segitu bencinya kamu kepadaku, dan juga keluarga Anita." Gumam Pak Tito tanpa terasa air matanya menetes, kemudian buru-buru ia seka.
"Andai saja kamu tahu Nak, kenapa saya menikah dengan Anita, dan bagaimana keluarga Anita sampai tega memperlakukan mu dengan tidak baik, semuanya karena ada alasannya nak, walau sebenarnya itu salah, tapi wajar jika ia berprilaku seperti itu." Pak Tito kembali bergumam kemudian berjalan menuju ruang UGD dimana istrinya sedang di rawat.
Bersambung....
Readers tolong bantu author dengan LIKE, COMENT, VOTE, agar authornya tetap semangat buat Up-nya 😊😊😊
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️