
Kini mobil yang dikendarai pak Salman dan juga mobil Arka tiba di halaman rumah milik Kenan, Diva merasakan kegugupan yang teramat, ia tiba-tiba kembali teringat semua tentang kenangannya bersama Kenan di rumah itu, bahkan Diva juga teringat bagaimana Kenan bersikap mengacuhkannya dan hubungan Kenan bersama Sarla. Diva satu mobil dengan pak Salman dan Bunda Vivian atas permintaan mertuanya itu, bunda Vivian ingin sekali menggendong cucu perempuannya itu.
"Silahkan turun sayang, kamu jangan sungkan karena ini juga rumah kamu kan ?" Ujar Bunda Vivian saat mobil yang di kendarai pak Salman berhenti tepat di depan pintu utama.
"Iya Bun." Sahut Diva kemudian mereka keluar dari mobil.
Mereka semua masuk kedalam rumah dan di sambut langsung oleh bi Ratih.
Diva menelisik setiap ruangan rumah tersebut, yang sama sekali tak ada yang berubah, bahkan letak-letak foto mereka masih terpasang rapi di tempat yang Diva tata dulu, bahkan miniatur-miniatur lainnya tak ada yang berubah, hanya saja ada beberapa pelayan yang baru di rumah itu.
"Non Diva, apa kabar non ?" Ucap Bi Ratih saat melihat majikannya itu.
"Alhamdulillah saya baik Bi, bibi sendiri bagaimana, apa bibi sehat ?" Balas Diva memeluk wanita yang sudah rentah itu namun masih terlihat kuat.
"Alhamdulillah saya sehat dan baik-baik saja non, hanya saja...
"Eh... non, non jangan meluk bibi, bibi bau dapur non.! Bi Ratih mengalihkan ucapannya yang hampir saja mengatakan keadaan Kenan yang sebenarnya, untung saja pak Salman langsung memberinya kode agar tidak mengatakannya.
"Silahkan duduk Fik, Arka !!" Seru pak Salman mempersilahkan tamu-tamunya itu duduk di ruang tengah.
"Bi, tolong buatkan minum, sekalian juga masak makan malam yang banyak, kami akan makan malam bersama malam ini !!" Seru bunda Vivian.
"Selamat sore semuanya, maaf sepertinya aku terlambat menyambut kalian." Ucap Seorang wanita sedang menggendong bayi perempuan yang baru saja keluar dari salah satu kamar yang tak jauh dari ruang tengah.
"Jadi benar mereka sudah hidup bersama, bahkan saat ini mereka sudah memiliki anak." Batin Diva melihat kearah Sarla.
Ya wanita yang menyapa mereka ada Sarla.
"Sini Nak, kamu ikut gabung dengan kami !" Seru bunda Vivian.
"Hay Div apa kabar ?" Sarla menyapa Diva lalu duduk disampingnya.
"Hay juga Sar, aku baik, kamu sendiri bagaimana ?" Balas Diva terlihat berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Seperti yang kamu lihat, bahkan sekarang aku sudah memiliki seorang putra seperti mu." Ujar Sarla sengaja berkata seperti itu, ia ingin mengerjai Diva, karena Sarla yakin Diva belum mengetahui yang sebenarnya.
__ADS_1
"Selamat ya." Ucap Diva.
"Terimakasih ya, eh... ini anak kamu juga, apa kamu sudah menikah lagi ?" Ujar Sarla saat melihat dedek Kia dipangkuan Diva.
Diva hanya tersenyum menanggapi, ia tidak tau harus menjawab apa, ia tidak mungkin mengatakan kalau itu adalah anaknya bersama Kenan, apalagi dipikirkan Diva, Sarla dan Kenan sudah menikah dan memiliki seorang anak.
"Bunda, bunda ayo kita ketemu ayah, ayah pasti belum bangun, kata Oma, ayah sudah lama bobonya tidak bangun-bangun." Seru Khay membuat Diva, pak Fikram dan Arka mengerutkan keningnya bingung.
"Nanti aja sayang, biar ayahnya bobo dulu, nanti kalau sudah bangun baru kita ketemu ayah ya." Ucap Diva.
"Tapi bunda kata Oma, ayah menunggu bunda buat bangunin ayah." Ucap Khay membuat bundanya, juga pak Fikram dan Arka tambah bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi Man ?" Tanya pak Fikram sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Lebih baik kamu liat sendiri Fik !" Seru pak Salman.
"Maksudnya apa ini, apa kalian menyembunyikan sesuatu dari kami ?" Tanya pak Fikram.
"Iya, lebih baik sekarang kamu ikut saya Fik, ayo Div, kamu juga ikut dengan ayah ke kamar." Seru pak Salman lalu beranjak dari duduknya, membawa Diva dan keluarganya masuk ke kamar yang di tempati Kenan selama ini.
Pak Salman mulai membuka pintu kamar betapa kagetnya Diva saat melihat keadaan Kenan yang terbaring di tempat tidur, dengan badan yang sangat kurus dan terlihat sangat pucat.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya pak Fikram setelah cukup lama terdiam karena meredam keterkejutannya melihat Kenan seperti itu.
"Dia sudah dinyatakan koma selama dua tahun terakhir." Terang Pak Salman, membuat Diva lagi-lagi kaget mendengarnya.
"Ko...koma ?" Cicit Diva matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya sayang, dia terkena tembakan dari wanita yang bernama Disti, wanita itu berniat untuk balas dendam dengan keluarga kalian." Jelas bunda Vivian.
"Disti, Disti yang pernah Kenan beri hukuman karena berniat menggodanya ?" Tanya Diva.
"Iya, dan dia bekerjasama dengan sepupunya Calista." Sahut pak Salman.
"Jadi...
__ADS_1
"Iya, kedua wanita itu berniat untuk melenyapkan mu, makanannya Kenan dan Sarla berpura-pura mengkhianati mu, Kenan dan Sarla meulai menjalankan rencananya saat mereka tak sengaja bertemu di Singapore."
"Tapi walaupun begitu, bukannya mereka sudah menikah sekarang, dan bahkan memiliki seorang anak." Ucap Diva.
"Sarla benar sudah menikah tapi bukan dengan Kenan melainkan parner kerja Kenan yang di Singapore, waktu itu Sarla sudah akan menikah tapi Kenan meminta pada perner kerjanya atau calon suami Sarla, agar Sarla mau membantunya, karena Sarla sudah menolak tawaran Kenan itu." Jelas pak Salman.
"Kenapa dia harus menyembunyikan ini dari ku, kenapa ? Kami juga sudah berpura-pura di depan Calista, apa itu tidak cukup ?" Ucap Diva sudah tak bisa lagi menahan tangisannya.
"Karena Kenan tidak mau mengambil resiko, bagaimana jika itu akan terbongkar, dan kedua wanita itu benar-benar berbuat yang tidak-tidak denganmu, Kenan tidak mau kamu kenapa-napa, Samapi ia harus menanggung rasa sakit setiap ia mengabaikanmu dan mengatakan hal yang tidak pantas yang ia ucapkan membuatmu terluka, Kenan benar-benar sangat mencintaimu Div, kamu beruntung mendapatkan pria seperti dirinya." Ucap Sarla yang tiba-tiba masuk bersama seorang pria.
"Tapi ada baiknya kami bersembunyi waktu itu, karena saat Calista tertangkap dan semuanya sudah terbongkar, Disti berencana berbuat yang tidak-tidak denganmu, tapi ia tidak berhasil menemukanmu, jadinya Kenan yang mencari sasarannya, dan membuat Kenan seperti yang kau lihat sekarang." Tambah Sarla.
Diva langsung berjalan menuju tempat tidur, dan memeluk tubuh suaminya yang terbaring, ia menangis sejadi-jadinya sambil menenggelamkan wajahnya di dada Kenan yang sekarang ini terlihat sangat kurus.
"Maafkan aku by, aku tidak bisa menunggumu lebih lama, maafkan aku karena aku sudah meninggalkan kamu saat kamu dalam kesulitan, aku sudah menjadi istri yang buruk, harusnya aku mendengarkan dulu penjelasan kamu, harusnya aku bersabar lebih lagi, bodohnya aku yang meragukan cintamu dan rasa sayangmu kepada kami by', aku mohon bangunlah, sekarang kita memiliki putri kecil by, apa kamu tidak ingin melihatnya, dia terlihat sangat lucu by', tapi dia sangat mirip denganku,." Ucap Diva terisak-isak.
"By, ayo bangun aku sudah datang by', kata Abang kamu menungguku untuk membangunkanmu, sekarang bangunlah, kita mulai lagi jalani kehidupan keluarga kita, apa kamu tidak ingin melihat anak-anak kita tumbuh dewasa, Hem ?" Diva terus memeluk erat tubuh suaminya itu.
"By', Abang sampai sekarang belum bisa mengendarai sepedanya, apa kau tidak ingin mengajarinya seperti cita-cita kamu dulu."
"Sayang lebih baik sekarang kita keluar, kamu istirahat lah dulu !" Ujar bunda Vivian memegang pundak Diva.
"Tidak Bun, aku mau disini aku mau membangunkannya, sudah terlalu lama ia tertidur." Tolak Diva.
"Tapi sayang kamu juga perlu istirahat, sepertinya kamu terlihat pucat." Ucap bunda Vivian lagi.
"Tidak Bun aku tidak apa-apa." Diva masih menolak, ia masih memeluk erat tubuh suaminya itu.
"Ya sudah Bun, lebih baik sekarang kita keluar, biarkan Diva disini dulu." Sahut pak Salman.
"Ayo sayang Abang Khay ikut sama Oma ya, biarkan bunda di sini dulu temenin ayah, Ok." Ajak bunda Vivian kepada cucunya itu yang sedari tadi hanya terdiam melihat Bundanya. Sedangkan dedek Kia tidak ikut masuk ke kamar, ia di ajak main oleh bi Siti yang selalu ikut kemanapun, Dimana Diva pergi.
Bersambung....
Jangan terlalu lama-lama memisahkan mereka kasihan, nanti Kenan capek terbaring terus, sebntar lagi kita buat Kenan terbangun aja ya, atau kita buat Kenan metong aja ya ? Bagaimana readers kalau Kenan nya kita buat metong alias meninggal ??
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️