
Pak Anton sekarang berada di Tiongkok bersama dengan beberapa anak buahnya, ia di tugaskan langsung oleh pak Salman untuk mencari Arka di sana, setelah Pak Anton mencari kota tujuan Arka di Bandara.
Tak terasa selama hampir dua bulan pak Anton dan anak buahnya mencari keberadaan Arka namun hasilnya nihil, bahkan jejaknya pun tak ia dapatkan.
📞 "Assalamualaikum tuan." Ucap pak Anton Setelah menjawab sambungan telepon dari pak Salman.
📞 "Bagaimana pak, apakah sudah ada titik terang tentang keberadaan Arka ?" Tanya pak Salman.
📞 "Sepertinya belum tuan, besok saya dan anak buah saya memutuskan untuk pulang, karena sepertinya tuan Arka memang sudah tak berada di kota ini tuan.
📞 "Baiklah." Ucap pak Salman terdengar menghela nafas beratnya.
🍀🍀🍀
Dua tahun kemudian
Keadaan Kenan masih sama, bahkan Kenan sama sekali tak pernah memperlihatkan respon sekecil apapun membuat pak Salman dan Bunda Vivian hampir putus asa, ia sudah menyerahkan semuanya pada yang kuasa, kalaupun Kenan harus di panggil, mereka sudah ikhlas dari pada ia harus melihat putra mereka seperti itu, mau dikatakan sudah tiada namun Kenan masih bernafas dan detak jantungnya pun normal, hanya saja tubuhnya terlihat sangat kurus.
Sedangkan di sebuah perkampungan tepatnya di villa tampak Diva dan seorang putri kecilnya yang sudah berumur 18 bulanan sedang duduk di halaman belakang sambil menyuapinya di sore itu.
"Bundaaaa." Teriak seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki berlari menghampiri Diva dari dalam rumah.
"Abang jangan lari-larian, entar abangnya jatuh !!" Seru Diva melihat kearah putranya itu.
"Hayo adek Ia.." Tampak Abang Khay menyapa adik perempuannya itu yang bernama Azkia Deolina yang berarti lentera Dewi yang cantik.
Abang Khay masih belum fasih berbicara, namun terdengar sangat lucu, Abang Khay tumbuh menjadi balita yang sangat aktif dan pintar.
"Hollo juga Abang, dedek lagi maemm," Sahut Diva dengan nada bicara khas anak-anak, sedangkan dedek Kia hanya tersenyum melihat Abangnya, dedek Kia sudah mulai belajar berjalan.
"Bunda ata opa Ita mau pinda dali cini ya ?" Tanya Abang Khay lalu ikut duduk di samping bundanya.
"Iya sayang, soalnya opa ada kerjaan dan kita harus ikut semua." Jawab Diva kembali menyuapi bubur dedek Kia.
"Telus talau ayah pulang kecini anti ayah cali-cali tita bunda." Ujar Abang Khay terlihat sangat cerewet namun sangat menggemaskan.
__ADS_1
Diva terdiam mendengar perkataan putranya itu, pasalnya Diva selalu memberitahukan putranya kalau ayahnya sedang bekerja di luar kota dan akan pulang untuk menjemput mereka jika Abang Khay menanyakan soal ayahnya. Karna balita laki-laki itu selalu menanyakan keberadaan ayahnya yang tidak ada bersamanya, karena ia selalu melihat Raydan memiliki seorang ayah.
"Nanti bunda beritahu ayah kalau kita akan pindah sayang." Sahut Diva.
"Tenapa sih ayah tidak pulang-pulang bunda, atu juda penenn main cama ayah cepelti Abang Aidan telalu di ajak main cama papi Arka." Ucap Abang Khay memajukan bibirnya sambil bersedekap dada karena ia merajuk.
Sedangkan Diva hanya bisa melihat tingkah putranya itu, ia lagi-lagi merasakan sesak di dadanya karena sampai saat ini ia belum siap bertemu dengan Kenan, Diva mengira kalau Kenan sudah benar-benar bahagia bersama dengan Sarla karena sampai saat ini juga ia Kenan tak juga mencarinya. pasalnya keluarganya kompak menyembunyikan kalau dulu Kenan sering menghubungi Arka.
Keluarga Fikram juga belum mengetahui tentang keadaan Kenan yang sebenarnya.
Diva terus menatap lurus kedepan memikirkan hubungannya dengan Kenan karena sampai saat ini hubungan keduanya masih menggantung.
"Apa yang kau pikirkan sayang ?" Tanya bunda Hani mengangetkan lamunan Diva.
"Ehhh...bunda sejak kapan bunda duduk disini?" Tanya Diva.
"Sejak kamu mulai meneteskan air matamu." Sahut bunda Hani mengerti dengan perasaan putrinya saat ini, karena tanpa Diva sadari air matanya jatuh begitu saja.
Diva yang mendengar bundanya mengenai air mata Diva baru tersadar dan buru-buru menyekahnya.
"Iya Bun, setelah mengurus perceraian kami aku akan mencoba membuka lembaran baru bersama anak-anak." Sahut Diva lagi-lagi meneteskan air matanya, namun dengan cepat ia menghapusnya.
"Jangan hanya dengan anak-anak sayang, tapi cobalah untuk membuka hatimu kembali dengan orang lain, bunda dengar-dengar dari Abang kamu teman sekolah kamu yang bernama Dafa itu menyukaimu." Ujar bunda Hani.
"Aku tahu Bun, tapi untuk sekarang-sekarang ini aku belum bisa, aku takut nantinya hanya membuatnya terluka." Sahut Diva memaksakan senyumannya.
"Tapi sampai kapan kamu terus-terusan seperti ini, kalau kamu tidak mencoba untuk membuka hati kamu, mana bisa kamu melupakan masa yang sudah lalu sayang ?"
Diva hanya terdiam mendengar semua perkataan bundanya, benar yang di katakan bunda Hani jika ia tidak mencoba membuka hatinya mana bisa ia menerima orang lain, tapi hal itu sangat sulit ia lakukan perasaannya terhadap Kenan terlalu besar hingga sulit ia lupakan.
🍀🍀🍀
Ke esokan harinya keluarga Fikram akan kembali ke kota Z sedangkan Arka, Diva dan kedua anaknya berangkat ke kota Xx untuk mengurus perceraiannya dengan Kenan. Walaupun semua Arka yang mengurusnya tapi Diva tetap harus ikut karena ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.
Setibanya di bandara internasional kota Xx Diva menghirup nafas dalam-dalam, ingatannya kembali pada kenangannya bersama Kenan di kota ini.
__ADS_1
Diva dan Arka beserta Abang Khay juga Dede Kia keluar dari arah kedatangan, di sana sudah terlihat Dafa yang sudah menjemput mereka. Kebetulan Arka bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Dafa di kota Z yang saat ini Dafa pimpin, namun karena Dafa masih ada urusan di kota Xx jadi dia yang menjemput Arka dan Diva di bandara menuju sebuah apartemen yang sudah Arka sewa untuk Diva selama proses perceraiannya dengan Kenan.
"Maaf ya Daf kami sedikit terlambat, pesawatnya sempat dilay tadi." Ucap Arka setelah bertemu dengan Dafa.
"Tidak apa-apa kak, sebenarnya aku juga baru sampai, malahan aku pikir aku yang terlambat menjemput kalian." Sahut Dafa.
"Div, apa kabar ?" Kemudian Dafa balik bertanya kepada Diva.
Diva tersenyum kemudian menjawab.
"Aku baik Daf, terimakasih karena kamu sudah mau di repotkan kak Arka untuk menjemput kami.'" Sahut Diva.
"Sama-sama Div, kamu santai aja aku sendiri kok yang menawarkan diri saat kak Arka bilang mau kesini." Ujar Dafa.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita berangkat sekarang, di tempat seperti ini tidak baik untuk bayi seusia dedek Kia." Sahut Arka dan langsung di angguki Diva hampir bersamaan dengan Dafa.
🍀🍀🍀
Di Sisi lain
Bunda Vivian tampak mengelap badan putranya yang semakin hari semakin kurus, saat sedang membersihkan bagian wajah Kenan tiba-tiba bulir air mata Kenan keluar, membuat bunda Vivian menghentikan aktivitasnya dan menajamkan penglihatannya untuk memastikan lebih jelas lagi apa yang ia lihat, tapi benar air mata Kenan kembali keluar dan terlihat lebih banyak dari pertama bunda Vivian lihat tadi. Bunda Vivian segera beranjak dari duduknya dan keluar mencari perawat yang selama ini bertugas untuk mengecek setiap perkembangan Kenan.
Tak lama perawat itu pun masuk dan memeriksa Kenan, membuka sedikit mata Kenan lalu menyenternya.
"Sepertinya tuan Kenan sedikit ada perubahan nyonya, ini pertama kalinya tuan Kenan memberikan respon seperti ini." Ucap perawat setelah memeriksa Kenan.
"Alhamdulillah." Bunda Vivian mengucap syukur dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan haru setelah kurang lebih dua tahun akhirnya baru kali ini Kenan memberikan respon.
Bunda Vivian segera menelepon suaminya yang saat ini berada di perusahaan, pak Salman tak kalah bahagianya mendengar respon pertama Kenan setelah sekian lama koma. Pak Salman pun langsung membereskan beberapa berkasnya lalu pulang ia tak sabar melihat putranya, sebelumnya ia menelfon dokter pribadinya.
Bersambung.....
Lagi-lagi author amatir ini minta like, Koment dan vote sebanyak-banyaknya dari readers, maaf kalau Author banyak meminta, jika ikhlas berilah author votenya seberapa pun yang penting readersnya ikhlas 🙏🙏🤭🤭
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️
__ADS_1