
Ke esokan harinya di kota Xx tampak Kenan keluar dari rumahnya, ia sengaja menggunakan mobilnya sendiri, Kenan sengaja melewati jalanan sepi karena ia sudah curiga orang suruhan Disti akan mengikutinya seperti kemarin Dan benar saja dua mobil bus mini dan beberapa pengendara motor mengikutinya saat tiba di jalanan yang sangat sepi bahkan pengendara jarang melewati jalanan tersebut.
Mobil yang dikendarai Kenan tiba-tiba berhenti karena para pemotor yang mengikutinya tiba-tiba menghadangnya. Saat mobil Kenan berhenti beberapa preman yang bertubuh besar mengepung mobilnya dengan membawa senjata tajam.
"Keluar !!" Ucap salah satu preman menggedor kaca mobil Kenan dengan sebuah sebilah pisau di tangannya.
Kenan masih diam di tempatnya, tak lama sebuah mobil mini bus tiba dan itu adalah para pengawal Kenan, namun sepertinya jumlah preman masih banyak dibandingkan para pengawal.
Di saat itu juga mereka saling beradu, beberapa pengawal dan preman mendapatkan luka serius karena terkena senjata tajam. Tak lama sepertinya para pengawal mulai kalah beberapa preman kembali menghampiri mobil Kenan.
"Keluar !!" Serunya sambil menyodorkan pistol kearah jendela kaca mobil.
Kenan mulai membuka kaca mobilnya lalu perlahan keluar dari mobil, setelah keluar dari mobilnya di saat itu pula Pak Anton datang bersama dengan kawanan polisi, salah satu preman langsung menyandra Kenan dengan melingkarkan lengannya besarnya keleher Kenan sambil menyodorkan pistol ke bagian kepalanya.
Tak lama seorang pengendara motor sport hitam juga datang tiba-tiba dari arah yang berlawanan, tanpa membuka helm full face nya pengendara tersebut langsung menghampiri Kenan sambil menyodorkan senjatanya.
Para anggota polisi pun mengambil ancang-ancang untuk membekukan para preman namun Kenan mengangkat tangannya untuk mencegahnya.
Pemotor sport tadi membuka helmnya, lalu tersenyum menyeringai ke arah Kenan.
Plaakkkk.....plaaakkk...
Disti langsung mendaratkan pukulan keras ke wajah Kenan dengan menggunakan pistol yang ia pegang membuat pipi kiri dan kanan Kenan memar.
"Disti." Ringis Kenan.
"Ternyata kau masih mengingatku dengan baik ya Tuan Kenan yang terhormat." Ucap Disti lagi-lagi memberikan pukulan keras kebagian perut Kenan.
"Saya selalu mengingat wanita licik sepertimu." Ucap Kenan menatap Disti dengan tatapan tajamnya.
"Kali ini saya akan melenyapkan mu !" Geram Disti kembali menyodorkan ponselnya di bagian dada Kenan. Mata Disti terlihat kilatan kebencian.
Disti sudah menarik pelatuknya bersiap untuk melenyapkan Kenan, namun dengan cepat Kenan menyikut bagian perut preman yang menyekapnya dari belakang kemudian mengambil alih pistolnya. Barulah Kenan memberi kode agar pak polisi mulai menyerang, namun lagi-lagi Disti kembali melarikan diri ke hutan yang tak jauh dari tempat tersebut.
"Pak urus semua yang disini saya mau mengejar wanita itu, dia melarikan diri !" Seru Kenan kepada Asisitenya saat melihat Disti melarikan diri masuk ke hutan.
"Baik tuan." Sahut Pak Anton.
Kenan mengejar Disti sampai ketengah hutan, hingga di tengah hutan ada sebuah gedung tua, Kenan memasuki gedung tersebut ia yakin Disti masuk kedalam gedung tua.
Kenan berjalan sambil menyingkirkan beberapa tanaman yang merambat menghalangi jalannya, Kenan menyelidik setiap sudut gedung tersebut menggunakan plash ponselnya.
Bhuggkkkk.....
Tiba-tiba ada yang memukul kepala bagian belakang Kenan menggunakan balok, seketika Kenan ambruk tak sadarkan diri.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Di villa
Diva yang tadinya sedang duduk di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan perbukitan di kagetkan dengan suara benda jatuh dari dalam kamarnya. Diva langsung masuk dan mendapati bingkai fotonya bersama Kenan jatuh kelantai padahal tidak ada angin yang masuk, tiba-tiba Diva merasakan sesak di dadanya entah karena apa, perasaannya mulai tidak enak.
"Ada apa ini ? Kenapa aku tiba-tiba memikirkannya dengan perasaan aneh seperti ini, apa terjadi sesuatu dengannya ?" Gumam Diva mengambil lembaran fotonya bersama dengan Kenan.
"Ada apa sayang ?" Tanya bunda Hani yang masuk ke kamarnya.
"Ini Bun, fotonya jatuh." Sahut Diva mulai membersihkan pecahan kaca bingkai tersebut.
"Kok bisa ?" Bunda Hani langsung membantu putrinya itu.
"Aku tidak tau juga Bun, tiba-tiba saja jatuh padahal tidak ada angin yang masuk."
"Bun, apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Kenan, perasaan aku tiba-tiba saja tidak enak memikirkannya." Tambah Diva menetap bundanya.
"Itu hanya perasaan kamu aja sayang." Ucap bunda Hani mengusap punggung putrinya.
"Bun aku ingin mencoba menghubunginya." Ucap Diva.
"Bagaimana caranya kamu mau menghubungi nya sayang, disini jaringan tidak ada kamu harus ke kecamatan terlebih dahulu.' Ujar bunda Hani lembut.
"Aku akan ke kecamatan Bun, perasaan aku tidak tenang." Ucap Diva.
"Tapi Bun perasaan aku tidak tenang, aku hanya ingin memastikan keadaannya, aku juga tidak tidak ingin berbicara dengannya, cukup aku mendengar kalau dia baik-baik saja." Ucap Diva menangis.
"Ya sudah nanti bunda temenin kamu ke kecamatan, bunda bantu kamu buat alasan." Ucap bunda Hani sudah tak tega melihat putrinya.
"Terimakasih Bun, kalau begitu aku akan siap-siap terlebih dahulu." Ujar Diva kemudian beranjak kemudian masuk ke kamar mandi.
🍀🍀🍀
Di kota Xx
Pak Anton dan beberapa anggota polisi masuk kedalam hutan mencari keberadaan Kenan yang tak kunjung balik ke tempat semula, para preman sudah di ringkus pihak polisi, sedangkan para pengawal Kenan sebagian di bawah kerumah sakit, dan adapula yang ikut masuk ke hutan.
"Pak apakah ini ponsel milik tuan Kenan ?" Tanya pak polisi ketika mendapatkan sebuah ponsel.
Pak Anton mengbil ponsel tersebut lalu memeriksanya.
"Benar pak ini milik tuan Kenan." Ujar Pak Anton setelah melihat foto Diva dan baby Khay yang terpasang sebagai wallpaper.
"Sebaiknya kita berpencar pak !" Seru Komandan polisi. Setelah berkata seperti itu komandan tersebut mengarahkan anggotanya untuk berpencar, begitu juga pak Anton mengarahkan anggotanya.
__ADS_1
Di sisi lain
Dengan perlahan membuka matanya, saat kesadarannya penuh Kenan mendapati tangan terikat kebelakang di salah satu tiang di gudang tua tersebut, dengan mulutnya di latban.
"Kamu sudah bangun rupanya ? Apakah mimpi sangat indah sehingga kamu lelap sekali tertidurnya ?" Tanya Disti mendekati Kenan langsung mengusap wajah Kenan menggunakan ujung pistolnya.
Kenan menatap tajam Disti, membuat Disti tertawa mengejek.
"Kenapa tatapanmu seperti itu, kau ingin membunuhku, Hem ?" Tanya Disti.
Plakkk.... Disti lagi-lagi menampar wajah Kenan, lalu membuka paksa latban yang ia gunakan untuk menyumpal mulut Kenan.
"Saya benar-benar akan melenyapkan mu !" Seru Kenan setelah latban terlepas dari mulutnya.
"Kau masih bisa berbicara seperti itu, bagaimana kalau aku yang lebih dulu melenyapkanmu ?" Serigai Disti.
"Jika kau ingin melenyapkan ku, kenapa tidak dari tadi kau melakukannya, apa kau takut ?" Tantang Kenan tersenyum mengejek.
Disti lagi-lagi memukul Kenan menggunakan senjatanya, membuat sudut bibir Kenan robek.
"Apa kau hanya berani menggunakan pistol mu untuk memukulku saja ? Itu tidak akan membuatku mati." Seru Kenan lalu tertawa mengejek.
Disti geram mendengar ucapan Kenan barusan, Disti mulai mengarahkan pistolnya ke dada Kenan.
"Aku akan melenyapkan mu sekarang !" Ucapnya menarik penutup peluruh pistolnya.
"Lakukan lah ! Sebenarnya aku meragukan mu, apa kamu bisa menggunakan senjata itu ?" Ujar Kenan.
"Jaga ucapanmu !" Disti menendang bagian dada Kenan, membuat Kenan terhuyung kesamping.
"Kenapa kau malah menggunakan kakimu, sudah ku katakan itu tidak akan membantumu untuk melenyapkan ku."
Karena sudah sangat geram mendengar tantangan Kenan, Disti mulai menyodorkan pistolnya.
Disti langsung menarik pelatuknya dan DORR....
bersambung.....
Maaf author hanya bisa up satu episode lagi banyak kerjaan soalnya.
Like
Komentar
Vote
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️