
Pagi ini Kenan, Diva dan seluruh keluarga Pak Fikram sudah bersiap pergi ke salah satu hotel berbintang lima di kota Z tersebut. Hari ini adalah hari pernikahan Rafa dan Hera.
Kemarin Kenan beserta anak istrinya baru bisa datang ke kota Z untuk acara nikahan Rafa dan Hera, tidak seperti janjinya Diva kepada Rafa akan datang untuk membantu persiapan pernikahannya, karena Office Kenan ada sedikit masalah, jadilah Pak Salman dan Bunda Vivian tidak menghadiri pernikahan Rafa karena perusahaan Pak Salman juga mengalami masalah besar yang tak dapat ia tinggal.
"Apa Semuanya sudah siap ?" Tanya Pak Fikram.
"Sudah..." Jawab mereka hampir bersamaan.
Kenan membawa mobilnya bersama anak dan Istrinya, Sedangkan Arka membawa mobilnya dengan di tumpangi anak istrinya dan juga kedua orangtuanya.
Kurang lebih 30 menit keluarga Pak Fikram tiba di parkiran hotel, saat setelah memarkirkan mobil Ray dan juga Lani baru tiba, dan langsung memarkirkan mobilnya di samping mobil Kenan.
"Wahgh.... kebetulan banget kita ketemu di sini bro, jadi kita bisa masuk barengan." Ucap Ray menghampiri Kenan.
"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kita masuk kasian baby Raydan dan baby Khay ke lamaan di luar, di sini panas !" Seru Bunda Vivian.
Mereka masuk ke dalam dengan menggandeng pasangan masing-masing, mereka langsung menuju bolroom hotel di mana tempat proses ijab qobul akan di laksanakan.
Saat mereka masuk bolroom, Keluarga Rafa langsung menyambut baik kedatangan keluarga Pak Fikram selaku orang yang cukup berpengaruh pada kota tersebut.
Pak Fikram mengobrol soal politik dengan Pak Malik ayah dari Raka selaku politis.
Tak lama Pak Riko dan Bu Fatiah selaku orangtua Hera menghampiri keluarga besar Pak Fikram.
"Selamat Datang Pak, Bu, Maaf kami sempat menyapa kalian." Ucap Pak Riko.
"Tidak apa Pak, kami mengerti." Sahut Pak Fikram.
"Tante Hera di mana ?" Tanya Lani.
"Dia masih di kamar, mungkin masih siap-siap." Jawab Bu Fatiah.
"Kalau Rafa di mana ya ?" Kini giliran Diva yang menanyakan sahabatnya itu.
"Kalau Rafa sudah berada di tempat ijab qobul." Sahut Bu Dina mamanya Rafa.
"Kalau begitu, saya ke kamar Hera aja Tante." Ucap Diva.
"Baiklah, kamarnya ada di kamar 1102.
Diva dan Lani segera menuju di mana kamar Hera berada, dan menitipkan baby Khay kepada Bunda Vivian. Sedangkan Kenan dan Ray ikut berbincang-bincang dengan para orangtua, begitupun dengan Arka.
Diva dan Lani langsung masuk ke kamar Hera tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dan ternyata di dalam kamar tersebut Jova juga Kiki sudah berada di sana.
"Dasar ibu-ibu datangnya lama." Celetuk Jova.
"Bilang aja kalau elu iri." Sahut Lani.
"Ki...Apa kabar ?" Diva langsung memeluk sahabatnya itu.
"Gue baik, kamu apa kabar.?" Kiki membalas pelukan sahabatnya itu.
"Baik....
"Oii.... Cuma Diva doang yang lu tanya, Gue kagak nih.." Sahut Lani.
Diva dan Kiki melepaskan pelukan mereka, kemudian Kiki dan Lani saling berpelukan, sambil menanyakan kabar masing-masing.
"Maaf Ya Div, Gue nggak pernah jenguk kalian saat berada di Singapore, Elu tau sendiri kan kondisi keluarga Gue." Ucap Kiki.
"Santai aja Ki, Gue ngerti kok, tanpa elu menyusul kami kesana gue sangat-sangat berterimakasih karena elu selalu memberi ku semangat, dan doa untuk kesembuhan Kenan. Walaupun hanya Lewat sosial media tapi itu sudah cukup bagi gue." Ucap Diva panjang lebar.
__ADS_1
"Terimakasih sekali lagi Ki." Diva kembali berterimakasih kepada sahabatnya itu.
"Iya sama-sama, hanya itu yang bisa gue lakuin buat kalian.
"Btw. anak elu mana ?" Tanya Kiki.
"Dia ada sama Bunda Hani.
Mereka pun larut dalam obrolan yang menyenangkan, jarang-jarang mereka bisa berkumpul seperti ini, karena mereka sudah memiliki kesibukan Masing-masing.
"Her... Bahagia nggak mau menikah sama Rafa tengil itu ?" Tanya Jova.
"Bahagialah, siapa sih yang nggak bahagia kalau mau nikah." Jawab Hera namun raut wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan seperti apa yang ia katakan.
Diva tahu, sebenarnya Hera merasa kurang bahagia dengan pernikahannya, pernikahan yang di dasari hanya sebuah tanggungjawab karena kesalahan yang telah mereka perbuat, apalagi di antara keduanya tidak memiliki perasaan apapun, apalagi Rafa yang belum bisa melupakan Cinta nya kepada kekasihnya, dan nama kekasihnya itu masih terukir baik di hatinya.
Diva tidak tau saja bagaimana perasaan Hera yang tidak pernah pudar kepada Rafa, namun Hera masih belum sanggup untuk menceritakan kepada sahabat-sahabatnya.
Diva meraih tangan Hera yang ada di pangkuannya, ia genggam erat tangan sahabatnya itu.
"Her, Gue yakin suatu saat rasa cinta kalian akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dengan kalian selalu bersama, dan berusahalah menjadi istri yang baik buat Rafa, agar hatinya bisa menerimamu sebagai teman hidupnya, menggantikan rasa tanggungjawab itu menjadi rasa Cinta yang sesungguhnya." Ucap Diva.
Hera langsung memeluk Diva dengan erat, Hera tidak bisa lagi menahan bendungan air matanya yang sedari tadi menggenang.
"Doa in gue, semoga pernikahan kami bisa seperti pernikahan elu dan Lani." Ucap Hera.
Jova yang melihat keharuan kedua sahabatnya langsung ikut memeluk mereka begitupun dengan Lani juga Kiki, jadilah kelima bersahabat berpelukan.
Tok.... Tok... Tok...
Semuanya melepaskan pelukannya saat mendengar suara pintu di ketuk.
"Mbak Sudah di persilahkan untuk turun ke bawa, karena acara akan segera di mulai. !" Ujar salah seorang yang mengurus pernikahan Rafa dan Hera.
"Baiklah Mbak." Hera menghela nafas beratnya kemudian beranjak dari duduknya dan segera keluar menuju ballroom di mana akan di adakan acara ijab qobul.
Hera tampak sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih, dengan di dampingi oleh ke empat Sahabatnya.
Sesampainya tempat ijab qobul, Diva membantu Hera untuk duduk di samping Rafa yang terlihat hanya menampakkan wajah datarnya.
"Gue harap elu bisa menjalani ini semua dengan sangat baik setelah kalian SAH, gue harap elu tidak pernah menyakiti perasaan Hera." Bisik Diva kepada Rafa kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut sambil menepuk punggung Sahabat yang suada ia anggap saudara itu.
"Gue akan mencobanya, dan akan memulai semuanya Div." Batin Rafa.
Rafa pun memulai ijab qobul nya dengan lancar dan lantang, hanya dengan satu kali tarikan nafas, dan langsung di sambut dengan kata SAH dari para saksi dan orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
Setelah semua rangkaian ijab qobul selesai, dan menyapa para keluarga yang datang Rafa dan Hera kembali ke kamar mereka untuk beristirahat, dan mengganti pakaiannya.
Karena untuk pagi ini acaranya hanya ijab qobul dan di hadiri hanya beberapa keluarga terdekat saja. ini sengaja acaranya di susun seperti itu karena mengingat dengan keadaan Hera yang tidak boleh terlalu kelelahan. Dan acara resepsinya akan di adakan nanti malam.
Jam 7 malam Kenan, Diva, Arka, dan Vara kembali ke hotel tempat acara resepsi pernikahan Rafa dan Hera.
Baby Raydan dan juga baby Khay mereka titipkan kepada Bunda Hani dan Ayah Fikram.
Saat mereka masuk, mereka langsung bergabung dengan Ray dan Lani, yang duduk di sebuah meja, yang tak jauh dari pelaminan.
"Baby Raydan sama baby Khay nggak ikut ?" Tanya Lani.
"Tidak ini sudah malam, nggak baik buat mereka." Jawab Vara.
Tak lama mereka mengobrol santai sambil menikmati alunan musik romantis yang di nyanyikan oleh pengisi acara Jova dan Kiki menghampiri mereka, sepertinya mereka baru datang.
__ADS_1
"Kalian baru datang ?" Tanya Diva.
"Iya, tadi gue jemput Kiki dulu, pas di jalan ban mobil gue bocor, jadi gue sedikit terlambat datangnya." Terang Jova.
"Ehh Jov, Noval nggak datang ?" Tanya Ray.
"Datang kok, katanya dia masih di jalan menuju ke sini."
"Kok elu nggak berangkat bareng ?" Kini Diva yang bertanya.
"Gue nggak tau kalau dia mau datang, gue baru tau pas gue di jalan mau jemput Kiki." Terang Jova langsung meminum minuman Vara kakaknya.
"Tapi dia tau daerah sini kan?" Tanya Arka.
"Tau kak, katanya dia juga punya kerabat di kota ini." Jawab Jova.
Diva melihat sosok yang ia kenal berdiri depan pintu masuk seperti mencari seseorang.
"Woi Jov, bukannya itu Noval ya ?" Diva menunjuk pria yang ia liat.
Jova mengikuti arah tunjuk Diva, dan membenarkan kalau itu benar Noval.
"Gue samperin dia dulu ya.
Jova segera beranjak dari duduknya, menuju di mana Noval sedang berdiri sambil memainkan ponselnya, sepertinya ia ingin menghubungi Jova untuk menanyakan posisinya.
"Nov...Panggil Jova melambaikan tangannya kearah Noval.
Noval yang mendengar namanya di panggil langsung berbalik ke asal suara, dan langsung tersenyum saat melihat kalau Jova lah yang sedang memanggilnya.
Noval berjalan menghampiri Jova sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Kiki yang melihat Noval semakin mendekat mengernyitkan keningnya, sepertinya ia mengenal sosok pria yang bersama sahabatnya itu.
Bersambung.....
Kenan ❤️ Diva
Ray ❤️ Lani
Arka ❤️ Vara
*Tetap dukung Author readers, buat semangat authornya dengan memberi
Like
Coment
Vote
Favorit
Rate
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️*
__ADS_1