Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 123 Season 3 (Next Generasi)


__ADS_3

"Stop Khay ! Khay lebih baik kita berpisah !" Sela Enzy, hati Enzy hancur berkeping saat mengatakan kata itu, matanya berkaca-kaca, melihat kebawah, Enzy tak sanggup menatap suaminya.


"Tidak Nzy, sayang, aku tidak akan mau pisah dengan mu, aku sangat mencintaimu, sungguh!" Khay berusaha meraih tangan Enzy namun Enzy menepisnya.


Enzy tak bergeming mendengar Khay.


"Aku tak sanggup jika harus berpisah denganmu, aku mohon jangan katakan hal itu." Mohon Khay memegang lengan Enzy air matanya mulai berjatuhan, hatinya sakit mendengar kata yang sangat Khay benci itu.


"Maaf Khay, tapi sepertinya memang ini jalan yang terbaik buat kita, buat semua." Enzy menjeda ucapannya sejenak mengusap air matanya kasar.


"Aku sudah tidak bisa tahan lagi ! Apa kamu tahu perasaanku ? Saat aku liat melihatmu bersamanya, sungguh Khay aku lelah menjadi posesif dan cemburu saat aku mengingat tentangnya, mengingat semua perkataannya yang akan merebutmu dariku, juga calon anak kita, aku sudah tidak bisa lagi mengikuti permainan mantan kamu lagi, ini semua sudah cukup bagiku Khay." Ucao Enzy panjang lebar berusaha untuk tetap tegar.


"Hay stop ! Seru Priska kepada Enzy juga Khay.


Priska memegang bahu Enzy mengusapnya pelan, bermaksud untuk menenangkannya.


"Kalian tenanglah ! Enzy, ini semua rencana wanita murahan itu." Ujar Priska beralih menatap sinis Sita yang masih duduk di tempat tidur.


Enzy hanya menatap kebawah, ia sungguh pusing dengan permasalahan ini.


"Nzy, kamu tidak bisa menyalahkan semuanya pada Khay." Lanjutnya.


"Apa maksudmu, rencana apa hah ?" Tanya Khay pada Priska.


"Berhenti bersikap b***oh Khay !" Sahut Enzy menatap sisnis Khay, kemudian ia pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Enzy, sayang !" Panggil Khay mengikuti Enzy keluar dari kamar tersebut, namun Priska menahannya.


"Tenanglah Khay ! Aku rasa berbicara dengannya saat ini percuma saja, dia sangat marah melihat semuanya, tunggulah saat kalian sama-sama tenang !" Ucap Priska.


"Tenang ? Kau menyuruhku tetap tenang, saat istriku pergi meninggalkan ku, dan ingin berpisah denganku, begitu ?" Ucap Khay.


"Tapi Khay, gue rasa....


"Beritahu gue, semua yang kamu ketahui !" Seru Khay menyela ucapan Priska.


Priska menoleh menatap Sita, kemudian memulai bicara.


"Yang gue ketahui, saat aku tiba disini untuk menyusulmu, karena gue dapat info kalau kamu akan menemui klaiyen yang pernah gue ceritakan padamu, gue tanpa sengaja bertemu Enzy di lobi, awalnya gue pikir kalian pergi bersama, tapi setelah sampai disini, ternyata gue salah, tapi....


"Tapi apa ?" Tanya Khay tidak sabaran ingin mendengar kelanjutan cerita Priska saat gadis itu menjeda ucapannya sejenak untuk mengambil nafas.


"Tapi, saat di lift, tanpa sengaja gue melihat Enzy melihat pesan diponselnya, dan pesan itu dari wanita itu (Menunjuk kearah Sita) yang mengatakan kalau Sita memintanya untuk segera ke kamar 132 untuk melihatnya sendiri, dan mungkin inilah yang dimaksud dari pesannya itu." Jelas Priska.

__ADS_1


Sedangkan Sita terkejut sambil menatap Priska saat mendengar semua penjelasan panjang Priska.


"Sita." Geram Khay mentap tajam Sita.


"Kau jangan pernah menampakkan wajah mu itu dihadapanku, jika terjadi sesuatu pada hubunganku dengan istriku, saya benar-benar tidak akan memberimu ampun." Geram Khay lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Khay...


"Kak Khay...


Panggil Priska dan Sita hampir bersamaan.


Priska menoleh menatap Sita dengan tatapan mengejek dan merendahkan gadis tersebut, lalu Priska tersenyum miring, kemudian ikut pergi dari sana, meninggalkan Sita menangis sendirian disana.


...----------------...


Di rumah


Enzy memasukkan pakainya kedalam koper miliknya dengan asal-asalan, di iringi dengan air mata yang terus keluar membanjiri wajah chubby nya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan ?" Tanya Khay yang tiba-tiba masuk ke kamar melihat Enzy mengemasi barang-barangnya.


Enzy menutup kopernya kasar, lalu menoleh kebelakang.


"Aku akan pergi dari sini, jadi aku tidak perlu pergi ke hotel jika kau ingin bersama dengan kekasihmu itu, kamu bisa perkenalkan dia pada ayah juga bunda, aku tidak akan menghalangi cinta kalian." Ucao Enzy dengan raut wajah memerah karena emosi.


"Ada ataupun tanpa persetujuan kamu, aku akan tetap ingin berpisah darimu, aku yang akan melakukan semuanya jika kamu tidak ingin." Ucap Enzy lalu membalikkan badannya ingin segera pergi dari sana, namun dengan cepat Khay memeluknya dari belakang.


Enzy mengigit bibir bawah bagian dalamnya, menahan agar tangisannya tak pecah, tapi air mata Enzy keluar tanpa bisa lagi ia bendung.


"Nzy, aku tidak tidur dengannya, ku mohon percayalah padaku." Mohon Khay menenggelamkan wajahnya di bahu Enzy.


"Apa kamu pikir aku ini b***oh, hah ?" Ucao Enzy bergetar karena menangis.


"Tapi kamu tahukan, kalau ini semua rencana Sita, aku tahu kalau dia juga yang telah mengirim pesan untukmu agar segera datang, iya kan ? Lalu bagaimana kamu mempercayai apa yang telah kamu lihat tadi.


"Emmm aku tahu kalau ini semua rencana Sita." Sahut Enzy.


"Lalu, kenapa kamu masih ingin pergi dariku ?"


"Karena aku sudah tidak ingin lagi bertahan di sisimu." Sentak Enzy melepaskan pelukan Khay.


"Kali ini memang sudah di rencanakan sebelumnya, tapi setelah ini mantan kamu mana lagi yang datang merusak semuanya ? Pertama mantan kamu membuatku malu di seluruh universitas lalu Sita, yang terus datang mengangguku, apa kamu sungguh ingin aku kehilangan semuanya, apa kamu lupa kalau sekarang aku sedang mengandung, apa kamu lupa bagaimana keadaan ku sekarang." Ujar Enzy.

__ADS_1


"Tapi Nzy, aku benar-benar tak melakukan apapun." Kini air mata Khay benar-benar membasahi wajahnya, Khay tak malu jika ia harus menangis di depan istrinya, tak peduli lagi jika ia dikatakan laki-laki cengeng.


"Aku tahu Khay, tapi aku sungguh tak bisa lagi tahan dengan semuanya, jujur aku juga sangat mencintaimu, bahkan aku lebih sakit dan hancur daripada dirimu, saat aku mengambil keputusan ini Khay, sakit." Tangisan Enzy pecah, Enzy sulit untuk melanjutkan perkataannya.


"Ja..di, Khay tolong, bi...biar...kan...aku..." Enzy mengusap air matanya kasar.


"Jadi, biarkan aku pergi !" Lanjutnya.


Khay menangis sesenggukan, begitupun dengan Enzy.


"Enzy aku mencintaimu." Ucap Khay berlutut dihadapan Enzy sambil memegang kedua tangan istrinya itu lalu mendongak menatapnya dengan tatapan penuh permohonan.


"Tolong berikan aku kesempatan, tolong maafkan aku, aku janji tidak akan menyakitimu lagi, aku tidak akan membiarkanmu mengeluarkan air mata seperti ini lagi, tolong Nzy jangan pergi, jangan pisah dariku." Ucao Khay memohon lalu menundukkan kepalanya di hadapan Enzy dengan masih memegang kedua tangan istrinya itu.


Enzy menelan ludahnya kasar, berusaha menahan rasa sakit, ia kasihan melihat suaminya memohon sambil berlutut seperti itu dihadapannya, namun Enzy harus melakukan ini.


"Khay, jangan lakukan ini !" Seru Enzy menatap kesembarangan arah.


"Jangan membuatku menyerah Khay !" Tambah Enzy.


Khay yang mendengar itu, langsung memeluk erat kaki Enzy sambil menangis, begitupun dengan Enzy sudah menangis pilu.


"Sayang, aku janji aku akan memakan makanan pedas, memakan makanan Jepang seperti kesukaanmu, aku tidak akan menjadi orang yang pemilih lagi, aku akan bangun lebih pagi setiap hari untuk membangunkan mu, aku akan belajar memasak untukmu, ku mohon jangan tinggalkan aku Nzy, aku benar-benar tak sanggup kehilangan kamu." Ucap Khay sambil menangis semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan pisah denganku, Nzy !" Tambahnya.


Enzy berusaha berucap disela-sela sesegukannya.


"Khay, aku melakukan ini semua karenamu Khay." Ucap Enzy.


Setelah mengatakan itu, Enzy melepaskan pelukan Khay dari kakinya, lalu mendorongnya sedikit kasar.


Enzy menangis menengadahkan kepalanya keatas, Enzy berusaha menetralkan perasaannya, mengambil nafas dalam-dalam, Enzy ikut berlutut dihadapan suaminya, yang kini terlihat benar-benar kacau dan hancur.


Enzy menangkup wajah Khay lalu mengusapnya dengan sangat lembut. Khay memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya itu, lalu keduanya saling berpandangan, Enzy mencium kening suaminya lalu beranjak dengan cepat, menarik koper miliknya kemudian pergi meninggalkan Khay sendirian di sana, Khay melihat kepergian istrinya hanya bisa menagis, ia benar-benar hancur bahkan bangun dari tempatnya saja ia kesulitan, dadanya sesak bagaikan terhimpit batu besar.


Tangisan Khay terdengar sangat pilu, Khay menyandarkan tubuhnya dilemari, menengadahkan kepalanya keatas.


Bersambung........


Jangan lupa berikan like komen dan vote....


Maaf jika ceritanya membosankan, karena pelakor2 Mulu, di mulai dari kisah Kenan dan Diva, tapi begitulah pemikiran author, sekali lagi mohon maaf sebanyak-banyaknya 🙏🙏🙏

__ADS_1


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2