
Gedung D & KA Group
Tampak Kenan sibuk memeriksa file-file yang di berikan asistenya tadi, semua file perusahaan di temukan ada keganjalan membuat Kenan prustasi, Kenan menghela nafas berat melonggarkan dasinya kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya.
"Pak sepertinya kita harus ke kota S untuk memeriksa proyek kita di sana, karena kejanggalan di dapat bermula dari sana, dan kerugian yang didapatkan bersumber dari sana pula." Ucap Sarla menjelaskan.
"Apa aku harus pergi, apa tidak bisa di wakilkan saja ? Masalahnya Khay masih dalam penanganan intensif." Tanya Kenan kembali memeriksa file yang di berikan Sarla barusan.
"Sepertinya tidak bisa Pak." Sahut Sarla.
"Baiklah siang ini juga kita kesana, kamu informasikan ke pihak penanggung jawab di kota S, untuk menyiapkan semuanya hari ini juga, aku tidak bisa berlama-lama di sana karena kamu tahu sendirikan keadaan Khay bagaimana sekarang." Ucap Kenan.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi, aku akan menyiapkan semuanya." Sarla pun meninggalkan ruangan Kenan menuju ruangannya.
Kenan lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menekan salah satu tombol pada telfon yang berada di pinggir meja kerjanya.
"Ke ruangan saya sekarang !" Seru Kenan.
Tak lama Pak Anton masuk keruangannya tak lupa Kenan menyuruh asistennya untuk mengunci pintu ruangannya.
"Bagaimana apa sudah ada hasil ?" Tanya Kenan setelah asistennya itu duduk di depannya.
"Sudah Tuan, seperti yang kita duga orang ini benar-benar terlibat, kita hanya menemukan bukti atas perbuatannya masalah proyek di kota S." Jelas Pak Anton.
"Kalau rencana kita ini apa perlu kita akhiri saja, saya merasa kalau ini sudah benar-benar keterlaluan." Ujar Kenan.
"Sepertinya kita masih harus tetap meneruskannya tuan, jangan sampai orang ini merasa curiga pada kami." Terang Pak Anton.
"Baiklah." Kenan lagi-lagi menghembuskan nafas beratnya.
"Oh iya siang ini juga saya dan Sarla akan ke kota S, jika Diva menelfon atau menanyakan saya kamu jawab saja saya ada dinas keluar." Tambah Kenan.
"Kenapa enggak tuan aja yang memberitahukan nona tuan !" Ucap Pak Anton.
"Kamu sudah cukup, itu jika saja menanyakan ku, kalau tidak kamu tidak perlu memberikannya." Ucap Kenan.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Di rumah sakit
Diva tampak sedang berusaha menenangkan putranya yang sedang rewel, tampak baby Khay tidak nyaman dengan infusan yang terpasang pada tangannya. Di saat Diva tampak sibuk menenangkan putranya tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu menampakkan Dafa di ambang pintu.
"Dia kenapa ?" Tanya Dafa langsung membantu Diva memegang botol infus karena sedari tadi Diva kesusahan menggendong putranya sambil memegang botol infusan juga.
"Dia tidak nyaman dengan ingusannya, mungkin juga perasaannya juga tidak baik karena lagi sakit." Jelas Diva menggoyang-goyangkan putranya dalam gendongannya.
"Sini coba aku yang menggendongnya !" Ujar Dafa mengambil alih Baby Khay.
Baby Khay seketika terdiam dan terus menatap wajah Dafa, tak lama bayi menggemaskan itu tersenyum.
"Sepertinya dia mengira kalau aku ayahnya." Ucap Dafa lalu berbicara pada Khay dengan gaya bicara khas anak kecil membuat baby Khay semakin tergelek.
Diva hanya terdiam melihat interaksi keduanya, tiba-tiba air matanya terjatuh dikalah ia mengingat Kenan yang mengabaikannya, karena sejak kepergian Kenan kemarin saat mengantar Sarla pulang, Kenan belum juga kembali ke rumah sakit.
Diva buru-buru menyekah air matanya takut Dafa melihatnya, namun sepertinya Diva terlambat karena Dafa keburu melihat akan hal itu.
"Ada apa ? Kenapa kamu malah menangis ?" Tanya Dafa menatap Diva khawatir.
"Kamu ada masalah ?" Diva malah balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Diva.
"Enggak ada, kamu di tanya bukan menjawab malah balik bertanya." Ujar Diva berusaha menampakkan senyuman nya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita, aku sadar kok Div, aku bukan siapa-siapa bahkan aku juga bukan sahabat kamu dimana kamu akan menceritakan jika kamu ada masalah." Ujar Dafa kemudian kembali mengajak baby Khay bermain.
Dafa mendudukkan baby Khay di atas brangkarnya, lalu memberikan mainan yang ia bawa tadi.
Diva yang melihat akan hal itu lagi-lagi ia teringat dengan Kenan yang biasa mengajak putranya bermain seperti itu sambil sesekali menggoda baby Khay dengan menggelitik perut bayi menggemaskan tersebut.
"Oh iya apa suami mu tidak akan marah jika aku berkunjung kesini ?" Tanya Dafa tanpa mengalihkan atensinya dari baby Khay.
"Dia tidak akan marah, sekarang ini dia sangat sibuk, mungkin ada masalah di kantornya." Jelas Diva lalu meletakkan minuman di atas nakas yang berada di samping brangkar.
__ADS_1
"Di minum Daf, maaf minumannya hanya minuman kaleng seperti ini." Seru Diva.
"Iya, harusnya kamu enggak perlu repot-repot Div menyiapkan itu !" Ucap Dafa.
"Bagaimana keadaan mama kamu ?" Tanya Diva karena setaunya mama Dafa juga di rawat di rumah sakit yang sama.
"Dia sudah lebih baik sekarang, mungkin besok dia sudah boleh pulang." Jawab Dafa.
"Maaf ya, aku enggak sempat buat menjenguknya, kamu tahu sendirikan aku hanya di bantu baby siter menjaga baby Khay." Ucap Diva sedikit merasa tak enak hati.
"Enggak apa-apa kok, aku juga ngerti." Sahut Dafa lalu beralih kearah Diva yang duduk di kursi samping brangkar, sedangkan Dafa sendiri duduk di atas brangkar sambil mengajak baby Khay bermain.
"Div." Seru Dafa.
Diva mengangkat kepalanya menatap Dafa, karena sejak tadi Diva sibuk mengupas buah apel untuk baby Khay cemil.
"Ada apa ?" Tanya Diva menaikkan kedua alisnya.
"Maaf jika aku terlalu ikut campur dalam rumah tangga kamu, tapi kemarin saat aku balik dari sini aku lihat suami kamu dengan seorang wanita di cafe, sepertinya mereka sangat dekat." Ucap Dafa serius.
"Oh itu Sarla, sekertaris Kenan juga Sahabatnya." Jawab Diva kembali fokus pada buah apelnya.
"Apa benar-benar kamu tidak ada masalah dengan suamimu ?" Lagi-lagi Dafa bertanya.
Diva menghentikan aktivitasnya meletakkan pisau yang ia gunakan di atas piring yang berada di pangkuannya, Diva terus menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
"Div maaf sebelumnya jika perkataan ku nantinya akan membuatmu tersinggung, tapi jujur Div, dari dulu sampai sekarang aku masih menaruh perasaan terhadapmu, Saat kita masih di bangku sekolah aku pikir perasaan aku itu hanya perasaan cinta monyet saja Div, dengan seiringnya waktu bisa berubah, tapi aku salah Div ternyata perasaan itu masih ada hingga sekarang, apalagi saat pertemuan kita di pom bensin waktu itu perasaan itu makin bertambah, tapi aku sadar Div tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini perasaan ini sudah salah memilih hati yang sudah ada pemiliknya, aku juga tidak berharap kamu membalasnya, setidaknya sekarang aku punya keberanian untuk mengutarakan isi hatiku, itu membuatku lebih ringan Div, aku harap kita bisa bersahabat aku tidak akan meminta lebih dari itu." Ucap Dafa panjang lebar sambil menggenggam tangan Diva.
"Maaf Daf, seperti yang kamu bilang aku tidak bisa menerima perasaan kamu, aku hanya menganggap hubungan kita akhir-akhir ini hanya sebatas pertemanan.
"Terimakasih karena kamu sudah memiliki perasaan lebih untukku, aku merasa beruntung di sukai oleh pria seperti dirimu, aku doakan semoga kamu bisa menemukan wanita beruntung yang akan menjadi pendamping mu kelak, dan tentunya lebih baik dariku, kamu jangan khawatir, kita masih bisa berteman bahkan bersahabat." Ujar Diva tersenyum lebar kearah Dafa dan juga dibalas senyum tak kalah lebarnya.
"Baiklah kalau begitu, jika kamu ada apa-apa kamu jangan segan-segan menghubungi ku, karena sekarang kita adalah sahabat." Ucap Dafa dan langsung di angguki Diva.
Bersambung......
__ADS_1
Kembali lagi Author yang masih banyak kekurangan meminta dukungan LIKE, KOMENTAR juga VOTE sebanyak-banyaknya dari para reader.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️