Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 06 Season 3 ( Next Generatoin )


__ADS_3

Hari demi hari, Minggu demi minggu hingga kini tepat acara empat puluh hari kematian Rafa, Hera beserta kedua orangtua mereka.


Terlihat kediaman Pak Kenan sudah di penuhi beberapa orang baik dari koleganya, sahabat-sahabatnya, juga keluarga. Pak Kenan juga mengundang beberapa anak yatim untuk diberi santunan dalam rangka memperingati ke empat puluh hari kematian sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya juga.


"Enzy sayang, ayo sekarang kita keluar yuk, acaranya akan segera dimulai !" Ajak Bunda Diva yang baru saja masuk ke kamar Enzy.


Enzy buru-buru menyekah air matanya, ia masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan pahit dalam hidupnya, yaitu kehilangan kedua orangtuanya.


"Iya Bun." Sahut Enzy tersenyum sedikit ia paksakan.


"Sayang, kamu baik-baik sajakan ? Apa kam mau istrirahat saja disini ?" Bunda Diva mengerti dengan perasaan Enzy saat ini.


"Enggak Bun, aku akan ikut keluar." Ucap Enzy.


"Ya sudah, ayo kita keluar, tapi kalau kamu tidak merasa nyaman, kamu istirahat saja ya sayang !" Seru Bunda Diva dan di angguki Enzy.


Kedua wanita beda generasi itu keluar dari kamar, dan menuju ke halaman depan rumah, dimana acaranya diadakan. Di mulai dari pembacaan doa pembuka, dilanjutkan taksia dari beberapa ustadz dan ustadzah ternama yang sengaja diundang pak Kenan, setelah itu pembacaan doa untuk seluruh almarhum dan almarhumah, saat pembacaan doa untuk seluruh almarhum dan almarhumah, Enzy tak lagi bisa menahan air matanya, Enzy menangis sesenggukan tanpa ada kata sedikitpun yang keluar dari mulutnya, Enzy menundukkan wajahnya terlihat punggungnya bergetar karena tangis.


"Pa, Ma...Enzy kangen kalian." Ucap Enzy dalam hatinya.


Bunda Diva yang duduk disampingnya, meraih Enzy masuk dalam pelukannya, ia mencoba menyalurkan kehangatan kasih sayang lewat sebuah pelukan dan usapan lembut pada kepala gadis itu.


"Sayang, kamu yang sabar ya !" Ucap Bunda Diva.


"Bunda, aku kangen mereka Bun." Ucap Enzy dalam isakannya.


"Ya sudah, setelah acara selesai biar Khay yang mengantarmu ke makam mereka ya sayang." Ucap Bunda Diva menangkup wajah cantik Enzy yang mirip sekali dengan almarhum papanya, Bunda Diva mengusap air mata Enzy.


"Terimakasih bunda." Ucap Enzy kembali memeluk tantenya itu, yang sudah ia panggil bunda karena permintaan Bunda Diva sendiri.


"Iya, sama-sama sayang." Sahut Bunda Diva mencium pucuk kepala Enzy.


Sedangkan Khay yang melihat kedekatan bundanya dan Enzy hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


Setelah pembacaan doa selesai, acara dilanjutkan lagi dengan pemberian santunan kepada 300 anak yatim.


"Bang, kamu antar Enzy ke makam om Rafa sama Tante Hera ya !" Seru bunda Diva kepada putra sulungnya itu.


"Tapi ini sudah kesorean Bun, apa tidak bisa besok saja, ini juga kelihatan akan segera hujan." Ucap Khay.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, biar bunda saja yang menemani Enzy, kamu memang tak penah mendengarkan perintah bunda." Ujar bunda Diva kesal.


"Iya, iya Bun, biar aku yang mengantarnya." Ucap Khay.


"Ya sudah, buruan sana pergi, entar keburu malam, apalagi mau hujan." Seru Diva.


"Iya, ayo !" Sahut Khay lalu mengajak Enzy untuk segera pergi.


"Ayah, Bun, aku pergi dulu." Pamit Enzy kepada pak Kenan dan bunda Diva.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya !!" Ucap Diva mengusap kepala Enzy, begitupun dengan pak Kenan.


Khay dan Enzy pun pergi mengendarai mobil motor milik Kia, karena tak ada mobil yang bisa ia gunakan karena mobil-mobil mereka terjebak di dalam, tak bisa ia keluarkan karena ada tenda yang menghalanginya didepan.

__ADS_1


Enzy tampak canggung berada di boncengan Khay, ia merasa malu untuk pegangan di bahu laki-laki itu.


"Kamu pegangan di pundak aku aja, entar kamu jatuh !!" Ucap Khay sedikit berteriak.


"Apa...Apa kamu bilang, aku tidak jelas mendengar mu ?" Tanya Enzy juga berteriak, sedikit memajukan kepalanya ke depan.


Khay langsung menarik tangan Enzy dan membawanya ke pinggangnya untuk berpegangan.


"Pegangan nanti kamu jatuh !" Ucap Khay kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.


Enzy melingkarkan lengannya di perut Khay, Enzy sangat canggung dengan situasi ini.


Khay menusukkan wajahnya lalu tersenyum samar melihat lengan Enzy yang melingkar di perutnya.


Setelah beberapa menit akhirnya Khay maupun Enzy tiba di pemakaman, Khay langsung memarkirkan motornya di parkiran.


"Kamu bisa turun enggak ?" Tanya Khay setelah melepaskan helmnya.


"Bisa." Sahut Enzy lalu turun dari motor sport yang dikendarai Khay.


"Sini aku bantuin !" Seru Khay menarik Enzy mendekat lalu membantunya membuka kuncian helmnya, karena Khay melihat Enzy kesusahan untuk membukanya.


"Terimakasih." Ucap Enzy tak berani melihat Khay yang berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Iya sama-sama, ayo masuk !" Ajak Khay menarik tangan Enzy masuk ke lingkungan pemakaman.


Keduanya mulai menyusuri lorong-lorong pemakaman menuju dimana makam kedua orangtua Enzy.


"Aku lupa membeli bunga." Ucap Enzy.


"Aku enggak apa-apa, kamu kuat aja." Sahut Enzy.


"Ya sudah, aku keluar dulu." Ucap Khay lalu berbalik untuk membeli beberapa rangkaian bunga, juga bunga tabur.


Enzy langsung duduk di antara makam papanya juga mamanya.


Assalamualaikum ma, pa..." Ucap Enzy dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Pa, Ma, aku rindu kalian, apa kalian sudah tenang disana, apa kalian sudah bahagia disana ?"


"Pa, Ma, aku sudah bisa sedikit menerima kepergian kalian, hanya saja hari ini aku benar-benar sangat merindukan kalian, entah kenapa aku ingin sekali berada di pelukan kalian." Ucap Enzy kembali terisak.


"Pa, mama, semuanya memperlakukan aku dengan baik, aku sangat beruntung memiliki mereka, tertama keluarga ayah Kenan dan bunda Diva, mereka sangat menyayangi ku." Enzy terus berbicara di samping makam kedua orangtuanya.


"Dari kejauhan ternyata Khay sudah memperhatikan Enzy dari jauh, ia merasa sangat kasihan melihat Enzy menagis seperti itu, Khay ingin sekali memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Entah kenapa Khay merasa ingin sekali melindunginya dan menjaganya.


Khay berjalan menghampiri Enzy yang masih menangis, dengan membewa beberapa buket bunga lili kesukaan Hera.


"Nih bunganya." Ucap Khay setelah duduk disamping Enzy.


Enzy kaget karena tiba-tiba saja Khay duduk disampingnya, ia buru-buru menghapus air matanya.


"Enggak usah dihapus, aku sudah liat tadi !" Goda Khay.

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Enzy lagi-lagi tak berani melihat kearah Khay, entah kenapa ia merasa sangat malu dengan pria itu. Apalagi jika Kia dan si kembar selalu mengejeknya kalau ia akan di jodohkan dengan pria yang berada disampingnya sekarang.


"Sama-sama." Ucap Khay.


"Bunganya siniin sebagian, biar aku bantu taro di makam opa Oma kamu." Ucap Khay mengambil sebagian bunga yang tadi ia berikan.


Khay berdiri menuju makam kedua Oma dan opanya Enzy, ia mulai menyusun bunga di atas nisan, dan menaburi bunga tabur di atas tanah pusarannya, sambil memperhatikan Enzy melakukan hal yang sama pada makam kedua orangtuanya.


Setelah selesai Khay kembali duduk di samping Enzy, dan keduanya pun mulai membacakan doa untuk almarhum dan almarhumah.


"Kita pulang sekarang ?" Tanya Khay.


"Iya ayo." Sahut Enzy kemudian keduanya pun mulai beranjak dari sana.


Belum juga sampai diparkiran, tiba-tiba hujan lebat turun, seketika membuat pakaian mereka basah, Khay langsung merangkul Enzy dan memposisikan tangannya di atas kepala gadis tersebut, lalu membawa Enzy buru-buru ke parkiran karena di sana ada tempat untuk merek bisa berteduh.


Jantung keduanya berdetak kencang, saat Khay merangkul bahu Enzy.


"Shirt, hujan lagi, mana sebantar lagi malam." Umpat Khay mengusap-usap rambutnya yang basah.


Sedangkan Enzy diam-diam memperhatikan Khay, sejenak Enzy terkesima dengan ketampanan Khay, baru kali ini ia berani menatap lekat laki-laki itu.


Saat Khay berbalik, Enzy buru-buru melihat ke arah lain, namun Khay keburu mengetahuinya.


"Kalau mau lihat, lihat aja, enggak usah malu-malu gitu, gratis kok !" Goda Khay menyenggol bahu Enzy menggunakan lengannya.


"Apaan sih." Ucap Enzy menyembunyikan wajahnya karena merasa malu kepergok Khay.


"Kapan kamu mulai masuk kampus ?" Tanya Khay mencoba mencairkan suasana.


"Pekan depan aku sudah mulai masuk kata, Om Ray, dia sudah mengurus semuanya." Jelas Enzy menatap lurus kedepan.


"Kami ambil jurusan apa ?" Tanya Khay lagi.


"Hukum."Sahut Enzy singkat.


Sebenarnya Enzy kembali teringat dengan kejadian dimana saat ia dan seluruh keluarganya mengalami kecelakaan, tiba-tiba Enzy menegang, dan air matanya mulai bercucuran keluar membasahi wajahnya.


"Kamu kenapa, apa aku salah bicara ?" Tanya Khay panik karena melihat Enzy tiba-tiba saja menangis.


"Ak...aku enggak apa-apa kok." Ucap Enzy buru-buru mengusap air matanya, kemudian tersenyum paksa.


"Kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita sama aku, aku ini saudara kamu sekarang." Ucap Khay memeluk tubuh Enzy.


Enzy merasakan kenyamanan saat berada dalam pelukan laki-laki itu, ia benar-benar merasa tenang, Enzy pun membalas pelukan Khay dengan sangat erat, sampai ia menggenggam kuat baju Koko yang Khay kenakan.


Enzy terus terisak dalam pelukan Kenan, menumpahkan perasaan sedihnya ditinggalkan kedua orangtuanya.


"Apa kamu merindukan mereka ?" Tanya Khay dan langsung dijawab anggukan oleh Enzy.


Khay semakin mempererat pelukannya, sambil mengusap lembut rambut panjang Enzy yang sebagian tertutupi kain penutup kepala.


Bersambung......

__ADS_1


Author balik lagi meminta LIKE, KOMENT, DAN VOTE, JUGA HADIAH DARI PARA READERS.


TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2