
Sepulang sekolah Kia bersma Andre dan Prilly menuju salah satu mall terbesar di kota Xx, yaitu mall milik keluarga Kia, namun tak seperti Khay yang dikenal di baik oleh orang-orang di mall tersebut, Kia jarang ada yang mengenalinya, karena Kenan memang sengaja tak pernah mempublish putri kesayangannya, membuat orang-orang penasaran dengan putri dari seorang Tuan Kenan Al Fariziq.
Kia, Prilly dan juga Andre menggunakan mobil milik Andre, sedangkan motor Kia dan mobil Prilly mereka tinggal disekolah.
"Oh iya Ki, gue masih penasaran banget nih, hukuman apa yang diberikan pak Kavi jeoada loh ?" Ucap Prilly menoleh kepada sahabatnya itu yang duduk di kursi bagian belakang.
"Iya Ki, perasaan sejak loh keluar dari ruangan pak Kavi, kamu kok terlihat kurang bersemangat gitu sih." Timpal Andre melihat kebelakang lewat spion depannya, kemudian kembali fokus pada jalanan, karena kebetulan saat ini sedikit macet.
"Gue di suruh beresin ruangannya." Sahut Kia tak sepenuhnya berbohong.
"Tapi kok bentar banget sih ?" Tanya Prilly.
"Gue emang disuruh beresin, tapi gue tolak, ogah gue beresin ruangannya, mana debu disana banyak lagi." Ujar Kia melihat ke arah Prilly, lalu membuang muka acuh kearah jalanan.
"Loh benar-benar berani Ki, apalagi gue perhatikan tuh guru galak banget lagi, untung saja dia kagak ngajar dikelas gue." Andre kembali menimpali.
"Iya Ki, apa karena dia sahabat bokap loh, jadi dia baik kali ya sama elo." Sahut Prilly.
Kia yang tadinya menyandarkan kepalanya di jendela mobil langsung menegakkan duduknya lalu memukul punggung Prilly dari belakang.
"Beneran Ki, guru baru itu sahabat bokap loh ? Enak dong, jadi kalau ada nilai loh yang tidak beres gampang dong." Ucap Andre.
"Walaupun dia sahabat bokap gue, tapi gue gak kenal sama dia." Sahut Kia kesal mendengar kedua sahabatnya itu membahas Kavi.
"Udah-udah depan sana loh turunin gue !" Tunjuk Kia pada persimpangan jalan menuju rumahnya.
"Kamu gak jadi Ki, jalan-jalannya ?" Prilly menoleh kebelakang.
"Emmm udah gak mood gue." Sahut Kia santai.
"Tapi Ki, gak bakal seru kalau kamu kagak ikut, ikut ya, pleaseee !" Ujar Prilly kemudian menyatukan kedua tangannya memohon agar Kia mau ikut jalan-jalan.
Kia yang melihat Prilly yang memohon, terpaksa menganggukkan kepalanya malas, sedangkan Prilly teriak kegirangan, sambil bertos ria dengan Andre.
Tiga puluh menit kemudian mobil Andre tuba di basemen mall yang mereka tuju, kemudian mereka masuk Prilly yang terus merangkul lengan Kia, sedangkan Andre berjalan di belakang kedua gadis di depannya, layaknya seorang bodyguard yang menjaga majikannya.
"Hay ladies, kita makan dulu ya, gue udah laper banget nih." Ujar Andre memegangi perutnya yang sejak tadi berbunyi minta diisi.
"Ok, gue juga udah lapar." Sahut Prilly menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Ki, bagaimana ?" Kemudian Prilly beralih pada sahabatnya yang sejak tadi kurang mood.
"Gue ikut kalian." Sahut Kia tak semangat.
Ketiganya berjalan memasuki lift menuju lantai empat mall tersebut dimana disana terdapat beberapa cafe dan restoran.
Prilly dan Andre saling menyikut, melihat tingkah Kia yang tidak biasanya.
Prilly dan Andre memesan makanan seperti biasa yang mereka makan, tak lupa juga memesankan makanan untuk Kia.
"Ki, ada masalah ?" Tanya Andre.
"Kagak ada." Sahut Kia.
"Gue tahu loh ada masalah, Ki, kita ini sudah sahabat sudag lama, apa loh kagak percaya kepada kami." Ujar Andre.
"Beneran Ndre, gue kagak ada masalah apa-apa, hanya saja gue kurang mood aja." Jelas Kia.
Andre dan Prilly kompak menganggukkan kepala, keduanya tak ingin memaksa sahabatnya itu untuk bercerita.
Tak lama pesanan mereka datang, dan ketiga remaja itupun menikmati makanan mereka, sesekali Kia sudah menimpali guyonan kedua sahabatnya.
"Masa gue yang bayar sih." Keluh Andre namun tetap mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya.
"Kagak usah ngeluh gitu lah Ndre, sekali-kali lah loh teraktir kita." Timpal Kia menyeruput habis minumannya.
"Sesekali, apanya, perasaan gue mulu yang bayar." Dengus Andre.
Ketiganya beranjak dari duduk mereka, setelah membayar makanan mereka, kemudian menuju salah satu pusat penjualan pakaian dari brand ternama.
Prilly yang gila belanja, langsung kegirangan mengambil beberapa pakaian yang ia sukai tanpa ia coba terlebih dahulu, sedangkan Kia hanya mengambil satu buah jaket berbahan kulit, dan jeans hitam, tak lupa ia juga membeli beberapa kaos, Kia emang jarang terlihat tampil feminim seperti gadis-gadis remaja pada umumnya, Kia lebih senang memakai pakaian seperti yang ia pilih.
"Ndre, loh kagak belanja ?" Tanya Prilly melihat sahabat prianya itu tak mengambil apa-apa, pria itu hanya sibuk melihat-lihat saja.
"Gak deh, gue lagi kagak mood buat beli pakaian, gue mau beli sepatu, nanti di outlet sebelah." Sahut Andre.
"Kalau gitu kita kesana aja sekarang, gue juga lagi pengen liat sneakers." Sahut Kia.
"Terus gue gimana ?" Sahut Prilly.
__ADS_1
"Loh disini aja, kalau udah selesai duluan loh susul kita aja." Sahut Kia.
"Nih belanjaan, sama debit gue, sekalian loh bayarin belanjaan gue, PINnya ulangtahun gue !" Tambah Kia memberikan belanjaannya juga sebuah kartu debit.
"Sekalian belanjaan gue juga nggak ?" Ucap Prilly.
"Enggak enak aja loh." Seru Kia cepat.
"Yuk Ndre buruan kita kesana." Kia merangkul lengan Andre cepat keluar dari outlet pakaian tersebut.
Ki, pelan-pelan aja Napa, tuh outlet kagak bakalan kabur juga kan ?" Ujar Andre karena Kia menariknya kasar.
"Udah kagak usah protes luh !" Sahut Kia masih menyeret Andre menuju salah satu outlet yang menjual berbagai macam sendal dan sepatu dan tentu saja dari brand terkenal.
Kia yang masih merangkul lengan Andre, jika ada yang melihat, mereka dikiranya sepasang kekasih.
Burggghhh....
Kia tak sengaja menabrak seseorang, saat Kia dan Andre akan masuk.
"Pak Kavi ?" Ucap Andre membelalakkan matanya, sedangkan Kia hanya diam sejenak melihat orang yang ia tabrak, begitupun dengan Kavi yang menatap Kia dan Andre bergantian dengan tatapan datar yang sulit di artikan.
"Maaf pak, kami tidak sengaja, kalau begitu kami permisi." Ucap Kia lalu dengan cepat menarik Andre masuk di outlet tersebut.
"Apa benar kamu ada hubungan dengan pria yang bersamamu itu, Kia ?" Batin Kavi menatap punggung sepasang remaja tersebut, sampai keduanya benar-benar tak terlihat.
Hati Kavi, serasa sesak melihat Kia bersama dengan seorang pria.
"Tuan, klaiyen sudah menunggu tuan di restoran bawah." Seorang wanita dewasa menghampiri Kavi, selaku sekertarisnya.
"Ah... baiklah." Sahut Kavi kemudian melanjutkan langkahnya, menuju dimana ia ada janji dengan klaiyennya.
Sekertaris Kavi, sibuk menjelaskan rencana kerjasama antar perusahaan mereka dengan klaiyen tersebut, sedangkan Kavi tak begitu menyimaknya, ia terus kepikiran dengan Kia bersama dengan Andre, bahkan Kia tak segan-segan merangkul lengan pria tersebut. Tak bisa pungkiri kalau Kia dan Andre benar-benar serasi, sama-sama masih sangat muda, dibandingkan dirinya yang sudah dewasa bahkan sudah bisa dikatakan berumur dibandingkan dengan umur Andre.
Bersambung.........
jangan lupa terus budayakan like, Komen dan vote sebanyak-banyaknya setelah membaca setiap episodenya.
...TERIMAKASIH...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...