Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 49 Season 2


__ADS_3

Pagi ini di kota Xx tampak cuacanya sangat baik. Di kamar baby Khay terlihat Diva sudah berpakaian rapi dengan pakaian kesualnya, yang sedang sibuk memakaikan pakaian untuk putra kesayangannya itu, sedangkan bi Siti di sibukkan mempersiapkan beberapa keperluan baby Khay ke dalam babybag. Hari ini Diva berencana membawa baby Khay mengunjungi Lani di rumahnya, karena suhu tubuh baby Khay juga sudah normal kembali, lagian Diva sudah lama tidak mengunjungi Sahabatnya itu, semenjak Lani melahirkan, ia belum pernah lagi mengunjunginya karena kesibukannya mengurus keluarganya sendiri, dan juga sesekali ia mengurus proyek di kita S.


"Apa semuanya sudah di siapkan bi ?" Tanya Diva sambil meraih baby Khay dari tempat tidur gendongannya.


"Sudah Non, botol susu sama bubur sudah saya siapkan juga di wadah khusus, dan untuk stok ASInya saya tempatkan di botol biasany non." Jelas bi Siti.


"Ya sudah lebih baik sekarang kita berangkat, bibi juga ikut !" Ujar Diva lalu melangkahkan kakinya menuju ke bawah sambil menggendong putra kesayangannya itu di ikuti bi Siti di belakangnya sambil membawa babybag milik baby Khay.


Setibanya mereka di bawah Diva lebih dulu menemui bi Ratih di dapur, untuk memberitahu kalau ia, baby Khay dan bi Siti akan pergi mengunjungi rumah sahabatnya, Setelah mengatakan semuanya Diva keluar menyusul bi Siti yang lebih dulu keluar membawa baby Khay ke mobil yang sudah di siapkan sopir sebelumnya. Hari ini Diva memakai sopir untuk mengantarkannya kemana-mana, karena itu salah satu pesan Kenan sebelum pergi, Diva tidak boleh kemanapun sendirian dan tidak boleh menyetir sendiri, harus dengan sopir.


🍀🍀🍀


Mobil yang di tumpangi Diva melesat menuju rumah Ray dan Lani yang cukup jauh dari rumahnya, baby Khay yang terjaga sedari tadi, ia seolah tahu kalau ia di bawa jalan oleh Bundanya, baby Khay terlihat sangat semangat bayi berumur 11 bulan itu sedari tadi melompat-lompat di pangkuan sang Bunda tentu saja Diva menahan bagian pinggang putranya itu agar tak terjatuh, sesekali terdengar tawa baby Khay saat mobil pengendara lain membunyikan klakson, baby Khay tampak memperhatikan pengendara lain lewat kaca jendela, tangan mungilnya memukul-mukul kaca jendela mobil karena Diva sengaja mendekatkan putranya itu pada jendela mobil.


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mobil yang tumpangi Diva akhirnya tiba disebuah rumah mewah barcat putih, Satpam yang betugas langsung membukakan gerbang saat melihat Diva setelah menurunkan kaca mobilnya, Para pekerja di rumah Ray dan Lani memang sudah mengenal Kenan dan Diva karena selain Kenan adalah sahabat baik Ray Diva juga sahabat baik dari nyonya rumah tersebut yaitu Lani.


"Terimakasih Pak." Ucap Diva setelah mobilnya melintas di depan satpam tersebut yang bernama Pak Wahab.


"Sama-sama Non." Balas Pak Wahab dengan ramahnya.


Diva turun terlebih dahulu, sambil menggendong baby Khay kemudian di ikuti bi Siti, setelah mereka turun dari mobil, sopir diva yang bernama Pak Kasim meminta izin untuk ke pos satpam untuk mengobrol dengan Pak Wahab, dan langsung di angguki Diva. Diva menekan bel yang berada di samping pintu bercat hitam tersebut, tak lama seorang wanita paruh baya yang Diva ketahui itu adalah Asisiten rumah tangga Lani membukakan mereka pintu.


"Assalamualaikum bi." Ucap Diva.


"Walaikumsalam non Diva, bi. Mari silahkan masuk !" Ajak Bibi Atun mempersilahkan Diva dan Bi Siti untuk masuk lalu membuka pintu lebar-lebar agar Diva dan Bi Siti bisa lewat.


"Bi, Lani di mana ?" Tanya Diva karena tidak melihat keberadaan sahabatnya itu.


"Nyonya dan tuan muda lagi di kamar non, non langsung saja menyusulnya, tadi nyonya sudah berpesan seperti itu." Jelas Bi Atun.


"Baiklah Bi..." Sahut Diva berjalan menaiki tangga menuju kamar Lani.


"Bi, bibi kalau mau mengobrol dengan bi Atun, enggak apa-apa, nanti kalau ada apa-apa nanti saya panggil." Ujar Diva, karena ia mengerti kalau bi Siti pasti merasa akan bosan jika ikut bersamanya.


"Baik non, saya ikut non dulu mengantarkan ini dulu." Ujar bi Siti menunjukkan babybag baby Khay dan di angguki Diva karena ia juga tidak mungkin membawa sendiri babybag tersebut sambil menggendong bayinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum nyonya." Ucap Diva saat membuka pintu kamar Sahabatnya itu, ia langsung saja masuk lagian Ray tidak ada di dalam.


"Walaikumsalam, kamu tidak usah manggil gue Nyonya, gue risih tau enggak." Ujar Lani jengah, sebenarnya ia tak mau di panggil sebutan nyonya, tapi para pekerja dirumhnya semuanya pekerja dari rumah utama milik orangtua Ray, karena sekarang orangtua Ray lebih banyak tinggal di kota Z jadilah semuanya di pindahkan di rumah Ray, dan menjadi kebiasaan mereka memanggil majikannya dengan sebutan Tuan dan Nyonya.


Diva terkekeh melihat kejengahan sahabatnya itu, yang dulu bar-bar kini sudah menjadi nyonya dan ibu dari tuan muda baby twins.


"Baby Khay sudah besar ya ?" Ucap Lani turun dari tempat tidur dengan perlahan karena baru saja ia menyusui baby Rendra, sedangkan baby Nendra tertidur di boxnya.


"Sudah dong Aunty." Jawab Diva menirukan suara anak bayi.


"Authy adek-adeknya pada bobo ya, Abang mau liat dong." Lanjut Diva masih menirukan suara anak kecil.


"Baru saja Bobonya sayang, Abang mau ngajak main ya, tunggu ya sampai adek-adeknya gedean !!" Ucap Lani juga ikut-ikutan menirukan suara anak kecil sambil mencubit gemas kedua pipi tembem bayi menggemaskan tersebut yang sekarang Diva dudukkan di sebuah karpet berbulu di kamar Lani.


"Tumben lu kesini enggak sama Kenan ?" Tanya Lani, karena biasanya Diva berkunjung selalu dengan suaminya.


"Iya Kenan lagi di Singapore, ada kendala sama perencanaan pembukaan beberapa outlet Distro sama office." Jelas Diva.


"Jadi sekarang kesepian dong." Ejek Lani.


"Oh iya, kamu sudah tau belum ? Kalau Hera sudah lahiran." Tanya Lani membuat Diva membulatkan matanya, pasalnya Rafa baik Hera tak ada memberinya kabar.


"Belum tau gue, emangnya lahirannya kapan, kok mereka enggak ada yang ngabarin gue ?" Tanya Diva.


"Sekitar Seminggu yang lalu, tapi gue tahunya tiga hari yang lalu, itupun yang kasih tau gue bukan mereka, tapi nyokap gue, saat itu nyokap ke rumah sakit buat cek up, tanpa sengaja bertemu dengan Rafa, karena nyokap emang dulu dasarnya kepo, ia tanya dong, dan Rafa mengatakan kalau Hera sudah melahirkan, tapi...." Jelas Lani lalu menjeda ucapannya dengan mimik wajah sedih, Diva yang melihat ekspresi wajah Lani seperti itu jadi khawatir.


"Tapi apa Lan ?" Diva tampak sangat penasaran menunggu cerita Lani.


"Tapi, sekarang Hera sedang koma Div, setelah melahirkan ia pendarahan hebat, dan menurut informasi yang saya dengar Hera masih belum sadarkan diri Div." Jelas Lani.


Diva yang mendengarkan cerita dari Lani, ia langsung menghubungi suaminya, ia ingin meminta izin untuk ke kota Z, untuk menjenguk Sahabatnya itu. Diva tampak kesal karena beberapa kali ia menghubungi Kenan selalu saja tidak ada jawaban.


"Akkhhhh.... Kenan mana sih, kenapa juga enggak menjawab telepon gue." Ucap Diva kesal.


"Mungkin dia sibuk, dan suaranya di kondisikan ! Anak-anak gue lagi tidur noh." Tegur Lani saat nada suara Diva meninggi.

__ADS_1


"Sorry Sorry, gue nggak ada maksud mengganggu mereka, lagian gue kesel banget nih sekerang, Kenan tak jawab telpon gue, di tambah Rafa tak pernah menghubungi kabar ke kita, apa dia sudah tak lagi menganggap kita sebagai sahabatnya." Oceh Diva dengan raut wajah kesalnya sambil terus menghubungi suaminya namun lagi-lagi tak ada jawaban.


"Buat apa kamu menghubungi laki loh, sekarang tuh kita bahasanya Rafa juga Hera, malah kamu enggak nyambung hubungi laki kamu." Lani memutar bola matanya jengah.


"Gue mau minta izin, gue mau ke kota Z sekarang." Terang Diva.


"Gila kamu..." Seru Lani.


"Gue enggak gila, gue mau kesana mau ngasih pelajaran buat Rafa, bisa-bisanya dia enggak ngabarin kita soal seperti ini." Omel Diva.


"Mungkin dia enggak sempat Div, istrinya lagi koma, mana dia harus mengurus anaknya." Lani mencoba memberi pengertian kepada sahabatnya yang mulai tersulut emosi.


"Istri kamu bilang ? Kamu tau sendirikan dia tak pernah mempedulikan Hera, dia hanya merasa bertanggung jawab, dia benar-benar tidak pernah menerima keberadaan Hera, apa itu bisa di sebut suami apakah Hera pantas di sebut sebagai istrinya, hah ? Gue yakin Hera seperti itu, mungkin karena dia stres memikirkan keadaan rumah tangganya." Diva sepertinya sudah sangat emosi.


"Ya sudah kamu lebih baik tenang dulu, dan cobalah hubungi Rafa, siapa tahu aja dia menjawabnya, soalnya dari kemarin gue menghubunginya tapi sama sekali tak ada jawaban." Seru Lani.


Diva sepertinya mendengar ucapan Lani, ia mencoba menghubungi Rafa, namun benar, sama sekali tak ada jawaban.


Diva beralih menelpon Pak Anton Asisiten pribadi Kenan, yang tidak ikut ke Singapore.


📞 "Pak tolong pesankan saya tiket hari ini juga, saya baby Khay juga bi Siti akan segera ke sana sekarang !!" Seru Diva tanpa basa-basi lagi setelah Pak Anton menjawab panggilannya.


📞 "Tapi Non, apa non sudah meminta izin dengan Tuan ( Kenan ). ?" Tanya Pak Anton.


📞 "Saya sudah menghubunginya berkali-kali, tapi dia tidak menjawabnya, tapi saya sudah mengirimkan pesan, sekarang urus keberangkatan saya hari ini juga, saya ada keperluan sangat penting di sana !! Seru Diva terdengar sangat tegas tak terbantahkan di pendengaran Pak Anton, mau tidak mau Pak Anton mengurus semuanya.


📞 "Baik non, saya akan infokan setelah semuanya selesai." Ujar pak Anton.


📞 "Ya sudah, saya mau secepatnya pak." Ucap Diva lalu memutuskan sambungan telponnya sepihak.


Bersambung.....


Dukung terus authornya agar tetap semangat buat nulis dan Up dengan cara beri like, komen, dan juga vote sebanyak-banyaknya.


Klik juga Profil Author untuk mengunjungi karya Author lainnya, di jamin tak kalah seru dan baper-baperannya.

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2