
Diva berjalan mendekati suaminya yang kini sedang menatapnya dengan air mata yang keluar, Diva meraih tangan suaminya itu lalu mencium punggung tangannya.
"Maafkan aku By'..." Ucap Diva menangis terus menciumi punggung tangan Kenan.
Kenan pun hanya bisa tersenyum samar ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, bahkan tak bisa menggerakkan anggota tubuh lainnya.
Diva yang tak merasakan pergerakan apa-apa atau mendengarkan Kenan berkata sepatah katapun, ia mengangkat kepalanya menatap Kenan.
"By, apa kau marah padaku, kenapa kamu tidak mengatakan apapun ?" Tanya Diva.
Lagi-lagi Kenan hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"By apa kau tidak tidak bisa mengatakan apapun, apa kau tidak bisa menggerakkan tubuhmu?" Tanya Diva.
Kenan hanya memejamkan matanya sekejap lalu kembali membukanya, pertanda ia membenarkan pertanyaan dari Diva.
Tunggu by, aku akan memanggil bunda, dan langsung menghubungi dokter !!" Seru Diva kemudian berlari keluar kamar.
"Ayah...." Seru Khay yang dari tadi menatap ayahnya.
Kenan beralih menatap putranya, ia ingin sekali memeluknya namun itu hanya menjadi ke inginannya saja, karena ia sama sekali tidak bisa menggerakkan badannya walau sedikit saja.
"Ayah tenapa menangis, kata bunda laki-laki tidak boleh cengeng, nanti tidak bisa jadi jagoan kayak supelman." Celoteh Khay lalu naik ke tempat tidur mendudukkan dirinya di samping ayahnya sambil duduk bersila.
"Ayah... Ayah kok tidak bicala, ayah malah ya sama Abang, Abang nakal ya Yah, tarna sudah gangguin ayah bobo." Ucap Khay lagi.
🍀🍀🍀
Di ruang tengah
Di sana terlihat Bunda Vivian, sedang duduk sambil memangku dedek Kia.
"Bunda..." Diva datang menghampirinya dengan nada paniknya membuat bunda Vivian khawatir.
"Ada apa sayang, kenapa kamu panik gitu, apa terjadi sesuatu dengan Abang ?" Tanya bunda Vivian lembut.
"Bukan Abang Bun, tapi Kenan, Kenan sudah bangun..." Ucap Diva.
Sekita bunda Vivian menatap Diva seolah tak percaya.
"Apa, Kenan sadar ?" Tanya bunda Vivian memastikan apa yang di dengar dari ucapan Diva.
"Iya Bun, lebih baik sekarang kita hubungi dokter, dia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya juga tidak bisa mengeluarkan suaranya." Jelas Diva.
Bunda Vivian dan Diva langsung menuju ke kamar Kenan, saat tiba di depan kamar tiba-tiba pak Salman dan keluarga Diva masuk.
__ADS_1
"Ada apa Bun, apa ada yang terjadi ?" Tanya pak Salman terlihat khawatir.
"Kenan sudah bangun Yah, buruan telfon dokternya !" Seru bunda Vivian dan langsung masuk ke kamar tanpa menyapa besannya terlebih dahulu karena saking bahagianya.
Pak Salman langsung menghubungi dokter dan mengatakan kalau Kenan sudah tersadar. Setelah melakukan panggilan dengan dokter pak Salman langsung menyusul masuk ke kamar, sedangkan keluarga pak Fikram sudah masuk terlebih dahulu.
Di dalam kamar Diva duduk di samping kanan Kenan sedangkan bunda Vivian duduk di kursi yang ada di sebelah kiri tempat tidur Kenan.
"Sayang kamu dengar bunda kan Nak, lihat istri dan anak kamu sudah kembali, cepatlah sembuh ! Apa kau tidak ingin berkumpul lagi dengan keluargamu seperti dulu, sekarang kamu sudah memiliki putri kecil, dia sangat cantik Nak, dia sangat mirip dengan bundanya." Ucap bunda Vivian sambil mengusap kepala putranya itu.
"Lihatlah di sebelah kanan kamu, itu adalah putrimu Nak." Tambah bunda Vivian menunjuk Diva dan kedua anaknya.
Kenan tampak melirik ke sebelah kanannya, lagi-lagi ia mengeluarkan air matanya, karena bisa melihat istri dan kedua anaknya. Ia ingin sekali memeluk mereka, terutama pada putri kecilnya yang saat ini sedang melihatnya sambil memperlihatkan beberapa giginya yang baru tumbuh.
Diva menurunkan dedek Kia dari pangkuannya, membiarkan putrinya itu merangkak kearah ayahnya.
"Dia ayah sayang." Ucap Diva kepada putrinya.
Dedek Kia seakan mengerti apa yang di ucapkan bundanya, putri kecil yang berusia hampir 2 tahun itu langsung merangkak mendekati Kenan, lalu memukul-mukul lengannya sambil berceloteh khas anak kecil seumurannya, membuat Kenan tersenyum samar, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"*Maafkan ayah sayang, ayah tidak bisa memanggilmu, Ayah ingin sekali memeluk kalian..." Ucap Kenan dalam hatinya.
"Yank... Maafkan aku, lagi-lagi aku tidak bisa bersamamu saat kamu dalam keadaan mengandung, aku tidak bisa menikmati masa-masa mengidam kamu, lagi-lagi aku tidak berada di sampingmu saat kamu mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan buah cinta kita, Maaf*...." Kenan terus membatin dengan air mata keluar begitu saja, ia merasa sakit mengingat akan semua yang telah ia lakukan.
"Aku tahu by', saat ini kamu berusaha meminta maaf kepadaku, kamu tidak perlu melakukan hal itu, aku tahu kamu melakukan itu demi melindungi ku, aku sudah memaafkanmu, aku juga ingin meminta maaf karena sudah meninggalkanmu, aku tidak bisa bersabar menunggumu menjelaskan semuanya, maaf...." Diva menundukkan wajahnya dengan bahu bergetar karena menangis, tapi sebisa mungkin ia tak mengeluarkan suara tangisannya.
Kenan mengedarkan pandangannya, melihat satu persatu orang yang ada dikamar tersebut, saat ia melihat wajah mertuanya lagi-lagi Kenan hanya bisa menitikkan air matanya, ia merasa sangat bersalah apa yang telah ia lakukan.
"Ayah sudah tahu semuanya, kamu tidak usah khawatir, ayah sudah memaafkanmu, ayah juga meminta maaf karena terlalu cepat berkesimpulan tanpa mendengar apa yang sebenarnya terjadi." Ucap pak Fikram seolah mengerti arti tatapan menantunya itu.
Kemudian Kenan beralih menatap Arka yang juga saat ini menatapnya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku sama dengan ayah, akupun sudah memaafkanmu, aku juga meminta maaf." Ucap Arka.
Kenan lagi-lagi hanya bisa tersenyum samar, karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
Tak lama Dokter yang selama ini menanganinya datang bersama bi Ratih.
"Sejak kapan ia mulai sadar tuan ?" Tanya Dokter itu sambil mengeluarkan alat-alatnya.
"Baru saja dok, kami langsung menghubungi dokter saat ia sadar." Sahut pak Salman.
Dokter langsung memeriksa keadaan Kenan.
"Dok dia tidak bisa mengeluarkan suaranya bahkan tubuhnya tak bisa ia gerakkan." Ucap pak Salman.
__ADS_1
"Itu hal yang lumrah terjadi setelah seseorang bangun dari koma setelah bertahun-tahun.
Dalam hati Kenan kaget mendengar dokter yang mengatakan kalau dirinya koma selama bertahun-tahun, pantas saja Khay sudah tampak besar bahkan Kenan juga sudah memiliki anak kedua, berarti Diva hamil saat istrinya itu meninggalkan nya.
"Apa putra saya bisa kembali seperti sedia kalah dok ?" Tanya bunda Vivian kembali sendu.
"Itu bisa nyonya, asalkan dia harus melewati beberapa terapi, karena seluruh tubuhnya kaku saat ini." Jelas dokter.
"Baiklah dok, lakukan yang harusnya di lakukan, dan berikan yang terbaik buat putra saya !!" Seru Pak Salman.
"Kapan kiranya menantu saya akan mulai menjalani terapinya dok ?" Tanya pak Fikram.
"Tiga hari lagi sudah bisa dimulai tuan, untuk tahap pertama kita lakukan saja di rumah, karena saat ini tidak memungkinkan untuk tuan Kenan dibawah ke rumah sakit, karena dia masih belum bisa bangun, nanti saya akan bekerjasama dengan dokter otorfedi." Jelas Dokter.
"Berapa lama anak saya sudah bisa seperti sedia kalah dok ?" Tanya bunda Vivian.
"Tergantung dari tuan Kenan sendiri nyonya, jika ia bertekad untuk segera sembuh mungkin saja hanya beberapa bulan kedepan." Sahut dokter.
"Baiklah Dok, apa ada sesuatu yang harus kita siapkan untuk terapinya ?" Tanya pak Salman.
"Tidak perlu tuan, cukup berikan suport saja untuk pasiennya, kalau begitu saya permisi dulu tuan, tuan Kenan selamat atas sadarnya tuan dari koma, kalau begitu saya permisi." Pamit dokter lalu beralih pada Kenan.
"Kenan hanya bisa mengedipkan matanya menanggapi Dokter tersebut.
Setelah kepergian dokter, para orangtua dan yang lainnya keluar terlebih dahulu, menyisakan Diva di kamar tersebut.
"By, aku seneng banget kamu sudah sadar, aku merindukanmu." Ucap Diva duduk di kursi samping tempat tidur Kenan lalu menundukkan kepalanya di samping Kenan sambil melingkarkan tangannya di perut Kenan.
..."Aku juga sangat merindukanmu yank, bahkan saat aku tahu kamu meninggalkanku, aku seperti orang kehilangan akal sehat yank, ingin rasanya aku pergi jauh dan mengakhiri hidupku saja." Ucap Kenan, namun hanya dirinya yang bisa mendengarnya karena ia belum bisa mengeluarkan suaranya....
"By, saat aku tahu aku hamil dedek Kia, aku sempat menghubungimu, tapi bukan kamu yang menjawabnya, melainkan Sarla, makanya aku buru-buru memutuskan telfonnya, dan memutuskan untuk benar-benar menjauh darimu, namun keputusan ku itu membuatku hidup dalam kehampaan." Ucap Diva menitikkan air matanya.
"O iya by', nama Putri kita Azkia Deolina Al Fariziq, bagus enggak ? Kalau kamu tidak suka kamu bisa menggantinya nanti setelah kamu sembuh." Ujar Diva lagi.
"Dia anak sangat baik by', saat aku hamil dia, dedek Kia sama sekali tak menyusahkan ku, bahkan aku tak merasakan mual muntah berlebihan, aku juga tidak menginginkan apa-apa." Tambah Diva terus mengajak suaminya itu berbicara dengan posisi masih sama,masih memeluk tubuh suaminya.
"By', pokoknya kamu harus cepat sembuh, dan menjalani program kebugaran, kamu terlihat sangat kurus saat ini, bahkan perut kamu tidak sebagus dulu, ini sama sekali tidak enak buat di peluk, hehehe." Ucap Diva kemudian terkekeh mendengar perkataannya yang menurutnya lucu.
"Kamu bisa aja yank, aku janji, aku akan secepatnya sembuh, tapi kamu jangan lagi meninggalkanku, aku mencintaimu, mencintai anak-anak kita." Ucap Kenan lagi-lagi hanya dalam hatinya.
Bersambung......
Jangan lupa berikan like, komen, dan juga vote....
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️
__ADS_1