Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 86 Season 2


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu, dan Kenan sudah menjalani serangkaian terapi sesuai dengan anjuran dokter yang menerapinya, sejauh ini Kenan sudah banyak kemajuan, kini Kenan sudah bisa membangun kan dirinya sendiri dari berbaring nya, dan Kenan sudah tak lagi terus menerus tinggal di dalam kamar saja, Kenan sudah dapat keluar dengan menggunakan kursi roda.


Pagi itu Diva tampak sibuk membantu suaminya itu memakai pakaiannya setelah tadi ia membantunya untuk mandi, setelah semua kebutuhan suaminya ia selesaikan, Diva beralih mengambil pakaiannya yang akan ia gunakan.


Kenan terus memperhatikan istrinya itu dari belakang yang tampak kesusahan mengambil salah satu pakaiannya yang berada paling atas pada lemari penyimpanan pakaiannya.


Kenan kembali membayangkan di saat-saat Diva kesulitan mengambil sesuatu di lemari dia selalu membantunya dan berakhir meminta balasan kecupan.


Kenan tersenyum mengingat akan hal tersebut, Diva yang merasa di perhatikan ia segera menoleh setelah berhasil mengambil pakaiannya.


"Ada apa by' ?" Tanya Diva berjalan mendekati suaminya yang saat ini duduk tak jauh dari sofa yang ada di kamar tersebut.


"Apa ada yang salah dengan ku ? Oh.... aku tahu kamu pasti mengejekku pendekkan by' !" Tebak Diva karena ia selalu mendapatkan ejekan seperti itu jika ia kesusahan mengambil sesuatu yang berada di ketinggian.


Kenan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya membuat Diva cemberut.


"Oh iya by', apa kamu tidak mau mengatakan aku lebih cantik sekarang !" Seru Diva membuat Kenan dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia ingin menggoda istrinya itu. Dan benar saja Diva langsung cemberut mendapat gelengan dari Kenan.


"Aku sekarang tambah jelek, dan gemuk juga ya by', apalagi setelah melahirkan anak kedua kita, pasti bodi aku tambah kayak bodi emak-emak ikan buntal seperti yang pernah kamu katakan dulu." Ujar Diva masih cemberut.


Kenan mendengar ucapan istrinya yang ternyata masih mengingat ejekannya itu menjadi tersenyum sendiri, dan langsung menggelengkan kepalanya, lalu melambaikan tangannya memanggil istrinya itu agar lebih mendekat lagi. Diva sedikit memajukan langkahnya tepat di depan Kenan, Kenan kembali memberi isyarat agar Diva menundukkan badannya. Diva mengikuti setiap yang diperintahkan suaminya itu, kini wajah keduanya berjarak sangat dekat, tiba-tiba saja Kenan langsung mengecup sekilas bibir Diva, membuat Diva bersemu merah, pasalnya ini ciuman pertama yang diberikan Kenan setelah keduanya sempat terpisah.


Kenan tersenyum puas melihat wajah memerah Diva.


"Kamu terlihat sangat cantik yank, bahkan lebih cantik dari sebelumnya, kamu terlihat lebih dewasa sekarang." Ujar Kenan dalam hati dan terus menatap istrinya itu dengan intens, membuat Diva semakin jadi salah tingkah.


"By', kamu jangan menatapku seperti itu ! Apa kau sedang mengejekku sekarang ?" Sahut Diva melihat Kenan terus menatapnya.


Kenan menggelengkan kepalanya kemudian mengisyaratkan agar Diva segera mandi dengan menunjuk kearah kamar mandi, kemudian beralih pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya sudah, aku mandi sekarang." Ucap Diva kemudian melangkahkan kakinya setelah mendapat anggukan dari Kenan.


"Kamu wanita terbaik yang pernah kutemui yank, maaf jika aku pernah memberikan goresan mendalam di hatimu, sehingga kau meninggalkanku, aku janji yank setelah aku pulih kembali, aku tidak akan melakukan hal yang sama, dan membinah rumah tangga kita dengan baik dan membahagiakan kalian." Ucap Kenan menatap punggung Diva hingga hilang dibalik pintu kamar mandi.


Setelah dua puluh menit Diva keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih fresh dan terlihat sudah sangat cocok dengan pakaian casualnya yang melekat sempurna di tubuhnya, di tambah aroma parfum beraroma vanilla menyeruak masuk ke indera penciuman Kenan.


"Kamu benar-benar wanita yang paling sempurna dan tentunya hebat yang pernah kutemui setelah bunda sayang." Ujar Kenan terpanah melihat kecantikan istrinya itu yang semakin hari semakin bertambah cantik menurutnya.


"Ayo by kita keluar, mungkin anak-anak, bunda dan ayah sudah menunggu kita di luar !" Seru Diva lalu mendorong suaminya itu menggunakan kursi roda menuju ruang makan untuk segera ikut sarapan bersama yang lainnya.


"Selamat pagi ayah, bun, Abang..." Sapa Diva setelah masuk keruang makan.


"Ayah...." Teriak Abang Khay langsung menghampiri ayahnya.


Kenan tersenyum membalas putranya itu kemudian meraihnya dalam pelukannya setelah putranya itu berada di depannya.

__ADS_1


"Abang... Sudah dong peluk ayah, ayah juga mau sarapan, ayo sarapan dulu sayang !!" Seru bunda Vivian gemesss melihat tingkah cucu laki-laki nya itu.


"Baik Oma, aku mau duduk di samping ayah pokoknya." Ujar Khay kemudian berjalan menuju salah satu kursi makan, tepat di samping tempat yang sudah di siapkan untuk Kenan.


Pak Salman dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah bocah menggemaskan itu, iya tak pernah mau jauh dari ayahnya jika sudah bertemu.


Diva mendorong kursi roda Kenan mendekat ke meja makan, lalu mengambilkan makanan untuk suaminya itu, setelah melakukan hal itu ia pun memindahkan piring makan milik putranya yang tadinya berada di samping bunda Vivian yang kini duduk di samping kanan ayahnya, setelah selesai mengurus suami dan putranya Diva mengambil makanan untuk dirinya sendiri kemudian duduk di samping kiri suaminya.


Sedangkan dedek Kia, batita berumur 20 bulan itu berada di halaman samping rumah, tepatnya dihalaman bermain yang pernah Kenan sediakan untuk putranya dulu, batita perempuan itu sedang di berikan makan oleh bi Siti, karena itulah kebiasaan dedek Kia yang tak pernah diam di satu tempat, ia sangat aktif, sangat bertolak belakang dengan Abang Khay dulu saat masih kecil yang terlihat sangat kalem tak ada bedanya dengan ayahnya, sedangkan dedek Kia seolah mewarisi sikap bar-bar bundanya.


"Div, hari ini jadwal terapi Kenan ya ?" Tanya oak Salman setelah meneguk jus jeruknya.


"Iya yah, setelah sarapan kami akan segera berangkat." Sahut Diva.


"Sepertinya hari ini ayah tidak bisa mengantar kalian, ayah ada pekerjaan yang sangat penting di kantor, dan tidak bisa di tunda, jadi lebih baik kamu di antar pak Toni saja." Ujar pak Salman.


"Iya yah, tidak apa-apa." Sahut Diva.


Sudah dua mingguan ini Kenan menjalani terapinya di salah satu rumah sakit ternama di kota Xx, dan rutin setiap dua hari sekali. Selama terapi pak Salman selalu ikut mengantarkan Kenan, sedangkan bunda Vivian bertugas untuk menjaga kedua cucunya, walaupun ada bi Siti, tapi pak Salman tetap menyuruh istrinya ikut andil merawat cucu-cucu mereka, karena saat ini Diva lebih fokus merawat suaminya, bukannya ia mengabaikan anaknya, tapi untuk menemani Kenan terapi, Diva mewajibkan dirinya untuk selalu menemani suaminya itu bertujuan memberikan support lebih kepada Kenan.


Begitu selesai sarapan, Diva pamit kepada kedua mertuanya untuk segera berangkat ke rumah sakit, kemudian beralih kepada putra sulungnya, yang sempat ada drama tangisan bocah laki-laki itu, karena khay ingin sekali ikut bersama ayahnya. Hingga pak Salman yang turun tangan dan berjanji mengajaknya ikut bersamanya ke perusahaan, barulah tangisan Khay meredah.


🍀🍀🍀


Setelah menempuh perjalanan hampir lima puluh menit akhirnya mobil yang membawa Diva dan Kenan tiba dirumah sakit. Pak Toni membantu Kenan turun dari mobil kemudian mendudukkan majikannya itu di kursi rodanya.


"Sama-sama non, apa perlu saya mengantar non dan tuan masuk kedalam ?" Ujar pak Toni menawarkan dirinya.


"Tidak perlu pak, bapak tunggu di cafetaria rumah sakit ini saja, jika sudah selesai saya akan menghubungi bapak !!" Seru Diva lalu memberikan uang pecahan seratus ribuan sebanyak dua lembar kepada sopirnya tersebut.


"Ini buat bapak untuk meminum kopi disana nanti !" Seru Diva.


Terimakasih non." Ucap pak Toni hanya dibalas senyuman mengembang dari majikannya itu.


Diva berjalan menyusuri lorong koridor menuju ruangan dokter sambil mendorong kursi roda suaminya.


Diva tak lagi menunggu antriannya, karena pak Salman menyewa dokter syaraf khusus pemulihan putranya, jadi setiap tiba jadwal Kenan dokter tersebut langsung mengosongkan jadwalnya sebelum menangani terlebih dahulu.


Ponsel Diva berdering dan menghentikan langkahnya, kemudian mengambil ponselnya dari dalam handbag nya.


"Sebentar ya by', aku jawab telfon bunda dulu." Ujar Diva setelah melihat nama bunda mertuanya menelfonnya dan di angguki Kenan.


📞" Assalamualaikum Bun...."


📞 "......

__ADS_1


📞 "Astagafirullah, aku lupa untuk mengeceknya, nanti setelah dari rumah sakit aku akan singgah untuk membeli popok dedek Kia." Ucap Diva.


📞 "......


📞 "Walaikumsalam...." Balas Diva.


"Dari bunda by', bunda mengatakan kalau perlengkapan dedek Kia hampir habis,nanti setelah kita dari sini,kita mampir di swalayan dulu ya by', enggak apa-apa kan ?" Jelas Diva dan di jawab anggukan dari Kenan.


Burrgggghhh....


Tiba-tiba seseorang menabrak Diva dari belakang.


"Aww...." Ringis Diva membuat Kenan mendongak kebelakang.


"Aku tidak apa-apa by'" Ucap Diva mengerti dengan tatapan suaminya.


Diva pun membalikkan badannya melihat seseorang yang menabraknya.


"Dafa...


"Diva....


Ucap Diva dan Dafa hampir bersamaan.


"Sorry Div, tadi aku sibuk bermain ponsel soalnya, sekali lagi maaf ya, kamu tidak apa-apa kan ?" Ucapnya, ternyata yang menabrak Diva adalah Dafa.


"Tidak apa-apa, lain kali kamu hati-hati, jangan terlalu fokus dengan ponsel saat berjalan, bisa saja kamu membahayakan seseorang atau dirimu sendiri." Ujar Diva.


Kenan merasa panas mendengar ucapan istrinya barusan, ia tak suka, Kenan menganggap Diva memberikan pengertian kepada orang lain selain dirinya dan anak-anaknya...


"Kamu ngapain kesini Daf, bukannya kamu di kota Z, ya ?" Tanya Diva membuat Kenan semakin kesal dalam hati.


"Aku ada urusan disini, kebetulan aku ada janji juga dengan sahabat aku yang kebetulan bekerja sebagai dokter syaraf di rumah sakit ini" Jelas Dafa tersenyum mengembangnya.


Diva sedikit mengobrol dengan Dafa, membuat Kenan merasa diabaikan. Tiba-tiba Kenan merasa kesal sendiri dan merutuki keadaannya sekarang.


"Apa aku bisa sembuh ? Kamu pantas bersamanya Div, aku emang tidak pantas untukmu, aku hanya pria cacat, bicara saja aku tak mampu, jalankan untuk berjalan berdiri saja aku tidak mampu."


"Kamu berhak bahagia Div, dan lebih baik kamu meninggalkanku, daripada kamu harus menyiksa dirimu untuk merawat pria seperti ku ini." Ujar Kenan dalam hatinya.


Bersambung.....


Ada yang setuju tidak kalau author lanjut Season 3, dan menceritakan kisah Abang Khay dan dedek Kia yang sudah beranjak remaja.


Kalau setuju mari ramaikan kolom komentar, sambil unjuk tangan....

__ADS_1


Jangan lupa like, Komen, dan Vote nya....


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2