Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 103 Season 3 ( Next Generasi )


__ADS_3

Kavi memperhatikan Kia sampai masuk ke dalam sekolah, hatinya mencelos, ia merasa sangat tak rela saat melihat Kia berboncengan dengan Kemal masuk ke dalam sekolah.


"Sabar Kav, kamu harus sabar menghadapi anak yang labil seperti itu, itu salah kamu mencintai gadis muda seperti itu." Ucap Kavi pada dirinya sambil terus mengusap dadanya mencoba untuk menyemangati dirinya.


Setelah itu Kavi mulai menjalankan mobilnya kembali ke hotel dimana selama ini ia menginap, karena ada beberapa hal yang harus ia selesaikan, pekerjaannya sudah sangat menumpuk, beberapa kiriman e-mail dari Bella sekertarisnya, agar segera ia selesaikan, bahkan hari ini ia akan mengadakan rapat virtual.


...----------------...


Sementara di sekolah, Kia tampak berjalan dengan Kemal sambil berangkulan, kini hubungan persahabatan mereka sudah akrab, bahkan Kia dan Kemal tak segan-segan untuk saling menggoda satu sama lain, banyak yang mengira kalau mereka pasangan kekasih, tapi selama Kia hanya mengnggap Kemal sebagai sahabatnya, tapi lain lagi dengan Kemal, sebenarnya dato dulu ia menyimpan rasa terhadap gadis yang menurutnya bar-bar itu, tapi ia tahu dari Raydan kalau Kia menyukai seseorang, maka dari itu Kemal mencoba untuk berlapang dada untuk menerima kenyataan, bersahabat dengan Kia saja sudah membuatnya senang, ia tak akan mengungkapkan isi hatinya, karena ia tak mau merusak persahabatan mereka yang baru saja mereka bina.


"Ki, tumben loh kagak naik motor, motor loh kemana, rusak ?" Tanya Kemal.


"Gak apa-apa motor gue kagak kenapa-napa, hanya saja, opa melarangku naik motor akhir-akhir ini." Jawab Kia cuek.


"Kok bisa, terus yang ngantar loh tadi itu siapa, sepertinya itu bukan main mobil bang Raydan ?" Kepo Kemal.


"Oh itu, dia om gue dari kota Xx." Sahut Kia.


"Emang kamu punya om, selain om Arka ?" Kal terus bertanya membuat Kia jengah mendengarnya.


"Loh tau om Arka dari mana ?" Tanya Kia mengeryitkan keningnya.


"Ye elah, gue mah sering kerumah bang Raydan bareng om gue." Sahut Kemal.


"Ngapain bareng om loh ?" Tanya Kia penasaran.


"Emang bang Raydan gak pernah cerita siapa om gue ?" Tanya balik Kemal di jawab anggukan cepat oleh Kia.


"Om Dafa, suaminya tante Kia, sahabat bunda loh." Jelas Kemal, membuat Kia melepaskan rangkulan Kemal yang sejak tadi merangkul bahunya, lalu menghadap pria di sampingnya itu, membuat langkah mereka terhenti.


"Ngapa tuh muka, santai aja kali !" Ujar Kemal acuh melihat keterkejutan Kia.


"Bagaimana gue gak kaget coba, jadi selama ini loh ponakan om Dafa, ya ampun, dunia benar-benar sempit ya, hanya selebar daun talas." Ucap Kia dramatis sambil membekap mulutnya.


"Gak usah lebay ! Lagian sejak kapan daun kelor berubah daun talas ?" Sahut Kemal memutar bola matanya malas.


"Ya kali daun kelor, sempit amat, gantilah daun talas, agak lebaran dikit." Sahut Kia kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Kemal masih berdiri disana, melihat sikap Kia yang ternyata tak sedingin yang Kemal kira, saat Kia baru masuk sekolah.


"Woiii oncom, tungguin gue !" Teriak Kemal kepada Kia.


"Ya elah pak ogah, ngapain panggil gue oncom hah ?" Balas Kia sama sekali tak menghentikan langkahnya.


Semua siswa-siswi yang melihat mereka semakin dibuat baper melihat tingkah keduanya, mereka beranggapan cara berpacaran mereka sangat berbeda.


...----------------...


Sedangkan di kota Xx


Terlihah Sita terdiam sendirian di halaman sekolahnya, ia terus memikirkan Khay yang terus-menerus menghindarinya, dan tak pernah membalas pesan maupun telponnya.


"Apa yang harus aku lakukan, agar kak Khay mau kembali bersamaku ?" Gumam Sita melihat kearah air mancur yang ada di hadapannya.


"Kak Khay, aku masih sangat mencintaimu, aku gak peduli jika kamu sudah memiliki istri, aku benar-benar sudah gila, buat istri kak Khay maaf, tapi aku harus merebut kak Khay kembali kepadaku." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Sedangkan di gedung universitas yang masih satu lingkup dengan sekolah namun masih terpaut jarak cukup jauh.


Enzy dan Priska duduk di kantin makan siang bareng, sambil menunggu Khay yang masih mengikuti kelas tambahannya, sedangkan Priska tidak dapat mengikuti kelas tambahan tersebut karena ia terlambat, maka dari itu dosen tak memperbolehkannya masuk.


"Oh iya Nzy, kandungan kamu sudah berapa bulan ?" Tanya Priska melihat perut Enzy mulai membuncit.


"Sudah empat bulanan kayaknya, pulang dari sini, aku dan Khay akan kerumah sakit untuk cek kandungan." Jelas Enzy.


"Khay pasti tambah menyayangimu, iya kan ?" Tanya Priska.


"Iya, bahkan kadang aku merasa risih, soalnya dia terlalu prosesif dan over protective, apa-apa dilarang, kadang aku kesal karena dia terus saja mengomel, jangan inilah, jangan itulah, mau turun tangga aja pasti dia selalu teriak, sayang hati-hati !" Ucap Enzy terlihah begitu semangat.


"Dia khawatir kamu dan calon baby kalian kenapa-napa, bukannya itu bagus, berarti dia benar-benar sayang kalian." Ucap Priska.


"Aku tahu dia sayang dan khawatir, tapi gak dia terlalu over gitu." Keluh Enzy.


"Lagi ngomongin apa sih, seru banget kayaknya ?" Sahut Khay yang datang tiba-tiba menghampiri keduanya.


"Gak ada, ini urusan wanita, iya gak Pris ?" Sahut Enzy lalu beralih pada Priska meminta persetujuan.


"Iya, laki-laki mana tahu." Timpal Priska tersenyum lalu meneguk minumannya, menatap Khay yang mengusap perut buncit Enzy sambil berbicara di depan perut Enzy layaknya ia berbicara dengan bayi yang ada didalam sana, Priska menatap keduanya dengan tatapan sulit di artikan.


"Sayang, apa sudah selesai makannya ?" Tanya Khay di angguki Enzy.


"Sudah, nih makanan di depan kita udah pada habis semua." Sahut Enzy.


"Tinggal bayar doang yang belum." Timpal Priska.


"Tuh kamu tau, sudah sana bayar !" Ujar Priska.


"Dasar Mak lampir, selalu saja minta di bayarin, makanya, cari pacar sana, biar ada yang bayarin makanan kamu yang banyak ini, bangkrut gue lama-lama harus bayarin makanan kamu Mulu." Ujar Khay malas.


"Aku lagi nunggu pangeran gue yang seperti kamu turun dari kahyangan." Sahut Priska sambil menatap ke atas.


"Mimpi mulu kamu, bangun woi bangun !!" Seru Khay mengetuk-ngetuk meja dihadapannya.


"Sudah-sudah yank, mendingan kamu bayar gih, entar kita telat ke rumah sakitnya." Sahut Enzy mengingatkan suaminya itu.


"Dengerin tuh kata bini kamu !" Timpal Priska dengan tatapan mengejeknya.


"Awas kamu ya ! Sayang tunggu ya aku bayar dulu !" Ancam Khay kepada Priska kemudian beralih mengusap rambut Enzy.


"Emmm, cepatlah !" Sahut Enzy.


Lalu Khay beranjak menuju stan makanan tempat Enzy dan Priska pesan.


...----------------...


Skip rumah sakit.


Khay dan Enzy sudah berada di ruangan dokter yang biasa memeriksa Enzy.


"Bagaimana ke adaan istri dan anak saya Dok ?" Tanya Khay setelah dokter kembali duduk di kursi kerjanya.

__ADS_1


Sebelum dokter itu menjawab Enzy ikut duduk di samping Khay.


"Alhamdulillah sekarang kandungannya sudah lebih baik, dan ada kemajuan, sudah tak selemah sejak terakhir kali cek up." Jawab dokter.


"Tapi, saya masih harus memberikan beberapa vitamin dan obat penguat kandungan." Lanjut dokter tersebut menuliskan resep di kertas kecil.


"Oh iya, apa masih ada keluhan seperti terakhir kali ?" Tanya dokter.


"Sudah gak terlalu mual sih dok, tapi perut aku masih saja selalu keram." Jawab Enzy menjelaskan keluhannya.


"Kalau begitu saya sarankan jangan dulu terlalu kecapean dan beraktivitas berat, dan satu lagi untuk tuan muda sepertinya Anda masih harus puasa dulu." Jawab dokter.


"Baiklah dok, tapi saya harus puasa berapa lama lagi ?" Sahut Khay, kemudian bertanya terlihah tak bersemangat.


Beda lagi dengan Enzy, wanita hamil itu sepertinya tampak sangat malu dengan pertanyaan suaminya itu.


"Tunggu sampai kandungan nona Enzy kuat dulu tuan muda, bersabarlah !" Seru dokter tersenyum melihat raut wajah Khay.


"Baiklah dok, jika itu yang terbaik buat calon anak kami juga istri saya, saya akan mengikuti apa yang dokter sampaikan." Ujar Khay.


"Kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu dokter." Pamit Khay dan di jawab senyuman dan anggukan oleh dokter tersebut.


"Hati-hati tuan muda dan nona, dan ini resepnya jangan lupa !" Ucap dokter memberikan resep yang sudah ia tuliskan tadi.


"Iya dokter, terimakasih." Ucap Enzy kemudian keduanya pun keluar dari ruangan dokter menuju apotek yang ada di rumah sakit itu.


"Sayang, dengerin daddy ya, kamu harus kuat di dalam perut mommy, apa kamu gak kangen di tengokin Daddy, Hem ?" Ucap Khay mengusap perut Enzy setelah keduanya duduk di salah satu kursi di depan apotek tersebut sambil menunggu obat mereka.


"Aawww... Sayang kok aku di cubit sih ?" Keluh Khay mendongak menatap istrinya yang kini menatapnya tajam.


"Kamu sadar sih saat mengucapkan itu tadi, lihat orang-orang pada ngeliatin kita, aku yakin mereka menertawakan kita karena ucapan kamu itu." Tunjuk Enzy dengan lirikan matanya pada orang-orang yang berada di sekitar mereka yang melihat mereka sambil senyum-senyum.


Khay menoleh menatap orang-orang tersebut, kemudian kembali berucap.


"Aku gak peduli." Ucapnya acuh dan kali ini sudah duduk dengan posisi melipat kaki di atas lututnya, sambil merangkul pinggang istrinya prosesif.


"Nyonya Khairan !" Panggil apoteker memanggil nama Enzy.


"Aku aja yang ambil sayang, kamu sisini aja gak usah berdiri !" Seru Khay kemudian beranjak menuju apotek lalu mengambil obat dan vitamin untuk istrinya.


"Ya sudah yuk pulang !" Ajak Khay membantu Enzy agar berdiri.


Bersambung.........


Yang kangen sama pasangan Khay dan Enzy nih udah aku kabulin....


Tetap budayakan LIKE KOMEN dan VOTE dan author kembali mengingatkan untuk mampir juga ke cerita baru author berjudul *DENDAM MEMBAWAH CINTA......


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🙏🙏🙏


...TERIMAKASIH...


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏*...

__ADS_1


__ADS_2