
Arka sedang melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana ia bisa menemukan Vara, untung jalanan sore itu tidak macet.
Dua puluh menit kemudian ia sampai di sebuah rumah mewah, Arka pergi kerumah Vara untuk menjelaskan semuanya, kalau ia tidak pernah menemuinya karena ia sibuk dikantor dan tidak berniat untuk mempermainkan nya.
Arka segera turun menuju pos penjagaan rumah kekasihnya itu.
" Pak, apa Vara nya Ada ?" Tanya Arka kepada pak Maman yang biasa berjaga di rumah keluarga Vara.
" Maaf den Arka sepertinya non Vara sudah pergi dari satu jam yang lalu. " Terang pak Maman, yang emang sudah mengenali Arka.
" Pergi ?" Tanya Arka menaikkan kedua alisnya.
" Iya den, katanya non Vara akan pindah keluar negeri. " jawab pak Maman.
" Apa den Arka tidak tahu soal ini ?" tanya pak Maman.
" Tidak pak saya tidak tau Vara tidak pernah cerita. " Jawab Arka dan mengusap wajahnya, dan kembali bertanya
" Bapak tau dia pergi kemana ?"
" Tidak tau den tuan dan nyonya tidak memberi tahu mau kemana. " Jawab pak Maman.
":Apa orang rumah ada Pak ?"
" Tidak ada den, semua pergi untuk mengantar non Vara, sepertinya non Vara sedang tidak baik-baik saja, karena dua hari yang lalu ia sempat ribut dengan tuan, dan sepertinya tuan menyakitinya, karena terlihat bekas luka di bagian wajahnya." jelas pak Maman, karena ia melihat betapa marahnya Pak Tomo hari itu, ia tidak pernah melihat pak Tomo yang sangat menyayangi putrinya sampai berbuat seperti itu.
Arka yang mendengar penjelasan pak Maman langsung diam, Karena ia tahu, pasti ini ada hubungannya dengan apa yang mereka telah lakukan, Ia yakin kalau Vara sudah menceritakan kepada kedua orangtuanya.
" Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi dulu. " Ujar Arka dan segera masuk kedalam mobilnya.
Ia segera menuju bandara menyusul kekasihnya itu.
ia membawa mobilnya dengan sangat cepat, ia tidak peduli dengan umpatan pengendara lain, ia hanya memikirkan Vara.
" Kamu benar-benar bodoh Arka harusnya kamu jelaskan semuanya waktu dicafe. " Gumam Arka merutuki kebodohannya.
Setelah sampai di bandara ia tidak langsung bergegas masuk menuju bagian keberangkatan, tujuan luar negeri, bahkan ia tidak memarkirkan mobilnya dengan benar, ia takut ia tidak bisa lagi melihat Vara Karena ia terlambat.
" JOVA..." panggil Arka berteriak saat melihat Jova di dekat pintu keberangkatan.
Jova langsung menoleh karena ada yang memanggilnya.
" Kak Arka. " Gumam Jova saat melihat Arka.
Arka segera menghampiri Jova, setelah Arka mendekat ia juga melihat kedua orang tua Jova.
Pak Tomo yang melihat langsung mendaratkan tamparan kewajah Arka.
" Ada apa kamu kesini, apa kamu belum puas menyakiti anak saya, apa kamu belum puas untuk mempermainkannya, Hah. " Ucap pak Tomo dengan nada sangat geram melihat Arka.
Ayah mana yang tidak marah jika Anak gadis yang sangat ia sayangi, di permainkan setelah ia rampas kehormatannya.
" Om, bukan seperti itu, saya kesini mau menjelaskan semuanya. " Jawab Arka menyeka sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat tamparan pak Tomo.
" Tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan, dan mudah-mudahan anak saya tidak kenapa-napa. " Ujar pak Tomo meninggalkan Arka dengan disusul istri dan juga Jova.
namun sebelum Jova melangkah Arka menahan lengannya.
" Jov, saya mohon beri tahu dimana Vara pergi, saya akan menyusulnya. " Mohon Arka dengan wajah memelas.
__ADS_1
" Maaf kak, saya tidak bisa beritahu, saya tidak bisa melawan keputusan papa saya. " Terang Jova melepaskan tangan Arka dari lengannya.
" Bee, kenapa kamu pergi, aku sudah bicarakan ini kepada kedua orangtuaku. " Gumam Arka menatap lurus kearah keberangkatan.
Arka pergi meninggalkan tempat itu berjalan dengan perasaan menyesal, juga sedih Arka merasa hatinya ditusuk ribuan berlatih, karena kepergian orang yang sangat ia sayangi bahkan sangat ia cintai.
" Arka..." Panggil seseorang.
Arka membalikkan badannya karena ia mendengar suara yang sangat ia kenali yaitu Vara memanggilnya, namun ia tidak melihat orang yang memanggilnya.
Arka kembali melanjutkan langkahnya ia berpikir kalau ia itu hanya halusinasinya saja.
" Arka..." Arka kembali mendengar seseorang yang memanggilnya dengan suara yang sama namun ia menghiraukan nya, ia tetap berjalan, sesampainya diparkiran, ia segera membuka pintu mobilnya, namun sebelum ia membukanya, seseorang memeluknya dari belakang.
Arka merasa kalau ada yang memeluknya dari belakang langsung membalikkan badannya, seketika Arka membulatkan matanya melihat Vara lah yang memeluknya.
" Bee... ini beneran kamu, ini aku tidak sedang berhalusinasi kan ?" Tanya Arka menepuk pipinya sedikit keras.
Vara hanya menganggukkan kepalanya, Arka yang melihat itu langsung menarik kekasihnya itu masuk kedalam pelukannya, mereka saling berpelukan cukup lama, mengabaikan orang-orang yang melihatnya.
" Maafin aku bee, aku tidak bermaksud untuk mempermainkan kamu, aku benar-benar sayang sama kamu. " Ujar Arka masih memeluk Vara.
Arka melepaskan pelukan Menangkup kedua sisi leher Vara dan menatap wajah kekasihnya, Arka melihat sudut bibir kekasihnya itu masih membekas.
" Ini ?" Tanya Arka menyentuh sudut bibir Vara menggunakan ibu jarinya.
" Ini tidak apa-apa. " Jawab Vara tersenyum.
" Kamu jangan bohong bee, aku tahu kamu sudah mengatakan semua kepada papa kamu. "
Vara langsung memeluk Arka dan menangis, Arka pun membalas pelukan Vara, mengusap pelan bahu kekasihku dan mencium pucuk kepalanya.
Vara melepaskan pelukannya menatap Arka seakan ia mempertanyakan apa benar yang ia dengar.
Arka menganggukkan kepalanya.
" iya sayang aku serius. " Sahut Arka seolah tau tatapan kekasihnya, sambil menyeka air mata Vara yang keluar.
" Sekarang aku antar kamu pulang ini sudah malam. " Ucap Arka membuka pintu mobil samping kemudi, setelah Vara masuk ia mengambil koper Vara dan memasukkannya dijok belakang, kemudian ikut naik di belakang kemudi.
Dalam perjalanan Arka terus menggenggam tangan Vara menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanan sibuk mengemudi, sedangkan Vara menyandarkan kepalanya di bahu Arka.
Sesampainya dikediaman Keluarga Vara, Arka langsung turun membuka pintu mobil untuk Vara.
" Kamu tidak masuk dulu bee ?" Tanya Vara.
" Tidak usah bee, lagian ini sudah malam. " Jawab Arka sambil menurunkan koper Vara yang dijok belakang mobilnya.
" Kamu hati-hati ! " Sahut Vara.
" Iya, aku pulang dulu bee, kamu istirahat lah. " Pamit Arka mencium kening kekasihnya.
Arka segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Vara.
Kediaman keluarga Fikram.
Diruang makan disana sudah terlihat Keluarga Fikram kecuali Arka, yang memang belum tiba dirumah, sedang makan malam.
__ADS_1
" Nan kamu besok berangkatnya jam berapa ?" Tanya Ayah Fikram setelah menyelesaikan makan malam mereka
" Agak sorean Yah. " Jawab Kenan sambil menyeka mulutnya menggunakan tisu.
Arka dan Ray tiba-tiba masuk secara bersamaan, dan Langsung duduk dikursi masing-masing, karena Ray memang sudah tidak sungkan lagi dirumah itu.
" Kalian dari mana ?" Tanya Ayah Fikram menatap Arka dan Ray bergantian.
" Saya habis jalan sama Rafa Om. " Jawab Ray.
" Kalau saya dari menemui Vara yah, untuk memberitahu soal rencana besok. " Jawab Arka
" Baiklah, pagi-pagi kita berangkat, soalnya sore dan Ray berangkat kekota xx. " Ucap Ayah Fikram dan beranjak dari kursinya menuju ruang kerjanya, Karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan.
" Arka, Ray kalian makanlah, Bunda siap kan minuman baut ayah dulu. " Ucap Bunda Hani, menuju dapur untuk membuat minuman untuk suaminya bekerja.
" Iya Bunda. " Sahut Arka dan Ray hampir bersamaan.
" Ray kamu sudah siapkan barang-barang kamu ?" Tanya Kenan melihat kearah sahabatnya itu, karena Kenan belum Meninggalkan meja makan.
" Nanti aja, lagian barang-barang aku tidak banyak, kita kan berangkat sore juga kan. " Jawab Ray santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
" Ray, kenapa akhir-akhir ini kamu sering keluar bareng Rafa sih ?" kali ini Diva yang bertanya.
" Sibuk ngejar cinta yank. " Sahut Kenan menjawab pertanyaan Diva yang ditujukan ke Ray.
" Emangnya dia suka sama siapa by' ?" Tanya Diva beralih menatap suaminya.
" Sahabat kamu, yang sifatnya sama kamu Yank. " Jawab Kenan sambil membuka ponselnya.
" Lani...?" Tanya Diva langsung melihat kearah Ray dan menaikkan kedua alisnya.
" Iya, Bantuin ya Div..." Sahut Ray sambil mengunyah makanannya.
" Itu mah susah Ray, yang lain aja deh, Lani itu keknya tidak suka laki-laki, soalnya dia aja kayak laki gitu bentukannya. " Ujar Diva.
" Kamu tidak sadar yank ?" Tanya Kenan mendengar ucapan istrinya mengenai bentukan sahabatnya sendiri.
" Aku sadar by', kalau aku tidak sadar tidak mungkin aku disini. " Jawab Diva belum mengerti pertanyaan suaminya.
" Yank, kamu tidak sadar, mengatakan kalau sahabat kamu itu bentukannya kayak laki, lah kamu apa Yank, bukannya kalian sama saja. " Sahut Kenan menggelengkan kepala.
" Jadi kamu tidak suka, bentukan aku kayak gini ?" Tanya Diva kesal meninggalkan meja makan.
" Siapa yang bilang tidak suka yank. " Jawab Kenan, beranjak dari duduknya mengejar Diva.
Arka dan Ray yang melihat itu geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan makan mereka.
*Bersambung....
jangan lupa Tinggalkan jejak
like
coment, and
vote
🤗🤗🤗🙏🙏🙏*
__ADS_1