
Khay bersiap-siap untuk pergi ke kampus, ia sudah terlihat rapi dengan styile khas dirinya, yaitu mengenakan jens kaos polos di padukan dengan kemeja lengan panjang yang tak ia tutup sepenuhnya.
Setelah selesai bersiap-siap ia kemudian mendekati Enzy yang masih terlelap.
"Baguslah, demamnya sudah turun." Ucap Khay setelah memeriksa suhu tubuh istrinya itu, kemudian ia usap dengan lembut pucuk kepalanya.
Khay tersenyum saat melihat wajah Enzy seketika merona, ia segera beranjak dan mengambil tasnya yang ia letakkan di sofa.
"Aku tahu kamu sudah bangun, lebih baik kamu segera mandi, dari pada wajah kamu terus memerah seperti itu."Ucap Khay tersenyum, ia merasa lucu dengan sikap Enzy.
"Buruan bangun dan mandilah, aku tidak mau sekamar dengan gadis jorok dan bau seperti mu !!" Seru Khay kemudian keluar dari sana, meninggalkan Enzy yang masih pura-pura tidur.
Setelah Khay benar-benar pergi, Enzy membuka kedua matanya, langsung mendudukkan dirinya dengan kesal karena mendengar perkataan Khay yang mengatainya jorok dan bau, apalagi mengingat kalau Khay melihat wajahnya yang merona.
"Demamku masih tinggi tau ! Aku tak merona karena mu, jangan kepedean kamu !" Ucap Enzy kesal melihat kearah pintu, lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, hari ini ia ingin bermalas-malasan.
...----------------...
Pukul 11 siang Enzy terlihat sedang bersiap-siap di depan meja riasnya, hari ini ia berencana pergi ke rumah Rendra, karena kebetulan mereka tak ada jadwal kuliah. Setelah dirasa rapi ia segera meraih kunci mobilnya dan langsung pergi menuju basemen dimana mobilnya ia parkir, mobil yang digunakan Enzy selama ini adalah salah satu koleksi mobil milik Khay berjenis sport.
Beberapa menit kemudian Enzy tiba di kediaman keluarga Ray dan Lani orangtua si kembar sekaligus sahabat mendiang orangtuanya.
"Selamat datang non." Sapa pak satpam yang bertugas di pos, saat Enzy melewati pintu gerbang.
"Enzy tersenyum sambil membunyikan klakson.
Enzy sudah di kenal oleh pekerja di rumah itu.
"Bi, Rendranya ada ?" Tanya Enzy kepada salah satu pelayan dirumah itu, saat Enzy masuk.
"Den Rendra sedang di atas non." Sahut pelayan.
"Aku langsung keatas ya Bu." Pamit Enzy langsung menuju lantai dua dimana Rendra dan Nendra main game jika sedang berada dirumah.
"Nzy, kamu udah Dateng ?" Tanya Rendra saat Enzy tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Emm.... Oh iya aunty mana ?" Tanya Enzy.
"Mami ke kantor Papi, katanya mau bawah makan siang." Jawab Rendra.
"Kalau Nendra ?"
__ADS_1
"Dia ada kelas hari ini, tapi sepertinya sebentar lagi datang kok." Jawab Rendra tanpa beralih dari permainan PSnya.
"Golll...." Teriak Rendra kegirangan saat berhasil mencetak gol di gawang lawannya sambil joget-joget karena sejak tadi ia tak belum juga mencetak gol, sampai detik-detik akhir permainan.
"Hay Nzy..... Kamu kenapa bawa-bawa monyet." Sapa Nendra jengah melihat kelakuan kembarannya itu.
"Baru datang, dan maksud kamu apa aku bawa monyet ?" Enzy tak mengerti perkataan Nendra.
"Tuh disamping kamu." Tunjuk Nendra menggunakan dagunya, ia langsung membaringkan dirinya di sofa panjang yang ada disana, karena Rendra dan Enzy duduk dilantai yang dilapisi karpet berbulu.
"Sialan kamu ! Kamu kenapa pergi menggunakan motor ku ?" Kamu beruntung karena aku tak melaporkan mu kepolisi, dengan kasus pencurian." Ujar Rendra kesal.
"Hay Rend, apa kamu sudah gila ? Lagian kamu mau kemana pakai motor ?" Ucap Nendra melemparkan bantal sofa pada saudaranya.
"Gue mau kesupermarket tadi, gue mau pakai motor kamu, ehh malah bocor." Jelas Rendra jengah.
"Kamu bisa pakai mobil ogeb."
"Gue enggak lagi mood bawa-bawa mobil, lagian cuman di depan doang...
"Ya kamu jalan kaki kan bisa, sekalian olahraga."
"Kamp....
"Nih ambil !!" Enzy menyerahkan masing-masing paperbag kepada kedua saudara kembar itu.
"Ini apa ?" Tanya Nendra dan Rendra bersamaan.
"Itu hadiah kecil dari aku, sebagai tanda terimakasih ku, karena kalian sudah merawatku kemarin." Jelas Enzy santai lalu memainkan ponselnya.
"Hadiah ?" Tanya Rendra dan Nendra saling bertatapan.
"Iya, kenapa kalian seperti itu ?" Tanya Enzy.
"Kenapa kamu memberikannya kepada kami, harusnya kamu berikan kepada, Khay." Seru Rendra.
"Khay ? Kenapa juga aku harus memberikan kepadanya, tidak ada gunanya juga kan." Tanya Enzy mengernyitkan keningnya.
"Tidakkah kamu tahu, kalau sebenarnya yang merawat dan menjagamu itu Khay..." Rendra langsung menutup mulutnya saat Nendra memukul kepala bagian belakangnya, karena ia sudah tak sengaja mengatakan yang sebenarnya.
"Apa kamu bilang ? Jadi benar yang merawatku kemarin adalah, Khay ?" Tanya Enzy menatap tajam kedua saudara kembar itu.
__ADS_1
"Hehehe, iya..." Sahut Rendra sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sebenarnya, saat setelah menelfonmu kemarin, gue bertemu Khay di lobi kampus, kemudian gue memastikan kalau kamu beneran sakit atau tidak, pas gue tanya, Khay terlihat bingung, jadi gue jelaskan kalau kamu sedang sakit, saat itu juga dia buru-buru pulang dan terlihat sangat khawatir, padahal hari itu dia ada ujian." Jelas Rendra panjang lebar.
"Dia merawat dengan sangat baik, ia juga berusaha membuatkan mu bubur, walaupun ke asinan, maklum saja sih, itu baru kali pertamanya ia masuk dapur, bahkan ia berusaha menurunkan demammu dengan cara mengompresmu, bahkan seharian ia tak pernah meninggalkanmu sendirian di apartemen, tapi ia tak menunggumu di kamar, karena dia takut kamu marah-marah, setelah melihatnya." Timpal Nendra.
"Bahkan saat kami berdua main dibawah, beberapa kali ia pulang balik ke kamar untuk melihatmu." Tambah Rendra.
Enzy terdiam mendengarkan penjelasan yang di sampaikan Rendra dan Nendra.
"Kenapa kalian tidak jujur kepadaku" Tanya Enzy setelah cukup lama terdiam.
"Itu karena... Khay yang memintanya seperti itu." Jawab Rendra.
Enzy lagi-lagi hanya terdiam membisu, ia sudah salah menilai suaminya itu.
"Nzy, sebenarnya orang yang sangat kamu benci itu adalah orang yang sangat baik, dia suami yang baik Nzy, walaupun dulunya dia pria yang sering gonta-ganti wanita, tapi kamu percaya sama dia, kalau dia mau berubah." Ujar Nendra.
"Enzy apasih sebenarnya Maslaah kamu, sampai kamu sebenci itu padanya, ?" Tanya Rendra karena masih belum tahu kenapa Enzy sebenci itu pada suaminya.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Enzy kemudian beranjak.
"Mau kemana ?" Tanya Rendra.
"Aku mau balik ke apartemen." Jawab Enzy kemudian mengambil tasnya.
"Cepat banget, kamu enggak tungguin mami pulang dulu ? Sepertinya tidak lama lagi dia pulang." Ujar Nendra.
"Lain kali aja, bay..." Sahut Enzy lalu pergi meninggalkan kediaman kedua sahabatnya itu.
...----------------...
Mobil yang dikendarai Enzy tiba di depan gedung apartemen dan langsung menuju basemen dimana ia selalu memarkirkan mobilnya, setelah memarkirkan mobil, ia segera menuju lift yang mana membawanya kelantai unitnya berada. Dalam perjalanan Enzy terus memikirkan kata-kata Rendra dan Nendra, yang mengatakan bahwa Khay bela-belain membolos kuliah bahkan tidak mengikuti ujian hanya karena merawatnya, bahkan Khay merawat dan menjaganya dengan sangat baik.
"Maaf karena aku selalu membencimu, karena aku tidak bisa melakukan apa yang telah terjadi dimasa lalu, aku terlalu takut kepada pria seperti dirimu." Ucap Enzy dalam hati, dengan mata yang berkaca-kaca, jika mengingat apa yang telah menimpahnya dimasa lalu.
Saat tiba di depan unitnya, ia langsung menekan beberapa angka password untuk membuka kunci apartemennya. Saat pintu terbuka di saat itu pula Khay berada disana, sepertinya dia akan keluar.
Bersambung.....
Maaf jika Upnya sedikit lambat, soalnya lagi sibuk ada kerjaan lain, tapi insyaallah besok karena weekend aku usahakan untuk crazy up, tapi aku enggak janji juga ya.
__ADS_1
Terimakasih karena selalu setia menunggu kelanjutan ceritanya 🙏🙏🙏
Love you all ❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗🤗