
" Lan..." Sahut Diva saat sudah berdiri disamping Lani.
Lani yang mendengar itu langsung menurunkan kakinya memperbaiki posisi duduk menatap lurus kedepan.
" Ada apa kalian kesini ?" Tanya Lani tanpa mengalihkan pandangannya.
" Elu ceritakan semuanya kegue. " Seru Diva ikut duduk disampingnya Lani.
" Apa yang harus diceritakan, gue nggak ngerti maksud lu. " Sahut Lani pura-pura tidak tau apa maksud sahabatnya itu.
Rafa yang mendengar Ucapan Lani berjalan kearah pohon yang berada dekat bangku tersebut dan bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
" elu ceritakan saja kepada Diva, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya dari Kenan. " Ujar Rafa menatap Lani intens.
Lani menghela nafasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.
Flashback on
Dua hari setelah Diva dirawat Rafa dan Ray yang memiliki sifat yang cepat akrab dan muda bergaul, terlihat sudah sangat akrab.
Ray sering ikut Rafa ke basecame, di basecame Ray sering ketemu dengan Lani.
Rafa tak jarang melihat Ray selalu memperhatikan Lani dari jauh, bahkan biasa juga Ray memberi perhatian lebih kepada Lani namun Lani selalu saja bersikap dingin kepada Ray.
Sampai sehari setelah Ray ikut kepada Rafa kebasecam, Ray meminta kepada Rafa untuk ikut kebasecam lagi.
Saat mereka dibasecam Terlihat Lani sedang memeriksa motornya karena sedang bermasalah, Lani memang sangat mengerti mesin.
Ray yang duduk agak jauh dari Lani terus memperhatikannya sambil senyum-senyum sendiri.
" Apa elu suka sama dia ?" Tanya Rafa tiba-tiba duduk disamping Ray ikut melihat arah pandang Ray.
" Iya, aku jatuh cinta sama dia, dia berbeda dengan cewek lain, tapi susah untuk didekati." jawab Ray dengan nada sedikit putus asa.
" Mau gue bantuin ?" Tanya Rafa membalikkan sedikit badannya kearah Ray sambil menepuk punggungnya.
" Serius ?" Sahut Rafa ikut melihat kearah Rafa.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum menaikkan kedua alisnya.
" Caranya gimana ?" Tanya Ray kembali menatap Lani, yang sedang menyalakan mesin motornya sambil sedikit ia gas, dan terdengar sedikit ribut akibat suara motor Lani.
" Lu hanya perlu deketin dia terus, terus dia kasih perhatian lebih, kalau perlu ikuti Kemana dia pergi, biar bagaimanapun Lani itu tetap cewek, jika selalu di kasih perhatian lebih perlakuan dia dengan lembut dia pasti akan luluh. " Terang Rafa sedikit menjeda ucapannya.
" Elu liat aja tuh sih Diva, sekarang lengket banget tuh sama suaminya. "
" Ok, gue ikut cara elu, tapi bantuin gue juga, supaya dia nggak ngehidarin gue Mulu. " Sahut Ray beralih melihat Rafa.
" Ok nanti elu pulang bareng dia, elu tenang aja biar gue yang ngatur." Sahut Rafa.
" Eh...tapi elu beneran suka sama diakan, elu tidak akan mempermainkan dia doang kan.?" Kemudian Rafa bertanya penuh selidik.
__ADS_1
karena ia tidak mau sahabatnya disakiti.
" Gue nggak main-main sama perasaan gue, bahkan gue belum pernah pacaran, karena gue cari yang cocok buat gue, dan langsung saya halalin nanti setelah lulus. " Jawab Ray menatap Lani dengan penuh cinta. kemudian melanjutkan ucapannya.
" Dan orang itu adalah Lani, sahabat Lo. "
" Baiklah kalau begitu, tapi elu punya nomor ponselnya kan ?" Tanya Rafa
" Ada, bahkan gue sering hubungi atau kirim pesan tapi dia tidak pernah menggubrisnya.
" Mau kemana lu ?" Tanya Ray saat melihat Rafa berdiri dari duduknya.
" Mau pulang bareng Lani nggak. ?" Rafa kembali bertanya dan menaikkan kedua alisnya.
" Ok...ok..." Jawab Ray mengerti.
Rafa berjalan mendekati Lani yang sibuk memasang kap motornya yang sempat ia buka tadi.
" Motor lu Kenapa ?" Tanya Rafa saat sudah berada dekat Lani.
" Ini mesinnya ada masalah, tapi udah beres. " Jawab Lani kembali memasang baut ke bagian bawah motornya.
" Ada apa lu kemari, ada maunya lu pasti. ?" Tanya Lani beranjak berdiri setelah membereskan motornya.
" Gini, elu bisa Ray pulang kagak, soalnya mendadak sisi minta jemput. " Jawab Rafa.
" Ok...Biar geu yang antar. " Sahut Lani, sambil merapikan kunci-kunci yang tadi ia pakai.
" Ok... Terimakasih Lani yang cantik, pengertian tapi sayang elu jomblo. " Ucap Rafa sambil mengejek sahabatnya itu.
" Lan, gue mau nanya deh sama elu. " Sahut Rafa menatap sahabatnya itu.
" Apaan, lagian kenapa elu masih disini, katanya elu mau jemput pacar tersayang elu itu. ?" Lani kembali bertanya.
" Elu emang kagak ada niat, kalau gue lihat-lihat yah, Ray itu suka sama elu deh Lan." Ucap Rafa melihat kearah Ray dan kembali menatap Lani.
" Malas gue pacar-pacaran, repot tau nggak. " Jawab Lani cuek.
" Ok kali gitu gue cabut dulu Sisi sudah nungguin. " Ujar Rafa dan pergi meninggalkan Lani, dan kembali dimana Ray berada.
" Bagaimana ?" Tanya Ray saat Ray berada didepannya.
" Ok...Gue cabut dulu..." Jawab Rafa dan berlalu meninggalkan Ray menuju dimana motornya berada.
" Sukses bro. " lanjut Rafa sebelum benar-benar menjauh dari Ray.
Setelah kepergian Rafa, Ray segera beranjak dari duduknya, berjalan kearah Lani, yang sedang duduk sendirian dibangku dekat pintu masuk basecam.
" Maaf ya, ngerepotin. " Sahut Ray saat sudah duduk disamping Lani.
" Emmmm....." Lani hanya berdehem, dan kembali meminum minuman kaleng, yang tadi ia ambil di dalam basecam.
Setelah Lani menghabiskan minuman nya, Lani segera mengajak Ray untuk pulang.
__ADS_1
Dalam perjalanan mereka hanya saling diam.
Lani duduk dibelakang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Pegangan nanti kamu jatuh. " Sahut Ray mengeraskan suaranya, dan sedikit membalikkan badannya kearah Lani.
" Elu pelan-pelan aja bawahnya, gue nggak bakal jatuh kalau elu pelan. " Jawab Lani acuh.
setelah beberapa menit mereka sampai didepan rumah Diva.
" makasih. " Ucap Ray saat sudah turun dari motor.
" Iya, santai aja, Gue cabut dulu. " Sahut Lani naik keatas motornya.
Setelah hari dimana Lani mengantar Ray, Ray mengikuti cara yang dikatakan Ray, ia terus memberikan perhatian kepada Lani, bahkan ia terus mengirimi pesan buat Lani setiap malam.
Setelah dua hari Lani pun tidak lagi dingin dan mulai dekat dengan Ray, dan tentu saja campur tangan Rafa, semua pesan dan perhatian yang diberikan Ray, tidak lagi ia abaikan.
Satu hari sebelum Diva keluar dari rumah sakit Ray mengajak Lani pergi kesebuah taman, dan memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya.
" Lan, jujur aku tidak tau harus bicara seperti apa, karena aku belum pernah mengutarakan perasaan aku kesiapa pun" Ucap Ray menggenggam tangan Lani dan duduk didepannya.
" Lan, aku sayang sama kamu, dan mungkin ini terlalu cepat, tapi inilah yang saya rasakan saat ini. " Ray sedikit menjeda ucapannya menatap dalam mata Lani.
" Lan, apa kamu mau jadi pacar aku. ?" Tanya Ray sedikit takut-takut cemas.
Lani hanya diam menatap dalam mata Ray.
" Ok, gue mau jadi pacar elu, tapi gue mau elu rahasiakan soal hubungan kita kepada teman-teman gue." Jawab Lani kemudian menjeda ucapannya.
" Kecuali Rafa, karena gue tau ini semua Rafa yang bantuin elu. " Sambung Lani.
" Ok...Aku setuju Yank..." Sahut Ray sambil mencium punggung tangan Lani, yang sedari tadi ia genggam.
" Kagak usah yank-yankngan gue geli dengernya. " Sahut Lani bergidik menaikkan bahunya, dan menarik tangannya dari genggaman Ray.
" Gini amat ya punya pacar bar-bar, perasaan Kenan nggak gini amat nasibnya. " Gumam Ray ikut duduk disamping Lani, namun laniasih bisa mendengar gumamannya.
" Jadi elu nyesel, pacaran sama gue ?" Tanya Lani menaikkan kedua alisnya melihat Ray.
" Ahh...eng... enggak kok, gue malahan senang. " Jawab Ray gugup kaget karena ternyata Lani mendengarnya.
flashback off
*Bersambung......
jangan lupa
Like
Coment
__ADS_1
Vote
🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏*