
Khay keluar dari apartemen dengan perasaan kesal, ia mengendarai mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan ternama milik keluarganya, karena ia lupa membawa pakaian ganti.
Tepat pukul 8 pagi, Khay tiba di pusat perbelanjaan, di saat itu juga pusat perbelanjaan mulai buka.
"Selamat pagi tuan muda." Sapa salah seorang security yang mengenalinya.
"Pagi pak." Balas Khay tersenyum tampan, lalu pamit untuk segera menuju kelantai damana tersedia berbagai pakaian.
Setibanya di lantai yang ia tuju Khay langsung disambut manager disana.
"Selamat pagi tuan muda, ada yang bisa kami bantu ?" Sapa pak manager.
"Tidak perlu pak, saya yang akan memilih sendiri." Sahut Khay memilih outpit apa yang kiranya cocok dengannya. Setelah mendapat apa yang ia cari, Khay langsung menuju toilet khusus karyawan office di mall tersebut, ia mandi dan berganti pakaian disana.
Setelah selesai dengan urusan pakaiannya, Khay pun pergi meninggalkan tempat tersebut menuju kampusnya, sebelumnya ia dengan tegas berpesan kepada manager dan para karyawan disana agar jangan mengatakan apapun tentang hari ini kepada orangtuanya.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya Khay tiba di kampus, karena ia terjebak macet, Khay langsung memarkirkan mobilnya setelahnya ia menuju kantin kampus, dimana sahabat-sahabatnya sudah menunggunya, karena sebelumnya Khay memberitahu mereka agar segera ke kampus, membuat Leo dan Doni dibuat kesal olehnya, karena menganggu hari liburnya, pasalnya hari ini mereka tidak ada jadwal di kampus.
"Ada apa ?" Tanya Doni kesal saat melihat kedatangan Khay tak kalah kesalnya.
"Kesal gue, perasaan jalanan dikota ini macet melulu." Sahut Khay mendudukkan dirinya langsung meminum blackkopi yang sebelumnya sudah dipesan untuknya.
"Bukan itu maksud gue, maksud gue kenapa kamu malah menyuruh kita ke kampus ? Mana masih pagi banget lagi." Ucap Doni masih terlihat kesal.
"Apa jangan-jangan kamu ketahuan bokap kamu, sering ke club' ?" Timpal Leo mencoba menebak masalah yang dihadapi sahabatnya itu.
Khay terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaan dari sahabatnya, dia bingung apakah dia harus menceritakan soal status yang sekarang, apa bagaimana, ia sudah sangat stres menghadapi masalah ini, entah kepada siapa ia harus cerita, karena tidak mungkin juga ia bercerita kepada kedua orangtuanya.
"Khay, Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Priska membuyarkan lamunan laki-laki di sampingnya itu.
"Emmm... Sebenarnya gue lagi ada masalah sama keluarga gue, gue lagi di marahi habis-habisan sama bokap gue, karena kedapatan sering main ke club'." Jelas Khay berbohong, ia belum siap jika sahabat-sahabatnya mengetahui soal statusnya yang sekarang, apalagi ia belum tahu bagaimana kedepannya perihal hubungannya dengan Enzy.
"Kamu juga sih, sudah dibilangin jangan sering main ketempat seperti itu, lagian kamu enggak ada kapok-kapoknya juga sih, sudah kedapatan dan dihukum pula, masih aja bandel." Omel Priska kemudian meneguk greentea hangatnya.
"Kamu juga Don, Le, kamu sih belum ketahuan orangtua kalian, jadi kalian siap-siap aja ngalamin nasib seperti Khay." Ucap Priska lagi tertuju pada Doni dan Leo.
"Kamu doain banget kita ketahuan." Sahut Doni.
"Bukannya doain, tapi harusnya kalian tobat, kagak usah pergi ketempat seperti itu, orangtua kalian itu enggak mau terjadi sesuatu hal buruk kepada kalian, makanya bersikap seperti itu." Ucap Priska layaknya menceramahi anak-anaknya.
"Iya kenjeng mami, kami enggak bakal ketempat gituan lagi." Ucap Leo dan Doni sedikit bercanda.
"Gue serius !" Seru Priska penuh penekanan.
"Iya...." Sahut keduanya bersamaan.
Sementara Khay hanya diam melihat tingkah sahabat-sahabatnya.
"Khay, woi diam-diam aja kamu dari tadi, udah sarapan belum, kalau belum gue pesenin ?!" Ucap Priska beralih pada Khay.
"Emmm....
"Kamu mau apa, Don, Le kalian apa ?" Tanya Priska kepada sahabat-sahabatnya.
"Roti isi seperti biasa." Sahut Khay.
"Gue nasi goreng, seperti biasa." Sahut Leo.
__ADS_1
"Loh Don ?" Tanya Priska karena Doni masih terlihat memikirkan apa yang dia inginkan.
"Gue....
"Cepetan Don !!" Seru Priska.
"Iya ini aku lagi mikir." Ucap Doni membuat Priska kesal.
"Gue nasi goreng juga deh, sama seperti Leo." Sahut Doni.
"Mau nasi goreng aja mikirinya lama banget." Ujar Priska kesal lalu pergi untuk memesan makanan yang di inginkan sahabat-sahabatnya.
Khay lagi-lagi hanya terdiam ia mengingat kejadian tadi pagi, dimana saat Enzy terlihat sangat ketakutan, bahkan sampai memohon kepadanya sambil menangis.
"Aku membencimu, sangat membencimu, Khay !!" Kata-kata benci yang di ucapkan Enzy padanya terus saja menghantui pikirannya.
"Sorry bro sepertinya gue harus pergi sekarang." Ucap Khay lalu pergi begitu saja tidak peduli dengan teriakan Doni yang terlihat begitu kesal.
"Kurang asem tu anak, dia nyuruh kita pergi ke kampus dihari libur kita, mana pagi banget lagi, main ninggalin kita gitu aja..." Kesal Doni.
"Sudahlah, udah terlanjur juga kan." Sahut Leo biasa-biasa aja.
"Ada masalah apa sih tuh anak, sepertinya masalahnya benar-benar serius, kelihatan banget dia stres gitu." Ucap Doni kemudian menyeruput minumannya.
"Eh... Khay kemana ?" Tanya Priska tidak melihat keberadaan pria itu, saat ia kembali.
"Pergi." Sahut Doni terlihat kesal.
"Kamu kenapa kesal gitu ?" Tanya Priska melihat raut wajah sahabatnya itu.
"Sudahlah, kamu coba ngertiin dia aja, dia sedang ada masalah dengan keluarganya, apalagi sama bokapnya, kamu tahu sendirikan dia dekat banget sama bokapnya, eh malah dimarahin, jelas dia streslah." Ujar Leo mencoba memberi pengertian pada Doni.
"Betul tuh Don, gue yakin kamu juga bakal seperti dia kalau kamu berada di posisinya." Timpal Priska.
"Iya sih, sebenarnya gue kasian juga liat dia seperti itu." Ucap Doni.
Begitulah persahabatan mereka yang sudah terjalin cukup lama, mereka terlihat sering bertengkar namun mereka tetap akan saling mengerti satu sama lain, dan tentunya saling mendukung.
Sementara dijalan, Khay mengemudikan mobilnya cukup pelan, ia berpikir pulang ke apartemennya, tapi bagaimana jika Enzy masih belum memaafkannya dengan apa yang telah ia lakukan tadi pagi.
"Pulang ? Tidak ? Pulang ? Tidak ? Pulang ? Tidak ?" Ucap Khay menimbang-nimbang apakah ia harus pulang atau tidak.
Akhirnya Khay memutuskan untuk pulang kerumah orangtuanya, ia ingin menenangkan pikirannya sejenak lagian ia juga sudah merasa kangen dengan sang bunda, apalagi masakan bundanya.
Khay memutar jalurnya menuju kediaman orangtuanya, yang tak jauh dari apartemennya.
Sekitar 15 menit mobil Khay tiba di depan kediaman orangtuanya, pak satpam yang bertugas buru-buru membukakan pintu gerbang saat melihat mobil tuan mudanya itu.
"Selamat datang tuan muda." Sapa pak Mus satpam yang bekerja dirumahnya sejak beberapa tahun lalu.
Khay hanya membunyikan klaksonnya lalu tersenyum khas laki-laki tampan turunan dari ayahnya itu, karena Khay menurunkan kaca mobilnya.
"Assalamualaikum, spadaaa, orang tampan pulang." Teriak Khay saat masuk ke rumah.
"Walaikumsalam, siapa ya, perasaan aku enggak kenal, adek cari siapa ya ?" Diva menjawab dengan candaannya.
"Maaf apa ini kediaman tuan dan nyonya Kenan ?" Tanya Khay menyalimi tangan bundanya itu lalu mencium kedua pipinya secara bergantian.
__ADS_1
"Kamu bisa aja bercandanya bang, o iya kamu datang sendirian, mantu cantik bunda mana ?" Tanya Diva.
"Mantu cantik katanya, cih..." Batin Khay.
"Bang kenapa diam ? Istri kamu mana ?" Diva mengulang pertanyaan perihal Enzy, karena melihat Khay hanya diam lalu mendudukkan dirinya di sofa yang ada diruang tengah.
"Dia ke kampus." Sahut Khay berbohong kemudian meminum minuman yang ada di atas meja, dan ia yakin itu minuman bundanya.
"Terus ngapain kamu kesini ?" Tanya Diva.
"Emangnya aku enggak boleh kesini lagi ya." Khay terlihat kesal dengan pertanyaan Bundanya itu.
"Maksud bunda bukan itu, maksudnya kamu enggak ngampus juga, gitu bang." Ralat Diva cepat melihat kekesalan putra sulungnya itu.
"Aku enggak ada jadwal hari ini Bun, rencananya aku kesini mau ganti mobil, mobil aku yang sekarang mau aku bawa ke bengkel, udah lama kagak diservis." Jelas Khay.
"Oh.... Kamu udah sarapan belum ?" Tanya Diva.
"Sudah" Sahut Khay lagi-lagi membohongi bundanya.
"Tapi aku kangen dengan masakan bunda, bunda masak apa buat sarapan ?" Ucap Khay.
"Bunda masak nasi goreng seafood, kamu mau, tuh masih ada di dapur, mau bunda ambilkan enggak ?" Sahut Diva lalu menawarkan kepada putranya.
"Boleh deh Bun." Sahut Khay.
Diva pun beranjak dari duduknya, lalu menuju dapur mengambilkan nasi goreng yang masih ada di dapur.
Sementara Khay mengeluarkan ponselnya, lalu membuka-buka galeri ponselnya, ia melihat beberapa foto dirinya dengan seseorang, kemudian menghapusnya.
"Sayang ini bang, nasi gorengnya ! Kamu mau dibuatin minum apa ? Seru Diva meletakkan sepiring nasi goreng, lalu bertanya.
"Enggak usah Bun !" Sahut Khay mengambil piring nasi goreng itu, lalu melahapnya.
"Oh iya Bun, ayah masih belum balik ?" Tanya Khay setelah ia memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.
"Mungkin dua hari lagi baru pulang, emang ada apa bang ?" Tanya balik Diva sambil menyalakan televisi yang ada diruang itu.
"Enggak ada apa-apa sih, kangen aja." Sahut Khay melanjutkan makannya.
"Dasar anak ayah, udah nikah juga." Cibir Diva.
"Biarin." Sahut Khay tak mau kalah.
"Bunda dan anak itupun melanjutkan obrolannya, dengan Khay sambil memakan nasi goreng buatan bundanya.
Bersambung......
Terimakasih atas dukungannya ya readers berikan, mohon maaf jika ada kata atau alur yang masih belum memuaskan dan masih banyak kesalahan baik typo maupun alurnya yang ngeblank.🙏🙏🙏🙏
Like
Komen
Vote.
Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗
__ADS_1