Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 81 Season 2


__ADS_3

"Ayah, Bunda..." Ucap Diva setelah cukup lama berdiam di depan pintu.


"Salman, Vivian..."


"Om, Tante..."


Begitupun Pak Fikram dan Arka hampir bersamaan tak kalah terkejutnya.


"Assalamualaikum." Ucap Pak Salman dan Bunda Vivian bersamaan, tampak pak Salman menggendong Khay yang tengah tertidur.


"Wa... walaikumsalam..." Balas Pak Fikram tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Apa kau tidak ingin mempersilakan kami masuk Fik?" Tanya pak Salman dengan ekspresi biasa-biasa saja walaupun sebenarnya ia sangat kecewa dengan sahabatnya itu karena sudah berspekulasi tanpa mendengar yang sebenarnya terjadi terlebih dahulu.


"Silahkan masuk Man, Vi !" Ujar Pak Fikram.


Keduanya pun masuk, di ikuti Arka dan Diva, bunda Vivian tampak menelisik setiap sudut ruangan apartemen tersebut, ia ingin melihat apa benar Diva memiliki bayi perempuan seperti yang dikatakan Khay tadi.


"Bagaimana kabarmu Nak ?" Tanya bunda Vivian menarik tangan Diva duduk disebelahnya kemudian memeluknya lalu mencium pipi kanan dan kiri menantunya itu.


"Ba...Baik, Bun.." Sahut Diva tersenyum kaku setelah bunda Vivian melepaskan pelukannya.


"Fik, kalau kamu apa kabar ?" Kini pak Salman bertanya kepada besannya itu.


"Alhamdulillah kami baik, kamu sendiri bagaimana ?" Jawab pak Fikram lalu balik bertanya. Pak Fikram masih terlihat kaku kepada sahabatnya itu sekaligus besannya.


"Kami baik-baik saja Fik." Sahut Pak Salman.


"Diva Nak, tolong abangnya di tidurkan di dalam saja, disini sepertinya kurang nyaman untuknya !" Seru pak Salman ketika melihat Diva ikut duduk di Sofa.


"Iy... ya...Yah." Sahut Diva masih belum bisa meredam kegugupannya.


Diva pun beranjak dari duduknya lalu mengambil alih putranya itu di pangkuan ayah mertuanya.


Ruangan tersebut kembali hening, Pak Fikram dan Arka tidak tau harus mau bicara apa sekarang.


"Fik, aku dengar dari Abang Khay dia punya adik, apa itu benar ?" Tanya pak Salman setelah cukup lama mereka terdiam.


"Iya benar ?" Jawab pak Fikram jujur.


"Apa itu juga anak Kenan ?" Lagi-lagi pak Salman bertanya.


"Iya." Jawab pak Fikram seraya mengangguk.


"Apa aku boleh melihatnya ?" Ijin bunda Vivian.


"Boleh, langsung saja masuk ke kamar Diva yang di situ, sepertinya dedek Kia lagi tidur." Ujar pak Fikram menujuk salah satu kamar yang ada di lantai bawah apartemen tersebut.


"Terimakasih." Ucap bunda Vivian lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Di kamar Diva


Diva tampak memperhatikan wajah putranya yang tertidur lelap di tempat tidur berdampingan dengan putrinya.


"Bunda belum siap untuk bertemu dengan ayahmu sayang, kenapa secepat ini Tuhan mempertemukan kita kembali dengannya ?" Gumam Diva menitikkan air matanya.


Tok.... tok....


"Div, apa bunda boleh masuk ?" Terdengar suara bunda Vivian dari luar sambil mengetuk pintu kamarnya. Diva buru-buru menyeka air matanya.


"Silahkan Bun, pintunya tidak terkunci kok !" Sahut Diva.


Tak lama bunda Vivian menampakkan wajahnya tak lupa dengan senyum khas wanita paru baya itu yang kini terlihat sangat kurus, berbeda saat Diva terakhir kali bertemu dengannya.


"Apa bunda mengganggumu sayang ?" Tanya bunda Vivian lembut dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak kok Bun, mari silahkan duduk !" Sahut Diva lalu mengajak mertuanya itu duduk disofa yang ada dikamarnya.


"Apa kamu membenci kami sayang?" Tanya bunda Vivian masih berusaha menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Diva ikut terenyuh melihat mertuanya itu menahan tangisnya, Diva meraih tangan wanita paru baya itu lalu ia genggam.


"Aku sama sekali tidak pernah membenci kalian, bahkan aku sangat merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu Bun, tapi untuk saat aku masih belum sanggup untuk menemui kalian, maka dari itu selama ini aku bersembunyi dari kalian." Ujar Diva.


"Aku sudah katakan sebelumnya Bun, aku tidak membenci siapa pun, hanya saja hatiku belum bisa melupakan semua kenangan ku bersamanya, aku tidak ingin merasakan sakit melihatnya dengan wanita lain Bun, makanya aku pergi menjauh dari kota ini." Jelas Diva juga ikut menitikan air matanya.


"Apa kau tidak ingin menemuinya sekali saja sayang, apa kau tidak pernah mendengar kabar dia sekarang ?" Tanya bunda Vivian.


"Maaf Bun, aku sangat-sangat meminta maaf, sepertinya saya belum bisa menemuinya, tapi jika ia ingin bertemu dengan Abang Khay aku tidak akan pernah menghalanginya, tapi untuk bertemu dengannya aku benar-benar tidak bisa Bun, maaf..." Ucap Diva menatap lurus kearah jendela.


"Apakah aku bisa menemui adiknya Abang Khay, apa dia juga anak kalian?" Ujar bunda Vivian melihat kearah tempat tidur dimana dedek kedua anak kecil sedang tertidur.


"Iya Bun, dia juga anak kami, namanya Azkia Deolina Al Fariziq, aku baru mengetahui kalau aku hamil saat aku pergi dari kota ini." Jelas bunda Vivian.


"Maafkan Kenan Nak, dia lagi-lagi tak bisa menemanimu saat kamu hamil." Ucap bunda Vivian.


"Sayang, bunda mohon temuilah Kenan kali ini saja, setelah kamu menemuinya terserah kamu, jika kamu ingin meninggalkannya bunda ikhlas sayang !!" Seru bunda Vivian memegang tangan menantunya itu.


"Sepertinya aku belum bisa Bun, lagian tidak ada gunanya juga kita bertemu, kak Arka sudah menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraian kami." Sahut Diva.


Bunda Vivian tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Diva sambil memegang pergelangan kaki menantunya itu dengan air mata yang terus keluar.


"Bunda ku mohon bangunlah, tidak sepantasnya bunda melakukan ini padaku, aku ini anak bunda !!" Seru Diva berusaha membangunkan mertuanya itu, namun bunda Vivian tetap bersikeras untuk tetap pada posisinya.


"Bunda bahkan bersujud dihadapan mu nak, bahkan bunda sanggup mencium kakimu agar kau bisa memaafkan Kenan, dan mau menemuinya." Ujar bunda Vivian terisak.


"Tapi bunda tidak harusnya melakukan ini, ayo bunda, bangunlah !!" Seru Diva.

__ADS_1


"Sudah ku katakan Div, bunda tidak akan bangun sebelum kau setuju menemuinya walau hanya sekali saja, bunda mohon." Bunda Vivian terus memohon kepada Diva.


"Vivian apa yang kau lakukan !" Teriak pak Fikram saat mendapati besannya itu bersimpuh di hadapan Diva saat ia masuk ke kamar putrinya untuk memanggilnya keluar untuk membicarakan sesuatu yang penting.


"Jangan menghalangi ku Fik, aku akan melakukan apapun agar Diva ingin menemui Kenan, aku mengerti dengan Diva Fik, tapi untuk kali ini saja aku minta temui dia." Ujar bunda Vivian melemaskan pegangannya pada pergelangan kaki Diva lalu tertunduk menangisi nasib putranya.


"Bangunlah Vi, dia akan menemuinya hari ini juga !!" Seru Pak Fikram membantu besannya itu untuk segera berdiri.


"Tapi Yah, ayah tau send...."


"Pokoknya ayah mau hari ini juga kamu menemuinya !!" Sargah pak Fikram tegas.


"Yah, ayah tau sendirikan ? Aku masih belum bisa bertemu dengannya, kenapa sekarang ayah ingin aku menemuinya." Ucap Diva masih menolak untuk menemui Kenan.


"Nak, masalah tidak akan selesai jika kamu terus bersembunyi seperti ini, ayah akui ayah salah karena sudah ikut bersikap pengecut karena ikut-ikutan menyembunyikanmu dari keluarga suamimu, sekarang ayah minta temuailah dia, karena biar bagaimanapun ia masih tetap suami sah kamu ayah dari anak-anak kamu, jika kau ingin meninggalkannya, itu terserah kamu, tapi temuilah dia walau hanya sebentar, ikutlah bersama mertuamu !!" Seru pak Fikram panjang lebar.


"Yah...


"Ayah tidak ingin mendengar penolakan Div." Ujar oak Fikram menegaskan perkataannya.


"Baiklah Yah, tapi aku mau ayah dan kak Arka ikutlah bersamaku !" Putus Diva, karena ia tidak mungkin lagi membatah perintah ayahnya.


"Ok ayah dan kakakmu akan ikut. Sekarang siap-siaplah, ayah dab yang lainnya menunggumu di luar." Ujar Oak Fikram.


"Anak-anak masih tidur Yah." Ucap Diva.


"Siapa bilang, tuh liat sendiri !" Seru pak Fikram menunjuk kearah tempat tidur kemudian berlalu keluar dari kamar.


Diva dan bunda Vivian ikut melihat kearah tempat tidur dan benar saja kedua anaknya sudah terbangun.


"Kamu siap-siap aja sayang, biar bunda yang mengurus mereka !" Seru bunda Vivian lalu berjalan kearah tempat tidur.


🍀🍀🍀


Di ruang tamu


"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf atas perbuatan Kenan, dan terimakasih juga Fik kamu sudah mau mendengarkan penjelasan ku dan mengijinkan Diva untuk menemui Kenan." Ucap pak Salman setelah pak Fikram sudah kembali dari kamar Diva.


"Sama-sama Man, aku juga minta maaf karena aku langsung terbawa emosi waktu itu." Balas Pak Fikram.


Pak Salman sudah menjelaskan alasan mengapa Kenan sampai mengkhianati Diva, tapi pak Salman belum menceritakan bagaimana keadaan Kenan saat ini, biarlah mereka liat sendiri nanti setelah mereka tiba di rumahnya.


Bahkan Diva belum di beritahukan masalah yang sebenarnya, karena pak Salman dan yang lainnya akan menjelaskan semuanya saat tiba di kediaman Kenan dan Diva dulu.


Bersambung.......


Jangan lupa klik tombol like, Komen dan juga hadiahnya, beserta sedikit vote dari readers, seikhlasnya.


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2