
Khay terlihat sedang duduk di pinggir lapangan sambil terus menatap lurus kedepan, ia memikirkan bagaimana kelangsungan hubungannya nanti dengan Enzy kedepannya.
"Kenapa kamu ngelamun, Khay ?" Tanya Priska yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Tidak apa-apa gue hanya..." Khay menghentikan ucapannya hampir saja ia mengatakan tentang hubungannya dengan Enzy.
"Memikirkan tim kami." Elak Khay cepat.
Priska geleng-geleng kepala melihat sikap Khay akhir-akhir ini yang terlihat lebih banyak diam dan sering kedapatan melamun.
Sebenarnya Priska merasa curiga dengan sahabatnya itu, kalau sebenarnya ada masalah serius yang dihadapinya.
"Gue enggak tahu ya Khay apa sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi sekarang, tapi gue saranin aja, kalau benar ini masalah dengan seseorang cobalah untuk bersikap bagaimana jalannya, maksudnya kamu coba ikuti apa dan bagaimana mau orang itu." Saran Priska.
"Sebenarnya bukan masalah itu yang gue pikirkan sekarang, tapi mengenai tim sepak bola kami, secepatnya kami harus mendapatkan seseorang yang bisa menggantikan Alex." Ujar Khay masih berusaha mengelak.
"Ayolah Khay, kamu santainya aja, bukannya semua sudah diatur Doni, lagian kalian masih punya banyak waktu buat mendapatkan pengganti Alex, bukannya pertandingan kalian masih lama ?" Ucap Priska.
"Tapi enggak segampang yang kita pikirkan buat mendapatkan yang benar-benar berkompeten, kami juga harus menyeleksi mereka." Bantah Khay.
"Aku tahu Khay, tapi aku curiga kamu tidak hanya memikirkan masalah ini, tapi ada masalah yang lebih serius." Priska masih belum menyerah agar Khay mau bercerita.
"Enggak ada." Elak Khay.
"Ya sudah gue balik duluan, hari sudah mulai mau gelap, entar nyokap gue nyariin." Khay pun buru-buru meninggalkan tempat tersebut, sebelum sahabat-sahabatnya mencurigainya.
"Woi... Khay mau kemana ?" Teriak Doni.
"Balik, udah malam juga kan?" Sahut Khay tanpa menoleh.
...----------------...
Pukul tujuh malam, Khay baru saja tiba di apartemen, karena sebelumnya ia mampir dulu ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan, karena stok cemilan kemarin ia beli sudah habis akibat ulah adiknya juga Rendra dan Nendra, ditambah jalanan juga macet.
Saat masuk ke apartemennya, ia tak mendapati siapapun disana, biasanya di jam-jam seperti ini Enzy berada di dapur.
Khay berjalan menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya, setelah menyimpan semua belanjaannya pada tempatnya, Khay beralih membuka tempat penyimpanan makanan karena ia sudah merasa lapar, karena sejak siang Khay belum juga makan, di tambah ia kelelahan karena habis latihan.
"Kosong ?" Ucap Khay saat melihat tempat penyimpanan itu kosong, biasanya juga tak pernah kosong, karena biarpun Enzy marah, pasti ia akan tetap menyisakan makanan untuknya, wlaupun tak sempat ia memakannya.
Khay beralih pada lemari pendingin, baru saja Khay akan membukanya, ia melihat catatan kecil yang di tulis Enzy untuknya.
"Aku enggak masak, tadi aku capek banget, kalau mau makan kamu makan mie instan aja, ada di lemari penyimpanan, kalau enggak mau pesan aja." Begitulah isi note yang Enzy tulis.
Khay menghela nafas lelahnya setelah membaca pesan dari Enzy, kemudian ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Selain merasa lapar ia juga merasa sangat lengket karena seharian berada di luar, ditambah ia habis latihan, bahkan Khay belum mengganti pakaian bolanya.
__ADS_1
Khay membuka pintu kamar dengan kasar, saat masuk lebih dalam lagi ia mendapati istrinya sedang duduk santai selonjoran di Sofa sambil menonton drama Korea di televisi yang ada dikamarnya, tak lupa beberapa cemilan di dekatnya.
"Enak banget tuh santai-santai, enggak tahu apa kalau suaminya lagi laper." Ucap Khay dalam hati berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Sekitar sepuluh menit, Khay kembali dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletisnya.
"Khay....!" Teriak Enzy saat tak sengaja melihat Khay dalam keadaan seperti itu. Buru-buru Enzy menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Kamu kenapa sih ?" Tanya Khay santai berlalu menuju lemari pakaiannya.
"Ngapain kamu hanya pakai handuk gitu ?" Ujar Enzy masih menutup matanya.
"Kamu ada masalah apa sih sebenarnya, hah ? Perasaan apa yang aku lakuin salah aja dimata kamu, lagian gue tadi lupa bawa baju ganti." Ucap Khay mulai tersulut emosi.
"Berhenti berbuat keributan, aku hanya katakan kenapa kamu hanya menggunakan handuk gitu, enggak biasanya." Enzy juga sudah mulai tersulut emosi, ia sudah tak lagi menutup matanya, namun tak berani melihat kearah Khay.
"Lagi-lagi kau menuduhku membuat keributan, bukannya kamu yang selalu memulai, lagian apa salahnya kalau aku hanya menggunakan handuk, toh yang liat kami doang, istriku sendiri, lalu letak kesalahannya dimana ?" Ujar Khay kesal mengambil pakaiannya secara acak, kemudian menutup lemarinya dengan membantingnya cukup keras, membuat Enzy terlonjat kaget.
"Kamu mau merusaknya ?" Tegur Enzy.
"Biarin !" Sahut Khay berlalu masuk ke kamar mandi.
Setelah kembali dari kamar mandi, Khay langsung berlalu begitu saja keluar dari kamar, seperti biasa ia menuju ruang tengah, dimana biasanya ia tertidur, sebelumnya ia memesan makanan lewat aplikasi, karena sudah sangat lapar, Khay membuat beberapa lembar roti dengan selai kacang, untuk menjanggal rasa laparnya sampai pesanannya datang.
...----------------...
Saat akan mengambil pakaiannya di lemari, saat itu juga Khay masuk ke kamar begitu saja.
Enzy kaget dan langsung berbalik melihat siapa yang masuk.
Khay tersenyum smirk melihat ke kagetan istrinya itu, muncul ide jahil dipikirannya untuk memberi pelajaran pada wanita yang selalu saja bersikap tak baik kepadanya, sayangnya itu adalah istrinya sendiri.
"Ngapain kamu tersenyum seperti itu ?" Ucap Enzy menutup bagian dadanya menggunakan pakaian yang sempat ia ambil dilemari.
Khay berjalan mendekatinya, dengan tatapan menyeramkan sambil memperhatikan bagian dada Enzy.
"Apa yang kamu lihat ? Keluarlah !" Seru Enzy.
"Kenapa juga harus keluar, kamu tahu sendirikan kalau kamar ini juga kamarku, lebih tepatnya kamar kita." Ucap Khay semakin mendekati Enzy.
"Dan apa kamu bilang tadi ? Apa yang aku lihat ? Aku melihat pemandangan indah, dan tak baik jika melewatkan pemandangan langkah, apalagi milik...." Khay menjeda ucapannya melirik bagian dada Enzy.
"Milik istri sendiri." Bisik Khay tepat di dekat telinga istrinya itu.
"Menyingkir lah !" Bentak Enzy.
__ADS_1
"Salah kamu sendiri kenapa kamu harus menggunakan handuk seperti ini, apa kau berusaha menggodaku, apa kau sudah mulai menyukaiku ?"
"Mana mungkin, Aku bahkan sangat membencimu, kalau bisa aku tak ingin menghirup udara yang sama denganmu."
"Aku tidak ingin, tidak rela di sentuh oleh pria menjijikkan seperti dirimu, sudah berapa banyak wanita yang sudah kamu tiduri diluar sana, Hem ?" Ucap Enzy membuat emosi khay memuncak.
Khay mendorong tubuh Enzy dan menjatuhkannya di tempat tidur lalu menindihnya.
"Apa maksudmu dengan wanita yang aku tiduri, aku memang pria yang sering gonta-ganti perempuan tapi aku tidak sampai melakukan lebih, bahkan aku sangat menghormati wanita, kamu jangan coba-coba sok tau jika kau tidak mengetahui yang sebenarnya." Geram Khay.
"Atau kau mau mencobanya ? Kau mau menjadi wanita pertamaku, hah ?" Lanjutnya lalu berusaha mencium leher Enzy.
"Menyingkirlah !! Aku mohon." Ucap Enzy memohon, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Khay tak peduli pada Enzy yang sudah mulai menangis, bahkan Khay tak mempedulikan Enzy yang terus memohon agar Khay melepaskannya, Khay sudah sangat geram, bahkan Khay sudah menarik handuk Enzy dan menampakkan tubuh polosnya.
"Aku sudah muak, dengan sikap buruk mu, Enzy !" Ucap Khay menahan kedua tangan Enzy diatas kepalanya.
"Lepaskan aku Khay, aku mohon ! Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan ?" Ucap Enzy berusaha berontak.
"Kenapa juga aku harus melepaskan wanita seperti mu, bahkan kau tak pernah menghargai ku sedikitpun." Bentak Khay kembali menyerang Enzy, bahkan Khay sudah membuat banyak tanda kepemilikan di banyak tempat bahkan dibagian dada wanita yang kini jadi istrinya itu.
"Kumohon Khay lepaskan aku, jangan sakiti aku Khay, pleaseee...." Enzy terus memohon, kini suaranya mulai terdengar sangat lirih, bahkan air matanya pun sudah keluar tak bisa ia bendung.
Khay mendonggak menatap istrinya itu, dengan perlahan ia melepaskan tangan Enzy yang sejak tadi ia genggam kuat.
"Maafkan aku, tolong biarkan aku pergi, ku mohon, jangan sakiti aku Khay." Enzy terus memohon.
"Enzy kamu tenang ! Aku tidak akan menyakitimu, aku akan membuatmu rileks, Tenanglah !" Ucap Khay beranjak dari tubuh Enzy lalu menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Jangan sakiti aku, aku mohon !!"
"Enzy kamu kenapa, aku tidak akan menyakitimu, Hay sadarlah !!" Khay melepaskan pelukannya, lalu beralih menangkup wajah istrinya itu.
"Pergi !!" Seru Enzy mendorong kuat Khay sehingga Khay hampir jatuh kebelakang.
Enzy terus menangis kemudian menarik selimut untuk menutupi dirinya yang polos, Enzy terlihat sangat kacau ia terlihat sangat ketakutan sambil meringkuk.
"Apa sebenarnya terjadi pada dirimu, Enzy ?" Tanya Khay bingung.
"Aku membencimu, sangat membencimu." Enzy meneriaki Khay.
Khay mendengar teriakkan Enzy itu merasa emosi, ia membanting bantal yang ada disampingnya, lalu pergi meninggalkan Enzy begitu saja.
Bersambung.......
__ADS_1
Terus like, Komen, dan Vote.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️