Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 07 Season 3 ( Next Generatoin )


__ADS_3

Khay dan Enzy tiba dirumah setelah hari sudah petang, karena ia kejebak hujan.


"Assalamualaikum." Ucap keduanya masuk dengan pakaian basah kuyup.


"Astagafirullah, kalian." Ucap bunda Diva kaget melihat penampilan keduanya.


"Iya Bun, kami kejebak hujan di pemakaman tadi, kami harus menerobos hujan tadi karena hari sudah mulai gelap, jadi kami terpaksa meninggalkan pemakaman." Jelas Khay.


"Enzy kamu enggak apa-apa nak, lebih baik sekarang kamu ganti baju kamu, nanti kamu masuk angin." Ucap bunda Diva mengkhawatirkan Enzy, karena terlihat sudah sangat kedinginan, apalagi wajahnya mulai memucat.


"Iya Bun, Yah, semuanya kalau begitu aku masuk dulu." Pamit Enzy kemudian masuk ke kamarnya.


"Yah, Bun, kalau gitu, aku juga ke kamar." Pamit Khay lalu meninggalkan orang-orang yang ada di ruangan itu.


...----------------...


Semua keluarga duduk di ruang tengah, di sana sudah ada pak Salman, pak Fikram dan yang lainnya, termasuk juga Arka dan keluarganya.


"Bagaimana dengan perjodohan mereka, apa kalian sudah membicarakan hal ini kepada mereka ?" Tanya pak Salman kepda Kenan dan Diva.


"Belum yah, kami belum mengatakan apa-apa kepada mereka, karena aku lihat Enzy masih belum bisa sepenuhnya menerima apa yang telah terjadi, aku tidak ingin membebani hal ini lagi, aku juga tidak tau bagaimana perasaannya kepada Khay." Jelas Diva.


"Tidak ada salahnya kamu mencoba membicarakan hal ini kepada mereka, bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau ini hal yang sangat di inginkan Mendiang Rafa dan Hera !" Timpal pak Fikram.


"Begini saja yah, bagaimana kalau setelah mereka turun kesini kita akan menyampaikan hal ini, lagian aku rasa ayah lebih mengerti apa yang harus disampaikan, agar tidak ada yang merasa ada yang terbabani di antara Khay maupun Enzy." Usul Kenan.


"Ya sudah, ayah dan ayah Fikram akan mencobanya." Sahut pak Salman.


...----------------...


Dikamar Enzy.


Enzy tersenyum-senyum sendiri mengingat apa yang terjadi saat dipemakaman tadi, ia menatap dirinya di cermin meja riasnya sambil memegangi bibirnya.


"Perasaan apa ini, apa aku jatuh cinta dengannya ?" Tanya Enzy pada dirinya sendiri.


"Ah... Tidak mungkin, aku enggak mau terlalu banyak berharap darinya, bagaimana jika dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, dan lebih parahnya bagaimana kalau dia sudah memiliki kekasih." Ucap Enzy kemudian berusaha menekankan perasaannya agar tidak lebih dari hanya sekedar saudara.


Setelah menormalkan perasaannya, Enzy pun keluar dari kamarnya, di saat bersamaan Khay juga keluar, kebetulan kamar mereka berhadapan. Enzy menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap pria yang ada dihadapannya saat ini, ia sangat malu mengingat kejadian saat di pemakaman.


Sedangkan Khay berusaha menahan senyumnya melihat sikap malu-malu Enzy, Khay meninggalkan Enzy yang masih berdiri mematung di depan kamarnya, tanpa mengatakan hal apapun, bahkan Khay bersikap seolah tak ada yang terjadi diantara keduanya.


Khay langsung duduk di dekat ayahnya, seperti biasa Khay masih saja selalu bersikap manja kepada ayahnya, walaupun sekarang umurnya sudah terbilang dewasa tapi jika sudah di dekat ayahnya dia masih bersikap seperti saat ia masih kecil.


"Dasar bangkay, anak manja !!" Cibir Kia melihat tingkah kakaknya itu.


"Yah, Kia nya di tegur dong yah, masa dia manggil aku dengan sebutan bangkay." Aduh Khay kepada ayahnya terdengar manja.


"Dekk, jangan gitu ah, kamu harus hargai kakak kamu." Tegur Kenan kepada putrinya.


"Aku salah apa sih yah, emang namanya Khay kan, dia kakak aku jadi aku manggilnya bangkay, letak salahnya dimana sih yah ?" Ujar Kia.

__ADS_1


"Bener juga sih yah, enggak ada salahnya juga." Timpal Diva.


"Bang, adik kamu enggak salah, kedengarannya aja dia manggilnya bangkay." Ucap Kenan.


"Yang salah nama kamu Khay." Timpal Arka lalu tertawa di ikuti Raydan.


"Setuju Pi, coba kalau bang Raydan, aku panggilannya bang Aidan jadi kedengarannya keren." Ucap Kia.


"Khay sepertinya kamu harus mengganti nama deh." Sahut Raydan masih dengan sisa tawanya.


Sementara Khay hanya bisa mendengus kesal mendengar ejekan demi ejekan dari paman, adik dan kakak sepupunya itu.


Dari atas tangga Enzy merasa sangat iri dengan kehangatan keluarga itu, ia lagi-lagi teringat disaat ia berkumpul bersama kedua orangtuanya juga kedua opa dan omanya, ia selalu di manjakan mereka, karena satu-satunya putri dikeluarganya.


"Kak, ngapain disini, dari tadi opa nungguin kakak dibawah, katanya ada yang mau di omongin." Ucap Kia tiba-tiba ada dihadapannya, dan berhasil membuyarkan lamunannya.


"Ah... baiklah, ayo kita turun." Ujar Enzy lalu turun kebawah bersama Kia.


"Maaf, membuat kalian menunggu." Ucap Enzy merasa tak enak hati.


"Enggak apa-apa sayang, mari duduk sini !" Ucap Oma Vivian menarik tangan Enzy duduk didekatnya.


Enzy memperhatikan semua orang-orang yang duduk disana, saat matanya bertemu dengan Khay yang ternyata juga sedang melihatnya, buru-buru Enzy mengalihkan pandangannya.


"Tunggu ! Apa kalian sudah makan ?" Tanya Diva mengingat keduanya baru-baru saja datang.


"Tadi kami makan ketoprak pas di parkiran pemakaman Bun, kebetulan ada penjual ketoprak yang ikut meneduh disana." Jelas Enzy.


"Bener bundaku yang cantik." Ucap Khay.


"Setelah ini kalian harus makan kembali, bunda tidak ingin kalian sakit !" Seru Diva.


"Sudah ?" Tanya pak Salman kepada menantunya itu.


"Sudah yah, silahkan di lanjutkan apa yang ingin ayah sampaikan." Sahut Diva.


Pak Salman pun mulai membuka pembicaraan, dengan serius, semua yang ada diruang tersebut hanya diam menyimak apa inti dalam pembicaraan Opa satu ini.


"Khay, Nzy, sebenarnya opa ingin menyampaikan permintaan terakhir dari almarhum papa kamu nak Enzy." Ucap pak Salman menatap Khay dan Enzy bergantian.


"Begini Nak, mungkin ini terlalu cepat kami sampaikan kepada kalian, termasuk kamu nak Enzy, tapi alangkah lebih baik jika secepatnya kami sampaikan hal ini." Lanjutnya.


"Apa sebenarnya yang opa ingin sampaikan ?" Tanya Khay penasaran.


"Kami akan menikahkan kalian." Jawab pak Salman.


"Apa....?"


"Apa....?"


Ucap Khay dan Enzy bersamaan.

__ADS_1


"Iya nak, kami akan menikahkan kalian, kami ingin memenuhi permintaan terakhir almarhum, apalagi hal ini adalah keinginan terbesar papa Rafa, sejak kalian masih kecil, kalian tahu itu kan ?"


"Tapi opa kami masih kuliah, apalagi Enzy, dia baru saja masuk kuliah, apa ini enggak kecepatan?" Ujar Khay setalah cukup lama terdiam.


"Iya opa, aku rasa ini kecepatan." Cicit Enzy.


"Orangtua kalian saja menikah di usia yang masih muda, ayah dan bunda kamu Khay menikah saat masih duduk dikelas XI SMA, papa mama Enzy juga menikah saat masih kuliah." Timpal pak Fikram.


"Tapi itu dulu opa." Keluh Khay.


"Apa bedanya sih bang ? Bunda ingin kamu secepatnya menepati keinginan terbesar om Rafa nak." Ujar Diva.


"Tapi Bun....Ucapan Enzy terpotong saat Diva menyelanya.


"Sayang, bunda hanya ingin mewujudkan keinginan papa kamu, mungkin ia percaya dengan Khay, makanya ia kekeh ingin menjodohkan kalian sejak kalian masih kecil, apa kamu ingin papa kamu tidak tenang, karena keinginan terbesarnya belum terpenuhi ?" Jalas Diva.


"Bang, pokoknya bunda ingin kamu setuju dengan perjodohan ini, bunda yakin Enzy gadis yang baik buat kamu, kami juga mengenalnya sejak kecil." Seru Diva tegas.


"Baiklah Bun, aku mau menerima perjodohan ini." Ucap Khay dengan nada terpaksa.


"Bagaimana sayang, apa kamu setuju ?" Diva beralih pada Enzy.


Enzy tampak diam dan berpikir, apalagi ia melihat ekspresi Khay, ia tak yakin akan bisa bahagia jika ia menerima perjodohan ini, dia juga belum merasa yakin dengan perasaannya sendiri, bahkan ia belum terlalu mengenal Khay dengan baik, bagaimana pergaulannya, apakah dia sudah memiliki kekasih apa belum ? Tapi perjodohan ini ? Dia ingin papanya bahagia disana, melihatnya bersama dengan pria yang


pilihannya.


"Baiklah Bun, aku setuju." Sahut Enzy setelah cukup lama berpikir.


"Kalau begitu karena semuanya sudah setuju, bagaimana kalau pernikahannya di adakan sebulan lagi dari sekarang." Usul Kenan.


"Apa sebulan lagi Yah, yah, itu kecep...."


"Ayah enggak mau mendengarkan bantahan bang." Sela Kenan tegas.


"Tapi Yah, Enzy mau pernikahannya diadakan tertutup, hanya akan ada keluarga dekat yang menghadiri dan mengetahui pernikahan kami." Ujar Enzy.


"Tapi nak, kenapa harus seperti itu ?" Tanya Diva.


"Aku hanya ingin seperti itu Bun, aku masih kuliah, dan aku tidak ingin teman-teman kampusku mengetahui akan hal ini, aku takut mereka tak menerimaku, dan malah menjauhiku saat mereka tahu kalau aku sudah menikah." Jelas Enzy.


"Ya sudah kalau itu kemauan kamu nak, mungkin kamu belum siap akan keadaan seperti itu nantinya, opa mengerti, anak jaman sekarang sangat berbeda anak jaman dulu." Ucap Pak Fikram.


Sedangkan Khay hanya terdiam membisu ditempatnya, dengan ekspresi datar sulit untuk diartikan.


Bersambung.....


Jangan lupa terus like, komen, dan berikan hadiah dan vote....


Terimakasih karena sudah mendukung authornya, tapi akhir-akhir ini author liat luke, dan komennya semakin menurun.


🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2