
Kini Diva duduk di meja makan sendirian untuk sarapan, walaupun serasa susah untuk menelan makanan tapi ia tetap memaksa demi kelancaran ASI untuk baby Khay, Diva terus memikirkan wanita yang mengirim chat untuk suaminya.
"Siapa sebenarnya Calista itu ?" Gumam Diva.
Diva terus melamun memikirkan wanita dan apa hubungannya dengan Kenan. Karena sibuk memikirkan hal tersebut Diva sampai tak menyadari keberadaan ibu mertuanya yang kini sudah memangku baby Khay yang sedang menangis.
"Diva... Diva ... Sayang...!! Ada apa ?" Bunda Vivian meninggikan suaranya sambil menggerakkan lengan Diva karena sedari tadi ia memanggil menantunya itu, namun ia sama sekali tak mendapat tanggapan.
"Eh... Bunda ..." Sejak kapan bunda masuk, kenapa aku nggak mendengarnya ?" Diva langsung tersentak dari lamunannya.
"Kenan mana ? Dan kenapa kamu melamun sampai tak menyadari anak kamu menangis, untung saja bunda masuk !!" Ucap Bunda Vivian sambil menyerahkan baby Khay ke pangkuan Diva.
"Kenan sudah berangkat pagi-pagi Bun, dan ia tidak sempat sarapan, karena ada pertemuan dengan klaiyen penting." Terang Diva kemudian memberikan ASI baby Khay. Seketika baby Khay berhenti menangis karena mendapat sumber makanannya.
"Apa kamu ada masalah dengan Kenan ?" Tanya Bunda Vivian menyelidik.
"Kami nggak ada masalah apa-apa kok Bun, bahkan tadi pagi Kenan sempat memandikan Baby Khay sebelum berangkat."Jelas Diva. Diva juga tidak ingin membicarakan soal wanita yang bernama Calista, karena ia sendiri belum tau kebenarannya, dan ia tidak ingin membuat mertuanya memikirkan masalah seperti ini lagi, apalagi saat ini Diva tau kalau ibu mertuanya itu juga sedang memikirkan keadaan keluarganya sekarang.
"Tapi kenapa kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu?" Bunda Vivian masih curiga.
"Tidak ada apa-apa, kalaupun ada aku pasti cerita sama Bunda, dan soal aku yang melamun tadi, aku hanya memikirkan Kenan yang terlalu memporsir pekerjaannya, aku hanya takut sel kankernya kembali, karena dia terlalu kelelahan." Ucap Diva mendapatkan alasan yang pas untuk ibu mertuanya, dan untungnya ibu mertuanya itu percaya, karena ia juga tau pesan dokter Chen waktu di Singapore, pada saat terakhir kali Kenan cek up.
"Bunda sudah sarapan ?" Tanya Diva mengalihkan.
"Sudah kok sayang." Sahut Bunda Vivian memandangi wajah menantunya, ia yakin Diva ada masalah lain.
"Ke unit Bunda yuk !!" Ajak bunda Vivian saat melihat baby Khay melepaskan sumber ASInya.
"Iya Bun, tapi aku rapikan bekas sarapan aku dulu ! Aku titip baby Khay dulu ya Bun ?" Ujar Diva.
"Iya, sini cucu Oma, duh makin ganteng aja sih." Bunda Vivian mengambil alih Baby Khay lalu menciumi dengan gemes pipi gembul baby Khay yang semakin hari semakin montok saja.
🍀🍀🍀
Di Cafe Retro
Kenan menikmati sarapannya bersama dengan Calista, sambil mengobrol santai membahas di luar pekerjaan, membuat Kenan sedikit risih karena sedari tadi pembahasan Calista sudah merambah ke soal pribadi, apalagi Calista tidak lagi berbicara formal.
"Apa kamu sudah memiliki kekasih ?" Tanya Calista.
"Sudah, dan doakan saja semoga bisa sampai dunia akhirat." Jawab Kenan datar.
"Amin, sepertinya kamu sangat menyayanginya?" Ujar Calista dengan raut wajah kecewa, namun ia berusaha menutupi dengan senyum yang terkesan di paksakan.
__ADS_1
"Bukan hanya menyayangi tapi juga kami saling mencintai dan tidak terpisahkan, dan semoga saja hanya maut yang memisahkan kami." Ucap Kenan meminum capuccino nya.
"Berarti saya terlambat dong." Ucap Calista blak-blakan.
"Maksud dari perkataan ibu apa ya ?" Tanya Kenan.
"Saya terlambat mengebal kamu." Sahut Calista.
"Benar, karena sekarang pun kami sudah memiliki buah cinta kami." Ucap Kenan.
"Maksudnya kalian sudah punya anak ?" Tanya Calista kaget mendengar pengakuan Kenan.
"Iya, kami sudah menikah sejak kami masih di bangku Sekolah menengah atas, tepatnya kelas 2 SMA, dan itu sudah 2 Tahun lalu." Terang Kenan.
"Apa kalian menikah karena kalian melakukan hal yang tidak seharusnya kalian lakukan sampai menghasilkan buah cinta kalian." Tuduh Calista.
Seketika raut wajah Kenan berubah sangat emosi mendengar tuduhan Calista.
"Maaf, Anda salah besar dengan tuduhan yang Anda tuduhkan ke kami, kami memutuskan untuk menikah karena kami menghindari hal yang seperti yang Anda tuduhkan, dan kebetulan orangtua kami memang sudah menjodohkan kami sejak kecil, dan kami akhirnya menikah, dan asalkan Anda tahu anak saya baru berusia kurang lebih 3 bulanan." Jelas Kenan dengan sangat tegas dan jangan lupakan emosi Kenan yang menggebu.
"Dan satu lagi, jangan mencoba mencapur adukkan soal pekerjaan dan hal pribadi, maaf jika ada hal yang anda bahas soal pekerjaan, silahkan dengan sekertaris sekalian asisten saya yaitu Ibu Luci." Kenan berdiri dari duduknya sambil merapikan jas yang ia kenakan.
"Maaf pertemuan kali ini kita batalkan, dan lain kali jangan mencoba menghubungi nomor pribadi saya.!!" Kenan menekankan semua ucapnya.
"Apakah Anda tidak takut saya dan papa saya membatalkan semua kerjasama kita, antara perusahaan Ayah kamu dan Office kamu ini ??" Ucap Calista dengan wajah memerah menahan amarahnya.
"Tunggu saja, saya akan pastikan perusahaan dan Office yang selama ini kalian bangun dari nol, akan hancur sehancur-hancurnya." Ucap Calista menunjuk Kenan.
"Silahkan nona, saya lebih memilih semuanya hancur, dari pada saya harus bekerjasama dengan orang seperti Anda." Tantang Kenan.
"Tunggu saja." Calista meraih tasnya kemudian meninggalkan Cafe tersebut.
Kenan pun ikut keluar dari cafe, langsung masuk ke mobilnya dan ia menuju perusahaan ayahnya.
🍀🍀🍀
Di sisi lain
Terlihat Ray menyusuri jalanan macet, demi mencari buah Cermai yang sangat di inginkan Lani saat ini, sudah hampir dua jam Ray berkeliling ke beberapa penjual buah, juga pasar-pasar tradisional sampai ke supermarket, tapi semuanya nihil.
Kata para penjual buah tersebut sudah sangat sulit untuk di dapatkan.
"Aduh... Darimana juga Lani tau buah seperti itu." Gumam Ray yang tampak prustasi.
__ADS_1
Ray memasang phone blotooth di telinganya, dan menyambungkan telponnya kepada istrinya.
"Halo, kenapa lama banget, kamu mau babynya ileran." Terdengar Lani mengoceh dari seberang sana.
"Maaf Yank, ini dari tadi aku datangi ke beberapa penjual buah tapi nggak dapat-dapat." Jawab Ray.
"Di pasar atau supermarket sudah di datangin belum ?" Tanya Lani.
"Sudah semua sayang, sayang bilang sama baby nya, maunya yang lain aja ya, jangan aneh-aneh, papanya lagi kesusahan mencarinya." Ucap Ray lembut, namun siapa sangkah ucapannya membuatnya masuk ke situasi yang sulit.
"Jadi kamu kesusahan ? Ya sudah kamu pulang saja !! Biar aku saja yang mencarinya." Lani langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Ray semakin prustasi mendengar ucapan Lani, dan merutuki kebodohannya, kenapa ia harus berbicara seperti tadi, sudah tau istrinya saat ini, sedang mode Rese semenjak ia hami.
Ray kembali menelpon, tapi bukan lagi istrinya tapi sahabat baiknya, yaitu Kenan, ia berharap Kenan bisa membantunya.
"Hallo Nan, elu dimana?"
"Gue di jalan mau ke perusahaan ayah ! Emang kenapa lu nelpon-nelpon gue ?" Balik tanya Kenan.
"Gue mau nanya ! Elu tau nggak tempat yang jual buah Cermai?" Tanya Ray.
"Hahahaha.... Lani pasti ngidam ya ? Apa gue bilang, istri elu lebih garang dari istri gue." Ledek Kenan.
"Iya ... Iya ..., Gue serius ! Elu ada tau tempat jual buah tersebut nggak ?" Ray mengulangi pertanyaannya.
"Elu coba aja cari di halaman rumah orang, karena biasanya banyak di halaman orang, karena buah tersebut sangat sudah langkah sekarang."
"Ok Ok Ok... Bro, kalau begitu gue cabut dulu, gue mau kembali menyusuri jalanan." Ucap Ray.
"Sorry gue nggak bisa nemenin." Ucap Kenan.
"Iya nggak apa-apa, gue ngerti kesibukan elu sekarang." Sahut Ray.
"Sorry banget ya Ray." Sesal Kenan.
"Gue bilang nggak apa-apa, kalau gitu gue tutup telponnya, gue mau lanjut nyari." Ray kemudian memutuskan sambungan teleponnya, kemudian masuk ke wilayah perkampungan, siapa tau aja dapat pikir Ray.
Bersambung.....
Buah Cermai
__ADS_1
*Terus beri dukungan buat Author dengan LIKE, COMENT, VOTE 😊😊😊
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️*