
Malam harinya semuanya telah berkumpul di halaman belakang dengan tenda yang cukup untuk mereka semua, yang sudah di buat oleh para laki-laki tadi sore.
Semuanya tampak bahagia menikmati acara barbeque malam ini. Para laki-laki tampak sibuk dengan memanggang berbagai macam daging, mulai dari ayam, daging sapi, Ikan dan juga beberapa sosis. Sedangkan para wanita sibuk menyiapkan peralatan makan mereka, dan beberapa cemilan, kecuali Diva dan Vara hanya duduk diam sambil memangku anak masing-masing.
"Uuuwwwekkk....." Hera tiba-tiba saja merasakan mual saat mencium aroma daging panggang, dengan cepat Hera masuk ke dalam villa karena ingin segera memuntahkan isi perutnya.
Rafa yang sibuk memanggang daging sosis bersama Ray tanpa sengaja melihat Hera sedikit berlari sambil membekap mulutnya masuk ke dalam villa.
"Ray terusin dulu yah ! Gue mau susul Hera sepertinya dia mual." Rafa segera memberikan wadah sosis yang ia pegang kepada Ray, kemudian dengan cepat menyusul Hera ke dalam.
Lain lagi halnya dengan Lani, Lani ingin sekali memakan daging panggang, tapi daging yang di panggang oleh Kenan. Lani segera menghampiri Ray.
"Yank....." Regek Lani sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Apa, mau ini ?" Tanya Ray memberikan satu potong sosis.
"Nggak mau itu, tapi aku mau daging." Ucap Lani manja.
Semenjak kehamilannya Lani menjadi sangat manja, dan sedikit lebih sensitif.
"Ya sudah tunggu aku ambilkan ya Yank !"
Ray ingin segera mengambilkan daging, namun dengan cepat Lani menahan lengan Ray.
"Aku mau daging, tapi yang manggang Kenan." Ucap Lani.
"Apa bedanya yank, yang di panggang Kenan ataupun aku."
"Pokoknya aku mau dagingnya harus Kenan yang manggang.
"Ya sudah, tunggu ya. !"
Ray menoleh di mana Kenan sedang memanggang daging, tapi saat ia melihat di mana tadi Kenan berada, Kenan sudah tidak ada di sana, tapi Kenan sudah bergabung dengan yang lainnya di tenda, terlihat di sana Kenan sibuk menyuapi Diva yang sedang memangku baby Khay.
"Yuk Yank, kita kesana dulu, samperin Kenan." Ajak Ray menarik tangan Istrinya.
Setibanya di tenda Ray langsung duduk di samping Kenan yang kebetulan masih kosong.
"Nan, tolong dong !" Ucap Ray.
"Mau minta tolong apa lu ? Tanya Kenan sambil menyuapkan potongan daging ke mulut Diva.
"Lani mau daging panggang, tapi harus kamu yang manggang." Sahut Ray.
"Apa ?" Kenan tersentak mendengar perkataan Ray, tanpa sadar ia menjatuhkan potongan daging ke baby Khay.
"By', ini baby Khay kena potongan daging ih...." Ini masih panas tau, kasian baby Khay nya." Ujar Diva membersihkan selimut baby Khay yang terkena potongan daging, dan juga sedikit saus barbeque.
"Maaf yank .... Maaf " Ucap Kenan sambil memeriksa anaknya.
"Nan, tolongin dong, gue nggak mau anak gue nanti ileran." Ray kembali memintai tolong Kenan.
"Itu daging di atas meja makan aja, sebagian besarnya gue yang manggang. !" Ucap Kenan santai menujuk daging di atas meja.
"Nan, tapi gue mau liat langsung, elu yang manggang, itu sudah ke campur, dan tidak bisa di bedakan mana daging yang kamu panggang.
"Ngidamnya kok aneh-aneh gini sih, elu yang buat kok gue yang repot." Ujar Kenan kepada Ray.
"Tolong lah Ray, dulu waktu ngidamnya Diva yang mau siomay yang di jual depan sekolahnya dulu, gue juga yang repot." Ray mengingatkan Kenan saat ngidamnya Diva dulu.
__ADS_1
"Iya...Iya...gue tolongin. Kenan beranjak dari duduknya dan segera berjalan ke arah tempat pemanggangan.
Setelah 15 menit Kenan kembali membawa sepiring daging dan langsung memberikan kepada Lani.
"Makasih Om Kenan." Ucap Lani kegirangan.
"Emmm.... Sama-sama, lain kali kalau ngidam jangan aneh-aneh !" Sahut Kenan kembali mendudukkan dirinya di samping istrinya.
Di kamar Hera
Rafa terus memijat tengkuk Hera yang terus saja memuntahkan makanan dari dalam perutnya, sampai-sampai Hera terlihat sangat pucat dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Uuuwwwekkk...." Hera kembali muntah, tapi bukan lagi makanan yang Keluar melainkan hanya cairan berwarna kekuningan.
"Kamu keluar aja, aku udah nggak apa-apa kok !" Ujar Hera menyuruh Rafa untuk keluar dengan suara yang pelan.
"Aku akan temani kamu di sini, mana mungkin aku tega ninggalin kamu dengan keadaan kamu seperti ini." Ucap Rafa.
"Kamu nggak jijik, liat aku muntah-muntah?" Tanya Hera.
"Nggak."
Hera membersihkan mulutnya, menggunakan air dari wastafel, kemudian berjalan menuju tempat tidur.
Rafa dengan sigap membantu Hera berbaring di tempat tidur, Rafa merasa kasihan melihat Hera yang terlihat sangat pucat, dan menahan mual.
"Ya sudah lebih baik sekarang kamu keluar, aku sudah agak baikan, nanti setelah sudah lebih baik lagi aku juga akan keluar. !" Ucap Hera.
"Sudah aku bilang, aku bakal nemanin kamu di sini, ini juga tanggung jawab aku, dan nanti kita akan keluar bareng-bareng." Ucap Rafa menekankan perkataannya.
"Terserah kamu saja." Sahut Hera memejamkan matanya.
"Aku akan berusaha melupakan Sisi, dan menerimamu di hatiku, dan mudah-mudahan saja dengan kehadiran anak kita nanti bisa merubah rasa tanggungjawab ku menjadi mencintaimu." Ucap Rafa dalam hatinya, sambil memandangi wajah pucat Hera.
🍀🍀🍀
Kini sudah menunjukkan jam 21:00 waktu Singapore, semuanya masih asik mengobrol, Rafa maupun Hera juga sudah bergabung 30 menit yang lalu, semua memancarkan wajah bahagia masing-masing, piknik kali ini sangat berkesan karena ini baru pertama kalinya mereka kumpul seperti ini, berkumpul dengan kedua keluarga besar di tambah para sahabat Kenan maupun Diva.
Karena malam semakin larut, para wanita masuk ke kamar masing-masing, mengingat cuaca semakin dingin hal itu tentu tidak baik untuk baby Raydan dan juga baby Khay.
Sedangkan para laki-laki masih tinggal di tenda untuk melanjutkan obrolan mereka, sekalian Kenan membahas soal rencananya ingin membuka outlet Distro di negara ini, dengan Noval yang akan bertanggungjawab untuk mengelolanya.
Pukul 11 malam Kenan baru masuk ke kamar, dan mendapati Diva akan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Huusssttt....." Diva meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, memberi tanda agar Kenan jangan berisik.
"Baby Khay baru tidur ?" Tanya Kenan berbisik, hampir tidak ada suaranya.
Diva hanya mengangguk, kemudian menarik selimutnya sampai bagian dada.
Kenan ikut naik di tempat tidur, langsung membaringkan tubuhnya di samping Diva dengan posisi miring menghadap istrinya kemudian menariknya masuk kepelukannya. lalu sama-sama memejamkan mata.
"Yank.... Terimakasih atas semuanya." Ucap Kenan tiba-tiba setelah cukup lama mereka memejamkan mata.
Diva yang belum benar-benar tertidur langsung membuka matanya saat mendengar ucapan suaminya.
"Aku bilang sudah cukup terimakasihnya by' !" Sahut Diva.
__ADS_1
"Biarpun aku mengucapkan terimakasih setiap hari aku rasa itu belum cukup yank, mengingat rasa sayang dan cinta yang kau berikan padaku yank." Ucap Kenan.
Diva mendongak menatap wajah sayu suaminya itu, kemudian mengusap lembut pipi Kenan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu yank." Ucap Kenan memegang tangan Diva yang berada di pipinya.
"Jika kamu benar-benar mencintaiku, berjanjilah jangan lagi kamu meninggalkan ku meninggalkan anak kita dan juga ayah bunda.
"Asal kamu tau saja kami semua sangat bersedih, saat kamu terbaring tak berdaya di rumah sakit by'." Lanjut Diva tanpa ia rasa air matanya menetes karena mengingat keadaan Kenan saat di rumah sakit.
"Aku berjanji Yank, sudah jangan menangis lagi Ok ! Aku janji hanya ada air mata bahagia yang akan keluar nantinya." Ucap Kenan menghapus air mata Diva dengan ibu jarinya kemudian mencium kedua mata istrinya itu secara bergantian.
"Aku nggak sanggup kehilangan kamu by'." Ucap Diva lagi lalu memeluk Kenan dengan erat.
"Aku janji yank, aku tidak akan lagi meninggalkan kalian, kita akan terus bersama." Sahut Kenan kembali mencium pucuk kepala Diva.
"Dan sekali lagi aku sangat-sangat berterimakasih karena kamu sudah bersedia menerimaku dan menemaniku di saat suka dan duka ku Yank, terimah kasih kamu bersedia untuk menjadi rusukku, menjadi ibu dari anak-anak kita kelak, dan aku harap kita bisa selalu tetap bersama sampai tuhan memisahkan kita, sampai kita di pertemukan kembali di surganya.." Tambah Kenan dengan sangat tulus.
"Sama-sama By', terimakasih juga karena kamu sudah berjuang sehingga kamu bisa kembali di sisiku, dan juga mau menjadi ayah yang baik buat anak-anak kita kelak. Dan kamu juga bersedia menerimaku yang hanya seorang wanita yang memiliki banyak kekurangan ini." Ucap Diva menatap Kenan kemudian mencium sekilas bibir suaminya itu.
"I Love you my wife." Ucap Kenan dengan senyuman mengembang.
"I love you to my hubby." Balas Diva dengan senyum tak kalah manisnya.
***END...
TERIMAKASIH SUDAH BERKENAN MENGIKUTI CERITA AUTHOR YANG MASIH BANYAK KEKURANGAN DARI SEGI PENULISAN, PENGGUNAAN KATA DAN JUGA ALURNYA YANG MUNGKIN BERANTAKAN.
MAKLUM YA READERS, AUTHORNYA MASIH AMATIRAN .
DAN MOHON DOA DAN DUKUNGANNYA AGAR AUTHOR TETAP SEMANGAT UNTUK MELANJUTKAN SEASON 2.
TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗🤗❤️❤️❤️❤️***
*BONUS VISUAL CAST
Rafa*
Ray
Arka
Vara
Noval
Ray, Kenan, Rafa.
__ADS_1