Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 95


__ADS_3

Kini Diva sudah berada di ruang bersalin, di temani Bunda Vivian, Dokter Clarine kembali memeriksa Diva, dan masih pembukaan tujuh.


Diva terus menggenggam tangan Bunda Vivian saat rasa sakit kembali menyerangnya. Bunda Vivian dengan setianya menemani menantunya berjuang untuk melahirkan calon penerus keluarganya. Sesekali Bunda Vivian menghapus keringat yang membasahi wajah Diva yang bercampur air mata.


Diva bukan hanya merasakan sakit, tapi dia juga merasa sangat sedih karena tidak beruntung karena dia benar-benar melahirkan tanpa di dampingi suaminya.


"Bun ... Sakit ..." Diva meringis sambil memegang pinggangnya.


"Iya sayang, sekarang kamu coba tarik nafas dalam-dalam kemudian keluarkan secara perlahan !" Ujar Bunda Vivian ikut memijit pinggang bagian belakang Diva. Karena Diva merubah posisinya jadi membelakangi Bunda Vivian, karena posisi itulah yang menurutnya nyaman saat ini.


Sementara di depan ruang bersalin, Pak Salman sedang menghubungi besannya, untuk memberinya kabar, bahwa Diva akan segera melahirkan.


Setelah menelfon, Pak Salman mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang disediakan khusus di depan ruang bersalin, Pak Salman menyandarkan tubuhnya di kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ia sedikit cemas dengan keadaan Diva yang akan melahirkan, dan juga sedikit merasa kasihan, menantunya itu harus melahirkan tanpa seorang suami berada di sampingnya, karena ia juga percaya, jika istri lebih merasa lebih baik jika melahirkan di dampingi oleh suaminya.


Tring...Tring... (Anggap aja dering ponsel Pak Salman gaessss😊😊😊)


Tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk, dan segera merogoh kembali ponselnya yang tadi ia masukkan kedalam saku celananya.


Pak Salman mengernyitkan keningnya saat melihat nama Dokter Chen yang tertera di layar ponselnya. Pak Salman segera menggeser icon hijau untuk menerima panggilan tersebut dengan sedikit khawatir, karena ia baru teringat, jika mereka semua meninggalkan Kenan sendirian di ruangannya.


πŸ“ž "Halo Dok." Ucap Pak Salman.


πŸ“ž "Baik Dok, saya segera kesana."


Pak Salman langsung beranjak dari duduknya setelah mendapat kabar dari Dokter Chen tentang keadaan Kenan.


Dengan langkah cepat Pak Salman berjalan menuju ruangan perawatan Kenan.


Di ruangan bersalin


Dokter Clarine kembali memeriksa Diva, dan saatnya ia akan melahirkan karena sudah pembukaan lengkap.


"Nona ikut intruksi saya !" Ujar Dokter Clarine.


"Tarik nafas panjang, kemudian keluarkan secara perlahan sambil mengejan ! Ujar Dokter Clarine mengintruksikan.


"Semangat sayang ! Ucap Bunda Vivian ikut menggenggam tangan menantunya kemudian memberikan kecupan di keningnya.


Diva mengikuti instruksi dokter, Diva mengambil nafas sampai beberapa kali, sehingga keringat dan air matanya membasahi wajahnya.


"Sedikit lagi nona, teruskan ! Dokter Clarine kembali mengintruksikan saat sudah melihat sedikit kepala bayinya di jalan lahir Diva.


Diva kembali mengambil nafas panjang, kemudian mengeluarkan secara perlahan sambil mengejan sekuat-kuatnya, sampai akhirnya terdengar suara bayinya. Diva bernafas lega saat bayinya sudah keluar.


Oooeeekkkk


Oooeeekkkk

__ADS_1


Suara tangisan bayinya terdengar sangat nyaring memenuhi ruangan tersebut. Diva terlihat masih mengatur nafasnya, ia cukup kelelahan, setelah tadi ia pertaruhkan nyawanya demi melahirkan anaknya.


Diva tersenyum saat melihat bayinya di angkat oleh perawat untuk di bersihkan.


"Selamat sayang, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu." Ucap Bunda Vivian tersenyum bahagia sambil mengecup kening menantunya itu.


Diva hanya mengangguk menanggapi ucapan mertuanya, dia kembali meneteskan air matanya, air mata keharuan karena kelahiran anaknya yang selama ini ia tunggu-tunggu, namun ia juga merasa bersedih di kala ia mengingat keadaan suaminya.


"By', anak kita sudah lahir, aku harap kamu cepat bangun !" Gumam Diva.


Bunda Vivian memang berada sangat dekat dengan Diva, menangis mendengar gumaman yang menantunya itu lontarkan.


"Bunda aku mau bangun, untuk bersandar." Ucap Diva kepada mertuanya, langsung bangun dari posisi berbaring nya.


"Apa sudah tidak sakit bekas jahitannya sayang ? Tanya bunda Vivian membantu menantunya untuk bersandar di brangkar yang sudah di lipat bagian atasnya.


"Sudah tidak terlalu sakit Bun, lebih sakit saat akan lahiran." Sahut Diva.


Tak berselang lama seorang perawat membawa bayinya kepada Diva yang sudah di bersihkan dan juga di beri selimut.


"Nona, silahkan di beri ASI terlebih dahulu ! Selamat bayinya berjenis kelamin laki-laki, dan sehat tanpa kekurangan apapun." Ujar Perawat tersebut kemudian memberikan bayi tersebut ke gendongan Diva.


Dengan sangat hati-hati Diva menerima bayinya, Diva terlihat sangat gugup dan sedikit kesusahan untuk menyusui anaknya.


"Bun, aku takut nanti babynya jatuh, dan cara nyusuinnya bagaimana ? Ujar Diva.


Diva segera mengikuti cara yang di katakan mertuanya.


"Apa seperti ini ? Tanya Diva.


"Iya sayang, kalau pertama kalinya, semua pasti terasa canggung sayang, nanti lama-lama juga pasti terbiasa."


Bunda Vivian mengusap kepala menantunya itu sembari tersenyum, ia sangat bersyukur memiliki menantu yang sangat baik seperti Diva.


Setelah beberapa menit Diva menyusui bayinya, yang sepertinya langsung terbiasa dengan menyusu kepada Diva. Bunda Vivian mengambil alih cucunya itu dari gendongan Diva, dan ia letakkan di box bayi, setelah ia ciumi seluruh wajah cucunya itu yang sangat mirip dengan Kenan.


"Sebentar ya sayang, Bunda keluar dulu buat manggil Ayah !" Ujar Bunda Vivian.


"Iya Bunda." Sahut Diva.


Tak berselang lama bunda Vivian kembali masuk keruangan dimana Diva berada.


"Loh, Bun, Ayah mana ? Tanya Diva setelah melihat Bunda Vivian masuk sendirian.


"Ayah tidak ada di luar, tadi Bunda sudah telfon katanya sebentar lagi ayah kesini, dia ada urusan penting yang harus ia selesaikan terlebih dahulu." Terang Bunda Vivian menghampiri cucunya yang terlelap di boxnya.


"Bunda Bagaimana keadaan Kenan ? Dari tadi kita ninggalin dia sendirian." Ujar Diva melihat kearah Bunda Vivian yang sibuk memperhatikan baby-nya.


"Ayah ada di sana sayang, kamu jangan banyak pikiran dulu, karena itu bisa mempengaruhi keadaan kamu yang baru saja melahirkan, dan juga mempengaruhi ASI kamu ! Sahut Bunda Vivian menghampiri Diva.

__ADS_1


Bunda Vivian duduk di kursi di samping brankar Diva. Kemudian mengupas buah untuk Diva yang sudah di siapkan perawat tadi atas permintaan Bunda Vivian.


"Bunda, apa Ayah Fikram dan Bunda Hani sudah di kabari ? Tanya Diva.


"Kata ayah sudah sayang, dan mereka akan segera kesini. Ini makan dulu sayang !" Jawab Bunda Vivian kemudian memberikan beberapa potong buah yang sudah ia kupas tadi.


"Terimakasih Bun." Diva menerima potong buah tersebut dan langsung memasukkan kemulutnya.


"Sama-sama sayang, seharusnya Bunda yang meminta terimah kasih kepadamu, yang sudah mau melahirkan cucu buat kami, terimakasih juga karena sudah bersabar dan setia mendampingi putra Bunda yang sedang tak berdaya itu." Ucap Bunda Vivian menatap Diva dengan mata berkaca-kaca.


Diva meraih tangan ibu mertuanya itu, yang selalu menganggapnya seperti anaknya sendiri, dan selalu menuruti apapun keinginan Diva. Di genggamannya tangan mertuanya itu.


"Bunda tidak perlu berterimakasih seperti ini, karena tanpa bunda mintapun saya akan memberikan cucu buat bunda, dan itu sudah menjadi kewajiban aku, dan untuk Kenan bukankah itu juga seharusnya yang aku lakukan sebagai seorang istri, istri yang selalu setia mendampingi suami bagaimanapun keadaan suaminya, sebagai suami istri bukannya kita harus selalu bersama dalam suka maupun duka. jadi aku mohon jangan pernah untuk berterimakasih, karena aku ikhlas seikhlas-ikhlasnya melakukan semua ini Bun." Ucap Diva panjang lebar.


Bunda Vivian langsung memeluk menantunya itu.


"Ayah sama bunda tidak salah lagi memilih menantu sebaik kamu sayang." Ucap bunda Vivian kemudian melepaskan pelukannya, lalu beralih mengecup kening Diva.


"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk baby kalian ?" Tanya Bunda Vivian.


Tiba-tiba raut wajah Diva senduh saat mendengar pertanyaan mertuanya.


"Aku belum mau memberikan baby nama Bun, biar Kenan yang akan memberinya langsung." Jawab Diva melihat ke sembarang arah.


"Tapi sayang, sampai kapan kamu akan menunggu Kenan bangun, dan tidak baik jika tidak segera kau beri nama anak kalian sayang." Bunda Vivian ikut naik ke brangkar Diva memegang pundak menantunya itu.


"Aku akan menunggunya, sampai dia bangun Bun, sampai kapanpun, aku mau Ken.....


"Namanya KHAIRAN DELVIN AL FARIZIQ."


Sahut seseorang dari ambang pintu


Bersambung...


Siapa Ayoooo ???


Jangan lupa jejak dukungan kalian dengan memberikan


Like


Coment


Vote


Favorit


Rate


Terimakasih πŸ™πŸ™πŸ™β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2