Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
Episode 68


__ADS_3

Setelah beberapa saat Ray menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan, saat sudah merasa rileks, Ray memberanikan diri untuk masuk menemui orangtua Lani.


Saat sampai di dalam Ray langsung duduk di sofa samping dimana orangtua Lani duduk, tanpa memperhatikan orang-orang yang duduk bersebrangan dengan kedua orangtua Lani.


Papa, Mama Lani yang melihat kedatangan Ray tiba-tiba, kompak mengernyitkan keningnya, kenapa Ray tiba-tiba datang kesini, pikir mereka.


Ray kembali menarik nafas, kemudian memulai angkat bicara.


"Maaf, karena saya lancang merusak acara Om, tapi saya lakukan ini demi hubungan saya dengan Lani, Om." Sejenak Ray menjeda ucapannya, kembali menarik nafas.


Saya tidak akan membiarkan Lani menikah dengan orang lain, karena kami saling mencintai, dan tujuan saya kesini untuk melamarnya." Lanjut Ray menatap serius orangtua Lani yang tengah duduk di sofa dekat tempat Ray duduk saat ini.


"Tapi Nak Ray, kami sudah menerima lamarannya, begitupun Lani sudah menyetujuinya." Ujar Papa Lani.


"Kalau begitu, biarkan saya menemui Lani Om, saya ingin bicara, saya tidak percaya jika dia menyetujui lamaran ini, karena kami saling mencintai Om." Ray meminta izin untuk menemui Lani karena ia tidak percaya kalau Lani menyetujui lamaran itu.


"Lani sedang tidak ada di rumah, dia pergi mengantar kakaknya ke kampus." Ucap Papa Lani.


"Baiklah kalau begitu, saya akan menyulnya Om." Ujar Ray beranjak dari duduknya dan segera berbalik dan tak sengaja melihat ke arah pasangan orang yang sedari tadi berada disitu yang sudah melamar Lani.


"Ka... Kalian..." Ray membelalakkan matanya, ternyata yang dari tadi berada disitu adalah orangtuanya sendiri.


"Sebaiknya kami pulang saja Ma, sepertinya anak kita menolak lamaran yang kita ajukan." Ujar Pak Regan, menatap jengah putranya itu.


"Jangan dong Pa, Ma, saya tidak tau saja kalau kalianlah yang melamar Lani untukku, jangan di batalkan ya, Pa ya." Ujar Ray langsung duduk di samping papanya, sambil memegang lengan orangtuanya itu, memperlihatkan wajah memelasnya.


Sedangkan Pak Regan dan juga orang-orang yang berada di ruangan itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Ray, tak terkecuali Pak Fikram.


"Dan Mama?" Ray menatap mamanya seolah tak percaya kalau mamanya itu sudah menyetujui hubungannya dengan Lani.


"Iya sayang, Mama sudah merestui kalian." Ujar Ibu Ratna mengelus lengan putranya, sembari tersenyum.


"Terimakasih Ma." Ucap Ray memeluk mamanya.


"Dasar bocah jaman sekarang." Cebik Pak Fikram geleng-geleng kepala.


"Ehh... Kok Om Fikram disini juga ?" Sahut Ray karena baru menyadari keberadaan mertua sahabatnya itu.


"Harusnya kamu tanya sama papamu itu, dia main datang ke kantor Om, langsung mengajak Om melamar anak gadis orang untuk bocah seperti mu." Pak Fikram jengah melihat tingkah Sahabat dan anak dari Sahabatnya itu.


Pasalnya Pak Fikram sibuk di kantor, tiba-tiba saja Pak Regan dan Istrinya datang sedikit memaksanya untuk menemaninya kerumah keluarga Lani.


"Kamu tau sediri Fik, saya tidak tau banyak kota ini, dan kebetulan juga pujaan hati cunguk ini, sahabat anak elu." Ujar Pak Regan tanpa ada rasa bersalahnya.


"Maaf Pak, Bu, atas keributan mereka." Ucap ibu Ratna tak enak hati kepada orangtua Lani, karena tingkah suami dan anaknya juga Pak Fikram. Mereka berdebat seperti dirumah mereka sendiri, sedangkan orangtua Lani hanya diam melihat itu semua.


Seketika Pak Regan, Pak Fikram, dan juga Ray baru menyadari kalau mereka sedang berada di rumah calon besan dan mertuanya.


"Maaf Pak, Bu... Ucap Pak Regan, dan Pak Fikram bersamaan.


"Maaf Om, Tante." Ucap Ray hampir bersamaan dengan kedua laki-laki baru baya itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa, kami merasa terhibur juga hehehe." Ujar Papa Lani diiringi dengan tawanya.


Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba Lani datang dari pintu dari arah garasi, yang langsung menuju ruang tengah yang masih jelas terlihat dari arah ruang tamu.


"Sayang, kamu kesini dulu Nak." Panggil mama Lani lembut saat melihat Lani yang baru masuk masih memakai jaket kulitnya.


Lani segera menghampiri orangtuanya, di saat sampai Lani sedikit kaget saat melihat Ray, bersama orangtuanya dan juga Pak Fikram.


Lani langsung menyalami mereka satu persatu kecuali Ray.


"Duduk sini dulu sayang." Ucap Papa Lani menyuruh Lani untuk duduk ditengah-tengah antara dia dan mama Lani.


"Jadi Lani belum tau Om, terus tadi kenapa Om bilang kalau Lani sudah setuju." Ujar Ray menatap calon mertuanya itu.


"Tau apa sih Pa, dan setuju untuk apa ?" Tanya Lani menatap papanya bingung.


"Begini sayang, Ray dan juga orangtuanya, kesini untuk melamar kamu." Jawab Papa Lani menatap putrinya itu.


"Apa?" Pekik Lani seolah tak percaya lalu beralih menatap Ray.


Sedangkan Ibu Ratna menutup telinganya mendengar suara Lani yang mungkin bisa lebih besar dari toa madjid.


"Ya Allah, begini amat ya, Calon Mantuku." Batin Ibu Ratna.


"Lani, suara kamu itu loh, nggak malu apa sama tamu kita." Ujar Mama Lani ikut menutup telinganya.


"Hehehe Maaf..." Ucap Lani cengengesan melihat Orangtua Ray.


"Jadi bagaimana, apa kamu menyetujui lamaran kami.?" Pak Regan kembali menanyakan persetujuan Lani.


Lalu beralih menatap Ray saat melihat ibu Ratna tersenyum kepadanya.


Lani menghela nafas, mencoba untuk rileks, karena gugup mendapat lamaran tiba-tiba dari Ray.


"Tapi apa ini tidak terlalu cepat Om, bahkan aku berniat untuk melanjutkan pendidikan." Ujar Lani.


"Om, apa boleh saya bicara dengan Lani sebentar?" Ray meminta ijin untuk membicarakan sesuatu kepada Lani.


"Iya, silahkan." Sahut papa Lani.


"Lan, ikut aku sebentar. !" Ajak Ray lalu berjalan keluar di ikuti Lani di belakang.


Setelah sampai di taman depan rumah Lani, Ray langsung duduk di bangku panjang yang berada di sana, di ikuti Lani duduk juga duduk disamping Ray.


"Apa kamu benar-benar tidak ingin menerima lamaran ku." Ujar Ray setelah cukup lama terdiam, menatap lurus kedepan.


Lani menoleh kearah Ray, kemudian kembali menatap kedepan mengikuti arah pandang Ray.


"Bukannya aku menolak, tapi aku masih belum percaya kalau mama kamu bisa menerimaku." Sahut Lani lirih dengan mata berkaca-kaca.


"Dan aku juga khawatir dia ngelakuin ini, karena terpaksa, karena aku tau, kamu beberapa hari ini kamu tidak pulang kerumah." Lanjut Lani dengan air mata yang tidak bisa lagi ia bendung.

__ADS_1


Ray yang mendengar ucapan Lani, langsung beralih manatapnya, lalu meraih tangan kekasihnya itu, ia genggam dengan erat.


"Kamu kenapa nangis yank, Hem." Ujar Ray menghapus air mata kekasihnya itu.


"Setelah kita menikah nanti, kita tidak akan tinggal dirumah orangtuaku, aku sudah menyiapkan semuanya, walaupun tidak tidak sebanding dengan rumah kedua orangtua kita, tapi aku mau kita hidup bersama, memulai semuanya bersama-sama, tanpa ada yang mencampuri kehidupan rumahtangga kita, walaupun itu mama aku sendiri Yank." Jelas Ray menggenggam tangan Lani.


Lani langsung menghambur kepelukan Ray, membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya itu, dengan dibalas pelukan hangat oleh Ray.


"Kenapa air mata b***oh ini keluar segala sih." Ujar Lani sesekali mengusap air matanya menggunakan sweter yang Ray kenakan.


Ray terkekeh mendengar ucapan Lani, dan membiarkan Lani menggunakan sweaternya menghapus air matanya, lalu mengusap rambut Lani dengan lembut.


"Ray .... " Panggil Lani lirih masih memeluk Ray.


"Apa sayang."


"Bantu aku, untuk merubah diriku, seperti layaknya wanita sungguhan." Ujar Lani mendongak menatap Ray.


"Sayang, kamu tidak perlu melakukan semua itu, bersikaplah seperti biasanya, aku lebih suka dan mencintaimu karena kamu apa adanya." Ray melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah kekasihnya itu memperdalam tatapannya.


"Aku hanya ingin kamu menjadi istri yang baik." Lanjut Ray mengecup kening Lani.


"Tapi ....


"Tidak ada tapi-tapian Lagi yank." Ray menutup mulut Lani dengan telunjuknya.


"kamu liat sahabat kamu Diva, tanpa dia berubah penampilan tapi dia tetap bisa menjadi istri yang baik buat suaminya, bahkan Kenan sangat bersyukur mendapatkan istri sepertinya, begitupun dengan aku Yank, aku sangat bersyukur bisa mendatangkan pendamping seperti mu." Terang Ray.


Lani terdiam mendengar semua perkataan Ray, dan yang dikatakan memang ada benarnya.


"Sebaiknya kita masuk yank, tidak enak juga kita lama-lama disini." Ajak Ray beranjak dari duduknya kemudian menarik tangan Lani membantunya untuk berdiri.


Setelah mereka sampai didalam, Pak Regan kembali menanyakan keputusan Lani. Lani sudah menerima lamarannya, dan hari itu juga mereka menentukan hari pernikahan mereka yang akan dilaksanakan 4 bulan lagi, dan sebelum itu, mereka akan tunangan terlebih dahulu setelah mereka lulus.


Bersambung.....


*Bonus Visual


Ray*



Lani



*Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian para readers tercinta


Like


Coment

__ADS_1


Vote


🤗🤗🤗🙏🙏🙏❤️❤️❤️*


__ADS_2