
Tiba-tiba pintu ruangan Diva terbuka dengan sangat keras, membuat Kenan dan Diva langsung menoleh ke asal suara.
" Ayah, Bunda. " Sahut keduanya hampir bersamaan, ketika melihat ayah Fikram dan bunda Hani masuk, Ayah dan Bunda menghampiri keduanya Kenan yang masih duduk dibrankar istrinya itu, Bunda Hani langsung memeluk putrinya dan menangis.
" Sayang bagaimana keadaan kamu, syukurlah kau sudah sadar, dan baik-baik saja, Bunda sangat khawatir saat mendengar kamu kecelakaan. " Ucap Bunda Hani kemudian melepaskan pelukannya dan memeriksa seluruh bagian tubuh putrinya itu.
Ayah Fikram dan Bunda Hani memang tidak mengetahui keadaan Diva sebelumnya, ia hanya tau kalau Diva sempat koma. Arka sengaja tidak mengatakan kalau adiknya telah tiada, karena ia tidak mau membuat ayah dan bundanya syok, dan membuat kesehatan mereka terganggu, Arka hanya mengatakan kalau Diva sedang koma, dan menyuruh mereka segera Kembali.
Ayah Fikram menyewa jet pribadi untuk pulang secepatnya, karena cuma itu jalan satu-satunya, karena pesawat komersial baru akan berangkat pagi ini.
" Aku tidak apa-apa Bun, Bunda lupa kalau anak bunda ini Siapa. " Jawab Diva santai.
" Tidak apa-apa bagaimana, kamu sudah mengalami koma, untung saja kamu cepat sadarnya. " Ucap Bunda Hani sedikit kesal dengan putrinya itu.
" Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa, karena aku kuat makanya aku cepat sadar. " Ucap Diva kembali, lalu tersenyum kearah bundanya.
" Pokoknya sekarang kamu tidak saya izinkan lagi bawa motor. " Ucap ayah Fikram penuh penekanan.
" Saya setuju Yah. " Ucap Kenan membenarkan ucapan mertuanya.
" Tapi Yah, Nan ak...."
" Tidak ada tapi-tapian, pokoknya sekali ayah bilang tidak yah tidak, ayah tidak mau mendengar bantahan. " Ucap ayah Fikram menyela Ucapan Diva dengan Tegas.
" Kalau aku mau sekolah bagaimana yah ?" Tanya Diva sedikit memelas.
" Kamu diantar supir, kalau tidak Arka yang akan mengantarkan mu. " Jelas Ayah.
Diva yang melihat ayahnya sudah mode on galak, ia tidak bisa lagi untuk membantah karena itu percuma saja menurutnya.
" Ini semua demi kebaikanmu sayang, lagian kamu sudah punya suami, masih saja bertingkah seperti itu. " Ucap Bunda Hani mengusap pelan kepala Diva yang dibalut perban.
Diva hanya menganggukkan kepalanya, dan bersandar, dibantu Kenan melipat sedikit brangkarnya supaya Diva nyaman untuk bersandar.
Ayah Fikram dan Kenan sedang duduk disofa, sedangkan Bunda Hani menyuapi Diva dengan buah yang sudah ia potong-potong kecil.
" Nan, bagaimana masalah kamu dengan wanita itu ?" Tanya ayah Fikram.
" Sudah selesai Yah, dia sudah ditangani oleh pihak yang berwajib atas pencemaran nama baik. " Jawab Kenan.
" Maaf atas sikap Arka kekamu kemarin, dia selalu gegabah kalau sudah menyangkut adiknya, bahkan dia tidak mau mendengar penjelasanmu dulu. " Ucap pak Fikram.
" Tidak usah Minta maaf Yah, aku tidak apa-apa, akupun akan melakukan hal yang sama jika orang yang saya sayangi disakiti orang lain. " Jawab Kenan tersenyum kearah mertuanya.
" Maaf juga Yah, gara-gara saya, Diva jadi seperti ini, saya belum bisa jadi suami yang baik buat Diva. " Ucap Kenan sedikit menundukkan kepalanya merasa bersalah.
" Kamu tidak salah, harusnya Diva mendengar penjelasan kamu dulu, Diva dari dulu seperti itu, kalau dia kesal atau marah, pasti dia larinya kebalapan, dan ini musibah, tidak ada yang perlu disalahkan. " Jawab ayah Fikram menepuk bahu menantunya itu.
" Ya Udah ayah sama Bunda pamit dulu, kami mau istirahat, kami dari bandara langsung kesini, lagian Diva sudah agak baikan. " Ucap ayah Salman, kemudian berdiri kearah brankar Diva.
" Bunda sama ayah pulang dulu, kamu jangan banyak gerak dulu. " Ucap Bunda Hani mencium kening putrinya, begitupun dengan ayah Fikram.
" Kamu kurangin sifat kamu itu, jangan jadi istri yang tidak mau mendengar apa kata suamimu. " Sahut ayah Fikram sebelum meninggalkan ruangan Diva.
__ADS_1
Di tempat lain
Ray dan Lani kini dalam perjalanan pulang, dengan Ray yang mengendarai motor Lani, Karena tidak mungkin Lani yang membonceng Ray.
" Arahnya kemana ?" Tanya Ray sedikit meninggikan suaranya dan sedikit menoleh kebelakang.
" Terus aja, nanti ada pertigaan belok kanan. " Jawab Lani dengan suara tak kalah tinggi dan sedikit memajukan kepalanya.
Ray melajukan motor Lani, setelah sampai pertigaan Ray kembali bertanya karena ia tidak tau lagi harus kemana.
" Terus kemana lagi ?" Tanya Ray.
" Terus Aja nanti sekitar 100meter dari sini, sebelah kiri ada kompleks perumahan, kamu langsung aja masuk, rumah kedelapan dari pintu gerbang, itu rumah Diva yang sebelah kiri. " Jawab Lani menjelaskan.
Lima menit kemudian mereka sampai didepan rumah mewah yang ditunjukkan Lani,
" Ini ?" Tanya Ray setelah sampai depan rumah tersebut.
Lani menoleh melihat kearah rumah yang ditunjuk Ray.
" Rumahnya kelewat, rumahnya yang dibelakang sana. " Jawab Lani menunjuk rumah keluarga Salman.
walaupun tetenggaan, tapi Masi terlihat jauh, karena perumahan disitu semua rumahnya gedongan Semua.
" Tadi kamu bilang rumah ke-8 Ya ini. " Sahut Ray sambil memutar arah motornya.
" Maaf gue kira yang ke delapan, yang ketujuh ya ternyata. " Jawab Lani tersenyum tanpa dosa.
" Kamu tidak mampir dulu ?" Tanya Ray saat melihat Lani menaiki motornya.
" Lain kali aja, lagian tuan rumahnya tidak ada." Jawab Lani.
" tunggu gue minta nomor ponsel lu. " Sahut Ray menahan tangan Lani.
" Gue, cuma punya satu, kagak niat gue bagi-bagi. " Jawab Lani segera memakai helmnya.
" Maksudnya nomor kontak lu, siapa tau nanti gue bisa hubungi lu, kalau ada hal penting. " Ucap Ray.
" oh... bilang dari tadi. " Jawab Lani menyodorkan ponselnya.
Ray segera memindai nomor ponsel Lani keponselnya.
" Terimakasih ya, atas nomor ponselnya dan jasa mengantarnya. " Ucap Ray mengembalikan ponsel Lani.
" Oke. " Jawab Lani sambil menerima Ponselnya kembali.
" Sebagai gantinya karena lu sudah ngantarin gue, bagaimana kalau besok kita makan siang. " Ucap Ray mengajak Lani.
" Kagak usah, gue ikhlas lagian gue bukan tukang ojek. " Jawab Lani menyalakan mesin motornya.
" Gue cabut dulu bay..." Sahut Lani dan melajukan motornya meninggalkan Ray.
setelah Lani sudah terlihat oleh pandangan Ray, ia segera masuk, Ray menekan bell yang berada disamping pintu yang menjulang tinggi dengan cat warna putih.
__ADS_1
tak lama bi'Asih membuka pintu.
" Cari Siapa ?" Tanya bi'Asih karena ia memang belum pernah melihat Ray.
" maaf bi' saya Ray teman Kenan dari kota xx, saya disuruh Kenan kesini untuk istirahat, karena saya tidak tau rumah om Salman di kota ini, tadi saya di antar Lani teman Diva kesini. " Terang Ray kepada bi'Asih.
" Oh...maaf den, dlsilahkan masuk. " ucap bi'Asih setelah mendengar penjelasan Ray.
Bi'Asih mengantarkan Ray kekamar tamu yang berada dilantai bawah.
" Aden silahkan istirahat dikamar ini, apa mau disiapkan makan siang den ?" Tanya bi'Asih.
" iya bi' terimakasih, tidak usah repot-repot tadi saya sudah makan, dan tolong ambilkan saja baju Kenan buat saya ganti baju, tadi Kenan sudah ngizinin. " Jawab Ray.
" Baik den, tunggu saya ambilkan. " sahut bi'Asih meninggalkan kamar tersebut.
Ray segera masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, karena ia merasa sangat lelah.
Ray mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan memasukkan nomor ponsel Lani kedalam kontaknya, dengan nama cewek bar-bar, sambil tersenyum-senyum sendiri.
*Bersambung....
Bonus Visual para Ayah dan Bunda
Ayah Fikram*
Bunda Hani
Ayah Salman
Bunda Vivian
*Maaf kalau masih belum jelas alurnya maklum masih pemula
mohon dukungannya, dengan cara
Like
coment
vote
salam kenal dan sayang para readers
🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️*
__ADS_1