
Hingga sore hari Khay masih berada di kediaman utama milik keluarganya, membuat Raydan meresa aneh dan curiga.
"Sebenarnya apa yang membuatmu pulang kemari, kenapa kalau gue ngerasa kamu sedang ada masalah dengan Enzy, apa kalian sedang ribut ?" Tanya Raydan berbalik melihat Khay yang sedang terbaring di sofa panjang yang ada diruang hometeater tersebut. Sedangkan Raydan duduk melantai di lapisi karpet sambil memainkan laptopnya.
"Tidak ada." Sahut Khay singkat.
"Yakin ?" Tanya Raydan tak merasa yakin dengan jawaban adik sepupunya itu.
"Emmm..." Khay hanya berdehem.
"Bagaimana kabar opa Oma, sudah lama gue tidak mengunjunginya." Tanya Khay sengaja mengalihkan pembicaraan, karena ia tahu kalau kakaknya itu mulai curiga.
"Mereka semua baik-baik saja, kalau ada waktu berkunjunglah kesana, gue yakin mereka juga sudah sangat merindukanmu, dan bawalah Enzy bersamamu !" Seru Raydan membereskan laptop dan beberapa berkas di hadapannya.
"Sebaiknya jika kamu ada masalah, selesaikan, jangan menghindar seperti ini." Ucap Raydan lalu beranjak dari sana meninggalkan Khay yang berpikir mencoba untuk mencerna perkataan kakaknya itu.
...----------------...
Di apartemen
Enzy baru saja memasuki apartemen, hari ini Enzy pulang kesorean, bahkan ini sudah hampir malam, karena hari ini jadwal latihan taekwondo.
Enzy berjalan menuju arah dapur untuk mengambil air minum karena merasa sangat haus.
"Bibi...bibi belum pulang, ini sudah hampir malam loh bi ?" Tanya Enzy saat melihat bibi yang biasa membantunya membersihkan apartemen saat akan mengambil air di dapur.
"Iya non, bibi selesaikan ini dulu, sekalian buat masak untuk makan malam non, soalnya tadi bibi datang terlambat." Jelas bibi meneruskan mengupas beberapa wortel.
"Oh ya sudah, apa Khay udah balik bi ?" Tanya Enzy tak melihat keberadaan suaminya itu.
"Belum non." Jawab bibi.
Enzy terdiam memikirkan keberadaan suaminya itu, apalagi ini sudah sore, dan Enzy tahu betul Khay tidak ada jadwal kuliah sampai sesore ini.
"Ya sudah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya bi, kalau bibi mau pulang langsung pulang saja, aku mau istrirahat sebentar, hati-hati juga." Ujar Enzy lalu naik ke kamarnya.
Saat masuk di kamar, Enzy langsung melemparkan tasnya asal di atas tempat tidur, kemudian ikut menjatuhkan dirinya disana.
Enzy lelah, karena latihan cukup keras hari ini, mana ia juga lelah memikirkan Khay, yang sejak tadi mengabaikannya bahkan bersikap dingin kepadanya.
Saat akan memejamkan matanya tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda notif pesan masuk.
__ADS_1
Enzy segera meraih ponselnya yang masih berada di tasnya, lalu mendudukkan dirinya.
"Sepertinya aku pulang larut, aku lagi bareng teman-teman ku Leo juga Doni, aku lagi ngumpul dirumah Leo." Pesan dari Khay.
Enzy menghela nafas beratnya, setelah membaca pesan dari Khay.
"Sebenarnya ada apa denganmu ? Kamu bahkan pergi tanpa memikirkan aku sendirian di sini, dan kamu kenapa sebenarnya, kenapa kamu tiba-tiba saja mengabaikanku dan bersikap dingin kepadaku.?" Enzy terus berbicara sendiri memikirkan perubahan sikap suaminya itu.
"Apa kamu benar-benar ingin membuktikan kalau sebenarnya kamu tidak akan berubah, apa kamu ingin aku benar-benar berpikir kalau kamu hanya ingin mempermainkan ku ?" Enzy terus bermonolog sendiri, tak terasa air matanya mulai berkaca-kaca.
"Atau kamu marah karena Baim ? Tanya Enzy lagi pada diri sendiri.
"Aagghhh....Ini pasti gara-gara Baim ! Kesel...Kesel...Dasar Baim si***aln." Umpat Enzy yakin kalau Khay merajuk gara-gara perkataan Baim semalam.
Enzy mengacak-acak rambutnya prustasi, lalu kembali membaringkan dirinya, Enzy melemparkan ponselnya ke sembarang tempat, hingga ponsel itu hampir terjatuh dari tempat tidur.
"KHAYRAN DELVIN Al FARIZIQ, aku benar-benar kesal karena kamu, aku tidak akan minta maaf, karena ini bukan salahku." Ujar Enzy penuh penekanan.
...----------------...
Di rumah Leo
Khay sekarang berada di rumah sahabatnya Leo, karena sore tadi ia meninggalkan rumah utama, tapi ia tak langsung pulang, ia memilih untuk pergi kerumah sahabatnya itu, sebelumnya ia juga menghubungi Doni agar ikut bergabung. Khay merasa tak ingin pulang kerumahnya, ia masih kesal dengan pertemuan Enzy dan mantan kekasih istrinya semalam. sejak semalaman Khay bermimpi terus menerus sehingga ia tak bisa tertidur, ia bermimpi soal Baim yang akan merebut istrinya.
Sementara Khay berbaring di tempat tidur sahabatnya itu sambil menutup wajahnya menggunakan lengannya.
"Enggak ada apa-apa." Sahut Khay tanpa merubah posisinya.
"Yakin ? Kau enggak merasa ada yang ingin kau ceritakan ke kami." Ujar Leo di angguki Doni.
"Enggak ada." Sahut Khay.
"Khay jujur sama kami, sebenarnya sudah beberapa kali kami melihatmu sedang bersama wanita yang pernah viral di kampus, dan kami melihat kalian begitu dekat ?" Tanya Leo membuat Khay kaget mendengar pertanyaan sahabatnya itu, namun ia berusaha terlihat biasa-biasa saja, Khay tetap pada posisinya.
"Ada hubungan apa kau dan wanita itu, apa karena dia kamu berubah ?" Timpal Doni.
"Mungkin kalian salah liat, gue bahkan enggak kenal dengan wanita yang kalian bicarakan itu." Elak Khay sesantai mungkin.
"Jangan menutupinya lagi Khay, kamu percayakan dengan kita-kita, apa kamu masih menganggap kita sagabat." Ujar Doni.
"Entah kau sadar atau tidak tapi gue pernah liat kalian nonton, di mall milik keluargamu, dan kalian terlihat begitu dekat, dan asal kau tahu aja, gue liat kalian berciuman di bioskop itu." Timpal Leo. Khay bangun dari pembaringannya, dan melihat kedua sahabatnya itu bergantian.
__ADS_1
"Sebenarnya, dia itu istri gue, kita sudah menikah hampir sebulan ini." Jelas Khay pada akhirnya, membuat kedua sahabatnya itu shok mendengar pengakuan Khay.
"Gue harap kalian tetap merahasiakan ini, dari siapapun." Seru Khay menekankan agar sahabatnya itu tak membocorkan rahasia ini.
"Priska, apa dia harus tau juga soal ini ?" Tanya Doni.
"Kalau bisa jangan, soalnya istri gue maunya ingin merahasiakan ini, sebelum ia benar-benar siap, dan gue minta kalian, jika tak sengaja bertemu dengannya pura-pura tidak tahu saja." Jelas Khay memperingatkan.
"Tapi kenapa harus di rahasiakan, dan kenapa kalian bisa nikah, apa kamu buntingin anak orang, Hem ?" Tanya Leo penasaran ingin mendengar cerita sahabatnya itu.
"Enak aja ! Gue nakal-nakal seperti ini, gue enggak akan buntingin anak orang, Gue bisa nikah karena kami di jodohkan, sejak kecil kami sudah di jodohkan, awalnya bokap nyokap gue enggak terlalu setuju soal perjodohan ini, tapi kedua orangtua istri gue terutama bokapnya, kebetulan sahabat bahkan bisa di bilang saudara nyokap gue sejak kecil, dia ingin banget jodohin gue, nah... saat seluruh keluarganya mengantarkan istri gue sekarang ini ke kota ini, dari kota Z, mereka mengalami kecelakaan, kalian ingatkan saat kita merayakan kemenangan kita malam itu, Gue di telpon bokap gue disuruh buru-buru kerumah sakit."
"Iya ingat-ingat, terus ?" Sela Doni sangat antusias mendengarkan cerita Khay.
"Terus seluruh keluarganya istri gue itu tidak ada yang bisa di selamatkan, termasuk kedua orangtua istri gue."
"Terus bagaimana kalian menikah, apalagi kalian masih sangat muda." Tanya Leo.
"Itu karena bokap nyokap gue ingin memenuhi permintaan terbesar sahabat mereka, yaitu menikahkan kami.
"Apa kalian tahu istri gue ini sangat membenciku, karena ia tahu bagaimana gue, dan baru beberapa hari ini ia mulai menerima ku, memberiku kesempatan untuk membuktikan kalau gue benar-benar berubah.
"Jadi ceritanya, saat kau memutuskan pacar-pacar kau hari itu, dan saat berita itu viral, kalian sudah menikah, dan foto yang beredar menampakkan istri kau itu keluar masuk apartemen milik keluarga kau juga bener?" Tanya Doni.
"Benar, dan yang menyelesaikan masalah ini tak lain adalah bokap gue sendiri, dan kenapa beritanya tak keluar dari kampus, karena gue Nendra dan Rendra yang menghalaunya, agar tak beber keluar." Jelas Khay.
"Gue benar-benar enggak nyangka bro, sekarang kamu sudah bukan bujang lagi, udah punya pawang, woi..." Seru Doni pindah ke samping dimana Khay duduk lalu merangkul bangga sahabatnya itu.
"Jadi, apa kalian sudah itu ?" Tanya Leo.
"Jelaslah, kau masih meragukan sahabat kau ini." Doni menyela menjawab pertanyaan dari Leo untuk Khay.
"Enggak tahu." Sahut Khay kembali merebahkan badannya.
"Tapi kenapa kau kesini, ini bahkan sudah hampir malam, apa istri kau enggak akan kenapa-napa jika di Tinggal sendirian." Tanya Leo.
"Ini juga bentar lagi pulang." Sahut Khay.
Bersambung......
Jangan lupa LIKE KOMEN dan VOTE.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏
Love you all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘