Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 121 Season 3 (Next Generasi)


__ADS_3

Hari ini dimana seluruh keluarga opa Salman dan opa Fikram berkumpul, juga para sahabat-sahabat Kenan dan Diva, bahkan Jova dan Noval yang tinggal di Singapore ia sempatkan untuk pulang ke kota Z, kecuali Khay dan Enzy tak bisa ikut berkumpul karena kondisi Enzy yang belum memungkinkannya perjalanan jauh.


Hari ini dimana acara lamaran Kia dan Kavi di laksanakan, paman dan bibi Kavi dari pihak papanya mewakili mendiang kedua orangtuanya, hanya ada beberapa keluarga Kavi yang datang, karena Kavi tak memiliki keluarga besar seperti Kenan papanya hanya dua bersaudara sedangkan mamanya, adalah seorang sebatang kara.


"Assalamualaikum wr.wb."Ucap seorang MC yang memulai acaranya. Dan langsung dijawab serentak para tamu yang hadir.


"Di karenakan semua kedua keluarga besar telah berkumpul di tempat yang insyaallah di berkati oleh Allah SWT, maka dari itu mari kita mulai acara lamaran saudara kita Kavindra Gayland dan Azkia Deolina Al Fariziq." Ucap MC.


"Sebelum kita melangkah ke acara inti, lebih baik jika kita membuka acaranya dengan doa, agar semuanya di berikan kelancaran juga keberkahan dari acara tersebut.


"Silahkan Pak kyai mohon dipersilahkan dengan hormat sekiranya untuk memimpin doa !" Seru MC pada pak kyai.


Pak kyai pun memulai doanya, setelah pembacaan doa, MC kembali bersuara kalau saatnya masuk ke acara inti.


"Silahkan dari pihak laki-laki untuk memulai !"Ujar MC mempersilahkan dengan hormat.


Paman dari Kavi menerima mic yang di berikan MC, dan memulai membicarakan maksud dan tujuannya.


"Kami keluarga besar sangat-sangat berterimakasih kepada tuan Salman dan tuan dan nyonya Kenan, beserta keluarga besar, karena sudah berkenan menerima niat baik kami pada hari ini." Ucap paman Kavi memulai pembicaraan, mereka duduk berkumpul berhadapan antara kedua belah pihak, dengan meja yang memanjang di antaranya, kursi-kursi tamu sengaja di susun secara berhadapan, di halaman belakang kediaman opa Salman.


"Tuan dan Nyonya Kenan, maksud kedatangan kami, kami berniat untuk mengantarkan niat baik putra kami yaitu Kavindra Gayland untuk melamar putri Anda yang bernama Azkia Deolina Al Fariziq, apakah tuan dapat menerima niat baik kami ?" Lanjut paman Kavi.


Kavi yang duduk di antara paman dan bibinya harap-harap cemas, walaupun sebenarnya ia sudah yakin kalau ia akan di terima tapi tetap saja ia merasa deg-degan, apalagi ia belum melihat keberadaan calon istrinya.


Kenan menatap Kavi sebelum ia menjawab apa yang disampaikan paman Kavi, sedangkan Kavi yang mendapat tatapan dari Kenan membuatnya semakin gerogi dan gugup, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, keringat mulai bercucuran di keningnya, padahal tempatnya berada cukup terbuka, dan di tambah lagi dengan penyejuk ruangan.


"Emmm..." Kenan berdehem sebelum ia angkat bicara.


"Terimakasih kepada semua keluarga besar Kavi, karena sudah berniat baik untuk putri kami, dan sayapun sudah melihat kesungguhan Kavi dengan putri saya sebelumnya, apalagi Kavi ini, adalah salah satu dari sahabat sekaligus parner kerja saya, tapi walaupun saya sudah sangat mengenalnya, tapi ada baiknya jika keputusannya saya serahkan ke putri kami." Ucap Kenan.


Kenan beralih menatap istrinya, dan Diva yang mengerti dari tatapan suaminya itu ia pun menaggukkan kepalanya.


"Saya akan memanggil putri kami untuk keluar, permisi !" Ujar Kenan kemudian beranjak dari kursinya.


Tak lama Diva dan Kia datang dengan Diva mengandeng lengan putrinya itu, Kia tampak sangat cantik dengan gaun birunya di tambah make up yang tidak terlalu tebal, membuat aura semakin terlihat dewasa, membuat Kavi tak berkedip melihatnya, apalagi saat Kia tersenyum ke arah mereka semua.


Kia



Kavi

__ADS_1



"Ekmm...Tuan Kavi, sepertinya Anda sangat terpana dengan kecantikan nona Kia ?" Goda MC membuat Kavi sedikit salah tingkah, Kavi merapikan kerah kemajanya yang sama sekali tak berantakan, lalu memalingkan perhatiannya ke arah lain.


Kia yang mendengar itu tersenyum samar menertawakan tingkat Kavi.


Setelah Kia duduk di apik antara kedua orangtuanya, paman Kavi kembali mengulang maksud kedatangannya.


"Nak Kia, apakah kamu bersedia menerima lamaran putra kami, yaitu Kavindra Gayland ?" Tanya paman.


Kia beralih menatap orangtuanya secara bergantian, kemudian beralih pada seluruh keluarga besarnya, terakhir kepada pria dewasa yang sejak tadi menatapnya, bahkan terlihat sangat gugup.


Kia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan.


"Aku bersedia." Jawab Kia membaut Kavi bernafas lega, bahkan bisa di dengar paman dan bibinya membuat kedua orangtua itu tersenyum, tak lupa paman Kavi menepuk-nepuk punggung keponakannya itu.


"Baiklah karena nona Kia sudah menerima lamaran dari tuan Kavi, mari kita lanjutkan dengan pertukaran cincin sebagai simbolis tanda ikatan mereka." Ucao MC.


"Tuan Kavi dan juga nona Kia silahkan maju pada tempat yang sebelumnya di siapkan !" Seru MC kepada calon kedua mempelai.


Kavi dan Kia yang di dampingi orangtua wali masing-masing sudah berdiri di sebuah panggung yang sudah di dekot sedemikian cantik dan elegan, Kavi mulai mengambil cincin bermatakan berlian, kemudian Kavi berlutut di hadapan Kia.


Kavi meraih tangan Kia ia genggam tangan kiri gadis yang kini menjadi calon istri atau tunangannya itu, karena hari ini juga mereka sekaligus bertunangan.


Kavi kembali mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan apa yang akan ia ucapkan.


"Azkia, apa kamu bersedia menerima semua tentang diriku dan melengkapi semua kekurangan ku, apa kamu bersedia menjadi pendamping hidupku untuk selamanya dan yang terakhir kalinya, apa kamu mau menemani mewarnai kehidupan kita kelak dalam suka maupun duka ,hingga anak cucu kita, sampai maut memisahkan ?" Lanjut Kavi.


Kia tersenyum, kemudian juga mulai berbicara.


"Om Kavi, maaf sebelumnya aku belum terbiasa memanggil om dengan sebutan yang lain, tapi mohon bantu aku agar terbiasa nantinya, dan untuk kekurangan dan kelebihan om, aku bisa mengerti itu, begitupun denganku yang masih memiliki banyak kekurangan, dan tolong bantu aku, agar aku bisa menjadi lebih dewasa lagi, karena aku sadar aku masih sangat kekanak-kanakan." Ucao Kia.


"Dan....." Kia menggantung ucapanya.


"Dan ?" Tanya Kavi.


"Dan aku bersedia menerima om sebagai pelengkap dan menemani om dalam suka maupun duka hingga anak cucu kita kelak, sampai maut memisahkan." Jawab Kia.


Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi tempat tersebut, mata Kenan dan Diva berkaca-kaca melihat putri kecil mereka kini sudah di miliki orang lain, walaupun belum seutuhnya.


Kavi memasangkan cincin yang sejak tadi berada di tangannya di jari manis Kia, selanjutnya Kia mengambil cincin satunya lagi kemudian memasangkan pada jari manis Kavi, suara tepuk tangan kembali memenuhi tempat tersebut.

__ADS_1


Kavi beralih kepada Kenan lalu keduanya berpelukan, Kenan menepuk-nepuk punggung Kavi.


"Mulai saat ini, saya minta agar kamu bisa menjaga putri kami, putri yang selama ini kami jaga dengan sepenuh hati kami." Ujar Kenan.


"Iya, saya berjanji." Sahut Kavi.


Keduanya melepaskan pelukannya, lalu Kavi beralih bersalaman dengan Diva.


"Kav, mulai saat ini kamu harus menjaga putriku, tolong bersabarlah menghadapi tingkah dia yang masih kekanak-kanakan." Ujar Diva.


"Iya kak, aku pasti selalu mengingat pesan kalian, dan Terimakasih karena telah percaya denganku untuk menjadikanku menantu kalian." Ucao Kavi menatap Kenan dan Diva bergantian.


"Kav, kamu masih memanggil calon mertuamu dengan sebutan kak seperti itu ?" Tanya paman Kavi.


"Iya paman, rasanya aku masih merasa aneh jika memanggil mereka dengan sebutan ayah ataupun bunda." Jawab Kavi.


"Kamu harus biasakan Kav, walaupun mereka sahabat kamu, tapi sekarang mereka adalah calon mertua kamu yang harus kamu hormati sama halnya dengan orangtuamu." Timpal bibi Kavi menasehati.


"Baik Bi, pelan-pelan aku akan mencobanya." Sahut Kavi.


"Siapa suru nikahnya sama anak teman sendiri, jadi aneh kan manggil mertua." Sahut Ray.


"Jadi setelah mereka resmi menikah Kavi juga memanggil kita dengan sebutan uncle, aunty, om, ataupun Tante dong." Sahut Jova.


"Kok aku jadi aneh ya." Kini Lani ikut menimpali.


"Coba kalau aku yang jadian sama Kia, pasti kalian gak merasa aneh gitu." Timpal Kemal sengaja memancing kekesalan Kavi, dan benar saja Kavi langsung terlihat memerah menahan kekesalannya, ingin rasanya Kavi menceburkan laki-laki remaja itu kedalam sumur, karena tampang nyebelin Kemal saat menatapnya.


"Mal, kamu diam !" Seru Kiki memperingati keponakan dari suaminya itu, ya Kemal adalah keponakan dari Dafa suami dari Kiki yang sekarang ini Kemal tinggal bersama mereka.


"Ishhh...canda doang Tan, lagian OM KAVI gercep banget, rencananya sih aku mau melamar Kia setelah lulus nanti tapi keduluan." Ujar Kemal masih saja menggoda Kavi, apalagi saat menekankan kata OM KAVI membuat Kavi mengepalkan tangannya.


Sedangkan Kia yang melihat itu, langsung merangkul lengan calon suaminya itu sambil ia usap pelan menenangkan pria itu.


"Sudahlah !" Ucapnya.


Bersambung............


Terus budayakan memberikan LIKE KOMENT dan VOTE setelah membaca setiap episodenya, semoga saja ceritanya tidak membosankan, dan ingat mampir juga ke cerita author lainnya yang berjudul ***DENDAM MEMBAWAH CINTA....


...TERIMAKASIH...

__ADS_1


...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏***...


__ADS_2