Pernikahan Yang Tak Kuduga

Pernikahan Yang Tak Kuduga
PYTK 08 Season 2


__ADS_3

Dengan langkah pasti penuh kewibawaan, Kenan memasuki gedung Office, sebelum ia ke beberapa daerah kota Xx dimana outlet yang rencananya ia tutup untuk sementara waktu, ia mampir ke Office karena ada beberapa dokumen yang harus ia kerjakan, dan juga periksa.


Seperti biasa Kenan hanya mengangguk dengan wajah datar, dinginnya kepada setiap karyawan yang memberinya hormat, saat berpapasan dengannya.


"Segera ke ruangan saya, dan bawa dokumen yang saya minta tadi pagi !" Pinta Kenan saat sudah tiba di depan meja sekertarisnya dengan wajah datarnya Kenan kembali melangkahkan kakinya masuk keruangan nya.


"Dasar balok Es, Saya kira dia bakalan jadi lebih hangat setelah banyak cuci darah, tapi tidak ada pengaruhnya sama sekali, tetap aja seperti balok Es." Gerutu Luci melihat sifat bosnya.


"Untung bos, kalau tidak sudah tak jitak tu bocah ingusan." Luci kembali menggerutu sambil merapikan beberapa dokumen yang akan ia serahkan kepada bos ingusannya itu.


Luci segera mengetuk pintu ruangan atasannya itu, setelah mendapat sahutan dari dalam, baru ia membuka pintu ruangan itu.


"Permisi Pak, ini dokumen yang bapak minta." Ucap Luci sopan memberikan beberapa dokumen.


"Soal pesangon apa sudah kamu urus semuanya ?" Tanya Kenan tanpa melihat kearah sekertarisnya itu, Kenan tetap sibuk menatap dokumen-dokumen yang di berikan Luci tadi.


"Belum Pak, apa sudah ada....


"Sudah ada, kemarin saya sudah menyuntikkan dana untuk pesangon kebagian keuangan." Kenan langsung menyela ucapan Sekertarisnya itu.


"Segera urus semuanya !" Seru Kenan.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Luci pun meninggalkan ruangan bosnya tersebut.


Di tengah-tengah kesibukan Kenan dengan dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya, tiba-tiba ia mendapat telepon dari asisten pribadi ayahnya, menginfokan bahwa calon penanam saham memajukan jadwal pertemuannya, jam 10 pagi ini, mau tak mau Kenan terpaksa membatalkan agendanya untuk mengunjungi outlet-outletnya karena pertemuan ini jauh lebih penting menurutnya.


"Keruangan saya sekarang !" Ucap Kenan kepada sekertarisnya lewat telpon.


Tok ... Tok ....


"Masuk !!" Sahut Kenan.


Luci pun masuk dan langsung berdiri di depan meja kerja Kenan.


"Ada yang bisa saya bantu Pak ?" Tanya Luci.


"Begini, Hari ini saya harus menghadiri pertemuan penting menggantikan ayah saya, jadi agenda saya hari ini, kamu alihkan besok saja !" Terang Kenan.


"Tapi Pak, untuk agenda bapak tiga hari kedepan sangat padat, dengan pertemuan dengan klaiyen-klaiyen penting, yang akan membahas kerjasama yang telah kami ajukan dan tidak bisa untuk di tunda Pak." Jelas Luci.


"Jika agenda hari ini di alihkan, baru bisa 4 hari kedepan." Luci kembali menjelaskan.


Kenan tampak memikirkan jalan keluarnya.


"Begini saja, apa ada pertemuan dengan klaiyen bisa di alihkan sore ini ?"Sahut Kenan.

__ADS_1


"Saya akan mencoba menghubungi mereka dulu Pak, mudah-mudahan saja ada yang bisa." Ujar Luci kemudian pamit untuk kembali ke meja kerjanya.


15 menit kemudian Luci kembali masuk keruangan Kenan.


"Ada yang bisa Pak, seorang desainer baru, tapi sepertinya sore ini dia tidak bisa, bisanya nanti malam." Jelas Luci.


"Ok Baiklah, kamu atur semuanya, dan persiapkan dokumen-dokumen yang di perlukan !! Jam Tujuh nanti saya akan menemuinya." Ujar Kenan kemudian beralih melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu hendel semua disini, saya akan segera pergi." Setelah berucap seperti itu Kenan beranjak dari duduknya merapikan jasnya, kemudian berjalan meninggalkan ruangannya.


🍀🍀🍀


Tampak Kenan berjalan memasuki sebuah gedung yang menjulang tinggi, yang tak kalah dari perusahaan ayahnya.


Dengan penuh Kharisma dan terlihat sangat beribawa, ditambah tangan kirinya ia masukkan ke dalam sakunya, sedangkan tangan kanannya membawa dokumen yang ia perlukan. Hal tersebut menambahkan ketampanannya.



Banyak Karyawan wanita yang mengagumi ketampanan Kenan, walaupun ia menampakkan wajah datar dinginnya tapi itu sama sekali mengurangi kharismanya.


"Maaf tuan ingin bertemu dengan siapa ? Dan dari mana ?" Tanya resepsionis dengan tatapan penuh kekaguman dengan ketampanan Kenan.


"Saya ingin berjumpa dengan Pak Arfan Sutomo, saya dari Erlangga Group." Jelas Kenan.


"Terimakasih." Ucap Kenan datar kemudian berjalan menuju ke sebuah lift yang akan membawanya ke lantai sepuluh.


Saat tiba di lantai tersebut, Kenan menghampiri salah satu meja yang ia yakini meja sekertaris bos di perusahaan tersebut.


"Maaf saya ingin ketemu dengan Pak Arfan, saya dari Erlangga Group." Ucap Kenan.


"Oh.... Pak Arfan sudah menunggu di ruangannya.


"Mari saya antar Tuan !" Wanita yang bertubuh semampai itupun berjalan ke salah satu ruangan di lantai tersebut, di ikuti Kenan dari belakang.


Di saat masuk keruangan yang sangat besar yang tak beda jauh ruangan Ayahnya di kantor, apa ruangan CEO memang seperti itu ? Pikir Kenan.


Pak Arfan tidak hanya sendirian di ruangan itu, tapi ditemani seorang gadis yang mungkin seumuran dengan Kenan.


Kenan langsung mengulurkan tangannya kepada Pak Arfan memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya Kenan, putra dari Pak Salman dari Erlangga Group yang akan mewakili pertemuan kali ini." Jelas Kenan memperkenalkan dirinya.


"Pak Salman sudah memberitahukan saya soal anaknya lah yang akan menggantikan nya hari ini, tapi saya tidak menyangka ternyata Anda masih sangat muda." Pak Arfan menerima uluran tangan Kenan.


"Dan perkenalkan dia putri saya Calista, dan sepertinya kalian seumuran." Pak Arfan kemudian memperkenalkan putrinya yang sedari tadi bersamanya.

__ADS_1


"Calista...." Ucapnya mengulurkan tangannya kepada Kenan.


"Kenan pun menerima uluran tangan Calista, juga menyebutkan namanya.


"Silahkan duduk !" Sahut Pak Arfan setelah Kenan dan Calista berkenalan.


Kenan pun langsung menjelaskan setiap visi misi perusahaan, semua Kenan jelaskan dengan sangat rapi juga baik, semuanya terperinci. Pak Arfan sangat mengagumi kepintaran Kenan dalam hal berbisnis, Begitupun dengan Calista diam-diam mengagumi lelaki yang di depannya berbicara dengan sangat serius dengan Papanya.


"Baiklah, segera siapkan dokumen atas kerja sama kita Pak Kenan, saya sangat tertarik dengan visi misi perusahaan Anda, dan untuk kali pertama saya berkecimpung di pada bisnis properti, karena selama ini kami hanya berkecimpung di dunia Fashion dan beberapa produk makanan dan kosmetik." Ujar Pak Arfan.


"Terimakasih Pak, Besok pihak kami akan kembali lagi kesini, untuk melengkapi semua dokumen-dokumen dan tanda tangan antar kerjasama yang kita jalin." Ucap Kenan penuh kewibawaannya.


"Dengan-dengar Anda juga memiliki Office Distro yang outletnya sudah tersebar di berbagai daerah dan luar kota."


"Betul pak, sebelumnya saya hanya terfokus ke Office saja, tapi karena ayah saya meminta bantuan saya, jadi saya harus membantu beliau." Sahut Kenan.


"Wah... Saya salut dengan Anda, masih muda Anda sudah mampu membangun usaha sendiri, bahkan usaha Anda sangat bertolak belakang dengan perusahaan ayah Anda Pak Kenan.


"Bapak jangan terlalu memuji saya Pak, saya masih banyak belajar." Kenan merendah.


"Tapi saya benar-benar salut dengan Anda, masih muda bahkan sudah mengetahui banyak soal bisnis."


"Tapi kalau boleh saya tau Anda memulai bisnis Distro Anda sejak kapan, karena saya perhatikan umur Anda tak beda jauh dengan anak saya, bahkan usaha kamu sudah berkembang besar seperti itu" Tambah Pak Arfan.


"Saya mulai merintisnya sejak saya masih duduk di bangku SMA pak, awalnya sih coba-coba, malah keterusan samapai sekarang dan mungkin karena keberuntungan saya saja hingga bisa seperti ini." Terang Kenan.


"Justru yang coba-coba itu bisa keterusan seperti Anda ini, dan keberhasilan bukan karena keberuntungan, tapi bagaimana kita menekuni dan menikmati apa kita kerjakan." Ucap Pak Arfan.


"Benar juga Pak." Sahut Kenan membenarkan ucapan pak Arfan, kemudian Kenan beralih melihat jam tangannya yang ternyata sebentar lagi jam makan siang.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya pamit, dan besok saya atau ayah saya yang akan kembali untuk melengkapi semua dokumennya." Pamit Kenan kemudian beranjak dari duduknya di ikuti Pak Arfan dan Calista.


Kenan berjabat tangan dengan Pak Arfan bergantian dengan Calista.


Setelah itu Kenan meninggalkan ruangan tersebut, sedangkan Calista terus memperhatikan punggung Kenan dengan tatapan berbeda sambil tersenyum samar, hingga Kenan tak terlihat di balik pintu.


Bersambung....


Like


Coment


Vote


Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2