
Selama dalam perjalanan pulang Kavi tak pernah bicara sedikitpun, begitupun dengan Kia hanya sibuk memainkan game di ponselnya, sesekali Kia terdengar mengumpat karena kalah dalam permainan.
Kia yang merasa, menoleh kearah Kavi, Kia mengerutkan keningnya karena melihat Kavi yang cemberut.
"Om...Om...." Panggil Kia namun Kavi tak menghiraukannya.
"Ya sudah, sariawan kali." Ujar Kia cuek menaikkan kedua bahunya, lalu kembali memainkan ponselnya.
Kavi yang melirik Kia sejak tadi, menjadi kesal, Kavi menghentikan mobilnya di pinggiran jalan yang lumayan sepi.
"Kok berhenti sih om ?" Tanya Kia melihat jalan sekitar.
"Mau pipis." Jawab Kavi ngasal membuat Kia menatap Kavi aneh.
"Om, kalau mau pipis tu cari toilet umum, atau masjid kek, ih jorok, masa pipis di pinggiran jalan, mana disini lumayan rame lagi." Ucap Kia.
"Ki, sebenarnya kamu beneran suka gak sih sama aku, kamunya kok cuek gitu sama om ?" Kini Kavi benar-benar terlihat serius menatap Kia, sedangkan yang di tatap menjadi semakin bingung.
"CK...Kalau aku gak beneran suka sama om, mana setuju aku membiarkan keluarga om datang buat lamar aku." Jawab Kia terlihah santai, karena memang seperti itulah Kia, semuanya dibawah santai.
Apalagi diumurnya yang masih sangat muda, ditambah lagi yang sifatnya emang bar-bar.
"Om kenapa tiba-tiba jadi bertanya seperti itu sih ?" Tanya Kia balik.
"Ya bagaimana aku gak bertanya seperti itu, kamunya kok selama kita menjalin hubungan selama itu juga kamu terlihat sangat cuek, bahkan seperti kamu gak serius gitu." Sahut Kavi menatap lurus kedepan.
"Mana tuh bocah tengik ngeselin banget lagi, kamu juga kalau bisa jaga jarak kek sama dia." Tambah Kavi menggerutu kesal mengingat perlakuan Kemal tadi.
"Hahaha...." Tawa Kia pecah melihat Kavi terus menggerutu, di tambah raut pria itu ia tekuk karena merajuk, hal itu sangat lucu menurut Kia.
Kavi menatap jengah Kia yang terus menertawakannya.
"Om...Om labil kesayangan ku, gemesin banget sih, kalau lagi kesel gini." Kia sedikit memajukan wajahnya lebih dekat lalu mencubit gemas kedua pipi kekasihnya itu.
Kavi yang melihat wajah Kia lebih dekat, seperti ada dorongan yang menuntunnya, Kavi ikut mendekatkan wajahnya, sampai kedua wajah mereka hanya berharap beberapa senti saja, Jantung keduanya berdegup lebih kencang, wajah Kia sudah memerah karena Kavi terus menatapnya.
Saat wajah Kavi lebih dekat lagi, entah kenapa Kia memejamkan matanya, sampai benda kenyal hangat menyentuh permukaan bibirnya. Karena merasa gak ada penolakan, Kavi mulai ******* bibir tipis kenyal Kia.
Karena tak ada perlawanan Kavi melepaskan tautan mereka, lalu mentap manik mata Kia, Kia yang mendapat tatapan dari Kavi langsung menundukkan wajahnya karena malu, dengan apa yang barusan terjadi.
"Kenapa tidak membalasnya ?" Tanya Kavi mengangkat dagu Kia agar melihatnya, sambil mengusap bibir Kia yang basah karena ulahnya barusan.
"A..ak..ku...Tidak tau ca..ranya." Sahut Kia gugup.
Kavi tersenyum, lalu menarik Kia masuk dalam pelukannya.
"Nanti kamu juga akan terbiasa, dan maaf atas kejadian barusan." Ujar Kavi kemudian meminta maaf, sambil mengusap lembut kepala bagian belakang Kia.
Kia terdiam sejenak, lalu mulai angkat bicara setelah membalas pelukan Kavi.
"Kenapa om meminta maaf ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Maaf karena om tidak bisa menahannya, sampai om berlaku tidak sopan karena menciummu." Terang Kavi.
Kia semakin mengeratkan pelukannya, ia benar-benar sudah jatuh dalam cinta seorang om-om seperti Kavi, Kia sangat menyukai sikap Kavi yang selalu menghargai dan juga menjaganya.
"Sudah makan belum ?" Tanya Kavi kemudian melepaskan pelukannya.
Kia menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Makan dulu yuk, aku juga belum makan." Ajak Kavi.
"Aku ijin sama ayah dulu ya om." Izin Kia di angguki Kavi.
Kia menghubungi Kenan ayahnya, sedangkan Kavi mulai menjalankan mobilnya kembali.
"Bagaimana ?" Tanya Kavi setelah Kia menyelesaikan obrolannya dengan Kenan.
"Ayah sudah ijinin kok om, kita makan bakso yang di ujung jalan sana yuk om, disana banyak menunya kok, dan yang terpenting sangat enak, juga dekat dari kompleks rumah." Jelas Kia.
"Ok permaisuri ku, pangeran siap memenuhi permintaan Anda." Ujar Kavi dengan candaannya.
...----------------...
Setelah kelasnya selesai, Khay langsung merapikan buku-buku juga laptopnya, ia masukkan kedalam tas ranselnya.
"Khay, ada seseorang yang berminat ingin bekerjasama dengan club olahragamu, terutama untuk club seoak bola tim U 22, dia ingin menawarkan untuk mengikutkan club' itu untuk bertanding di Thailand." Ujar Priska yang duduk disamping Khay.
"Kamu dapat informasi dari mana Pria, bukannya kamu tidak tertarik dengan hal-hal seperti ini ?" Tanya Doni menoleh kebelakang begitupun dengan Leo.
"Kemarin ada kolega papiku yang datang kerumah, gue gak sengaja membicarakan soal itu, lalu gue beritahu soal club yang Khay dan kalian berdua rintis." Jelas Priska.
"Kapan rencananya orang itu menemuiku ?" Tanya Khay.
"Tiga hari lagi deh kayaknya, soalnya besok orang itu akan pergi ke luar kota." Jawab Priska.
"Kamu ada kartu namanya gak ?" Tanya a Khay lagi.
"Itu dia, gue lupa minta itu, tapi nanti gue coba minta sama bokap gue deh." Sahut Priska di angguki ketiga pria disana.
"Khay habis ini Lo mau kemana ?* Tanya Leo.
"Pulang." Jawab Khay singkat kemudian beranjak dari kursinya.
"Nongkrong dulu kuy." Ajak Doni.
"Sorry gue kagak bisa, bini gue sendirian di rumah." Tolak Khay.
"Sudah gue cabut dulu." Pamit Khay kemudian keluar dari kelas meninggalkan ketiga sahabatnya.
"Emang beda ya kalau udah punya bini, jadi pengen kawin juga." Seru Doni.
"Bukannya udah sering ya ?" Sahut Leo.
__ADS_1
"Enak aja, gini-gini gue masih perjaka ting-ting, emangnya elo, setiap kencan pasti tu cewek Li kawinin." Seru Doni.
"Itu tandanya gue masih normal bro, daripada kagak bisa membuat move on katak lo." Cibir Leo.
"Kenal tempat woi, kalau mau ngomong kek gitu, gue cabut juga deh." Sahut Priska beranjak dari kursinya.
"Mau kemana lo, katanya mau ikut nongkrong bareng kita ?" Tanya Leo.
"Kagak jadi, gue males sama kalian." Sahut Priska meninggalkan kedua pria tersebut.
"Sayang, ayo !" Ajak Doni kemayu sambil merangkul lengan Leo tak lupa kepalanya ia sandarkan di bahu Leo.
"Jijik..." Ujar Leo mendorong keras kepala Doni sampai Doni terjungkal kebelakang.
"Woii sakit g*b**k." Umpat Doni sedikit berteriak karena Leo sudah pergi meninggalkan Doni tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Punya sahabat gini amat ya Allah." Keluh Doni bangun kemudian mengejar langkah Leo yang sudah keluar dari kelas.
...----------------...
Khay memasuki kamarnya, saat masuk ia di kagetkan dengan Enzy yang tertidur sambil meracau, di tambah lagi keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.
"Jangan, jangan ambil bayiku, dia bayiku, ku mohon kembalikan." Racau Enzy gelisah dalam tidurnya.
"Sayang bangun, sayang, Hay...." Khay menguncang bahu Enzy agar istrinya itu segera bangun dari mimpi buruknya.
Enzy terbangun dan langsung memeluk Khay dengan sangat erat, sambil menagis sesegukan.
"Sayang Hay, kamu kenapa, Hem ?" Tanya Khay membalas pelukan Enzy, lalu mengusap lembut punggung istrinya itu.
Enzy tak menjawab pertanyaan Khay, ia melepaskan pelukannya lalu menatap Khay dalam-dalam.
"Minum dulu ya sayang !" Seru Khay mengambil segelas air yang tersedia di atas nakas samping tempat tidur.
Enzy meneguk air minum itu dibantu oleh Khay.
"Sekarang cerita ! Ada apa, kamu mimpi apa sayang, Hem ?" Tanya Khay merapikan rambut Enzy kebelakang telinga, yang menghalangi sebagian wajah istrinya.
"Tadi aku mimpi, seseorang mengambil anak kita, dia membawanya sangat jauh dari kita, sampai aku tidak bisa mengejarnya." Jelas Kia kembali menangis sambil memegangi perut buncitnya.
"Sayang kamu jangan khawatir ya, itu hanya bunga tidur, ok !" Khay menarik Enzy masuk kedalam pelukannya kembali, mengecup pucuk kepalanya agar istrinya itu lebih tenang.
"Tapi Khay, itu seperti benar-benar nyata, aku takut terjadi sesuatu hal yang buruk dengan anak kita, aku benar-benar takut." Sahut Enzy mengeratkan pelukannya.
"Tenang ya, kita berdoa kepada Allah, kita berdoa agar kamu, baby kita selalu dalam lindungannya, dan semoga saja tidak akan terjadi apa-apa, ok !" Seru Khay yang hanya di balas anggukan oleh Enzy, Enzy benar-benar takut dengan mimpinya barusan, mimpi itu selalu terbayang-bayang dipikirannya, dikala ia menutup matanya.
Bersambung.......
Jangan lupa terus berikan dukungan Like Koment dan Vote sebanyak-banyaknya, dan author sangat-sangat berterimakasih karena sudah mengikuti cerita author sampai episode ini, maaf jika alurnya membosankan, tapi seperti itu alurnya, Author sengaja buat sedikit santai sebelum kejutannya muncul.
...TERIMAKASIH...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...