
Kia masuk ke kelasnya mencari keberadaan sahabatnya Prilly, namun ia tak menemukan gadis itu, Kia meletakkan tasnya di atas mejanya, kemudian melangkahkan kakinya, keluar dari kelas menuju kantin, Kia yakin kalau sahabatnya itu sudah pergi ke kantin.
Kia jalan dengan sedikit terburu-buru, sampai tak sengaja menabrak punggung lebar seseorang membuatnya ia mundur beberapa langkah sambil memegangi keningnya yang sedikit ngilu akibat benturan tersebut.
"Kalau jalan liat-li....." Kia tak meneruskan ucapannya karena yang ia tabrak itu adalah tak lain dan tak bukan ialah Kavi.
"Maaf pak, saya permisi." Ucap Kia lalu buru-buru ingin meninggalkan tempat tersebut namun dengan cepat Kavi mencegahnya.
"Tunggu !" Seru Kavi.
"Maaf pak saya buru-buru, saya juga minta maaf atas kejadian barusan." Ujar Kia ingin melangkah kakinya kembali namun lagi-lagi Kavi mencegahnya dan kalo ini Kavi memegang lengannya.
"Maaf Pak, bapak jangan bersikap seperti ini, ini sekolah pak, tidak seharusnya seorang guru melakukan itu pada muridnya !" Ujar Kia menekankan kata-katanya, sambil melepas tangan Kavi yang memegang lengannya.
"Uhhfffttt...." Kavi menghembuskan nafasnya pelan, sambil menatap Kia yang sejak tadi tidak pernah mau menatapnya.
"Kia apa kita bisa berbicara sebentar, hanya sebentar Kia, aku mohon padamu !" Ucap Kavi sedikit memohon.
"Maaf pak, saya harus ke kantin, ada hal penting yang harus aku kerjakan." Ucap Kia lalu pergi begitu saja, untung saja saat ini, koridor sedang sepi, jadi tak ada yang melihat kejadian barusan.
...----------------...
Karena sudah tak ada lagi jadwal kelas yang Kavi ajarkan, Kavi memutuskan untuk pergi ke kantornya.
Dalam perjalanan Kavi hanya memikirkan sikap dingin Kia, apalagi Kia terus menghindarinya.
"Aku gak tahu apakah ini berhasil, tapi aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu Ki, dan aku juga akan membuat ayah kamu percaya kepadaku, tak peduli berapa banyak waktu yang di butuhkan untuk sampai pada saat itu nanti." Ucap Kavi.
Kavi memasuki ruangan Rio selaku wakil CEO perusahaan milik Kavi, sekaligus sahabatnya itu dengan langkah gontai, sambil menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"Ada apa pak Kavi, bagaimana hari pertama Anda menjadi seorang guru ?" Ucap Rio beranjak dari kursinya, menuju sofa dimana Kavi menjatuhkan dirinya begitu saja, sambil menyenderkan kepalanya.
"Cukup menyenangkan." Sahut Kavi memejamkan matanya.
"Gue yakin." Ucap Rio Santai melihat keadaan Kavi saat ini, begitu terlihat berantakan.
"Ini baru hari pertama, gue akan terus mendekatinya, sampai ia jatuh cinta ke gue, kamu tunggu aja !" Ucap Kavi yakin lalu membenarkan posisi duduknya menjadi tegak.
"Apa kamu yakin, bagaimana jika tuan Kenan mengetahui akan hal ini, bisa-bisa perusahaan kita yang akan terkena imbasnya juga." Ucap Rio.
"Kamu tidak usah khawatir soal itu, gue sudah sangat mengenal tuan Kenan, dia tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan." Ujar Kavi terlihat sangat yakin.
"Tapi ini berbeda Kav, ini menyangkut soal putrinya, gue hanya tidak ingin kamu menyesal dikemudian hari." Rio berusaha memperingati sahabat sekaligus bosnya itu.
__ADS_1
Kavi hanya terdiam mendengar penuturan Rio, sebenarnya ia juga sedikit khawatir, bagaimana jika Kenan menarik semua sahamnya di perusahaannya, dan sudah di pastikan perusahaannya akan mengalami kerugian yang cukup besar.
"Kav, sekali lagi gue peringatkan, jangan terlalu melangkah lebih jauh, bukannya gue tidak mendukung kamu soal mendapatkan cinta kamu, tapi please Kav, pikirkan juga resikonya jika kamu bermain-main dengan tuan Kenan, walaupun jika menarik semua sahamnya, tidak akan membuat perusahaan kita bangkrut, tapi dengan beliau bergabung dengan perusahaan kita, gue yakin perusahaan kita akan lebih maju." Jelas Rio panjang lebar.
"Gue mengerti apa yang kamu katakan Rio, tapi gue gak mau lagi kehilangan wanita yang aku cintai, walaupun gue harus melalui resiko yang berat dan sulit, gue akan tetap mempertahankan dan mendapatkannya." Ujar Kavi kemudian beranjak dari tempat tersebut.
"Mau kemana Kav ? Ada berkas yang harus kamu tanda tangani." Seru Rio.
"Bawa ke ruangan gue !" Sahut Kavi keluar dari ruangan tersebut.
"Gue harap apapun yang kamu lakukan akan menjadi baik buat kamu Kav, sudah cukup penderitaan kamu dimasa lalu, gue yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan ini." Ucap Rio menatap kepergian sahabatnya itu.
...----------------...
Di kampus tempat Khay dan Enzy kuliah, terlihat Enzy jalan terburu-buru menghampiri Khay yang sudah menunggunya di parkiran.
"Sayang, pelan-pelan aja jalannya !" Ucap Khay meringis melihat Enzy yang sedikit berlari menuruni gundukan tangga menuju parkiran.
"Hehehe, aku lupa yank." Ucap Enzy cengengesan.
"Lain kali jangan seperti itu lagi ! Ingat sekarang kamu lagi hamil, ada anak kita didalam, aku tidak ingin kalian kenapa-napa !" Omel Khay kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
"Iya Yank, maaf." Ucap Enzy bergelayut manja di lengan suaminya itu, sambil memperlihatkan wajahnya seimut mungkin, agar suaminya itu berhenti mengomel.
"Emmuaacch...." Enzy mencium pipi Khay sekilas lalu masuk kedalam mobil.
Khay yang mendapat serangan mendadak tersenyum sendiri, seketika kekesalannya hilang begitu saja.
"Yank, buruan masuk !" Teriak Enzy karena Khay masih saja berdiri mematung di samping mobilnya.
Khay tersenyum, lalu menutup pintu mobil bagian penumpang, lalu dengan cepat masuk ke bagian kemudinya.
Tanpa mereka sadari ada sosok wanita yang memperhatikannya sejak tadi dari dalam mobil tak jauh dari tempat mereka parkir, wanita itu menatap Enzy dengan tatapan membunuhnya, sambil memegang keras kemudi mobilnya.
"Awas kamu Nzy, gue enggak akan membiarkan kebahagiaan kamu bertahan lebih lama, gue akan merebut Khay darimu." Geram wanita tersebut dengan wajah memerah karena amarahnya.
...----------------...
"Yank, kita mampir ke supermarket dulu yuk !" Ucap Enzy bergelayut manja di lengan kiri Khay, sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Emang kamu mau beli apa, sayang?" Tanya Khay tetap fokus jalan didepannya.
"Aku pengen banget makan, buah srikaya." Sahut Enzy.
__ADS_1
"Srikaya ?" Tanya Khay sedikit menunduk menatap Enzy sekilas, lalu kembali fokus di depan.
"Iya..." Jawab Enzy sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi sayang, buah itu cukup sulit di dapatkan." Ucap Khay.
"Makanya kita coba mampir dulu di supermarket, kalau tidak ada disitu kita cari di tempat lainnya aja, soalnya aku pengen banget makan itu." Rengek Enzy terdengar sangat manja.
"Ya sudah, tapi kalau tidak ada di supermarket, aku anterin kamu pulang dulu ya sayang, biar aku yang cari, kamu harus banyak istrirahat." Ujar Khay dan langsung di angguki semangat oleh Enzy.
...----------------...
Karena tak mendapatkan di supermarket, Khay langsung mengantarkan Enzy pulang kerumah, sebelum ia mencari buah yang diidamkan istrinya yaitu buah srikaya.
"Bang, kamu mau kemana lagi, kok kamu langsung mau pergi lagi ?" Tanya Diva melihat putranya itu kembali masuk kedalam mobilnya.
Diva baru saja tiba dirumah, sepertinya Diva baru saja pulang dari kantor suaminya terlihat sebuah tas kotak makan yang ia bawa ditangannya.
"Iya Bun, Enzy ingin makan buah srikaya, tapi di supermarket yang kami lewati tidak ada, makanya aku mau cari ketempat lain." Jelas Khay membuka pintu mobilnya.
"Oh, coba kamu cari di rumah uncle Ray, sepertinya dia ada pohon srikaya." Usul Diva.
"Oh iya-iya Bun, aku kok bisa lupa, disanakan banyak pohon buah." Ucap Khay kemudian pamit pada bundanya.
"Aku boleh ikut gak ?" Sahut Enzy ingin ikut.
"Engga usah sayang, kamu istrirahat saja !" Sahut Khay.
"Iya, sayang, lebih baik kita masuk dan istrirahatlah, ingat kata dokter kamu harus banyak istrirahat." Sahut Diva menimpali.
"Biak Bun, kamu hati-hati yank !" Sahut Enzy lalu beralih pada suaminya.
"Iya sayang." Sahut Khay.
Khay pun menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman utama milik keluarga Kenan, menuju kediaman uncle nya, ia berharap dia akan mendapatkan buah yang dinginkan istrinya disana.
Bersambung........
Buah Srikaya
Jangan lupa budayakan *LIKE, KOMENT,DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA BUAT AUTHOR YANG MASIH AMATIRAN INI, DAN TERUS PANTENGIN TERUS JALAN CERITANYA, SEMOGA SUKA YA.......
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏*