
Matahari pagi sudah bersinar terang, bahkan sinar yang menembus dicela jendela kamar hotel pengantin baru itu, tidak membuat keduanya terganggu, keduanya tampak tidur dengan sangat nyenyak dan nyaman sambil berpelukan.
Ttrrrttt.... Ttrrrttt... Ttrrrttt....
Suara getaran ponsel Kia yang berada tepat di atas nakas samping tempat tidur bergetar hingga beberapa menit, membuat Kia perlahan membuka matanya karena merasa terganggu.
Kia meraih ponselnya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
📞 "Hallo....." Ucap Kia serak setelah menjawab panggilan tersebut.
📞 "Astaga mentang-mentang pengantin baru, jam segini baru bangun." Ucap seorang wanita di seberang sana.
Kia membuka matanya sempurna saat melihat nama yang tertera di ponselnya.
📞 "Bunda." Pekik Kia dengan cepat ia bangun tanpa melepaskan pelukan Kavi yang masih melingkar nyaman di perutnya.
"Sayang, kenapa teriak ?" Tanya Kavi serak tanpa membuka matanya, kemudian kembali memeluk pinggang Kia yang kini sudah setengah sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.
"Mas, bangun ini udah siang." Ujar Kia pelan takut bundanya mendengar karena sambungan telpon mereka masih terhubung.
Bukannya bangun Kavi malah semakin mengeratkan pelukannya.
📞 "Sayang, kamu masih disana kan, apa kalian baik-baik saja ?" Ujar Diva terdengar khawatir.
📞 "I..ya Bun, kami gak apa-apa kok." Jawab Kia.
📞 "Syukurlah kalau begitu, bunda hanya mau bilang kalau bunda, ayah dan yang lainnya akan pulang kerumah masing-masing." Ujar Diva.
📞 "Kok bunda pulang duluan ? Kita pulang bareng aja." Ucap Kia.
📞 "Gak bisa sayang, kami gak bisa nungguin kalian, ayah ada pekerjaan mendadak di kantor dan pagi ini juga ayah harus kesana." Jelas Diva.
📞 "Emmm gitu ya, ya sudah kalau gitu hati-hati ya Bun, sebentar lagi aku sama mas Kavi juga akan segera pulang kerumah." Ujar Kia.
📞 "Gak usah buru-buru untuk pulang sayang, nikmati aja dulu waktu kalian." Ucap Diva terdengar menggoda.
📞 "Ishhh Bunda." Rengek Kia.
📞 "Hehehe... Ya sudah bunda tutup dulu ya sayang, assalamualaikum." Ucap Diva di iringi dengan kekehannya, kemudian mengakhiri panggilannya setelah Kia menjawab salamnya.
Setelah panggilannya berakhir Kia meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian beralih menatap suaminya yang kembali tertidur lelap sambil memeluknya.
"Mas...Mas... Bangun ayo, ini udah siang banget !" Seru Kia membangunkan Kavi, namu sepertinya pria itu masih tak bergeming. Kia membiarkan suaminya itu tetap tertidur, kemudian dengan perlahan melepaskan lengan kekar Kavi yang melingkar di pinggangnya, Kia merasa sudah sangat lengket dan tak enak karena sisa aktivitas mereka semalam. Dengan langkah yang tertatih Kia masuk kedalam kamar mandi, karena selangkangannya masih terasa perih.
Sekitar dua puluh lima menit, Kia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi yang melekat pada tubuhnya, saat melihat ke arah tempat tidur ia tak mendapatkan suaminya disana, hanya ada tempat tidur yang berantakan akibat pergulatan mereka semalam.
"Mas..." Panggil Kia sedikit berteriak.
"Mas..." Kia kembali memanggil suaminya itu karena sama sekali tak ada jawaban.
Netra Kia tertuju pada pintu balkon yang terbuka setengah, Kia mulai melangkahkan kakinya menuju sana, karena ia yakin suaminya berada disana.
"Mas, ternyata di sini." Ucap Kia berdiri di ambang pintu balkon ketika melihat suaminya sedang menikmati secangkir kopi sambil menikmati udara pagi itu, masih mengenakan jubah handuknya.
__ADS_1
"Ada apa sayang ?" Sahut Kavi menoleh menatap istrinya yang kini terlihat rapi dengan pakaian santainya.
"Di cariin dari tadi, ngapain sih disini." Ucap Kia berjalan mendekati suaminya.
"Lagi menghirup udara segar sayang, lagian kamu mandi gak pakai nungguin aku sih." Ujar Kavi menarik tubuh kecil Kia lalu memeluknya dari belakang kemudin menghadap suasana perkotaan di bawah sana.
"Kenapa mesti di tungguin mas, aku hanya mandi, lagian mandinya juga masih di dalam kamar bukan ?"
"Maksud mas, kita mandi bareng sayang." Terang Kavi mencium aroma vanilla Kia pada celuruk lehernya.
"Mas geli ih, awas sana mandi dulu !" Seru Kia saat Kavi terus menciumi leher jenjang miliknya.
"Sebentar sayang, aku masih pengen seperti ini." Ucap Kavi tak terdengar jelas karena masih bermain di leher Kia.
"Tapi aku geli mas."
"Geli, juga kamu nikmatin sayang."
Kia tak bisa lagi berkata apa-apa, ia hanya menggelengkan kepalanya membiarkan suaminya itu bermanja-manja padanya.
Sudah sekitar 15 belas menit Kia kembali angkat bicara.
"Mas, Ayah, bunda sama yang lainnya udah pada pulang, kita pulang juga ya, aku udah gak betah disini." Ucap Kia.
Kavi yang masih beta menghirup aroma di celuruk leher istrinya mendongak, menumpuhkan kepalanya pada bahu Kia.
"Kok gak betah, kan ada aku sayang, besok aja ya kita pulangnya ?" Ujar Kavi.
"Kenapa gak tahu harus mau ngapain, kan ada aku kitakan bisa main, namanya juga pengantin baru, anggap aja ini hanimoon kita." Ujar Kavi.
"Main apaan, kayak anak kecil aja pakai main."
"Main kuda-kudaan sayang."
"Udah aki-aki juga, lagian aku gak kebayang aku naik di atas punggung mas, bukannya seru-seruan malah jadi encok." Ujar Kia polos, iaengira main kuda-kudaan yang dimaksud Kavi main seperti anak kecil naik di atas punggung ayahnya lalu berjalan sambil merangkak.
Kavi yang mendengar penuturan istrinya membelalakkan matanya keget, benar-benar polos kamu sayang, padahal semalaman sudah aku nodai, masa belum juga ngerti sih. Pikir Kavi.
"Sayang bukan begitu konsepnya." Ucap Kavi gemas, kemudian membalikkan badan Kia menghadapnya.
Kia mengeryitkan keningnya bingung.
"Maksud mas, kita main seperti semalam." Bisik Kavi tepat di dekat telinga Kia, membuat Kia kegelian apalagi saat Kavi sedikit meniupnya membuat Kia merinding.
"Ishhh mas, aku masih sakit loh ini." Ucap Kia kemudian sedikit meninggikan suaranya.
"Tapi say....
"Gak ada mas, pokoknya hari ini kita pulang kerumah ayah, TITIK." Ujar Kia menegaskan kata terakhirnya lalu melepaskan tangan Kavi yang sejak tadi melingkar di pinggangnya lalu berjalan mesum kamar.
"Mas, pesan makanan, aku udah lapar, setelah itu mas mandi ! Ujar Kia kembali menoleh setelah sampai di depan pintu.
__ADS_1
"Iya sayang, cerewet amat sih." Ucap Kavi terkekeh melihat sikap istrinya.
"Buru !" Seru Kia.
"Iya, ini mas udah mau masuk." Sahut Kavi menurut.
Setelah memesan makanan, Kavi masuk kemar mandi untuk membersihkan badannya, sambil menunggu makanan juga Kavi mandi, Kia membereskan tempat tidurnya yang amat sangat berantakan, saat Kia merapikan selimutnya, Kia di kagetkan dengan bercak darah yang menodai sprei putih tersebut.
"Massss...." Teriak Kia histeris membuat Kavi yang didalam sana kaget, dan langsung keluar hanya menggunakan handuknya.
"Ada apa sayang, kamu kenapa ?" Panik Kavi memeriksa seluruh tubuh istrinya.
"Mas itu !" Kia menunjuk bercak darah tersebut.
Kavi mengikuti arah tunjuk Kia, lalu melihat ada bercak darah disana.
"Oh, darah ! Itu dar....
"Mas, itu darah apa, kok itu tepat di sisi tempat aku tidur, padahal aku gak mens loh, tapi kok ada darah, aku kenapa ?" Panik Kia menyela saat Kavi mau menjelaskan.
"Gini amat punya istri anak-anak, mana masih polos lagi." Gumam Kavi.
"Kamu bilang apa mas ?" Tanya Kia karena tak mendengar jelas gumaman suaminya.
"Sayang, itu benar darah kamu, darah kamu saat pertama kalinya kamu melakukan hubungan suami-istri, dan itu wajar." Jelas Kavi.
"Pantesan sakit banget." Celetuk Kia polos membuat Kavi semakin gemas melihat istrinya.
"Btw mas, apa gak perlu kita ke rumah sakit ? Aku takut terjadi apa-apa sama aku karena semalam." Ujar Kia.
"Gak perlu sayang, walaupun jika terjadi sesuatu padamu, palingan perut kamu aja yang buncit sampai sembilan bulan." Sahut Kavi jengah.
"Itu kamu bilang palingan, kalau aku sakit parah bagaimana, itu perut buncit sampai sembilan bulan kamu remehkan banget sih mas, bagaimana kalau aku mati, atau kamu gak beneran sayang ya sama aku." Oceh Kia menatap tajam Kavi.
"Astaga sayang...." Gemes Kavi kemudian menghirup nafas kasar.
"Kamu gak bakal kenapa-napa sayang, palingan kamu hamil, itu maksud aku." Jelas Kavi.
"Apa hamil ? Kok bisa ?" Kaget Kia berteriak.
"Au ah.... Aku mau terusin mandi aku, aku belum pakai sabun ini." Jengah Kavi meninggalkan Kia yang masih bingung.
"Mass....! Teriak Kia.
"Jangan di pikirkan lagi sayang, mending kamu lanjutin aja beres-beres nya !" Kavi ikut berteriak karena sudah masuk ke kamar mandi.
Bersambung......
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
__ADS_1
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...