
Setelah sholat isya, Kenan, Diva pergi untuk makan malam di kantin rumah sakit, sementara Ray dan Lani, pulang terlebih dahulu, setelah Enzy dipindahkan di ruangan perawatan, sementara Khay, ia tak pernah beranjak dari kursi yang berada di dekat brangkar sang istri, saat Khay sibuk memperhatikan istrinya yang masih terlelap, tiba-tiba tangan Enzy perlahan bergerak.
"Sayang..." Ujar Khay saat melihat istrinya itu membuka matanya perlahan, Khay langsung beranjak dari duduknya kemudian mendekatkan dirinya pada wajah Enzy, lalu mengecup keningnya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang, apanya yang sakit, mau minum, atau butuh sesuatu yang lain, Hem ? Khay langsung memberondong Enzy dengan pertanyaan.
Enzy tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, Enzy mengulurkan tangannya, tandanya ia ingin bangun, Khay yang mengerti langsung membantu istrinya itu, saat baru bangun, tiba-tiba saja Enzy meringis kesakitan, dan memegang perutnya yang terasa ngilu. Enzy membelalakkan matanya menatap Khay.
"Bayi kita, dimana bayi kita, kenapa perut aku rata begini ?" Enzy langsung panik saat melihat perutnya tak lagi buncit.
"Khay, jawab ! Bayi kita dimana ?" Enzy kembali bertanya sambil menggoyang-goyangkan lengan Khay, air matanya sudah mulai keluar, ia sudah bisa menebaknya kalau ia keguguran karena tidak mungkin melahirkan, karena kandungannya masih kurang lebih enam bulanan.
"Sayang..." Khay meraih tubuh istrinya itu lalu memeluknya dengan erat.
"Khay, jangan bilang kalau....
"Iya, sayang, anak kita tidak bisa di selamatkan, sekarang kamu tenang ya ! Kamu juga tidak boleh stres yang berlebihan, karena itu bisa mengganggu masa pemulihan mu." Ucap Khay memberikan pengertian untuk sang istri sambil mengusap pelan punggung wanitanya.
"Khay, anak kita, ini semua karena salahku, aku tidak bisa menjaga bayi kita Khay, aku bukan calon ibu yang baik." Ucap Enzy menangis menyalahkan dirinya sendiri.
"Sayang, ini semua sudah takdir yang diberikan Allah sayang, kamu harus ikhlas, insyaallah Allah akan menggantikan yang lebih nantinya." Ucao Khay, sebenarnya ia juga merasa sedih melihat istrinya menangis seperti itu, namun sebisa mungkin ia tahan.
"Khay, Enzy kenapa ? Tanya Diva tiba-tiba saja masuk.
Enzy melepaskan pelukannya saat melihat kedatangan kedua mertuanya.
"Bunda, bayi aku Bun, bayi aku, dia telah tiada." Enzy kembali terisak.
Diva langsung berjalan menghampiri menantunya itu, lalu memeluknya.
"Sayang, bunda tahu, sekarang perasaan kamu pasti sedih banget, bunda ngerti sayang, tapi, kamu tidak boleh seperti ini, kamu harus bisa lebih tabah ya sayang ! Mungkin ini belum rezeki kita, dan cobalah untuk ikhlas menerima semua cobaan ini, insyaallah, Allah pasti akan membalasnya kelak." Ucap Diva menenangkan menantunya itu.
"Iya Bun, tapi aku masih belum menyangka ini akan terjadi." Sahut Enzy masih terisak dalam pelukan bundanya.
"Sudah ya sayang, sekarang yang harus kamu pikirkan, adalah untuk segera bisa pulih kembali, jalanin kehidupan kalian dengan baik, oke sayang !" Ucap Diva lembut yang hanya di angguki Enzy.
"Ya sudah, kamu pasti belum makan apapun, bukan ? Sekarang kamu makan ya, suami kamu juga sejak tadi belum makan, katanya dia nungguin kamu sadar dulu !" Seru Diva melepaskan pelukannya perlahan.
Enzy kemudian beralih melihat ke arah Khay suaminya.
"Mau makan apa sayang ?" Tanya Khay tersenyum.
"Terserah, yang penting kamu juga makan." Sahut Enzy.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian makanlah dulu, tadi bunda sudah membeli makanan untuk kalian." Timpal Diva.
"Iya Bun." Sahut Khay dan Enzy hampir bersamaan.
Khay berjalan ke arah meja makan yang ada diruangan tersebut, lalu mengambil makanan yang di maksud bundanya.
"Baiklah, kalau begitu ayah sama bunda pulang dulu ya Bang, setelah kalian makan segeralah istirahat." Ucap Kenan.
"Dan satu lagi, untuk kamu bang, besok jam 10 pagi kamu datang ke kantor polisi untuk menangani masalah ini Priska, pengacara akan menunggumu besok disana." Tambah Kenan.
"Baik Yah." Sahut Khay mengiyakan.
...----------------...
Di kantor polisi
Tampak orangtua Priska datang menjenguk putrinya yang katanya di tahan pihak berwajib.
"Priska !" Ucap mami Priska saat melihat putrinya itu di antar seorang polisi wanita untuk menemuinya di sebuah ruangan khusus.
"Mami...." Ucap Priska langsung memeluk wanita yang masih tampak muda itu, sambil menangis, sedangkan papi Priska hanya bisa diam, papinya merasa sangat kecewa dengan apa yang diperbuat putrinya itu, ia sudah merasa sangat tercoreng di hadapan keluarga besar Kenan.
"Sudah ya, diam, ok !" Ucap mami Priska melepaskan pelukan Priska perlahan.
Pasalnya selama ini orangtuanya jarang berada dirumah, kedua orangtuanya hanya sibuk mementingkan pekerjaan mereka, sehingga Priska selalu merasa kesepian dan kekurangan kasih sayang.
"Baru saja, itu karena kami mendapat kabar kalau kamu berbuat masalah, masalah yang begitu besar dan memalukan, membuat kami sudah tak lagi punya muka di depan Keluarga tuan Kenan, beserta keluarga besarnya." Jelas papi Priska mulai geram menatap putrinya itu.
"Pi, diamlah ! Anak kita lagi sedang terkena masalah, tidak seharusnya kamu memarahinya seperti ini !" Seru mami Priska pada suaminya.
"Belain aja terus, dia menjadi liar seperti ini, karena kamu, kamu sebagai maminya tidak pernah mau tinggal dirumah untuk menjaganya atau menasehatinya." Papi Priska mulai menyalahkan istrinya.
"Enak aja menyalahkanku, kamu juga sebagai papinya, juga tidak pernah memberikan perhatian lebih, hanya sibuk dengan pekerjaan, tidak pernah meluangkan waktu untuk keluaragamu." Mami Priska ikut membalas tak kalah sengitnya.
"Stop ! Ujar Priska menutup kedua telinganya.
"Jika kalian kesini untuk bertengkar, lebih baik kalian pergi, tidak usah mempedulikanku disini." Ujar Priska.
Keduanya berhenti untuk saling menyaahkan, lalu kembali fokus pada Priska.
"Kenapa aku harus dilahirkan ? Ujar Priska menangis sambil menundukkan wajahnya di atas meja.
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu ?" Ucap mami Priska.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang peduli denganku, atau menyayangiku, bahkan tak ada satupun orang yang mencintaiku, jadi buat apa aku dilahirkan, mi, buat apa ?" Ujar Priska terisak.
"Priska apa yang kau katakan, berhenti bicara seperti itu, jangan membuat masalah lagi !" Bentak papi Priska.
Priska mengangkat wajahnya menatap kedua orangtuanya bergantian sambil tersenyum mengejek.
"Papi, mami, tidak pernah menyayangiku, mencintaiku, bahkan sejak kecil aku selalu sendirian, tidak ada yang peduli denganku, kalian selalu saja sibuk, hingga sampai orang yang ku anggap mencintaiku, kini juga meninggalkanku, semuanya telah pergi !" Ujar Priska panjang lebar, kemudian tersenyum miris mengingat nasibnya sekarang.
"Aku sakit, aku terluka, tapi tak ada satupun orang yang peduli, jadi buat apa lagi aku hidup." Lanjut Priska.
"Biarkan aku mati saja..." Tangisan Priska pecah.
Mami Priska merasa sangat iba melihat putrinya saat ini, mami Priska sadar jika selama ini ia salah telah mengabaikan putrinya itu. Wanita paruh baya itu langsung meraih putrinya itu masuk kedalam pelukannya, lalu ikut menangis.
"Kamu bilang tak ada yang peduli, mami sangat peduli dan menyangimu sayang, mulai saat ini mami janji akan selalu ada di dekatmu, mami janji sayang." Ujar mami Priska.
"Terlambat mi, semuanya telah terlambat, Priska yakin, Priska akan mendekam di penjara karena perlakuan yang telah aku perbuat." Ucap Priska sudah pasrah.
"Tidak sayang, mami akan berusaha mengeluarkan mu dari sini, setelah itu kita akan pindah dari negara ini." Ujar mami Priska sedangkan papi Priska hanya diam, ia tak bisa lagi mengatakan apapun, ia juga merasa sangat mengasihani putrinya, namun tidak ada lagi jalan untuk membebaskan Priska dari jeruji besi karena perbuatannya, apalagi yang dilawan adalah orang yang sangat berpengaruh di negara ini.
"Tidak mi, mami tidak perlu repot-repot, aku sudah pasrah menerima semuanya, ini semua balasan yang harus aku tanggung karena perbuatanku, aku sadar, aku salah, dan jika aku bebas, aku tidak akan pernah hidup tenang karena rasa bersalah itu yang terus membelenggu di hatiku." Ucap Priska.
"Tapi sayang, mami tidak ingin....
"Mi, please dengarkan aku untuk kali ini saja." Priska menyela perkataan maminya.
"Pi, putri kita Pi." Mami Priska beralih pada suaminya.
Papi Priska meraih anak dan istrinya masuk kedalam pelukannya, membuat Priska merasa sangat senang karena sudah lama ia tak dipeluk seperti ini, dan berkumpul dengan keluarganya.
"Mi, putri kita benar, dan papi bangga dengan putri kita karena ia mau mempertanggung jawabkan kesalahannya, jadi turutilah permintaannya." Ujar papi Priska.
"Makasih Pi, Mi, kalian mau menemuiku, aku sangat senang, sudah lama kita tidak berpelukan seperti ini, bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kalinya kita berpelukan seperti ini." Ucap Priska. Entah bagaimana perasaannya, apakah ia harus merasa senang dan bersedih.
Bersambung.......
Jangan lupa terus berikan LIKE, jika layak diberikan LIKE menurut kalian, dan juga KOMENTAR, jika ada saran ataupun masukkan dari kalian, dan juga menurut perasaan readers mengenai episode ini, Dan satu lagi VOTE jangan lupa jika memang pantas bisa untuk diberikan VOTE....
Mampir juga ke cerita author berjudul DENDAM MEMBAWAH CINTA....
...TERIMAKASIH...
...🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏 ...
__ADS_1