
Masih di rumah sakit.
Diva Lani, dan anak-anak masih menunggu di depan ruang ICU, karena saat ini Enzy sudah di pindahkan di ruangan tersebut. Mereka semua menunggu Kenan dan Ray yang sedang mengurus semua administrasi perawatan Enzy dan kepulauan jenazah Rafa dan keluarganya.
"Bun, apa Oma dan Opa sudah bunda kabari ?" Tanya Khay.
"Astaga bunda sampai lupa bang, sekarang kamu kabari mereka ya ! Soalnya bunda enggak bawa ponsel, ayah juga pasti lupa mengabari mereka." Seru Diva.
Khay langsung menuruti perintah dari bundanya, ia menghubungi kedua opa dan omanya yang ada di kota Z, mengabari akan hal ini.
Mereka sama-sama terkejut dan tak menyangka mendengar kabar yang disampaikan Khay, dan mereka langsung berangkat ke kota Xx malam itu juga.
"Opa sama Oma katanya mereka berangkat malam ini juga Bun." Ucap Khay dan di balas anggukan oleh Diva.
Jenazah Rafa, Hera dan keluarganya akan di makamkan di kota Xx, atas keputusan Diva dan Lani, lagian Rafa sudah tak memiliki sanak saudara di kota Z, yang akan mengurus pemakaman kedua sahabatnya itu.
Tak lama Kenan dan Ray datang setelah menyelesaikan semua administrasinya, dan jenazahnya siap untuk dibawa pulang.
"Yank, jenazahnya akan segera dibawah pulang, biar perawat yang menunggu Enzy untuk sementara sampai acara pemakaman selesai." Ucap Kenan mendekati istrinya.
"By', aku mau lihat Rafa dan Hera untuk yang terakhir kalinya terlebih dahulu." Ucap Diva.
"Aku juga ya pa." Ujar Lani.
"Ya sudah, tapi hanya sebentar saja yank, soalnya enggak baik jika jenazahnya tidak segera di makamkan." Ujar Kenan dan di angguki Diva.
Diva maupun Lani berjalan menuju kamar jenazah, saat membuka pintu, Diva dan Lani menghentikan langkahnya, lagi-lagi keduanya tak bisa menahan tangisannya melihat kedua sahabatnya terbujur kaku dengan di tutupi dengan kain putih.
Diva saling berpegangan tangan, saling memandang satu sama lain untuk saling menguatkan.
Mereka kembali melanjutkan langkahnya menghampiri brangkar jenazah kedua sahabatnya.
Dengan tangan bergetar Diva membuka kain penutup Rafa, sedangkan Lani membuka kain penutup Hera.
Diva mencoba menyentuh tangan sahabat sejak kecilnya itu, dengan air matanya yang terus saja keluar begitu saja, tak ada hentinya, saat merasakan tangan dingin dan wajah pucat Sahabatnya yang sudah ia anggap saudara nya sendiri.
Diva maupun Lani hanya bisa terisak, tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, tenggorokannya tersekat bagaikan ada sebuah benda besar di sana, dada mereka sesak mengingat apa yang telah terjadi, keduanya masih berharap kalau ini hanyalah sebuah mimpi.
"Raf, Ra, ke..na...kenapa kalian pergi begitu cepat meninggalkan kami ?" Akhirnya kalimat itu berhasil keluar dari mulut Diva setelah bersusah payah, Diva terus saja terisak.
__ADS_1
"Raf, Ra, aku masih berharap kalau ini hanya mimpi." Ucap Lani juga terisak.
"Raf, rasanya baru kemarin kamu menghubungi kami, kalau kamu akan mengantarkan putrimu ke rumah kami, untuk kau titipkan sementara waktu, sebelum pindah ke apartemen, karena kamu ingin putrimu melanjutkan studinya di kampus yang sama dengan anak-anak kami." Ucap Diva.
"Kamu benar-benar sudah mengantarkan putrimu untuk bersama kami Raf, kamu benar-benar menitipkan putri kamu bukan untuk sementara saja, tapi untuk selamanya." Lanjutnya.
"Aku janji Raf, aku akan menjaga putrimu seprti anak kandungku sendiri, kamu enggak usah khawatir, semoga kamu bisa bahagia disana bersama dengan Hera." Diva terus berucap meggegam kuat tangan Rafa sambil menundukkan kepalanya.
"Iya Ra, kamu jangan khawatir kami semua akan menjaganya, menyayanginya seperti kamu dan Rafa menyayangi dan memperlakukannya." Tambah Lani juga menggenggam erat tangan dingin sahabatnya itu.
"Raf, Ra, apa yang harus aku katakan nanti kepada Enzy, setelah ia sadar, aku takut dia tak bisa menerima akan hal ini, tolong bantu aku Raf, Ra, aku tidak sanggup melihatnya bersedih, karena dia pasti sangat terpukul nantinya." Ucap Diva.
"Iya Ra, kami benar-benar mengkhawatirkannya." Timpal Lani.
"Raf, Ra, kalian berbahagialah disana, aku yakin kalian pasti melihat kami dari sana." Ucap Lani.
Tak lama Kenan dan Ray dan juga anak-anak masuk, semuanya tampak sama memperlihatkan wajah kesedihan saat melihat wajah Rafa dan Hera sudah pucat terbujur kaku.
"Yank, sudah waktunya kita bawa pulang jenazahnya." Ucap Kenan merangkul bahu istrinya.
"Iya by', lebih cepat lebih baik, aku sudah tak sanggup melihatnya." Ucap Diva masih saja mengeluarkan air matanya, ia merasa sangat kehilangan sahabat sejak kecilnya dana tentu sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Setelah mengurus semuanya Kenan dan keluarganya pulang begitupun dengan Ray, mobil mereka beriringan dengan mobil ambulance yang membawa ke enam jenazah, sirine ambulance terdengar jelas di malam itu, di tambah lagi tiba-tiba hujan mengguyur kota Xx seakan mengerti dengan kesedihan yang di rasakan Diva dan yang lainnya.
Setibanya di kediaman Kenan, jenazah-jenazah langsung di sambut dengan tangisan pecah dari Jova dan Kiki yang sudah ada di sana menunggu kedatangannya, karena sebelumnya Kenan sudah menghubungi mereka, dan kebetulan sekali Jova dan Kiki berada di kota Xx karena Noval sudah beberapa hari ini berada di kota Xx karena ada pekerjaan dari Kenan. sedangkan Kiki dan suaminya Daffa ada acara keluarga.
Ke enam jenazah sudah di semayamkan di ruang tengah rumah Kenan, rencananya baru besok pagi akan di makamkan karena malam sudah sangat larut.
Para kolega Kenan, Ray juga Rafa yang berada dikota tersebut sudah pada berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa, karangan bunga sudah berjejer rapi dihalaman depan.
Malam ini mereka mengadakan pembacaan surat Yasin untuk keempat jenazah, dan juga Kenan sengaja memanggil seorang ustadz untuk mendoakan jenazah sahabatnya dan keluarganya.
Tak lama pak Salman, pak Fikram, beserta Arka dan keluarganya datang, dan langsung menghampiri ke empat jenazah, dan membuka kain penutupnya.
Kedua keluarga itu duduk di samping jenazah Rafa, ke enam jenzah dibaringkan berjejer tampak mereka membacakan doa-doa untuk ke enam jenazah, Bunda Hani yang sudah dekat dengan keluarga Rafa tampak tak bisa lagi menahan tangisannya.
...----------------...
Sementara di rumah sakit
__ADS_1
Tiba-tiba saja Enzy terbangun berteriak memanggil mama dan papanya, perawat yang ditugaskan Kenan kaget melihat Enzy yang tiba-tiba berteriak memanggil kedua orangtuanya.
"Nona.!" Ucap perawat langsung menghampiri Enzy.
Enzy memegang kepalanya.
"Sus, papa mama saya mana, keluarga saya juga ? Apa mereka baik-baik saja ?" Tanya Enzy sesekali terdengar ia meringis karena rasa sakit di bagian kepalanya.
"Iya, kalau begitu biar saya memanggil dokter terlebih dahulu." Ucap perawat.
"Tapi sus, saya mau bertemu dengan mereka." Enzy menahan lengan perawat tersebut.
"Iya nona, saya akan menyampaikan kepada mereka kalau nona sudah sadar, tunggulah sebentar !!" Ucap perawat tersebut, karena Kenan berpesan jika Enzy sudah sadar jangan mengatakan apapun soal orangtuanya dan langsung menghubunginya jika Enzy sudah sadarkan diri.
...----------------...
Di kediaman Kenan
Kenan sedang duduk bersama beberapa koleganya di halaman depan rumahnya, ada beberapa koleganya juga bekerjasama dengan perusahaan Rafa. Tiba-tiba ponsel Kenan berdering, Kenan langsung menjawabnya karena melihat panggilan itu dari rumah sakit.
Setelah mendengar kabar dari rumah sakit kalau Enzy sudah sadar, Kenan langsung masuk kedalam menemui istrinya yang masih duduk di dekat jenazah sahabatnya sambil membacakan ayat-ayat suci Al Quran.
"Yank, Enzy sudah sadarkan diri, barusan pihak rumah sakit menelfonku." Ucap Kenan.
"Bagaimana ini by', aku enggak bisa kesana sekarang." Ujar Diva khawatir.
"Biar aku sama Khay yang kesana yank." Ujar Kenan.
"Baiklah By', tapi bagaimana jika Enzy menanyakan soal papa mamanya ? Saya takut dia akan terpukul dan mempengaruhi kesehatannya." Ucap Diva khawatir.
"Kamu tidak usah khawatir soal itu, aku akan mencoba mengatakan yang sebenarnya."
"Baiklah By'." Sahut Diva.
"Ya sudah aku pergi sekarang ya, kamu enggak usah terlalu memikirkannya, aku yakin Enzy anak kuat seperti mamanya." Ucap Kenan mencium pucuk kepala istrinya itu kemudian keluar dari ruangan tersebut menghampiri Khay yang duduk di depan bersama Kia, Rendara, Nendra, dan juga Raydan.
Bersambung,....
Jangan lupa like, Komen, dan vote....
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️