
Kini matahari sudah menampakkan sinarnya, mulai menembus masuk ke sela-sela jendela kamar milik Enzy.
Enzy menggeliat merenggangkan otot-ototnya, perlahan ia membuka matanya, dan memperhatikan sekeliling kamarnya, ia tak melihat sosok suaminya, ia langsung bangun dan keluar dari kamarnya menuju lantai bawah mencari keberadaan suaminya, ia mencari ke seluruh ruangan, namun sama sekali tak menemukannya.
Enzy menghela nafas beratnya, kemudian kembali ke kamarnya dengan langkah gontai, ia terus mengingat pertengkaran mereka kemarin, dan ucapan Khay sebelum pergi meninggalkan Enzy sendirian.
"Ok, aku benar-benar salah karena mencampuri urusanmu, sedangkan aku hanya seorang suami yang berharap di cintai dari Istrinya, tapi aku benar-benar salah telah berharap, mulai saat ini kita urus saja urusan kita masing-masing, dan jangan salahakan aku jika aku kembali menjadi Khay yang seperti dulu lagi, Khay yang sangat kamu benci." Ucapan Khay kemarin terus menghantuinya, Enzy sangat khawatir jika Khay benar-benar kembali seperti dulu, menjadi Playboy.
Mata Enzy lagi-lagi keluar membasahi wajah mulusnya, kenapa harus seperti ini dikalah ia mulai mencintai pria yang dulu ia benci, apa ini karma untuknya karena telah bersikap angkuh kepada suaminya.
Setelah sampai kamar Enzy langsung menuju kamar mandi, kemudian bersiap-siap ke kampus.
Enzy langsung berangkat ke kampus, bahkan Enzy melewatkan sarapannya, ia benar-benar tak bersemangat.
...----------------...
Setelah jam kuliah selesai, kini Enzy duduk sendirian di taman kampus, sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Ada apa lagi, kenapa kamu terlihat murung begitu sejak masuk kelas hingga sekarang ?" Imbuh Rendra yang tiba-tiba datang langsung merangkul bahu Enzy, sehingga membuat Enzy menoleh sejenak lalu kembali menatap lurus kedepan.
"Ribut lagi ?" Tebak Rendra karena Enzy mengacuhkannya.
"Enggak ada apa-apa, aku hanya kurang enak badan." Bohong Enzy.
"Yakin ?" Tanya Rendra merasa tak percaya dengan jawaban ada sahabatnya itu, dan langsung di Jawab anggukan dari Enzy.
"Aku pulang dulu ya Rend." Pamit Enzy kemudian berdiri dari sana.
"Ehh tapi kita masih ada kelas." Cegah Rendra.
"Aku bolos dulu Rend, aku benar-benar merasa kurang enak badan." Ujar Enzy kemudian pergi begitu saja meninggalkan Rendra sendirian, Enzy langsung menuju parkiran dengan langkah lesu tak bersemangat.
Saat tiba di parkiran, ia tak sengaja berpapasan dengan Khay dengan seorang wanita bergelayut manja di lengan pria itu, membuat hati Enzy serasa sesak dan sakit melihat hal itu, bahkan Khay mengabaikannya dan melewatinya begitu saja, seolah mereka tak mengenal satu sama lain.
Enzy menoleh melihat suaminya dengan wanita lain, bahkan ia melihat Khay tertawa lepas dengan wanita lain.
Enzy buru-buru pergi dan langsung masuk ke mobilnya, lagi-lagi ia tak bisa menahan air matanya, Enzy menundukkan kepalanya di atas kemudinya untuk beberapa saat, sampai ia sudah merasa lebih tenang, ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kampus.
...----------------...
Malam hari, tepatnya jam delapan malam, Khay masuk ke kamar, ia tak menemukan siapa-siapa disana, Khay langsung berjalan menuju lemari pakaiannya, kemudian menuju kamar mandi, saat akan membuka pintu kamar mandi, di saat yang bersamaan Enzy keluar dari sana, Enzy langsung menundukkan wajahnya menyembunyikan wajah sembabnya, namun percuma Khay sudah melihat akan hal itu. namun ia berusaha menahan agar ia tak terpengaruh, Khay memilih masuk ke kamar tanpa sepatah katapun.
Sedangkan Enzy lagi-lagi menangis, mendapat perlakuan dingin seperti itu, ia memilih untuk tidur, membelakangi arah kamar mandi, sambil menutup tubuhnya dengan selimut hingga bagian leher.
Sekitar 15 menit Khay kembali keluar dari kamar mandi, ia melihat Enzy berbaring membelakangi, ia mencoba mendekati tempat tidur, lalu naik bersandar di kepala tempat tidur.
"Kamu kenapa ?" Khay tak tahan tidak bertanya.
Namun Enzy pura-pura tidur dan tak mendengar pertanyaan dari suaminya. Tanpa Khay sadari Enzy menagis dalam diam Enzy menggigit bibir bawah bagian dalamnya agar tangisannya tak mengeluarkan suara, lagi-lagi ia teringat saat di parkiran tadi.
"Nzy, gue mau bicara." Ucap Khay membuat Enzy lagi-lagi sesak mendengar Khay mengucapkan kata gue.
__ADS_1
"Gue tahu kamu tidak tidur, sekarang berbalik lah, gue mau bicara serius." Imbuh Khay.
"Besok aja Khay, aku capek banget, aku merasa enggak enak badan, jadi please jangan ganggu aku !" Seru Enzy bersusah payah menetralkan suaranya agar tidak terdengar sedang menagis.
Namun Khay sadar betul kalau istrinya itu menangis.
"Gue tahu kamu nangis, ada apa ?" Ujar Khay.
"Enggak apa-apa, aku hanya teringat dengan papa mama ku, besok aku berencana ke kota Z." Ujar Enzy membuat Khay diam seketika mendengar Enzy akan pergi ke kota Z.
"Baiklah, gue tidak akan menghalangimu, gue tahu tujuan kamu kesana, kamu mau bertemu dengan pacarmu itu kan." Imbuh Khay.
Enzy yang mendengar perkataan Khay membuat Enzy terpancing emosi, seketika Enzy bangun dan menatap tajam Khay.
Tanpa berkata apapun Enzy langsung turun dari tempat tidur, namun baru saja ia ingin melangkahkan kakinya Khay menahan lengannya.
"Kamu istrirahat saja, tadi kamu bilang enggak enak badan kan, gue tidak akan menganggumu." Imbuh Khay lalu turun dari tempat tidur, berjalan menuju sofa.
Enzy kembali naik ketempat tidur, hatinya benar-benar sakit, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Khay duduk di sofa yang ada dikamarnya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
📞 "Hallo baby, ada apa, sudah kangen ?" Ucap Khay setelah menjawab panggilan tersebut.
📞 "......
📞 "Besok ? Ok baby aku akan jemput kamu."
📞 "Love you to, good night." Ucap Khay setelah itu panggilannya berakhir.
Enzy yang belum tidur mendengar percakapan Khay di telpon, membuat hatinya benar-benar sakit.
Enzy mencoba untuk tertidur agar bisa melupakan sejenak permasalahan rumah tangganya, saat Enzy sudah mulai tertidur lagi-lagi ponsel Khay berdering.
📞 "Selamat malam by." Ucap Khay melambaikan tangannya ke arah ponselnya, karena saat ini Khay melakukan panggilan video.
📞 "Malam juga sayang, besok jalan yuk !" Ajak wanita itu terdengar sangat manja, dan dari wanita yang berbeda dengan yang tadi.
📞 "Emm... Besok ya ? Kalau besok seperti aku enggak bisa by, bagaimana kalau lusa saja, soalnya besok aku harus nganterin bunda buat belanja, enggak apa-apa kan by' ?" Bohong Khay.
📞 "Ya sudah enggak apa-apa, tapi lusa kamu janji ya, dan ingat kamu jangan genit-genit."
📞 "Mau genit bagaimana by, orang aku perginya sama bunda." Goda Khay.
📞 "Ya siapa tau aja kamu ketemu cewek lain saat berbelanja."
📞 "Aku enggak bisa genit by kalau ingat kamu, kamu tuh satu-satunya wanita yang buat aku jatuh cinta, dari sekian banyak mantan aku, kamulah satu-satunya yang bisa buat aku nyaman terus, makanya aku cinta kamu, dan enggak akan genit sama cewek lain." Gombal Khay.
📞 "Gombal !"
📞 "Aku enggak gombal by, tapi itu benar adanya pacarku sayang." Khay semakin menggoda wanita itu.
__ADS_1
Enzy yang mendengar semuanya tak lagi bisa tahan mendengarnya, ia bangun dan turun dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamar.
Sedangkan Khay hanya acuh melihat Enzy keluar.
...----------------...
Sudah tiga hari Enzy dan Khay masih belum akur, dan Khay sibuk dengan wanita-wanita lain, hari ini Enzy memutuskan untuk jalan-jalan ke mall setelah pulang dari kampus, karena sudah waktunya jam makan siang, Enzy memutuskan untuk makan lebih dulu di salah satu restoran cepat saji yang ada di mall tersebut.
Saat asik menikmati hidangan yang sebelumnya ia pesan, tiba-tiba ia melihat Khay masuk, dengan seorang wanita yang berbeda dari hati-hati biasanya, Enzy langsung pindah dari meja sebelumnya, ia pindah di tempat agak tersembunyi, sedangkan Khay dan wanita itu duduk tak jauh dari tempat Enzy, hanya terhalang sebuah dinding.
Selama masuk di restoran Khay terlihat banyak diam, tak seperti biasanya.
"Sayang, aku baru ingat, soal tas yang aku maksud semalam, kamu benar akan membelinya untukku kan ?" Ujar wanita bersama dengan Khay, namun Khay hanya diam entah apa yang dipikirkan laki-laki itu.
"Khay...." Panggil wanita itu, namun Khay masih saja belum sadar dari lamunannya.
"Sayang..." Serunya menepuk lengan Khay membuat Khay tersadar dari lamunannya.
"Eh...ada apa ?" Tanya Khay kaget, langsung menoleh kearah wanita yang duduk disampingnya.
"Apa yang kamu pikirkan, apa ada masalah ?" Tanya wanita itu merajuk.
"Tidak ada sayang, jangan cemberut gitu dong entar cantiknya ilang." Rayu Khay membuat wanita itu kembali tersenyum.
"Terus apa yang membuat kamu diam sejak tadi, aku ajak bicara kamu malah diam."
"Emmmm.... Itu, tadi aku dapat pesan dari bunda, katanya kucing aku dirumah lagi ngambek, enggak mau makan katanya." Jelas Khay berbohong.
Enzy yang mendengar jelas pembicaraan mereka menjadi kesal, bisa-bisanya ia disamakan dengan kucing.
"Dasar buaya." Gerutu Enzy mengepalkan tangannya.
"Sungguh, emangnya kucing bisa ngambek juga, emang kucing kamu itu udah besar atau masih kecil ?" Tanya wanita bersama Khay.
"Bisa dong, kucing ku ini mirip banget sifat manusia, suka ngambek, biasa juga galak, bahkan ngamuk-ngamuk enggak jelas, kucing aku ini juga udah dewasa, udah kawin juga." Jelas Khay membuat Enzy makin memerah menahan kekesalannya.
"Kamu sungguh pria idaman banget, beruntung aku bisa sama kamu Yank, tampan, baik, penyayang bintang lagi, binatang aja kamu sayang banget....
"Apalagi kamu, tentu aku sayang banget."Goda Khay menyela ucapan wanita di sampingnya itu.
"Ya sudah tidak usah membicarakan kucing aku lagi, lebih baik kita senang-senang." Imbuh Khay di angguki wanita itu sambil bergelayut manja di lengannya.
Bersambung.......
hahahaha, Khay benar-benar gaesss... masa istri sendiri disamakan Ama kucing 🐈 🐈 🤭🤭🤭🤭🤭
jangan lupa LIKE, KOMENT, DAN VOTE......
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
Love You All ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘
__ADS_1